
“Bang, lu yang nyetir. Gue pegang Angel.” Kata Malik, yang memegang tubuh Angel erat, karena dari awal kebetulan tubuh Angel memang limbung di sisi Malik.
“Lu yang bawa mobil, gue gendong Angel ke mobil, Gue suaminya.”
“Ribet lu.” Malik langsung membopong Angel ke dalam mobilnya dan mendudukkan Angel di samping kemudi.
“eit, gue yang bawa mobil.” Kata Adrian.
“Umur doank, lu tua. Sikap kaya anak kecil. Ini mobil gue, gue yang bawa.” Kata Malik.
Angel tidak memeperdulikan kedua pria yang masih berseteru itu. Pikirannya kosong membayangkan sang ayah dan rasa bersalahnya.
“Papa, kami ikut.” Raung Alika dan Fariz.
Lalu, Adrian membawa kedua anaknya dan ikut duduk di belakang Malik dan Angel.
Dengan telaten Malik memakaikan seatbelt pada Angel. “Bee, tenangkan dirimu.”
Di belakang, Adrian hanya menonton Malik yang sangat perhatian pada istrinya. Ia sungguh menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan dulu pada Angel. Sekarang melihat Malik perhatian pada istrinya, sungguh terasa sakit.
Malik mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka tiba lebih cepat dari biasanya. Di sana sudah terlihat Radit dan Dila.
“Angel, ayahmu.” Kata radit mencium pucuk kepala Angel yang tengah berjalan perlahan memasuki rumahnya.
Pikiran Angel masih kosong, ia melewati semua orang di sana tanpa menyapanya, begitu pun pada Radit dan Dila. Sedangkan Malik setia berada di samping Angel dan Adrian menemani putra putrinya. Untuk kali ini, Adrian tidak mau egois, karena ia melihat tatapan Angel yang kosong dan seperti banyak beban.
“Ayah.” Angel berdiri di ambang pintu, sambil menatap sang ayah yang terbujur kaku.
“Angel.” Ella menghampiri keponakannya.
Ia langsung meraung memeluk tubuh sang ayah di sana. “Ayah, maafkan Angel. Maaf ayah.”
Angel terus meraung. “Angel yang salah, Angel yang seharusnya di hukum bukan ayah.”
“Ayah, Bangun! Bangun ayah.”
“Angel.” Enin berusaha menyingkirkan Angel dari jasad sang ayah. ia memeluknya.
__ADS_1
“Semua orang terpukul, sayang.” Enin terus memeluk erat Angel.
“Angel yang salah, Enin. Angel banyak salah pada Ayah. Angel yang buat ayah seperti ini.” Ia kembali meraung.
Malik menangis melihat kekasihnya yang begitu sedih. ingin sekali ia memeluk dan menenangkan Angel, tapi di sini terlalu banyak orang yang mengenalnya. Ada Radit dan Dila juga yang belum mengetahui duduk perkara antara mereka.
Adrian menatap Malik dengan tajam. Ia masih menyalahkan Malik atas semua yang terjadi. Sesaat Malik menangkap tatapan kakak sepupunya itu dan menantangnya.
Tiba-tiba Angel pingsan. Lalu, dengan sigap Adrian berlari mendekati dan menggendong istrinya ke kamar. Benar, Malik memang tidak punya kuasa atas Angel saat ini. ia tidak bisa melakukan apapun untuk berada di sisi Angel, padahal sebelumnya ia selalu menolong Angel dalam keadaan apapun.
Prosesi pemandian dan pemakaman di lakukan hari itu juga. Selesai sholat isya, jasad Hendra di sholatkan bersama jamaah masjid yang persisi berada di depan rumah Hendra. Setelah itu, ia pun di makamkan. Sepanjang proses itu, Adrian menemani Angel dan memeluk tubuh istrinya yang lemah itu. Angel tidak sadar bersama siapa ia di peluk, karena pikirannya hanya tertuju pada sang ayah.
Malik hanya menjadi penonton. Ia terus menangis, menangisi semua yang terjadi.
“Lik.” Radit menyapa Malik yangs edang duduk di luar rumah Hendra.
Sejak Angel tiba di rumah ini, ia selalu memperhatikan Malik. Malik tergolong orang yang baru mengenal Angel dan Hendra, tapi mengapa ia bisa sesedih itu? Batin Radit bertanya-tanya. Ia juga sedih, karena Hendra bukan lagi sebagai saahabat tapi sudah seperti saudara baginya.
