Melanggar Janji

Melanggar Janji
Kecewa lagi


__ADS_3

“Mas, Aku ga usah di periksa. Aku ga apa-apa kok.” Kata Angel, saat Adrian mengajaknya ke rumah sakit.


“Ayolah! hanya sebentar, lagi pula hari ini kamu libur kuliah kan? Biar Fariz dan Alika di jagain Bibi.”


“Iya, benar, Bu. Penyakit jangan di biarin!” sahut si Bibi.


Adrian memang orang yang protek pada kesehatan.


“Ayolah!” Adrian menarik tangan Angel.


“Tapi aku belum rapih, Mas.”


“Aku tunggu!”


Si Bibi tersenyum melihat sikap Adrian yang semakin perhatian pada istrinya.


Akhirnya Angel menuruti kemauan suaminya, walau dia sangat takut.


“Mas nanti ga usah repot-repot temenin aku. Kalau di sana Mas ada urusan, tidak apa aku di tinggal.” Kata Angel di dalam mobil.


“Baru aku mau bilang, nanti aku ga bisa temenin kamu karena memang aku juga ada jadwal meeting dengan manajemennya.”


Angel lega, hingga mengembang senyum. “iya ga apa-apa, Mas.”


Adrian tiba di rumah sakit dan memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia khusus untuk dokter dan manajemen rumah sakit. Angel ikut turun dari mobil itu. Mereka pun berjalan beriringan. Tiba- tiba, Adrian memegang tangan Angel, membuat Angel menoleh karena terasa tangannya tersentuh. Ia menatap Adrian dari samping, tapi Adrian cuek dan tetap menatap lurus sambil berjalan santai. Ingin rasanya ia melepas pegangan tangan itu. Namun, Adrian menggenggamnya erat.


“Dok.” Sapa seorang perawat dan Adrian pun tersenyum.


“Ciye, bawa istri nih ye.” Kata salah satu dokter yang meledek Adrian. Sementara Angel hanya menunduk. Sungguh ia amat risih dengan ledekan teman-teman Adrian yang di nilainya berlebihan.


Mereka pun sampai di poli kandungan.


“Wah istri dokter Adrian, cantik sekali.” Kata salah satu suster di sana. Angel pun tersenyum ke arah suster-suster itu.


Adrian sedikit berbincang dengan suster itu, lalu Angel di periksa oleh perawat itu sebelum menemui dokter.


Ceklek


Adrian membuka pintu ruangan dokter Farah yang akan menangani Angel.


“Hai, Far.” Sapa Adrian.


“Hai, tumben ke sini.” Kata Farah. Kemudian, Farah sedikit terkejut karena Adrian membawa wanita yang ikut memasuki ruangan itu setelah beberapa menit Adrian masuk.


“Ini istri gue, Far. Kenalin namanya Angel.” Kata Adrian.

__ADS_1


“Akhirnya, lu ajak istri lu juga ke sini.” Ledek Farah.


“Iya, kebetulan tiga bulan terakhir dia sering sakit perut hebat saat datang bulan. Tolong periksa ya!” Kata Adrian. Sedangkan Angel hanya tersenyum sembari mendudukkan dirinya di hadapan Farah.


“Oke.” Farah melingkarkan jemarinya.


“Baiklah, kalau begitu gue tinggal.” Kata Adrian lagi.


“Lah, lu ga nemenin istri lu nih. Gimana sih jadi suami.” Ucap ketus Farah.


Adrian dan Farah memang teman baik di rumah sakit ini, terkadang mereka sering melontarkan kata candaan, ledekan, tapi di kala serius pun mereka tetap fokus.


“Gue ada meeting sama Pak Rizal.” Jawab Adrian menyebutkan direktur operasional rumah sakit itu.


“Iya deh, anak emas, ketemuannya sama petinggi terus.”


Adrian hanya tersenyum.


“Sayang. aku tinggal ya.” Kata Adrian lirih pada Angel dan Angel hanya menganggu di campur terkejut dengan panggilan Adrian tadi.


“Uhuk.. Uhhuk..” Farah pura-pura batuk mendengar Adrian memanggil istrinya dengan sebutan sayang.


“Oke nyonya Hamish, kita periksa ya, langsung berbaring di sini saja.” Kata Farah menunjuk ke tempat tidur pasien dengan berbagai peralatan di sampingnya.


Farah tengah mempersiapkan alat untuk memeriksa Angel, di bantu oleh suster yang tengah mengoles Gel di bagian atas alat itu.


