
Farah berjalan melewati ruang kerja Adrian. Ia melihat ruangan itu yang masih menyala.
“Yan, belum pulang?” Tanya Farah yang lancang membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ia hanya memunculkan kepalanya.
Adrian menoleh sekilas, lalu melanjutkan lagi pada aktifitasnya di depan laptop.
“Kebiasaan masuk ruangan orang ga ngetuk dulu.” Ucap Adrian dengan tetap fokus di depan layar laptop itu.
Farah nyengir. “Lagian, tumben banget udah malem gini, masih disini.”
“Lu sendiri kenapa belum pulang? Nginep lagi?” Kali ini Adrian menatap wajah Farah yang sudah duduk di hadapannya.
“Nggalah, masa iya gue nginep terus di sini.” Jawab Farah.
“Oh berarti lu udah pulang ke rumah Tomy? Lu udah terima dia?”
Farah menggeleng. “Gue nginep di rumah temen.”
Adrian hanya mengangguk dan melanjutkan kembali mengerjakan laporan rumah sakit yang sudah menumpuk dan belum ia kerjakan karena minggu-minggu ini jadwal bedah cukup padat.
Farah memang tak lagi memiliki tempat tinggal. Paska kecelakaan pesawat yang menewaskan kedua orang tuanya, Farah di temani oleh sang nenek. Namun, beberapa bulan kemudian sang nenek di vonis kanker rahim, hal itu pula yang membuat Farah bercita-cita ingin menjadi dokter kandungan. Sang nenek tidak tertolong walau Farah sudah mengusahakan dengan berbagai macam cara hingga hampir seluruh asset peninggalan orang tuanya ludes. Beruntung orang tua Farah telah mendaftarkan asuransi pendidikan untuknya hingga jenjang pendidikan S2, sehingga ia mampu menggapai apa yang ia inginkan.
“Oke deh. Gue pulang duluan.” Kata Farah yang langsung berdiri dan hendak meninggalkan Adrian,
Adrian mengangguk. “Hati-hati, Far. Udah malem. Jangan ambil jalur yang sepi!” Kata Adrian dengan mata yang masih fokus pada layar laptopnya.
“Ya, ya.” Farah hanya menggeleng. Ia memang tahu bahwa pria di hadapannya ini adalah pria yang cuek. Jadi, walau pun perhatian tetap saja gayanya cuek.
Farah berjalan menuju tempat parkir. Ia menaiki mobil sedan berwarna merah miliknya dengan hasil jerih payahnya sendiri selama bekerja di rumah sakit ini. Walau Tomy pernah menawarkan untuk membelikannya mobil, tapi Farah tidak mau. Ia ingin ada yang ia hasilkan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Mungkin setelah bercerai dari Tomy, ia pun akan membeli apartemen kecil untuk dirinya sendiri. Namun, hingga kini gugatan cerai Farah, belum juga Tomy tanda tangani.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel Farah berdering. Sambil menyetir ia menyempatkan untuk melihat ponsel itu. di sana tertera nama Tomy. Memang pria itu sudah hampir dua puluh kali meneleponnya hari ini. Setiap hari, Tomy selalu menelepon wanita yang hingga kini masih berstatus istrinya itu.
Akhirnya, Farah mengangkat telepon itu, karena deringannya cukup menganggu dari tadi. Ia menepikan mobilnya di jalan yang sudah cukup sepi.
__ADS_1
“Halo.”
“Farah. Akhirnya kamu angkat juga.”
“Ada apa?”
“Far, pulanglah. Sungguh aku merindukanmu.” Ucap Tomy yang bingung bagaimana caranya untuk mendapatkan cintanya kembali.
“Keputusanku sudah bulat, Mas. Kita pisah. Aku ga mau jadi penghalang antara kamu dan Diva.” Ucap Farah tegas.
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku?” Tanya Tomy lirih.
“Tidak tahu, Mas.” Jawab Farah perih, sesungguhnya di hati Farah akan selalu ada Tomy, cinta pertamanya, pria yang membuatnya ketergantungan, ia pun tidak tahu setelah ini akan bisa tanpa pria itu atau tidak. Namun, ia akan mencobanya.
“Far,” Tomy memanggil nama istrinya lagi.
“Mas, aku tidak mau memisahkan Diva dengan anaknya. Aku sudah ikhlaskan kamu untuknya.”
“Farah, ngga. Far.”