“Iya, Om.” Jawab Malik sembari membenarkan posisi duduknya.
“Hmm.. Mengapa kamu bisa berada di sini. Om lihat tadi kamu ke sini bersama Angel dan Adrian.”
“Oh.” Radit haya membulatkan bibirnya.
Malik ingin mengatakan yang sebenarnya trjadi pada Radit, tapi kali ini keadaan tidak memungkinkan.
Angel masih mengurung di kamar sang ayah. ia tak mau makan sama sekali.
“Angel, ayo makan! sudah dari sore perut kamu belum terisi.” Kata Ella, membawakan sepiring nasi untuk keponakannya.
Adrian yang masih setia menemani Angel duduk di tepi ranjang itu pun mengambil piring yang di berikan Ella.
“Angel, makanlah! Nanti kamu sakit. Ayo aku suapi!” Kata Adrian lirih. Ia pun tak tega dengan kondisi Angel saat ini.
Mata Angel bengkak, hidungnya merah, rambutnya acaka-acakan, bahkan pakaiannya pun tidak di ganti dari pagi.
“Angel.” Panggil Adrian.
__ADS_1
Namun, Angel tak menoleh sedikitpun. Pandangannya lurus ke depan dan kosong. Ia hanya menangis.
Bi Ella masih di samping Angel untuk menenangkannya, karena airmata Angel tak berhenti mengalir. Ia juga selalu mengatakan “Ini salahnya.”
Di luar, batin Malik merasa resah. Ia ingin sekali menemui Angel. Ia berusaha untuk masuk ke rumah itu dan mencari keberadaan Angel dari pintu belakang, karena di ruang tamu dan teras tengah di penuhi tetangga Angel yang sedang tahlilan untuk mendoakan Hendra hingga tujuh hari ke depan.
“Angel.” Malik berdiri di pintu kamar Hendra. Ia menatap Angel yang berantakan.
Seketika Angel menoleh ke arah itu. Ia menangis.
Adrian mengalah, ia melihat tatapan cinta yang besar di antara mereka. Padahal sedari tadi, Adrian yang berada di sisinya, tapi pria itu tak serasa ada untuknya. Sementara Malik yang baru satu kali memanggilnya, Angel langsung menoleh.
Bi Ella pun ikut menoleh sosok pria itu. Ella sempat bertanya pada Dila siapa pria bertubuh tegap yang datang bersama Adrian. Ternyata dia adalah Malik, persis dengan nama pacar Angel yang pernah di sebutkan keponakannya itu saat bercerita padanya dan ternyata Malik adalah adik sepupu Adrian.
Malik mendekati Angel dan mengambil piring yang berada di tangan Adrian.
“Aku suapi? Kamu belum makan, nanti kena thyfus lagi. Hmm..” Malik merapihkan anak rambut di kening Angel.
Semua di sana menyaksikan kemesraan itu. Adrian hanya bisa menunduk. Ella dan Enin menatap tak percaya. Di tambah Dila.
“Aku ingin menyusul ayah, Kak.” Kata Angel merengek.
Malik meletakkan piring itu di meja kecil yang berada di samping tempat tidur. Lalu, ia memeluk Angel.
“Ayah pasti tidak akan suka melihatmu seperti ini.” Kata Malik menenangkan.
“Tapi ini semua karena aku.”
Malik menggeleng. “Ini takdir, Bee. Bukan karenamu. Walau tidak ada masalah yang terjadi. Ayah akan tetap menghadapNya hari ini.”
Angel menangis di dada Malik dan Adrian langsung pergi dari kamar itu. Dila pun berlari mengahmpiri putranya.
Adrian keluar dari pintu belakang. Ia menangis.
“Yan, apa yang terjadi? Mengapa Malik dekat sekali dengan istrimu?” Tanya Dila bingung.
“Panjang ceritanya, Ma. Adrian ingin keluar dulu.” Adrian pun pergi meninggalkan sang ibu yang masih mematung di sana.
__ADS_1
Ia ingin menghilangkan kepenatan ini sejenak. Ia ingin berpikir jernih. Hatinya terasa perih melihat kemesraan istrinya dengan adik sepupu yang telah ia anggap seperti adik kandungnya itu, karena sungguh saat ini Adrian sudah mencintai Angel.