
Keesokan harinya, Malik dan Angel bersiap untuk kembali ke Jogja.
“Ayo! Gue udah siap nih.” Ujar Jo, sembari membuka kaca jendela mobilnya tepat di lobby apartemen itu.
“Ck, gue kira lu ga jadi dateng. Kalo kelamaan gue mau naik taksi aja.” Malik berdecih, karena sahabatnya ini memang terkenal ngaret dan sering terlambat.
“Sorry.” Jo hanya bisa nyengir.
Lalu, Malik membuka pintu belakang untuk Angel dan ia duduk di depan bersama Jo.
“Lik, Minggu depan gue mau maen ke rumah lu, ya.” Ucap Jo saat ia tengah menyetir menuu Bandara.
“Mau ngapain lu? Curiga nih gue.” Jawab Malik yang kembali bertanya. Sebelumnya, Angel sempat bercerita kecurigaannya soal Jo yang seperti tertarik pada Rumi.
“Ya mau main lah ke rumah baru sahabat gue. Emang ga boleh?”
“Ga karena mau ketemu Rumi kan, Kak?” Celetuk Angel dari belakang.
Jo nyengir sekilas ke arah Angel. “Ah, lu tau aja sih, Ngel. Emang cewek tuh peka banget ya. Ga kaya laki lu nih, kaga peka orangnya.”
“Jo, dia udah punya pacar. Jangan macem-macem lu. Mau jadi pebinor juga apa?” Ucap Malik.
Ketiganya tertawa, hingga suasana di dalam mobil ittu terasa ramai.
“Lah kalo gue belom di sebut pebinor dong. Kan, Rumi belum jadi istri orang.” sanggah Jo.
“Tapi dia udah punya pacar, Jo. Lu cari cewek laen sana. Susah amat.” Jawab Malik.
“Dih, kenapa lu yang sewot dah. Suka-suka gue dong. Lagian namanya hati ga tau mau milihnya ke siapa.” Jawab Jo santai.
“Gue kesian kalo si Joni di tinggal pacarnya. Sepertinya, dia cinta banget.”
“Ya elah, lu kesian, apa karena senasib sepenanggungan?” Jo tertawa.
“Si*l, lu. Kalo gue beda. Angel emang cinta mati sama gue. Ya kan, Bee?” Malik meneleh ke belakang dan hanya di angguki dengan senyum oleh Angel.
Sedari tadi Angel hanya menyimak kedua sahabat yang tidak pernah akur jika bertemu, tapi saling mencari jika lama tak bertemu.
“Angel bukan cinta mati, tapi udah terlanjur kecemplung sama lu, jadi mau ga mau. Ya.. terusin aja dah.” Jawab Jo tertawa.
“Rese lu.” Malik mengetuk kepala sahabatnya yang tengah menyetir, sedangkan Angel hanya menyumbang suara tawa.
Setelah menempuh perjalanan satu jam. Mereka tiba di Bandara Halim perdana kusuma. Hari libur, memudahkan akses perjalanan mereka.
“Thanks, Jo.” Malik memeluk sahabatnya, ketika ia hendak turun dari mobil.
“Makasih Kak Jo.” Sahut Angel
“It’s Oke. Gue seneng bisa bantuin lu berdua. Tapi, Hmm... gue bantuin juga ya buat jadi sama Rumi.” Jo memautkan kedua jarinya sembari nyengir.
“Ah, lu. Bantuin orang ada maunya.”
“Simbiosis mutualisme, Bos.” Jawab Jo.
“Bukan begitu nyonya Hamish?” Jo bertanya dengan mengarah pada Angel.
“Aku sih setuju aja. Karena wanita kan bukan hanya mengandalkan cinta tapi kepastian.” Jawab Angel.
“Tuh, cakep.” Jo meminta tos pada Angel dan Angel menyambutnya.
__ADS_1
“Bee, kamu jangan ikut-ikutan dia deh.”
