
Adrian kembali melihat jam dinding, sudah pukul 10 malam, tapi Angel tak kunjung tiba. Ia gelisah sambil berdiri di jendela ruang tamu. Ia menatap arah di luar sana dengan hujan yang masih mengguyur deras di iringi suara petir, sambil memegang ponselnya. Ia terus menelepon ponsel Angel yang tidak aktif. Ia sadar tadi ia begitu keterlaluan.
Mengapa ia tak menjemput istrinya yang sedang kehujanan? Sementara ia malah bersenang-senang dan dalam keadaan yang aman, tak kehujanan. Adrian berpikir semua hal yang ia lakukan pada Angel.
“Pak, Ibu belum pulang?” Tanya si Bibi, saat melihat Adrian yang masih menunggu istrinya.
Adrian mengangguk.
“Kasihan Ibu, Pak. Dia kehujanan di luar, mana petirnya kencang sekali.” Kata si Bibi lagi.
“Saya keterlaluan ya, Bi. Padahal sebelumnya Angel menelepon saya dan meminta di jemput, tapi saya lebih mementingkan urusan saya.”
“Iya, Bapak terlalu sibuk dengan urusan Bapak. Padahal Ibu sangat baik, mana ada orang yang mau mengurus anak yang bukan anaknya.” Si Bibi keceplosan mengeluarkan keluhannya. Sudah lama ia ingin mengatakan ini pada majikannya prianya itu, tapi ia tak berani.
Adrian pun langsung menoleh ke arah si Bibi.
“Maaf, Pak. Bukannya saya lancang.” Si Bibi menunduk.
“Tidak apa, Bi. Kamu benar. Aku memang keterlaluan.”
Lalu, Adrian mengambil kunci mobilnya.
“Kemana, Pak?’ Tanya si Bibi.
“Saya mau jemput Angel dulu, siapa tahu dia masih menunggu di sekitar sana. Tolong, jaga anak-anak ya, Bi.” Ucap Adrian dan si Bibi pun mengangguk.
Adrian menjalankan mobilnya dengan cukup kencang di tengah derasnya hujan. Hari yang semakin malam membuat jalanan tidak lagi ramai. Setelah sampai di area kampus, Adrian memelankan mobilnya dan mencoba mencari keberadaan istrinya.
Ia berhenti di depan gedung kampus Angel yang sudah sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa laki-laki yang duduk berkerumun beberapa orang di dalam sana.
Lalu, Adrian turun mengenakan payung dan bertanya pada mahasiswa itu. Namun, tak ada satu pun yang tahu keberadaan Angel.
“Angel, kamu di mana?” Gumam Adrian, saat ia sudah berada lagi di dalam mobil.
Ia kembali menjalankan mobilnya dan berputar. Lalu, Ia pun berhenti di sebuah halte, persis di tempat yang tak jauh dari Angel terjatuh saat berlari menuju halte itu. Adrian pun turun dan bertanya pada penjual toko klontong yang berada persis di samping halte. Untungnya, kali hujan tidak lagi se deras ketika ia berangkat tadi.
“Pak, Maaf mau tanya. Apa bapak lihat perempuan ini?” Adrian menunjukkan foto Angel dari ponselnya.
__ADS_1
Ia pernah beberapa kali meng-candid Angel yang tengah duduk termenung di kolam renang sambil menunggu Alika dan Fariz selesai berenang.
“Oh, ini. Iya saya lihat Pak. Tadi ibu ini berlari ke arah halte ini terus barang-barangnya terjatuh. Saya juga nemuin ini di jalan itu, Pak. Ini pasti punya ibu itu.” Jawab penjual klontong itu sembari memberikan jam tangan berwarna gold.
Jam tangan itu adalah jam tangan pemberian Adrian, saat ulang tahun Angel tahun kemarin.
“Oh.” Adrian menerima benda itu sambil berpikir.
Selama menjadi istri Adrian, Angel tak meminta apapun darinya, bahkan uang bulanan yang ia berikanpun tidak pernah Angel pakai selain untuk keperluan belanja rumah tangga.
“Terus kemana dia setelahnya, Pak?” Tanya Adrian lagi.
“Oh, iya. Setelah itu ada pria yang memayungi ibu itu, terus pria itu membawa si ibu masuk ke mobilnya.”
Sontak, Adrian terkejut. “Pria?” Gumamnya.
