
Angel masih diam dan tak banyak bicara. Ia lebih sering megalihkan pandangannya ke arah jendela. Lalu, ia terkejut saat Malik tidak berjalan sesuai arah jalan menuju rumah Adrian.
“Kita mau kemana?” Tanya Angel menoleh ke arah Malik yang masih fokus ke depan.
“Ada deh.”
“Apa sih, Kak. Aku harus sampai di rumah sebelum Mas Adrian dan anak-anak sampai rumah.”
“Iya, kita akan sampai rumah sebelum mereka sampai, tapi aku tidak akan melewatkan malam ini.” Malik menoleh ke arah Angel sambil tersenyum.
“Kenapa kamu suka seenaknya, selalu melakukan sesuatu semaumu tanpa berfikir bagaimana denganku nanti.” Ucap Angel lirih.
Seketika Malik menghentikan mobilnya. Hatinya seperti teriris mendengar Angel mengeluh.
“Bagaimana, jika malam ini kita pergi ke Singapore? Kita tinggalkan semua hal yang menyebalkan di sini.” Ucap Malik yang sudah mendekat ke wajah Angel.
Angel menggeleng. “Lalu kita tinggal bersama tanpa menikah? Heh, lebih baik aku jadi istri Adrian.”
“Bee.” Malik menarik wajah Angel.
“Aku tahu sebelumnya aku tidak memperjuangkan cinta kita. Tapi aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu. Rasanya sangat menderita, Bee.” Kata Malik lagi lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku ingin membawamu pergi sejauh mungkin. Perceraianmu dengan Adrian akan aku urus dan kita menikah di sana.”
“Bagaimana dengan ayahku? Jika kita menikah itu harus dengan restunya. Jika tidak maka pernikahan kita tidak sah.” Sahut Angel kesal.
Seketika Malik terdiam dan tidak lagi bicara.
“Pulanglah, Kak. Aku pusing.” Kata Angel. Lalu, Malik meneruskan lagi perjalanannya.
saat di perjalanan, suasana terlihat masih ramai, walau malam akan semakin larut.
__ADS_1
Duar.. Duar... Bunyi kembang api terdengar dan terlihat indah di langit, saat keduanya melewati acara pesta kota jakarta.
Malik melihat arah mata Angel yang tertuju pada kembang api yang menyala di atas seperti bentuk sebuah bunga yang mekar, ketika mereka berhenti di sebuah lampu merah. Ia pun, kembali berbalik dan memberhentikan mobilnya di acara itu.
“Kak, ngapain sih ke sini. aku takut terlambat sampai rumah.” Rengek Angel yag masih bertahan di tempat duduk mobil itu, walau Malik telah membukakan pintu untuknya.
“Sebentar, Bee. Ayolah!” Jawab Malik tersenyum.
Angel pun menginginkan ini, ia juga butuh refreshing. Akhirnya, Angel mengikuti Malik. Di perjalanan ia tak henti-henti tersenyum sambil melihat kembang api yang bermekaran di atas langit.
“Yeayy..” Tiba-tiba Angel bertepuk tangan seperti anak kecil, saat melihat kembang api itu terus menari di udara.
Tiba-tiba wajah kesal Angel berubah menjadi ceria. Hal itu sungguh membuat Malik senang. Malik berlari ke penjual kembang api itu dan membelinya.
“Sekarang giliran kita yang menyalakan.” Kata Malik yang langsung menyalakan kembang api itu, membuat beberapa orang ikut berkumpul untuk melihatnya.
“Aaa..” Teriak Angel sambil menutup kedua telinganya, saat bunyi kembang api itu terdengar nyaring.
“Kak, Awas. Hahahaha..” Angel tertawa dan menarik lengan Malik, saat Malik belum menghindar padahal kembang api itu sudah menyala.
Mereka kembali tertawa.
“Kak, satu lagi belum di nyalain nih.” Kata Angel.
“Oke.” Malik tersenyum dan kembali menyalakan kembang api itu.
****
Angel sudah siap berangkat ke kampus siang ini. ia melihat Alika dan Fariz yang masih tertidur di kamarnya masing-masing, setelah mereka pulang sekolah dan makan siang.
“Udah mau berangkat, Bu?’ Tanya si Bibi.
__ADS_1
“Iya, Bi. Anak-anak masih tidur, tapi makanan sudah saya masak nanti tinggal di hangatkan kalau mereka bangun atau pun kalau bapak pulang.”
Si bibi mengangguk. “Baik, Bu.”
Angel pun keluar dari rumah itu dan menaiki ojek online roda dua hingga stasiun kereta. Tahun ini ia sudah menyelesaikan semua mata kuliah, hanya tinggal mengerjakan tesis dengan judul yang telah di setujui oleh dosen pembimbingnya. Mungkin, ia akan semakin sibuk akhir-akhir ini.
Angel sampai di stasiun dan langsung berlari karena ketika ia masuk, kereta itu sudah ada dan berhenti.
Sesampainya di dalam kereta, Angel langsung duduk dan mengatur nafasnya yang masih naik turun karena lelah berlari. Angel membuka tasnya dan menenggak sedikit air mineral yang ia bawa di dalam tas, walau sebenarnya di sana ada larangan untuk makan dan minum. Namun tenggorokannya terasa sangat kering. Setelah itu, ia meneggakkan wajahnya lurus ke depan. Di sana sudah terlihat pria yang semalam mengajaknya bermain kembang api.
Ya, Malik tengah duduk di sana sembari mengulas senyum. Angel menoleh ke arah yang lain, seolah ia tak melihat pria itu. Namun, pria itu terus memandangnya.
Akhirnya, Angel berdiri untuk duduk di tempat yang lain, karena di jam seperti ini tranportasi ini masih cukup sepi. Malik pun berdiri dan mengikuti Angel yang berpindah tempat duduk.
“Kamu ngikutin aku?” Tanya Angel sinis.
“Nggak, ge er banget sih.” Sahut Malik sembari menggelengkan kepalanya dan tetap mengulas senyum.
“Terus ngapain?” Tanya Angel lagi.
“Jagain kamu.”
Angel kembali mengeser kepalanya ke arah jendela. Ia tersenyum. Entah mengapa kehadiran Malik membuat hari-harinya kini lebih ceria.
“Aku takut kamu kenapa napa di jalan. Hanya memastikan kamu sampai depan kampus dengan baik. Hanya itu.” Ucap Malik lirih tepat di telinga Angel.
Namun, Angel tetap tak menoleh lagi ke arahnya. Ia tetap memalingkan wajahnya ke arah jendela, walau sebenarnya wajah itu tengah tersenyum dan hati itu sangat senang.
Malik benar-benar menemani Angel hingga ia sampai di depan kampus.
“Bye, Bee.” Malik melambaikan tangannya dan membiarkan Angel menyebrang ke arah gedung kampus yang tidak begitu tinggi.
__ADS_1
Angel menoleh ke arah Malik dengan senyum yang manis, sembari membalas lambaian tangan itu.
Akhirnya, Malik melihat kembali senyum manis itu, rasanya sangat bahagia. Ia pun tersenyum dan ia bertekad akan selalu berada di samping wanita yang rapuh tapi seolah-olah tegar itu.