Melanggar Janji

Melanggar Janji
Pengganggu kesenangan


__ADS_3

Adrian dan Farah mampir ke Mall terdekat. Farah ingin membawa buah tangan untuk Angel dan kedua anak Adrian nanti, sekalian mereka menikmati makan sore bersama sambil jalan-jalan berdua untuk meluapkan kerinduan.


Sementara di tempat yang berbeda, Malik baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Hari ini, Angel sudah memasak menu spesial, karena akan ada Adrian dan Farah yang ikut makan malam bersama nanti.


Malik pulang pukul tiga sore. Ia sengaja ingin pulang lebih awal. Sejak Angel hamil, memang Malik lebih sering membawa pekerjaannya ke rumah.


“Bunda, ini choco chip nya di taruh seperti ini?” Tanya Faris yang tengah membantu Angel membuat kue kering, sementara Alika membantu mencetak adonan kue itu.


“Benar sekali, Ssyang.”


Malik tersenyum, melihat kebersamaan sang istri dengan kedua keponakannya. Ia berdiri sambil memperhatikan ketiga orang yang tengah bergelut di dapur.


“Ih, Alika pintar. Cepet bisa.” Angel mengelus rambut anak sulung Adrian.


Sudah lima hari, kedua anak Adrian menginap di rumah Malik dan sudah lima hari pula Angel di dominasi oleh kedua anak itu, hingga ketika Malik menginginkan istrinya, selalu saja ada gangguan dari kedua krucil itu.


Angel mendongakkan kepalanya ke atas. Ia tersenyum saat melihat suaminya sudah berdiri sembari menyadarkan tubuhnya di bufet besar itu.


“Hei, kamu sudah pulang? Kok ga kedengeran.” Ucap Angel gembira.


Malik menghampiri Alika dan Faris yang tengah duduk di meja mini bar. Sedangkan angel berdiri di depan kitchen set sembari memanggang kue yang sudah di olah oleh Alika dan Faris.


Alika dan Faris menyalami pamannya dan Malik langsung mendekati istrinya.


“Aku sudah ucap salam dari tadi, tapi karena kalian sedang asyik jadi ga denger.”


“Maaf, Sayang.” Angel tersenyum dan menangkup wajah Malik yang tengah memeluknya dari belakang.


“Bunda, ini sudah selesai.” Alika menyerahkan satu loyangan yang berisi beberapa adonan yang akan di keringkan oleh Angel.


“Ih pinter.” Angel menerima loyang tipis yang terbuat dari aluminium itu.


Angel mengeluarkan kue yang sudah matang dari dalam oven. Lalu, memasukkan kembali loyang yang tadi di serahkan Alika.


“Hmm.. harum.” Malik mendekati kue yang baru saja Angel keluarkan dari oven.


“Ini hasil karya Alika dan Faris loh, Om.” Ucap Angel pada suaminya.


“Kalau begitu langsung Om coba.” Malik mengambil satu kue di dalam loyang panas yang baru saja Angel letakkan setelah di keluarkan dari oven tadi.


“Aww.. panas. Hufft.. huft.. huft.”


Alika dan Faris tertawa melihat tingkah sang paman, dengan mulut menganga sambil mengibas-ngibas ke arah mulut itu.


“Kak, ambilnya jangan yang baru dari oven dong. Itu di sana sudah ada yang udah dingin.” Angel menunjuk pada kue yang sudah ia susun di tempatnya.


“Kamu ga bilang, Bee.”


“Maaf, lagian kamu main comot aja sih.” Angel tertawa. Malik pun ikut tertawa dan memeluk erat tubuh Angel dari belakng.


“Enak kan, Om?” Tanya Faris pada Malik.


"Tapi tetep enakan punya kamu, Bee." Ucap Malik berbisik di telinga Angel sambil menyentuh milik istrinya, sebelum ia melepas pelukan.


Mata Angel membulat ke arah Malik, sembari melihat ke arah Alika dan Faris, khawatir kedua anak itu melihat aksi mesum sang paman.

__ADS_1


"Mereka ngga lihat, Bee."


"Ish, kamu bener-bener deh."


Malik meringis, tapi tetap tertawa saat Angel mencubit pelan perutnya.


Lalu, Malik menghampiri Faris. “Enak, ini enak banget. Wah kalian hebat nih.” Malik mengelus rambut Alika dan Faris.


“Bee.” Malik melirik ke arah istrinya.


“Apa?” Angel pun langsung menoleh ke arah suaminya.


Malik memberi kode untuk meminta Angel naik ke atas. Sudah lama, ia tidak bermanja-manja dengan sang istri.


Angel mengerutkan dahinya, memberi isyarat bagaimana cara meninggalkan dua krucil ini?


“Om, kenapa sih, Om Malik manggil Bunda itu Bee?” Tanya Alika.


“Iya, kan nama Bunda itu Angel bukan Bibi.” Sahut Faris, membuat Malik dan Angel tertawa.


“Bee itu panggilan sayang Om Maik untuk Bunda. Biasanya orang-orang Eropa juga memanggil dengan sebutan itu untuk istri atau pacarnya.”


“Kalau gitu, Faris juga mau panggil Nafisya dengan sebutan Bee.”


“Eh, siapa tuh Nafisya?” Angel ikut mendekati Malik dan kedua anak Adrian.


“Itu, Bun. Nama temen wanita Faris di sekolah. Katanya Faris suka perempuan itu.”


“Eh, masih kecil. Baru kelas dua SD udah main suka-sukaan. Ngga boleh.” Ucap Malik memperingatkan Faris.


