
“Tante, boleh kami panggil tante dengan sebutan bunda?” Tanya Alika pada Angel. Pria berumur lima tahun yang berdiri di samping Alika pun menatap Angel dengan penuh harap.
Angel tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja.”
Alika dan Fariz bermain bersama Angel di kamar rumah itu, sedangka para orang tua masih bercengkrama di ruang tamu. Angel mengajak Alika untuk bermain koleksi boneka miliknya, sementara sang adik mengekori kakaknya.
“Kalau Alika suka boneka ini, Alika boleh bawa pulang.” Kata Angel yang tak tega melihat bocah berusia delapan tahun itu selalu mengekap barbie limited adition yang Angel simpan rapih dalam kotak mainannya.
“Beneran? Ini boleh Alika bawa, Bun?” Tanya Alika antusias.
Angel mengangguk. Sebelumnya, Dila sempat bercerita tentang Alya pada Angel. Alya adalah istri Adrian, sekaligus ibu dari Alika dan Fariz yang sudah meninggal sejak melahirkan Fariz ke dunia. Saat Alya akan operasi caesar, dokter baru menemukan bahwa ia memiliki emboli cairan ketuban. Kondisi dimana masuknya cairan ketuban, sel bayi, atau bahan lain dari rahim menuju ke sirkulasi darah ibu hamil saat melahirkan. Dokter memberi dua pilihan pada Alya dan Adrian. Namun, Alya memilih melahirkan Fariz dan mengorbankan nyawanya, karena Alya tahu betul bahwa Adrian mendambakan anak laki-laki.
Angel menatap Fariz seperti dirinya dulu. Ia yang memang menyukai anak-anak, semakin menyukai Alika dan Angel karena memiliki nasib yang sama. Alika dan Fariz pun terlihat senang dan sangat menyukai Angel.
“Bunda baik.” Alika tersenyum manis, membuat Angel pun ikut tersenyum.
“Kalau ini, boleh buat aku, Bun?” Tanya Fariz yang menyukai bantal berbentuk bolaberwarna hijau merah dengan krincingan di dalamnya.
Angel kembali mengangguk. “Boleh dong.”
Alika dan Fariz langsung memeluk tubuh Angel yang sedang duduk di lantai. Mereka sangat menyukai Angel sejak pandangan pertama, karena sikap Angel yang ramah. Padahal kedua anak itu paling sulit berinteraksi dengan orang baru. Bahkan, jika teman wanita sang ayah datang ke rumah mereka, mereka akan memasang muka jutek dan tak mau menjawab jika di tanya oleh teman sang ayah itu. Namun dengan Angel, mereka langung lengket.
“Wah, kalian akrab sekali.” Kata Dila yang tiba-tiba memasuki kamar Angel.
“Iya, Oma. Soalnya bunda Angel baik banget. Aku di kasih ini.” Kata Alika menunjukkan boneka barbie yang di kasih Angel tadi.
“Aku juga di kasih ini.” Kata Fariz menunjuk bantal bola yang di gerakkan menjadi berbunyi.
“Wah.. bilang apa donk sama bunda Angel.” Kata Dila.
“Terima kasih, Bun.” Jawab Alika dan Fariz bersamaan.
Setelah makan siang bersama, keluarga Radit pun pamit.
“Bunda besok main ke rumah Oma ya, kita main lagi.” Celetuk Alika yang tak ingin berpisah dari Angel.
Angel mengangguk.
“Iya, soalnya besok kami di jemput papa pulang ke Jakarta, sebelum itu, kita main dulu, Bun.” Ucap Alika lagi.
__ADS_1
“Iya, Bun. Hore.” Sahut Fariz.
Radit dan Hendra sempat terkejut melihat kedua anak Adrian yang sudah memanggil Angel dengan sebutan Bunda. Dila dan Enin pun kaget, tapi mereka malah senang. Radit melirik ke arah Hendra.
“Sepertinya, kita kan besanan.” Kata Radit.
Hendra hanya tertawa. “Jika Adrian mau, aku tidak keberatan.”
“Yes.” Ucap Radit senang.
Dia dan Enin pun ikut tertawa dengan sikap bahagianya Radit. Sedangkan Angel hanya tersenyum kecut. Ia bingung harus menghentikan keinginan para orang tua ini dengan cara apa?
****
Keesokan harinya, Angel bertandang ke rumah Dila. Ia hanya datang seorang diri, hanya ingin menepati janji pada kedua anak itu.