“Iya, pak. Tingginya sama deh kaya Bapak, badannya juga tegap. Gantenglah.” Sahut penjual klontong itu lagi.
“Baiklah, terima kasih.”
Adrian kembali menatap jam tangan yang basah dan lusuh itu. Hatinya berkecambuk, menerawang siapakah pria yang menolong Angel kala itu? Dan, Mengapa Angel teledor dengan mengabaikan barang pemberiannya ini?
Adrian kembali lagi ke rumahnya. Ia memasuki rumahnya dengan berjalan gontai.
“Gimana, Pak? Ibu ketemu?” Tanya si Bibi setelah membukakan pintu untuk majikannya yang terlihat lesu.
Adrian menggeleng. Lalu, berjalan melewati si bibi menuju kamarnya. Di sana ia mencoba lagi menelepon ponsel Angel. Lagi-lagi hanya ada suara operator di sana. Ponsel Angel masih tidak aktif. Lalu, Adrian membersihkan diri. Pikirannya masih tertuju pada Angel dan pria yang di katakan penjual klontong itu.
Malam semakin larut, tapi mata Adrian belum juga terpejam. Hingga menjelang subuh, ia baru bisa memejamkan matanya. Entah mengapa, mendengar ada pria lain yang membantu Angel yang membutuhkan pertolongan, membuatnya resah dan takut.
****
Pagi harinya, di kamar apartemen Angel, Malik terbangun lebih dulu. Tangannya terangkat untuk menyentuh hidung mancung, bibir tipis da pipi mulus Angel. Ia tak menyangka malam ini, Angel sendiri yang meminta untuk di sentuh. Saat menjadi kekasihnya saja, selalu Malik yang megajak wanita itu untuk melakukan dosa ini.
“Aku tahu kamu masih sangat mencintaiku, Bee.” Gumam Malik persis di hadapan Angel yang masih terpejam.
“Kamu cinta pertamaku, Bee. Satu-satunya wanita pertama yang menyentuh hati dan tubuhku.” Malik tersenyum sendiri di tengah gumamamnnya.
__ADS_1
Mata Angel ikut terbuka perlahan. Ia tersenyum ke arah Malik yang tengah menatapnya dengan senyum. Tangan Malik masih mengelus pipi mulus itu.
“Pagi, Bee.”
Angel menaikkan selimut tebal itu untuk menutupi tubuh polosnya. Ia menyambut sapaan Malik dengan senyum. Ia tersenyum bahagia, walau ada rasa bersalah besar yang menggelayut di benaknya.
“Kamu kenapa?” Tanya Malik, saat melihat angeltak lagi tersenyum dan memandang ke arah lain dengan tatapan kosong.
“Kita penjahat, Kak.” Kata Angel dengan tatapan kosong.
“Salah Adrian yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Sebelumnya aku sudah merelakanmu, tapi setelah mendapatimu di sini dengan mata bengkak dan pipi basah. Aku tidak bisa tinggal diam.” Kata Malik yang juga menceritakan pertemuannya dengan Mang Asep, hingga supir Adrian itu menjadi informan untuknya.
“Jadi?” Tanya Angel, sambil menggeser tubuhnya.
“Maaf, Bee. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja di sana.”
“Pantas saja kamu tahu semuanya.”
Mereka kembali terdiam. Namun, tangan Malik tak berhenti mengelus pipi, rambut, dan bahu Angel.
“Kak.” Panggil Angel dengan menoleh ke arah Malik.
“Hmm..”
“Urus perceraianku dengan Mas Adrian.”
Malik langsung bangkit. “Sungguh?”
Ia senang bukan kepalang. Ingin rasanya ia melompat kegirangan.
Angel mengangguk. “Sungguh.”
“Bee.” Malik memeluk tubuh yang semalam ia rasakan itu.
Dengan cepat, Malik turun dari ranjang dan mengambil ponselnya. Ia pun langsung menelepon salah satu lawyer kenalannya. Memastikan, gugatan cerai Angel cepat dan langsung di proses, walau nantinya Adrian mempersulit.
Angel tersenyum melihat Malik yang dengan semangat menelepon temannya di sana. Akhirnya, ia bisa mengambil keputusan untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Walau, ia masih memikirkan Alika dan Fariz, terutama ayahnya. Bagaimana ia akan bicara dengan sang ayah mengenai ini? Angel sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Adrian.
__ADS_1