“Astagfirullohal’adzim. Adrian anak lu.” Malik menepuk jidatnya, sementara Angel hanya tertawa.


****


Setelah selesai membuat kue. Angel berjalan pelan menaiki anak tangga ke kamarnya. Sedari tadi ia meninggalkan suaminya sendiri di sana, sampai ia lupa belum menyiapkan pakaian dan air untuk suaminya mandi. Sesekali Angel melirik ke bawah dan melihat Faris yang tengah menonton kartun, sementara Alika belum keluar kamar karena sedang membersihkan diri.


“Kak.” Angel membuka pintu kamarnya sambil memanggil Malik.


Angel berdiri lemas, tatkala ia melihat isi kamarnya yang berantakan. Malik meletakkan asal semua baju bekas kerjanya tadi. Kaos kaki berserakan di lantai. Jas tersampir asal di sofa beserta laptop yang masih menyala, televisi pun menyala dan kemeja serta celana panjang yang tadi ia pakai pun berserakan di ranjang.


“Aw.” Angel menginjak dasi Malik yang tercecer di lantai.


“Ya ampun, Kak.” Teriak Angel.


Malik keluar dari kamar mandi tanpa rasa bersalah. “Ada apa, Bee?” katanya sambil menggosokkan rambutnya yang basah.


Angel tidak berkata lagi dan hanya memungut pakaian yang berserakan itu. Ia membungkuk dengan sedikit kesusahan, karena perutnya yang mulai besar. Malik pun mengerti kesalahannya dan langsung mendekati Angel.


“Hehehe.. biar, aku yang beresin. Bee.” Malik mengambil semua pakaiannya yang berserakan dan membawanya ke tempat cucian kotor.


“Maaf, Bee.” Malik nyengir, melihat Angel yang cemberut sambil bertolak pinggang.


“Langsung di taruh di tempatnya dong, Kak.”


“Iya, iya. Tadi buru-buru.”

__ADS_1


“Buru-buru, kok tiap hari.” Angel masih cemberut, karena sepulang kerja, Malik memang selalu seperti ini.


“Iya. Bee. Sayangku cintaku. Mmuaach.” Malik mengecup pipi Angel sekilas dan berlari lagi ke dalam kamar mandi untuk menaruh pakaian kotor yang berserakan tadi.


Namun, saat Malik melangkah lebar ke kamar mandi, handuknya melorot dan jatuh ke lantai.


“Kak.” Teriak Angel yang melihat tubuh polos suaminya.


“Ih, pakai dulu handuknya.” Protes Angel.


“Ngga bisa, tanganku penuh cucian kotor, Bee. Kalau mau pakein!”


Angel membalikkan tubuhnya karena sang suami justru malah menampilkan tubuhnya yang polos. “Modus.”


Malik tertawa dan tetap berjalan ke kamar mandi dengan kondisi itu. lalu, ia keluar kamar mandi da melilitkan lagi handuk yang teronggok di lantai. Ia berjalan mendekati Angel yang tengah merapihkan kertas-kertas dan laptop di meja dekat sofa itu.


Malik memeluk istrinya yang tengah sedikit menungging, merapihkan meja. Ia meraba b*k*ng Angel yang sintal.


“Bee. Udah lama nih.”


“Lama apa? Baru kemarin.”


“Kemarin apa? Udah tiga hari, Bee.”


Angel tertawa. “kamu ngitungin?”


“Semenjak ada dua krucil itu, kita ngga bisa nganu setiap malam.”


Angel menoel pipi Malik. “Dasar.” Ia melepas pelukan suaminya dan berjalan menuju pintu kamar.


“Bee. Jangan pelit gitu dong. Kamu ngga kasihan sama aku.” Rengek Malik, sembari memegang miliknya yang siap untuk bertempur.


“Iya, sebentar. Aku kunci pintunya dulu.” Jawab Angel lembut sambil mengulas senyum. Ia faham betul dengan sikap Malik yang tidak sabaran kalau sudah menyangkut dengan ini.


Malik tersenyum senang dan menghampiri istrinya, memeluknya dari belakang saat Angel tengah menutup pintu. Dengan tidak sabaran, Malik langsung membalikkan tubuh Angel.


“Kamu emang yang terbaik, Bee.” Bisik malik dan mulai mencumbui sang istri dengan mencium bibir ranum itu terlebih dahulu.


Angel pun langsung menerima ciuman itu dan mengalungkan tangannya pada leher Malik. Akhirnya, sebelum Adrian dan Farah datang, mereka sedikit bersenang-senang dahulu.


Malik semakin menyukai tubuh istrinya yang tengah membulat. Perutnya yang besar, menambah gairah Malik untuk menyentuh sang istri, serta desahan yang Angel keluarkan semakin memuncakkan gairah itu.


“Eumm..” Angel melenguh sembari menggigit bibirnya. Sungguh sentuhan Malik membuatnya melayang.


“Aku selalu ingin kamu, Bee.” Malik terus mencari kenikmatan pada tubuh yang tengah ia kungkung di depannya.


Tok.. Tok.. Tok..


“Om Malik, Bunda. Papa sama tante Farah udah datang.” Alika dan Faris berteriak dari luar pintu kamar.


Malik melemas. “Ah, ganggu aja.”


Angel tertawa melihat ekspresi suaminya. “Sabar, Kak.” Ia mengelus dada Malik.


“Udah, nanti di terusin lagi.” Angel meminta Malik untuk melepasnya.

__ADS_1


“Tanggung, Bee.” Malik menghiraukan perkataan Angel dan tetap meneruskan aktifitasnya, walau di luar Alika dan Faris terus memanggil mereka.


__ADS_2