“Bunda..” Alika berlari ingin memeluk Angel yang baru melangkah masuk ke halaman rumah Radit. Fariz pun menikuti sang kakak.
Dila dan Radit langsung keluar dan berdiri di depan pintu. Ia melihat pemandangan indah ini, sudah cukup lama sang putra menduda dan tak kunjung mendapatkan pengganti seorang istri dan ibu untuk cucu mereka. Mereka melihat Angel yang baik, santun, cantik dan juga pintar, sangat cocok untuk menggantikan sosok Alya sebagai istri Adrian dan ibu sambung untuk Alika beserta adiknya.
Alika dan Fariz mengajak Angel bermain di halaman belakang rumah nenek kakeknya. Mereka duduk di sebuha gazebo kecil, setelah lelah berlari-larian dan bermain petak umpet.
Angel mendongengkan cerita itu dengan semangat, persis seperti pendongeng profesional, karena di sertai mimik wajah dan gerakan yang menarik. Angel maupun fariz mendengarnya dengan seksama, terkadang mereka pun melontarkan pertanyaan polos yang membuat Angel tertawa.
“Assalamualaikum.” Suara Adrian memasuki rumah orang tuanya.
“Waalaikumusalam.” Jawab Dila dan Radit berbarengan.
“Kamu sudah datang, Yan?” Tanya Radit.
Adrian mengangguk. Ia datang untuk menjemput kedua anaknya yang mulai bersekolah besok.
“Dimana Alika dan Fariz?” Tanya Adrian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Itu, mereka sedang bersama anaknya Hendra.” Kata Radit.
Dila menghampiri suami dan putranya, sambil membawakan minuman.
“Cantik ya, Yan?” Tanya Dila.
__ADS_1
Adrian menatap Angel dari kejauhan. Ia seperti pernah melihat gadis itu, tapi di mana? Lalu ia ingat saat seminar di hotel beberapa waktu lalu. Ia semakin mengingat sosok Angel yang di goda oleh kedua MC yang berdiri di podium saat mendapatkan doorprize, bahkan kedua temannya yang duduk bersamanya pun ikut menggoda Angel dengan berbisik di telinganya.
Adrian mengangguk. Memang ia akui Angel cantik.
“Berarti kamu mau?” Dila langsung mencecar pertanyaan.
“Mau apa?” Tanya Adrian bingung.
“Mau, kami jodohkan pada Angel, karena Papa dan Mama ingin sekali berbesanan dengan Hendra. Hendra pun menyetujui.” Jawab Radit.
“Apaan sih, Ma, Pa. Iyan sudah bilang, Iyan tidak akan menikah lagi. Iyan janji pada Alya saat ia memilih mengorbankan hidupnya untuk Fariz.” Kata Adrian, sambil menuju ke ruang makan yang tak jauh dari halaman belakang itu.
Adrian menarik kursi dan duduk di sana. Radit dan Dila pun mengikuti Adrian. Mereka duduk di hadapan Adrian.
“Tapi kamu masih muda, Yan. Kamu butuh istri lagi dan kedua anakmu butuh kasih sayang seorang ibu.” Ucap Radit.
“Dan Angel ibu sambung yang tepat untuk anak-anakmu. Mereka menyukai Angel. Lihatlah.” Sambung Dila, sambil menunjukkan kebersamaan cucunya bersama Angel di sana.
Adrian pun menatap ke arah itu. Apa yang di katakan kedua orang tuanya memang benar, padahal Adrian tahu betul kedua anaknya tidak bisa dekat dengan orang lain selain dirinya.
“Bahkan, Alika dan Fariz sudah memanggil Angel dengan sebutan Bunda.” Kata Dila lagi.
Adrian terdiam.
“Papa..” Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti, saat Fariz berlari ke arah sang ayah dan memanggilnya.
Angel pun berdiri di arah yang cukup jauh dari Adrian. Angel berdiri persis di samping Alika yang masih menggelayut padanya.
“Bunda. Ini papa Alika.” Kata Alika mengenalkan papanya pada Angel.
“Papaku juga.” Kata Fariz yang meminta di gendong sang ayah.
Angel dan Adrian saling mendekat dan bersalaman.
“Angel.”
“Adrian Hamish.”
Angel seperti familiar dengan nama belakang Adrian. Namun, ia tak ambil pusing karena di dunia ini banyak sekali nama yang sama.
__ADS_1