
“Hei, pagi-pagi udah ada di sini aja. Yan.” Farah menepuk puggung Adrian yang sedang membungkuk sambil menyecap vanila latte di cafe yang ada di dalam rumah sakit.
Adrian menoleh. “Hei.”
Farah ikut duduk bersama Adrian berhadapan.
“Terima kasih.” Ucap Farah pada pelayan yang membawakan zuppa soup sesaat ketika ia mendudukkan dirinya di hadapan Adrian.
Adrian menatap makanan yang Farah pesan. Ia teringat sewaktu Angel datang ke rumah sakit ini. ia pun membelikan menu yang sama untuk wanita yang dulu masih berstatus istrinya.
“Kenapa, mau?” Tanya Farah sembari mengangkat sendok yang bersisi soup hangat itu.
Adrian menggeleng.
“Lagian dari tadi ngeliatin makanan guee. Kalo mau sini gue suapin. Aaa..”
“Apaan sih, Far. Ngga.” Adrian berusaha menghindarkan wajahnya dari sendok yang Farah sodorkan.
“Udah, Jangan malu-malu! Ayo coba. Aaa.” Farah tak mau kalah. Ia menahan dagu Adrian dan dengan terpaksa Adrian membuka mulutnya.
‘Nah, enak kan.”
“Panas, Far. Hah.” Adrian membuka mulutnya sambil mengibar-ngibas tangannya ke arah itu.
Farah tertawa geli melihat Adrian yang kaku, berhasil ia kerjai.
“Rese lu, Far. Ngerjain gue.” Kata Adrian setelah ia berhasil memakan makanan yang sudah ada di mulutnya.
Farah masih tertawa. Ia tertawa geli hingga memegangi perutnya.
“Puas lu.” Kesal Adrian.
“Sorry. Sorry.” Farah menepuk pelan dada Adrian dan mencoba menghentikan tawanya.
Adrian menatap Farah yang cantik dengan tawanya yang lebar.
“Stop. Ganti sendok.” Adrian menahan tangan Farah saat ia mau memasukkan sendok itu ke mulutnya.
“Emang kenapa?”
“Bekas gue. Ganti!”
“Ya elah, lu ga rabies kan?” Tanya Farah meledek.
“Farah lu tuh ya, ngeyel banget jadi orang.”
“Hmm.. Nyam. Nyam.” Farah sudah memasukkan sendok itu ke mulutnya bertepatan dengan Adrian yang memanggil pelayan untuk menggantikan sendok itu.
“Yah udah ke telen.”
“Dasar.” Adrian mencibir wanita yang seaunya itu.
Farah menikmati makanannya dengan khusuk, sementara Adrian memainkan ponsel sambil menyecap minumannya.
“Lu, ga pulang lagi?” Tanya Adrian dengan mata tertuju pada ponslnya.
Farah terdiam dan tetap asyik makan.
“Far, lu ga pulang lagi?” Kini Adrian menatap wajah Farah.
“Hah, lu nanya sama gue? Gue kira lu lagi ngomong sama handphone.”
“Plis deh, Far. Garing lu.”
“Lagian nanya tapi mukanya ke situ.” Ucap Farah menunjuk ponsel Adrian.
Namun, Adrian tetap menatapnya dan memajukan tubuhnya, sehingga mereka bertatapan dengan jarak yang dekat. Baru kali ini Farah menatap Adrian dengan jarak dekat.
__ADS_1
“Bola mata lu bagus, Yan.” Farah semakin menatap mata Adrian lebih dekat.
Adrian merasa jantungnya berpacu cepat. “Apaan sih, lu.”
Ia berusaha menghindar. Namun, Farah menangkup kepala Adrian dengan cepat.
“Eh, beneran bola mata lu bagus. Warnanya coklat. Gue suka tau cowok bermata coklat, kaya mata kucing gitu.”
Adrian menepis tangan Farah. Ia tak mau Farah mendengar degup jantungnya yang cepat hanya karena wanita itu memandang kedua bola matanya.
“Ish, ga asyik banget sih lu. Yan. Pantes sampe sekarang masih sendiri.” Tegas Farah.
“Eh, urusin urusan lu.” Adrian hendak pergi. Namun tangannya kembali di cekal.
“Sorry. Ih gitu aja ngambek. Abisin tuh minumannya.”
Lalu, Adrian kembali duduk. Ia menatap jam di tangan kanannya, waktu bertugas masih cukup lama, karena untuk menghindari macet, tadi ia berangkat lebih pagi.
Mereka terdiam beberapa detik, hingga akhirnya Adrian kembali bersuara.
“Dari kemaren gue liat Tomy nunggu di lobby sampe jam tiga sore, dari pagi.”
Farah mengerdikkan bahunya. “Tau, semua orang juga bilang.”
“Lu ga kasihan?” Tanya Adrian.
"Ga tau, Yan. Sepertinya tekad gue udah bulat.” Jawab Farah.
“Apa?”
“Pisah.”
“Jangan gegabah, Far. Lu baru ngerasain kehilangan kalau dia udah bener-bener ga ada di sisi lu.” Jawab Adrian.
“Pengalaman pribadi ya, Pak.” Ledek Farah sembari menaikkan alisnya.
“Iya, makanya gue bilangin ke elu.”
“Tapi gue liat Tomy itu cinta banget sama lu. Kalo engga, ga mungkin dia nunggu lu selesai tugas dari pagi sampe sore.”
“Cinta hadir karena terbiasa, Yan. Nanti kalo gue udah pisah. Dia juga bakal cinta sama istri keduanya.”
