Melanggar Janji

Melanggar Janji
Sahabat terbaik


__ADS_3

“Bee, kamu ngapain?” Tanya Malik sembari melingkarkan kedua tangan di perut Angel.


“Bikin kue.” Jawab Angel.


“Ngapain sih kamu capek-capek, Bee. Istirahat aja, mumpung ini massih hari libur. Besok kan udah mulai aktifitas lagi.”


“Ngga enak kak, ga ada camilan. Kan lagi ada tamu.”


Sejak sampai di kota ini, Jonathan kekeh untuk tinggal di rumah Malik. Ia menolak untuk menginap di hotel.


“Ck. Emang tuh anak ngerepotin banget. Di suruh nginep di hotel juga.” Malik berdecak kesal dan menyandarkan diriinya pada meja marmer, tepat berhadapan dengan sang istri yang masih berkutat dengan bahan-bahan kue yang hampir jadi dan tinggal di panggang.


“Ngga apa-apa, Kak. Aku ga repot kok.” Angel menangkup wajah suaminya.


“Biar gimana pun dia itu sahabat kamu dan pernah membantu kita. Hmm.” Angel tersenyum.


“Kamu baik banget sih, Bee. Hah aku jadi pengen. Tapi lagi puasa.”


Angel terkekeh geli.


Kemudian, Malik keluar dari dapur dan duduk bersama Jo di ruang televisi.


“Huft.” Malik menghelakan nafasnya sembari mendaratkan dirinya di sofa.


“Kenapa lu?” Tanya Jo yang berada di sampingnya.


“Baru sehari udah pusing.” Jawab Malik.


“Pusing kenapa? Kerjaan? Angel bermasalah?” Tanya Jo bertubi-tubi.


“Bukan. Hah, lu ga bakal ngerti dah. Lu kan belum pernah.”


Jo tertawa. “Gue tau Angel lagi hamil muda kan? Terus lu di suruh puasa?”


Malik terbelalak. ‘Loh kok lu tau?”


“Ya elah, gue dokter kali, walaupun gue bukan dokter kandungan tapi sedikit banyak, gue tau lah.” Jawab Jo santai


“Lik.” Jo memanggil sahabatnya yang sedang memijit pelipisnya.


“Apa?”


“Temenin gue ngelamarin Rumi dong.”


“Serius lu? Lu baru ketemu Rumi beberapa kali loh. Lu yakin?” Malik kembali bertanya.


Jo mengangguk. “Gue emang pernah deket sama cewek, tapi gue ga pernah seyakin ini. Dan, gue udah suka sama doi sejak pandangan pertama, Lik.”


Malik terdiam sejenak. Lalu, ia menganggukkan kepalanya.


“Eh beneran. Lu mau nemenin gue?” Jo menggoyangkan lengan sahabatnya.


“Iya.” Jawab Malik lirih.


“Serius, Lik?”

__ADS_1


“Iya, bawel.” Kini Malik berkata dengan nada yang cukup kencang dan di arahkan tepat di telinga Jo.


“Biasa aja kali. Telinga gue ampe budek.” Gerutu Jo, sambil menutup telinganya yang berdengung akibat suara Malik.


“Gue mau bawa Rumi ke Jepang.” Tiba-tiba Jo berkata lagi.


Malik menoleh ke arah sahabatnya. “Lu jadi menetap di sana?”


Jo mengangguk.


Selama ini, Jo memang hidup sendiri. Paska meninggalnya sang ayah ketika ia duduk di bangku SMA, ibu Jo bekerja di Jepang dan dekat dengan salah seorang pengusaha di sana. Mereka pun menikah. Ibu Jo sering kali meminta putranya untuk tinggal bersama sang ibu di sana. Namun, Jo masih menolak. Tapi kali ini, sepertinya ia tidak bisa lagi mneolak permintaan sang ibu. Selain karena ibunya yang sudah semakin tua, ia pun ingin memulai kebersamaan yang selama ini telah banyak hilang.


“Bokap sambung gue mengakuisisi salah satu rumah sakit di sana. bukan rumah sakit besar sih. Terus nyokap minta gue yang kelola.” Kata Jo.


“Terus, Nyokap lu tau, kalo lu mau nikah?” Tanya Malik.


“Justru, dia yang minta. Mama bilang kalo bisa gue dateng ke sana udah bawa istri. Seperti takdir, setelah perbincangan panjang gue sama mama waktu itu, eh gue ketemu Rumi di pesta pernikahan lu. Itu seperti gayung bersambut, Lik.”


“Siapa yang mau nikah?” Tiba-tiba Angel datang dan bertanya.


Kebetulan Rumi sedang berada di ruang laundry, sehingga ia tak mendengar percakapan ini.


“Nih.” Malik melirik ke arah Jo.


Angel langsung menganga tak percaya, setelah Jo menjelaskan keseriusannya pada Rumi.


“Tapi dia tuh masih kuliah loh, Kak.” Ucap Angel.


“Ga masalah, Ngel. Nanti bisa terusin di sana.” Jawab Jo.


“Terus, kapan mau ngelamarnya?” Tanya Angel lagi.


“Lusa.”


“Apa?” Malik dan Angel bertanya bersamaan.


