
Angel tersenyum. “Aku di terima menjadi dosen di Jogya. Sebenarnya aku ingin telepon atau sms ke kamu, tapi?”
“Tapi kenapa? Sudah melupakanku?” Tanya Malik.
Angel menggeleng. “Maaf, bukam begitu. Aku hanya menjaga perasaan Enin, karena hanya dia orang tuaku sekarang.”
Malik tersenyum.
“Oh, ya ampun. Kalau Enin tahu kamu di sini, nanti dia bisa marah padamu.” Tiba-tiba Angel panik. Angel tahu persis bagaimana tidak sukanya Enin pada Malik.
“Mereka sepertinya sedang berada di lantai dua.” Jawab Malik.
“Apa mereka mencari makan? Tadi Nabila merengek minta chicken krispy.”
“Mungkin.” Jawab Malik.
Angel menengok ke kanan dan ke kiri sembari mencari keberadaan keluarganya.
“Jangan takut, Enin belum ada.” Kata Malik lagi.
Kemudian, Angel kembali membenarkan posisi duduknya. Ia menatap Malik, hingga keduanya saling bertatapan.
“Kak, terima kasih untuk semuanya.” Ia menggenggam tangan Malik.
Malik tersenyum.
“Kamu mau menjadi istriku?” Tanya Malik yang mendadak menjadi serius.
“Aku mau, tapi saat ini aku harus berangkat ke Jogya. Aku sudah terikat kontrak dua tahun di sana. aku sudah menandatangani kontrak itu.”
“Jawab aku sekali lagi. Mau menjadi istriku?” Tanya Malik lagi dengan menatap kedua bola mata Angel.
Angel mengangguk. “Tapi tidak seka.”
Malik memotong perkataan Angel dan langsung berdiri sembari menarik tangan Angel untuk berdiri. Ia membawa Angel pergi dari tempat itu.
“Kak, kita sudah melakukan banyak kesalahan. Aku tidak mau melakukan kesalahan lagi.” Angel mengikuti langkah Malik yang tergesa-gesa.
“Kak.” Angel berusaha melepaskan cekalan tangan itu dan mengajak Malik untuk memberhentikan langkahnya.
Malik menoleh ke arah Angel.
“Aku tidak mau kita kawin lari. Aku ingin kita menikah dengan cara baik-baik dan dengan restu keluargaku.”
“Kamu pikir, aku akan menikahimu tanpa restu dari keluargamu?” Tanya Malik tersenyum.
Tak lama kemudian, suara riuh tepuk tangan Ella, Neneng, Nabila yang masih berusia lima tahun dan Enin, menyadarkan Angel.
Sontak Angel terkejut. Ternyata ia sudah berada di lantai dua tepatnya di depan mushola kecil yang ada di dalam stasiun ini.
“Ayo menikah! Mereka sudah merestui.” Ucap Malik menunjuk pada semua keluarganya di sana.
__ADS_1
“Itu ayahku.” Malik menuntun Angel untuk menemui Faisal dan istrinya, juga ada kedua adik perempuan Malik di sana.
Angel tersenyum sumringah, rasa bahagianya tidak bisa di gambarkan oleh apapun. Ia pun mencium punggung tangan orang tua Malik.
“Ini kedua adikku.” Malik memeprkenalkan Kanaya yang duduk di kelas dua belas SMA dan Aira yang masih duduk di bangku SMP kelas sembilan.
“Wah, ternyata Kak Angel cantik. Pantes Abang kejar-kejar terus.” Kata Aira.
Angel memeluk kedua adik perempuan Malik bergantian. Semuanya tertawa.
“Baiklah, Ayo masuk ke dalam. Kita mulai, karena penghulu sudah lama menunggu.” Kata Faisal menggiring sebagian keluarga inti untuk masuk ke mushola yang hanya bisa di isi tidak lebih dari lima belas orang.
Untung saja saat ini masih jauh dari jam waktu sholat, sehingga mushola sepi dan belum ada orang lain yang menggunakan.
Angel tampak bingung. Ia hanya menuruti keluarganya untuk masuk ke dalam mushola itu.
“Baik, Pak. Saya siap.” Ucap Malik yang sudah duduk lebih dulu di hadapan Penghulu dan wali nikah Angel.
“Bi, ini maksudnya?” Tanya Angel bingung, saat ia akan duduk di samping Malik.
“Duduklah di sana, Sayang. Enin merestuimu.”
Angel pun langsung menutup mulutnya. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. padahal sudah tiga malam, ia selalu menangis dan tak bisa tidur nyenyak, karena harus berpisah lagi dari Malik.
Hendra adalah anak laki satu-satunya dalam keluarga. Paman Hendra pun sudah tiada. Namun, ada anak laki-laki dari paman hendra. Ia pun sudah berada di samping Pak penghulu, karena Malik sudah lebih dulu mencarinya dan meminta untuk menikahkannya. Sedangkan Fajar dan Faisal menjadi saksi.
“Tunggu. Saya juga jadi saksi.” Ucap Jo tergesa-gesa membuka sepatunya.
