
Keesokan harinya, Malik bersiap untuk mengajak Angel ke rumah Berlin. Mereka mencoba memperbaiki semua. Menjalin kembali hubungan keluarga yang sempat terputus karena ulah mereka sendiri.
Ting tong.
Malik dan Angel sampai di rumah Berlin, lebih tepatnya rumah sang ayah sambung. Malik terlihat santai mengenakan jeans hitam dan kaos berkerah dengan warna ungu muda, begitu pun Angel. Ia terlihat anggun dengan atasan berwarna ungu muda dan rok payung selutut dengan warna ungu tua bermotif bunga-bungan kecul di bagian bawah rok itu.
“Hai, Malik. Wah tumben sekali kamu kesini. Ada angin apa gerangan?” Tanya ayah sambung Malik, yang lebih dulu membuka pintu itu.
“Mau ketemu Mama Om, Mama ada?”
Ayah sambung Malik yang bernama Hans tersenyum ke arah Malik dan Angel bergantian.
“Ada, Ayo masuk!” Ucap Hans.
“Hmm.. Kalian sudah?” Tanya Hans sambil menggoyang jari telunjuknya ke arah Angel dan Malik.
“Sudah, Om. Kami sudah menikah tiga minggu yang lalu.” Jawab Malik.
“Oh.” Hans mengangguk.
“Duduklah!” Hans mebentangkan tangannya ke arah sofa tamu.
“tunggu di sini, akan aku panggilkan ibumu. Sepertinya dia sudah mulai jinak. Tenang saja.” Ucap Hans, yang cukup membuat rasa tegang Angel berkurang.
Malik menggenggam tangan Angel yang dingin, karena berkeringat di tambah udara AC yang cukup dingin di dalam rumah itu.
“Tenanglah, Bee. Mama tidak akan mengusir kita.” Kata Malik menenangkan istrinya.
Angel tersenyum. “Semoga, Kak.”
Malik tersenyum. “Percayalah. Sebenarnya Mama bukan orang jahat.”
“Siapa yang jahat?” Ucap Berlin yang tiba-tiba muncul.
“Ma.” Malik dan Angel berdiri.
Ia mengajak Angel untuk menghampiri ibunya dan bersalaman.
“Ternyata kamu berhasil menggoda putra saya, hingga dia berani brbuta nekat seperti ini. hah?” Sebelum Angel mengulurkan tangannya pada Berlin, Berlin terlebih dahulu berkata.
“Maaf, Ma.” Angel menunduk.
“Apa? Mama?”
“Sayang.”
“Ma.”
Hans dan Malik bersamaan menegur sikap Berlin. Hans merangkul istrinya untuk tenang dan duduk. Setelah Berlin dan Hans duduk, Malik dan Angel pun mengikuti.
“Apa sih istimewanya wanita ini?” Tanya Berlin ketus.
“Ma, tolong! Perlakukan istri Malik dengan baik.”
“Istri? Jadi kalian sudah menikah?” Tanya Berlin.
__ADS_1
Malik mengangguk, sementara Angel hanya bisa terdiam. Sedari tadi Malik terus menggenggam tangan Angel tanpa melepasnya sama sekali, seolah ingin mengatakan bahwa ia tak sendiri dan hal ini bisa di hadapi bersama.
“Hebat. Hebat sekali dia, di rebutkan oleh kedua pria keluarga Hamish.” Ucap Berlin sinis.
Malik berdiri. “Ma, Malik ke sini atas keinganan Angel. Dia hanya ingin melihat hubungan anak dan ibu kandungannya membaik. Kalau bukan karena menuruti keingannya, malik tak akan menginjakkan kaki ke sini.”
“Ayo, Bee!” Malik langsung menarik lengan istrinya untuk berdiri dan pergi dari rumah itu.
“Bagus, begini caramu menghormati orang tua.”
Malik menoleh ke arah sang ibu. “Orang tua seperti apa yang patut di hormati, Ma?”
“Orang tua yang meninggalkan anaknya hidup sendiri di apartemen. Orang tua yang hanya tahu tentang kebahagiaan dirinya sendiri tanpa pernah bertanya apa keinginan anaknya? Apa kebahagiaan anaknya?”
“Kak.” Angel menatap ke arah Malik dan menggelengkan kepalanya. Sungguh, ia sedih melihat Malik dan sang ibu berdebat.
Berlin terdiam. Memang selama ini, ia tidak memperhatikan Malik karena ia menganggap Malik sudah dewasa dan ia adalah seorang laki-laki.
“Mama meninggalkanmu sendiri, karena kamu sudah dewasa.” Jawab Berlin.
“Kalau begitu, terima keputusan Malik karena Malik sudah dewasa. Kebahagaian Malik bersama dengan Angel. Suka tidak suka, terima tidak terima. Ini kenyataannya, ini keputusan Malik.”
“Permisi.” Malik kembali membalikkan tubuhnya dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Angel. Ia hendak membawa istrinya pergi.
Bahu Berlin terus di elus oleh sang suami. Hans pun meminta sang istri untuk tak bersikap keras pada putranya, karena anak laki-laki akan semakin jauh bila di kerasi.