Jo tertawa. “Lu berdua kompak banget sih.”


“Lu ga salah?” Tanya Malik.


“Nggalah, toh gue kan udah kepergok di dalam kamar berdua sama dia.”


“Ah licik lu.” Malik mentoyor kepala sahabatnya. Sementara Jo hanya nyengir.


“Angel, untuk nanti sore sama besok. Gue minta izin bawa Rumi jalan-jalan ya, sekalian PDKT.” Ucap Jo lagi.


Angel mengangguk.


“Eh ga bisa, si Rumi suruh masak dulu paginya. Nanti kamu kecapean, Bee.” Sahut Malik.


“Ngga aoa-apa, kak.”


“Bini lu aja bilang ga apa\=apa. Kenapa lu yang repot sih?” Kesal Jo.


“Lu yang bikin repot. Awas ya kalo Angel kecapean gara-gara lu.”

__ADS_1


“Dasar posesive.” Jo berteriak di wajah Malik sembari meluyur ke dapur.


“Eh, jangan mesum lu di belakang.” Teriak Malik yang tahu maksud sahabatnya ke dapur pasti sekalian untuk menemui Rumi di sana.


“Syirik aja yang lagi puasa.” Ledek Jo, membuat Malik kesal dan menimpuknya.


Angel hanya tertawa. Lalu duduk mendekati suaminya.


“Sabar ya, baru sehari.”


“Sehari aja udah pusing rasanya, Bee.”


Angel tertawa dan memeluk suaminya. Malik pun langsung mengeratkan pelukan itu. Sang istri benar-benar sudah seperti morfin. Malik akan sakau, jika tak menyentuh tubuh istrinya sehari saja. Untung dia masih waras, karena saat ini Angel tengah mengandung buah cinta mereka. Dua nyawa yang akan melengkapi kebahagiannya.


****


Jatah cuti Jo hanya satu minggu dan ia benar-benar memaksimalkan keberadaannya di sini hanya untuk mengenal Rumi lebih dekat. Ia pun beberapa kali bertandang ke rumah gadis itu. Rumi sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Joni.


Di kantor, Joni terlihat berbeda, pria itu lebih fokus bekerja, walau sebelumnya pun Joni memang bisa di andalkan. Malik tak mengatakan apapun pada Joni perihal Rumi yang akan di nikahi sahabatnya. Ia tak mau mencampuri urusan orang lain.


Hari ini adalah hari terakhir Jo berada di kota ini. Selanjutnya ia akan kembali bekerja dan mengurus pemberhentian diri di rumah sakit tempat ia bertugas selama ini.


Malik dan Angel bersiap untuk menemani Jo ke rumah Rumi. Di sana, mereka di terima dengan baik, apalagi Rumi memang dari keluarga sangat sederhana. Keluarga Rumi bak tertimpa bulan, karena akan mendapatkan menantu seorang dokter.


Selama menemani Jo jalan-jalan, sikap Jo yang baik dan perhatian, mampu seketika meluluhkan hati Rumi yang pada saat itu tengah bersedih karena putus dari Joni, di tambah kata-kata pria itu yang sangat menusuk hati.


“Kalau bapak, bagaimana Rumi saja. Rumi mau. Bapak pasti setuju.” Ucap ayah Rumi saat Jo mengatakan maksudnya.


Kemudian, semua menoleh ke arah Rumi dan seketika Rumi pun mengangguk. Jonathan tersenyum.


“Lik, akhirnya gue kawin.” Ucap Jo berbisik di telinga sahabatnya.


Malik dan Angel tersenyum. Begitu pun keluarga Rumi. Rumi pun menampilkan senyum manisnya. Setelah itu, Jo meminta pernikahan mereka di percepat, karena bulan depan ia akan langsung membawa Rumi ke Jepang. Keluarga Rumi pun tak masalah, karena semua keperluan dan biaya pernikahan akan di tanggung oleh Jo sepenuhnya. Mereka akan menggelar pernikahan di kota ini.


“Lik makasih ya. Lu emang yang terbaik.” Jo terlalu bahagia, ia memeluk Malik dengan erat, setiba mereka di rumah Malik.


Semua urusan hari ini berjalan dengan lancar. Ia pun dapat kembali ke Jakarta dengan tenang.


“Iya, lu juga sahabat terbaik gue.” Jawab Malik.


Lalu, Jo beralih untuk memeluk Angel. Ia sudah bersiap merentangkan kedua tangannya untuk meraih tubuh istri Malik. Namun, dengan cepat Malik menghadangnya.


“Mau ngapain lu?”


“Peluk Angel lah, Angel kan juga udah banyak bantuin gue.”


“Ga perlu.” Kata Malik ketus.


“Sebagai ucapan terima kasih doang, Lik. Ah, parah lu.”


“Kaga pake. Sana-sana!” Malik mendorong jauh tubuh Jo yang sudah mendekati istrinya.


Angel terus tertawa melihat kedua pria bersahabat ini.


“Bener-bener ya, lu.” Jo menunjuk ke arah Malik sembari berjalan menuju kamar tamu, atau lebih tepatnya kamarnya sendiri selama menginap di rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2