Farah sengaja mematikan sambungan telepon itu dan langsung menonaktifkan ponselnya. Di sana, Tomy mengetahui titik di mana sang istri berada, karena terakhir ketika ia ke tempat Farah bekerja, ia sengaja memasang GPS pada mobil sang istri.
“Aku akan jemput kamu, Far.” Gumam Tomy saat ia mematikan teleponnya.
Tomy segera bangun dari tempat tidur dan memakai pakaian lengkap serta jaket hoody berwarna hitam.
“Mas, kamu mau kemana?” Tanya Diva yang sudah di diamkan oleh Tomy beberapa hari yang lalu, tepatnya saat Farah mengetahui kehamilan istri keduanya itu karena Diva memeriksakan dirinya di rumah sakit tempat istri pertamanya bekerja.
Tomy masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Diva. Lalu, Diva menarik lengan suaminya.
“Mas, kamu mau kemana?”
“Aku ingin menemui Farah. Sudah ku bilang jika kamu ingin hubungan kita baik-baik saja. Jangan beritahu dia tentang kehamilanmu! Ini malah periksa di rumah sakit tempat Farah bekerja. Apa kamu ingin menunjukkan padanya kalau kamu busa hamil sementara dia tidak?”
“Mas. Buka begitu maksudku.”
__ADS_1
“Kamu bisa periksa di rumah sakit mana saja, tapi kenapa harus ke tempat dia bekerja, Hah?” Tomy emosi. Kata-katanya bernada tinggi.
“Maaf, Mas. Kebetulan aku juga punya kenalan dokter di rumah sakit itu.” Jawab Diva yang sudah meneteskan airmata.
Selama satu tahun lebih menjadi istri kedua Tomy, pria itu tak pernah bicara dengan nada tinggi. Tomy hanya tidak menyentuhnya saja. Namun, sikapnya cukup sopan.
Tomy tetap berjalan keluar. Namun, Diva tetap menahannya.
“Mas, ah.” Diva pura-pura sakit sembari memegangi perutnya.
Langkah Tomy terhenti. Ia yang baru saja hendak meninggalkan Diva, kini berjalan kearahnya.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Mas. Aw perutku sakit.”
Kemudian, Tomy memapah istrinya hingga ke kamar. ia pun membaringkan istrinya di sana dan kembali membuka jaketnya. Ia mengalah untuk buah hati yang sedang Diva kandung. Akhirnya, ia menemani Diva hingga wanita itu terlelap, baru ia akan pergi lagi untuk menjemput wanita yang masih tetap bertahta di hatinya.
Di waktu yang bersamaan ketika Tomy sedang berdebat hebat dengan Diva. Farah masih belum menyalakan mesin mobilnya. Ia masih kesal dengan semua keadaan ini. Ia kesal dengan Tomy. Lalu, ia menekan tape audio mobilnya. Ia ingin mendengarkan musik untuk menghilangkan penat. Namun, tiba-tiba ada dua yang mengendarai sepeda motor menghampirinya dan mengetuk kaca mobil Farah. kedua orang itu terlihat bukanlah orang baik-baik.
Farah melihat sekelilingnya, memang tampak kosong. Ia pun melihat kaca spion dalam yang menghubung ke belakang, tak ada satu pun kendaraan di sana. ia langsung menstrater mobilnya. Namun, kedua orang itu sudah menggedor-gedor kaca mobil Farah. bahkan mereka berniat ingin memecahkan kaca itu. Farah panik, jantungnya berdegup kencang. Sungguh ia sangat takut.
“Keluar.” Kata kedua orang itu, yang tidak bagitu Farah dengar dengan jelas, tapi terlihat dari mulut orang itu.
Farah menghiraukan gedoran orang itu yang mengetuk keras jendela mobilnya. Ia tetap berusaha untuk menjalankan mobilnya. Walau tangannya sudah sangat gemetar.
Bukan bukan dua orang, ternyata satu orang lagi datang dengan sepeda motor. Satu orang itu datang dan langsung menghadang mobil Farah yang sudah bergerak maju.
Kemudian, Farah menggerakkan persneling untuk mundur. Namun, sayang pria yang masih menyalakan motor di sampingnya itu bergerak kebelakang dan mengepung mobil Farah agar tidak bisa berjalan.
Seketika Farah mengerem, karena ketika mundur hampir saja ia menabrak pengendara motor yang sengaja menghalanginya itu.
Prank.
Pria yang tadi menggedor jendela mobil Farah, kini memecahkan jendela itu dengan sebuah tongkat baseball. Sontak Farah langsung merunduk ke samping, agar kepalanya tidak terkena pecahan kaca.
__ADS_1