“Iya, tapi alat ini lebih akurat di banding USG di bagian perut. Dengan ini kita lebih tahu jelas apa masalah di dalamnya.” Kata Farah sambil memegang alat USG transvaginal itu.


Farah selalu menggunakan alat itu untuk wanita yang sudah menikah, jika untuk wanita yang belum menikah, ia hanya menggunakan alat USG di bagian perut.


Angel hanya pasrah, lagi pula Adrian tidak berada di ruangan ini.


“Oh, ini ada bercak-bercak merah yang menutupi rahim kamu, lihat bintik-bintik ini.” Ucap Farah dengan mengarahkan matanya pada layar monitor yang berada dekat di samping Angel berbaring.


“Apa itu berbahaya, Dok?” Tanya Angel sembari menoleh ke arah monitor itu.


“Tidak, ini hanya sisa-sisa menstruasi yang tidak luruh sepenuhnya. Tapi ini juga bisa penyebab mengapa hingga saat ini kalian belum di berikan momongan.” Jawab Farah.


Angel tersenyum kecut.


“Ini saya beri resep untuk meluruhkan semua sisa-sisa darah kotor itu. Jangan kaget jika masa peridomu selanjutnya akan berlangsung lebih lama dari biasa.”


Angel mengangguk.


“Setelah bulan depan masa periodemu selesai, saya lihat lagi ya.” Kata Farah.

__ADS_1


“Iya, Dok.”


Angel dan Farah berbincang sebentar. Angel menanyakan beberapa keluhan seputar bagian reproduksi wanita dan sesekali Farah pun bertanya hal pribadi tentang hubungannya dengan Adrian. Pasalnya Adrian di kenal sosok pria yang kaku dengan lawan jenisnya kecuali almarhum istrinya dulu.


“Baiklah kalau begitu saya permisi.” Ucap Angel, lalu pamit keluar.


Setelah itu, Angel beralih ke bagian farmasi untuk menebus obat yang Farah resepkan.


Adrian yang sengaja mempercepat pertemuannya dengan Pak Rizal pun, segera menuju ke ruangan Farah, berharap pemeriksaan Angel belum selesai.


“Far.”


“Eh, istri lu udah pulang.” Kata Farah yangs edang mencuci tangannya.


“Oh, sudah selesai?’ Tanya Adrian.


“Udah, paling sekarang istri lu lagi di farmasi.”


Adrian mengangguk. “Terus kenapa istri gue? Sakit apa dia?”


“Ngga apa-apa kok, Cuma ada sisa-sisa menstruasi yang tidak luruh sempurna. Jadi mengganggu area reproduksinya.” Jawab Farah yang kemudian mendekati Adrian.


“Sabar ya, Bro. Setelah ini kalian bisa segera punya anak. Ya karena kasus seperti ini bisa jadi penyebab kalian lama mendapat momongan.”


Adrian mengeryitkan dahinya.


“Lu periksa Angel dengan USG biasa kan?” Tanya Adrian.


“Ngapain? kurang akuratlah. Istri lu bukan gadis kali bapak Adrian. Wanita yang sudah menikah ya lebih akurat menggunakan USG transvaginal dong. Gimana sih lu.” Jawab Farah santai.


Adrian langsung membulatkan matanya. Ia sungguh tak percaya dengan jawaban Farah, karena ia belum sama sekali menyentuh istrinya, tapi alat itu dengan mudah menerobos **** *************.


“Apa?” Tanya Adrian yang reflek terkejut.


“Apa? Apa gimana maksudnya? Ya itu penyakitnya biasa kok, gue udah kasih obat supaya nanti bisa meluruhkan sisa-sisa itu.” Farah bingung menjawab pertanyaan Adrian yang ambigu.


Adrian menggeleng. Tiba-tiba kepalanya pusing.


“Ya udah gue balik. Thanks.” Adrian langsung meluyur keluar ruangan itu dan Farah hanya bisa menaikan bahunya. Ia tak mengerti dengan sikap Adrian.


Adrian berjalan cepat menuju bagian Farmasi. Ia manatap sinis Angel yang tengah duduk mengantri.


“Wanita seperti ini yang kalian banggakan Ma, Pa?” Adrian menyipitkan matanya. Ia tak menyangka gadis lugu dan baik seperti Angel ternyata memiliki pergaulan yang buruk.


Adrian kecewa lagi pada Angel, di saat ia bertekad untuk memulai hubungan yang selayaknya pada istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2