“Masa’ sih?” Tanya Adrian ragu.
“Ck. Iya.” Farah kembali terdiam
“Sebenarnya, ga salah sih kalo Tomy punya istri lebih dari satu. Dia punya kesiapan untuk berpoligami. Toh dia mapan dan bisa mencukupi. Gue yakin dia juga bisa adil, karena gue akui dia itu baik. Tapi gue nya yang belum siap, Yan. Keimanan gue masih cetek. Gue belum bisa berbagi. Jadi ya, sebenarnya permasalahan itu ada di gue. Dan, untuk memutus permasalahan itu. gue yang harus pergi.” Ucap Farah santai, sambil memainkan gelas di tangannya. sudah tidak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya. Selama dua hari bermalam di rumah sakit, membuat ia banyak merenung.
Adrian menatap sendu wajah wanita yang sedang duduk di hadapannya.
“Eh, kenapa lu yang sedih.” Farah menegakkan dirinya dan menjentikkan jarinya di wajah Adrian.
“Hmm..” Adrian tersadar.
Kata-kata yang baru saja ia dengar dari mulut Farah membuatnya tersihir. Ia terpesona dengan kedewasaan wanita itu.
“Terus.”
“Terus apa?” Tanya Farah.
“Apa?’
“Ih, lu aneh deh. Yan.”
“Sorry, maksud gue. Gue ga bisa berkata-kata lagi karena sebenarnya lu udah memahami masalah lu.” Jawab Adrian sambil menyandarkan punggungnya di kursi cafe itu.
“Ya, emang gue sadar. Gue yang punya kekurangan di sini. masalahnya emang ada di diri gue. Gue juga ga boleh egois, karena tujuan orang menikah adalah keturunan. Jadi, gue ikhlas. Tapi Tomy juga gak boleh egois kalo gue minta pisah. Bener kan? Kalo dari sisi lu nih sebagai cowok. Keputusan gue ga egois kan?”
__ADS_1
Adrian mengangkat bahunya. “Egois.”
“Kok gitu. Kan gue udah ikhlasin dia.” Protes Farah.
“Lu hanya berpikir dari sisi lu sendiri, Far. Kalo gue dari sudut pandang Tomy. Siapa tau dia ga sengaja ngehamilin istrinya.”
Farah tertawa. “Dia istrinya, Yan. Sah- sah aja kalo Tomy ngehamilin istrinya.”
Adrian pun ikut tertawa. “Iya sih.”
“Terus?” Farah Mengangkat lagi bahunya.
“Ah susah ya ngomong sama cewek.” Entahlah, Adrian juga bingung menanggapi masalah Farah, karena ia pun pernah tidak dalam kondisi rumah tangga yang baik, sebelumnya.
“Iya udahlah, lagian pusing-pusing amat. Seperti ini, bekerja mengabdi pada masyarakat dan membantu orang udah cukup buat gue bahagia kok.” Ucap Farah menunduk sembari memainkan gelasnya.
Adrian menatap wajah Farah. Wanita itu memang low profile, easy going, dan apa adanya. Tiba-tiba Farah meluruskan pandangannya. Ia menangkap mata Adrian yang sedari tadi menatapnya.
“Apa?”
Adrian menggeleng. “Ngga apa-apa.”
Farah mengerucutkan bibirnya.
“Hai. Wah ngapain lu berdua.” Ucap Egy dan Bayu.
“Wah bener nih kata orang. lu berdua ada affair ya?” Tanya Bayu.
“Apaan sih. Fitnah. Balik ah gue.” Farah beranjak dari duduknya.
“Eh, Far. Ga asyik lu. Baru gue mau minta bayarin makan.” Teriak Bayu yang sudah lama membayangkan tubuh molek Farah.
"Rabies gue, kalo lama-lama deket lu." Farah meluyur keluar dari cafe itu.
"Si*l*n, lu. Far." Jawab Bayu.
Farah sering merasakan tatapan Bayu yang kurang enak ketika mereka bersama. Oleh karenanya, Farah selalu menghindari pria playboy itu.
Adrian pun tertawa dengan sikap Farah yang tidak mau berdekatan dengan Bayu.
“Beneran lu ada affair sama Farah. Katanya ada yang lihat malam-malam lu bedua di lantai atas.” Ucap Egy mendekati Adrian.
“Ngga, Cuma kebetulan aja.” Jawab Adrian.
“Gue tau, Farah tuh lagi ada masalah sama suaminya.” Sahut Bayu.
“Ah lu, bedua tukang gosip.”
“Halah, kalo lu ga mau, gue duluan nih yang nyosor. Katanya doi bentar lagi jadi janda.” Kata Bayu lagi.
“Ah, lu mah emang dari dulu ngebayangin bodinya Farah mulu.” Egy mentoyor kepala teman sejawatnya.
“Mantep, Bro. Biasanya cewe periang kek gitu, asyik di ranjang.”
“Halah cewek pendiem juga, asyik di ranjang, lebih hot lagi.”
“Stop. Apa sih lu pada. Pusing gue.” Kata Adrian.
Kedua temannya itu pun terdiam.
“Yan tau ga kenapa di tubuh kita terdiri beberapa sendi?” Tanya Bayu.
“Ya sebagai penghubung tulang supaya bisa di gerakkan lah. Gitu aja nanya.” Jawab Adrian santai.
“Salah.” Ucap Egy dan Bayu.
“Supaya lu ga SENDI RIAN.” Ucap Bayu.
__ADS_1
“Si*l, lu.” Adrian menimpuk temannya berkali-kali.
Mereka pun tertawa.