“Ya elah, segitu perhatiannya sih lu sama asisten lu itu, ampe gue ga di dukung.” Ucap Jo lirih.
“Gue selalu dukung lu, Jo. Tapi ngga sama cewek yang udah punya orang, kale.”
“Sebelum bendera kuning melengkung...”
“Janur kuning.” Jawab Angel dan Malik bersamaan, memotong perkataan Jo yang salah.
“Eh, iya itu maksud gue. Sebelum janur kuning melengkung mah sah-sah aja gue rebut dia.”
Malik turun dari mobil itu dan membuka pintu untuk Angel turun.
“Ya udah, pokoknya minggu depan gue cuti dan mau maen ke rumah lu, titik.” Ucap Jo sesaat sebelum Malik meninggalkannya.
“Terserah, Lu.” Jawab Malik sembari menggendeng sang istri.
“Aku tunggu di Jogja ya, Kak. Dah, hati-hati dan terima kasih.” Ucap Angel sembari melambaikan tangannya pada Jo dari jendela mobil yang masih terbuka.
Jo pun membalas lambaian tangan itu.
“Udah, Bee. Ga usah bermanis-manis ria sama dia.” Malik menurunkan tangan Angel yang tengah melambaikan tangannya ke arah Jo dan meminta Angel untuk berbalik meninggalkan sahabat suaminya itu.
“Uuuh dasar posesive lu.” Jo tertawa dan melajukan kembali mobilnya.
“Kak, Ih. Kasian tau temen kamu.” Ucap Angel saat mereka tengah berjalan memasuki bandara.
Malik hanya tertawa dan terus menggenggam jemari sang istri untuk terus berjalan beiringan.
Setelah Boarding pas dan melewati pengecekan barang. Malik dan Angel duduk di ruang tunggu, menunggu kedatangan pesawat yang akan mereka tumpangi.
Setelah selesai menuntaskan hajat buang air kecilnya, Malik keluar mencuci tangan dan menatap wajahnya di cermin. Memang Malik terlihat lebih tampan sekarang. Kata orang, seorang pria akan semakin terlihat lebih tampan dan berisi ketika sudah menikah. Pria juga akan terpancar kedewasaannya ketika itu.
Lalu, ia keluar dari toilet dan segera kembali menghampiri sang istri untuk duduk di sebelahnya.
Bruk
Malik menubruk seorang wanita. Dari kejauhan, Angel pun melihat suaminya yang bertabrakan dengan wanita yang pakaiannya sangat kekurangan bahan.
“Maaf.” Ucap wanita itu dengan senyum yang sangat manis ke arah Malik.
Sebenarnya dari pertama kali wanita itu melihat Malik saat boarding pass, wanita itu sudah memperhatikan sosok Malik yang terlihat begitu tampan.
Namun, sayangnya Malik tak pernah sekali pun melihat ke arah wanita itu, karena pandangan Malik hanya tertuju pada sang istri.
Malik mengangguk dengan wajah datar, lalu meninggalkan wanita itu.
“Kenapa, Kak?” Tanya Angel saat suaminya sudah semakin mendekat.
Malik mengangkat bahunya. “Ga tau, jalanan lebar begitu, kenapa dia harus mepet ke arahku. Jadilah kamu bertabrakan.” Jawab Malik dengan ketus.
“Suka kali sama kamu. Cantik loh.” Ledek Angel, sembari melihat wanita itu yang terus melihat ke arah suaminya.
Malik bergidik ngeri. “Aku malah takut sama cewek seperti itu, Bee.”
“Masa?”
"Cantik loh, Kak. Sexy lagi.” Angel kembali meledek dengan nada menggoda.
__ADS_1
“Kamu ya, Bee. Bukannya marah, suaminya ada yang godain. ini malah ngeledekin.”
Malik menggelengkan kepalanya, tapi Angel malah tertawa lagi.
Seketika Malik langsung merangkul kepala Angel dan memitingnya. “Emang nih, istriku wanita paling langka sedunia.”