“Halah, kelamaan lu, Ndut.” Malik mentoyor kepala sahabatnya.
“Baiklah, bisa kita mulai.” Kata Pak penghulu.
Malik menjabat tangan Rahmad, anak dari paman Hendra yang berada jauh di Kalimantan. Dan, hari ini khusus datang ke Jakarta hanya untuk menikahkan anak perempuan Hendra. Setelah itu, orang suruhan Malik akan mengantarnya lagi ke Bandara.
“Saya terima nikah dan kawinnya Angel Agnita Puteri Bin Hendra Kurniawan dengan mas kawin seratus gram emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.” Malik degan lantang mengucap kalimat itu setelah Rahmad mengucapkannya.
“Sah.. Sah.. Sah..”
“Barokallahulakuma Wabaroka Alaikuma Wajma Baynakuma Fii Khoir.” Ucap Pak penghulu di iringi usapan tangan ke wajah masing-masing yang hadir di sana.
Mushola kecil itu menjadi sesak.
Angel tak henti-hentinya menangis. Ia mengusap wajahnya lama.
“Bee. Sekarang kamu istriku.” Kata Malik menyadarkan Angel yang masih alrut dalam tangis bahagia.
Angel menoleh ke arah malik perlahan. Ia melihat Malik yang hendak memegang cincin dan menyematkannya di jari manis Angel.
“Ini bukan mimpi?” Tanya Angel lagi, membuat semua orang yang di sana tertawa.
Malik pun tersenyum. “Bukan. Ini memang nyata, Bee. Kamu istiku sekarang.”
__ADS_1
Ia pun mengarahkan cincin itu pada jari manis Angel dan Angel menyodorkan jarinya pada Malik.
“Pas.” Kata Rini, yang kebetulan ikut menemani Malik membelikan cincin itu.
“Alhamdulillah.” Ucap Enin, Ella, Fajar, dan Faisal bersamaan.
Lalu, Angel dan malik menandatangani akte nikah. Mereka pun menampilkan buku berwarna merah dan hijau di tangan mereka masing-masing.
Semua orang mengabadikan momen bahagia itu.
Ceklek. Cheese.
Malik dan Angel tampak tersenyum sumringah. Mereka lupa akan kepedihan yang mereka lalui sebelumnya, karena hari ini seperti sudah terbayarkan rasa pedih itu.
Semua keluarga langsung menyalamo dan memberikan selamat pada kedua mempelai. Sungguh, Angel merasa ini masih seperti mimpi. Mimpi yang menjadi kenyataan. Tak pernah ia duga sebelumnya.
“Sekarang, Amang lega melepasmu. Karena kamu pergi dengan suamimu.” Kata Fajar sembari menyerahkan dua tiket kereta eksekutif itu.
Angel menerima dua lembar kertas berlogo PT.KAI. Ia membaca nama yang tertera di dalam tiket itu, ternyata memang nanamnya dan nama Malik.
Lalu, ia melirik ke arah pria yang sekarang sudah menjadi suaminya. Malik tersenyum menerima tatapan wanita yang akhirnya menjadi istrinya itu.
"Tempat tinggal dan semua keperluanmu di Jogya juga Malik yang menyiapkannya. Karena nanti kalian kan akan tinggal bersama." Sambung Ella.
Angel memukul pelan lengan suaminya. "Kamu tuh ya, bikes, bikin kesel."
"Tapi cinta kan?" Tanya Malik membuat Angel tersipu malu.
Setelah prosesi khidmad itu selesai. Semua keluarga mengantar kedua mempelai ini, hingga batas ruang pengantaran.
“Jadi? Kalian sudah merencanakan ini?” Tanya Angel lagi. Sesaat sebelum kereta menuju Jogja tiba.
Ella dan Fajar mengangguk.
“Ini ide Papa.” Kata Faisal.
“Ini juga ide Enin, loh.” Enin nyengir, menampilkan gigi dua yang terlihat melompong di depan, karena sebelum berangkat ia lupa menggunakan gigi palsunya, saking bersemangat untuk segera sampai di Gambir.
Lalu, semuanya tertawa.
“Enin, ketinggalan gigi?” Tanya Ella.
Lalu Enin langsung menutup mulutnya. “Emang iya?” Tanyanya malu.
Semuanya kembali tertawa. Suasana begitu ceria, hingga akhirnya mereka melambaikan tangan untuk masuk.ke area tempat kereta eksekutif itu berhenti.
"Bahagia selalu." Teriak Ella di iringi senyum keluarganya yang lain.
"Sering-sering telepon Papa." Teriak Faisal.
Malik an Angel pun membalas lambaian tangan itu dan berbalik berjalan menuju tempat kereta yang akan mereka naiki. Sepanjang perjalanan, Malik menggenggam erat tangan istrinya. Angel pun menoleh ke arah genggaman tangan itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepasmu lagi." Ucap Malik tersenyum sembari mengangkat genggaman tangannya yang menggenggam tangan Angel.
Angel mengangguk dan tersenyum. Mereka pun kembali berjalan, menatap lurus ke depan dengan ulasan senyum bahagia.