“Angel.” Teriak Berlin
Malik terus menarik tangan Angel agar tak menoleh lagi ke belakang. ia bertekad bahwa ini adalah kali terakhir bertemu ibunya.
“Kak. Mama manggil aku.”
“Kak.” Angel menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
Di sana terlihat Berlin tengah membentangkan kedua tangannya lebar. Berlin juga tidak ingin kehilangan putranya. Karena sikap kekeras kepalaan malik murni di turuni darinya.
“Mama.” Angel tersenyum dengan wajah sumringah.
“Mama menerima kita, Kak.” Angel menarik ujung baju suaminya.
Malik pun menoleh ke belekang. Ia tersenyum dan menangis. Keduanya langsung berlari ke arah Berlin.
“Malik sayang Mama.” Berlin merengkuh tubuh putranya dari sebelah kanan.
“Angel mencintai semua orang yang Malik cintai.” Berlin pun merengkuh tubuh menantunya dari sebelah kiri.
“Mama juga menyayangi kalian, Maaf.”
Ketiganya menangis, Hans pun ikut terharu melihat drama ini. ia mengelus pundak sang istri dari belakang.
Hans memang pria yang lembut. Ia selalu menuruti apapun keinginan Berlin yang lebih dominan dan pengatur. Itu semua karena Hans memang sangat mencintai Berlin. Ia pun menerima semua kekekurangan wanita itu dan melengkapinya.
****
Keesokan harinya lagi Malik membawa Angel ke rumah Bi Ella, sekalian bertemu dengan Enin.
__ADS_1
“Bang, Nay ikut dong. Libur di rumah gabut nih.” Kata Kanaya yang melihat sang kakak dengan istrinya tengah rapih dan akan berangkat.
“Kami ke Bandung hanya ingin ke makam ayahnya Kak Angel, Nay.” Jawab Malik.
“Gg apa-apa deh, yang penting judulnya jalan-jalan.”
“Emang kamu ga pernah ke Bandung. Nay?” Tanya Angel.
“Pernah sih, tapi udah lama banget.”
“Ya udah, ayo!” Ajak Angel tersenyum.
“Asyik.” Kanaya berjingkrakan berlarian ke kamarnya untuk mengganti baju.
“Bang, Aira juga ikut dong. Masa Aira sendirian di rumah, bosen.”
“Kan ada Mama sama Papa.” Celetuk Rini.
“Ga eru, mama sama Papa berduaan mulu.” Jawab Aira yang membuat Malik dan Angel tertawa.
“Ya udah, Ayo!” Ajak Malik.
Aira pun berlari ke kamarnya berjingkrakan. Kanaya dan Aira sangat senang karena sekarang mereka memiliki kakak laki-laki dan perempuan, karena sebelumnya Malik sangat acuh pada kedua adiknya.
Tiga jam di perjalanan, kemudian Malik sampai di makam Hendra. Mereka pun bersimpuh di makam itu.
“Ayah, Angel datang bersama Malik, pria yang sering ayah sebut anak nakal ini sekarang suami Angel.” Kata Angel dengan air mata yang tak bisa di bendung lagi. Ia mengusap batu nisan sang ayah.
“Maafkan Angel ayah.”
“Maafkan Malik juga, Ayah.”
“Semoga ayah bahagia di sana, karena di sini kami pun bahagia. Terima kasih untuk doa yang selalu ayah panjatkan untuk Angel. Dan sekarang, Angel selalu panjatkan doa untuk ayah.”
Malik merangkul istrinya yang sedang menangis.
Mereka berjongkok dan Malik emimpin doa di pusaran itu. Angel, Kanaya, dan Aira mengaminkan doa itu.
Lalu, mereka beralih ke makam ibu Angel yang tak jaiuh dari makam sang ayah. di sana mereka pun memenjatkan doa dan di pimpin oleh Malik.
Selesai mengantar Angel untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Malik baru mengajak kedua adiknya untuk berjalan-jalan di tempat wisata yang sedang hits di bandung. Angel menjadi guide-nya karena memang ia yang asli orang sana.
“Kak Angel. Wah ini view nya keren banget buat intagramable.” Ucap Kanaya.
Angel mengangguk.
“Mau ke taman Dilan juga ga?” Tanya Angel.
“Mau.” Seru Kanaya dan Aira bersamaan. Malik hanya tersenyum bahagia melihat keluargnya bisa menerima Angel, karena memang istrinya adalah wanita yang baik.
Setelah puas di Bandung. Malik, Angel, dan kedua adiknya itu tiba di rumah Ella. Mereka di sambut oleh Enin, Ella, dan Fajar. Kanaya dan Aira pun bermain dengan kedua anak Ella.
“Alhamdulillah, Enin senang melihat kamu bahagia, Ngel.” Enin menepuk bahu Angel, ketika ia berada di dapur untuk menyuguhkan suami dan adik-adiknya makanan juga minuman.
“Alhamdulillah, Nin. Angel sangat bahagia. Terima kasih.” Angel memegang tangan Enin yang berada di bahunya.
__ADS_1
“Bi Ella juga ikut seang mendengarnya.” Ella tiba-tiba memeluk Angel dari samping.
“Terima kasih, Bi. Ini semua berkat Bi Ella dan mang Fajar juga.”