Angel tertawa. “Karena aku tau kamu cinta mati sama aku.”
Malik tertawa dan mencubit ujung hidung Angel. “Pinter.”
“Eh tapi, boleh juga sih.” Malik melirik ke arah wanita itu dan sengaja berbalik menggoda istrinya. Ia ingin melihat ekspresi Angel yang cemburu padanya.
“Kak.” Angel merajuk dan segera bangun dari duduknya.
Ia berjalan lebih dulu ke arah pesawat yang akan ia naiki, karena bagian informasi telah mengumumkan kedatangan pesawat itu.
“Bee. Tunggu. Ih ngambek.” Malik tertawa.
Ternyata, wanita yang memperhatikan Malik tadi tidak bangun dari duduknya. Ia tengah menaiki pesawat yang berbeda.
Malik mengejar istrinya yang masih berjalan lebih dulu.
“Bee. Ih kamu cemburu beneran? Aku becanda.” Malik menarik lengan Angel dan angel melepaskan cengkraman tangan itu dari suaminya, lalu kembali berjalan.
Angel menyunggimg senyum, saat ia berjalan lebih dulu. Ia juga hanya pura-pura marah sebenarnya, hanya ingin melihat bagaimana cara suaminya membujuk istri yang tengah merajuk.
Malik tertinggal di belakang, karena langkahnya terhalang oleh dua pria bule yang lebih dulu berada di belakang Angel. Hingga sampai di dalam pesawat, kaki Angel terhenti karena menunggu wanita paruh baya yang berada di depannya untuk menaruh barang di atas tempat duduknya.
“Ups, Maaf.” Barang yang wanita itu letakkan ke atas, hampir ingin menimpa Angel.
Namun dengan cepat pria bule yang ada di belakang Angel, menangkap barang itu. Spontan, Angel menoleh ke arah pria bule itu dan memberikan senyum yang manis.
“Are you oke?” Tanya pria bule itu berbisik pada Angel.
Angel kembali menoleh ke belakang dan tersenyum sembari manganggukkan kepalanya.
Di sana, Malik melihat adegan itu. kepalanya langsung memanas, di tambah Angel memberikan senyum manisnya untuk pria lain. Malik semakin memanas dan ingin menonjok pria bule itu.
Angel sampai di tempat duduknya. Ternyata kedua pria bule yang akan berwisata ke Jogja itu pun duduk di kursi seberang tempat Angel duduk. Pria bule itu kembali menoleh ke arah Angel dan tersenyum. Angel pun membalas senyum itu.
“Ekhem.” Malik berdehem saat ia sampai di kursinya dan mendudukkan diri di samping Angel.
“Mulai nakal kamu, Bee. Tunggu hukuman dariku.” Ucap Malik dengan wajah datar, sembari membereskan duduknya untuk tetap tegap dan pandangan yang lurus ke depan.
“Siapa takut?” Angel balik menantang.
Malik pun langsung menoleh ke arah Angel dan meraih tengkuknya. Ia ******* habis bibir itu.
“Uhukk.. Uhuk.” Pria bule yang berada di seberang Malik dan Angel itu pun pura-pura batuk, melihat sepasang suami istri di sana tengah berciuman.
Pramugari yang melintas pun hanya menggelengkan kepala, karena Malik memangut bibir istrinya dengan ganas.
‘Mmpph..” Angel berusaha mendorong dada suaminya, karena ia sadar saat ini mereka tengah berada di tempat umum.
“Kak.” Rengek Angel, saat Malik melepas pangutan itu.
“Itu belum seberapa. Masih ada hukuman yang lain nanti.” Ucap Malik dengan senyum menyeringai.
Angel hanya mendengus kesal, sembari meraba bibirnya yang bengkak karena kelakuan suaminya. Semantara Malik bersikap santai dan tetap tersenyum licik sembari menoleh ke arah pria bule di sampingnya, yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1