Melanggar Janji

Melanggar Janji
Melanggar janji lagi


__ADS_3

Matahari yang cerah menyinari pagi ini dengan indah. Angel tenagh duduk menunggu giliran masuk dan menerima cecaran pertanyaan dari tujuh dosen mumpuni yang ada di dalam ruangan itu. Hari ini adalah hari sidang Angel sebagai tahap akhir untuk memuluskan jalannya menjadi dosen kelak.


Angel menunduk dan sesekali membuka lagi duplikat tesis yang ia pegang untuk di baca kembali agar semakin matang ketika tujuh dosen di dalam ruangan itu mencecar pertanyaan. Lalu, ia menengadahkan kepalanya. Bibir Angel langsung menyungging lebar saat ia dapati sosok pria yang selalu membantunya, tengah berdiri bersandar pada kap mobilnya di parkiran yang cukup jauh dari ia duduk.


Malik melambaikan tangannya. sengaja ia datang ke kampus ini untuk memberi support pada wanita yang sangat ia cintai itu.


Angel pun membalas lambaian tangan itu dengan semangat. Ia terus mengibas tangannya ke atas. Malik kembali memberi semangat dengan mengepalkan tangannya ke atas. Angel tersenyum lagi pada pria yang selalu akan ada di hatinya.


“Itu suami lu, Ngel?” Tanya Nadia, salah satu teman Angel yang ikut menunggu namanya di panggil hari ini.


Angel mengangguk dan tersenyum. Seandainya Malik benar suaminya, ia pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia.


Malik tetap menunggu hingga Angel selesai. Tiga jam kemudian, Angel pun keluar dari ruangan itu.


“Bagaimana?” Tanya Malik yang sudah berdiri lama di depan gedung itu.


“Aku lulus.” Angel langsung berlari ke arah Malik.


“Yeahh..” Malik pun mengangkat tubuh Angel dan memeluknya.


Mereka pun tertawa bahagia.


“Aku mau traktir kamu karena sudah banyak membantu aku selama ini.”


“Tidak perlu. Aku senang bisa membuatmu bahagia.”


“Tapi aku mau traktir kamu, Please.” Kata Angel dengan mengatup kedua tangannya.


“Memang mau traktir di mana?” Tanya Malik.


“Terserah, kamu maunya di mana? Aku ikut.”


“Yang traktirlah yang menentukan tempat.” Ujar Malik sembari mencubit hidung mancung Angel.


“Bagaimana kalau di Mall AJ, kebetulan aku lagi pengen steak.” Jawab Angel.


“Oke, Markicus.” Malik mengucapkan kata yang sering Angel ucapkan.


“Mari kita cus.” Angel tertawa, begitu pun dengan Malik. Mereka berjalan beriringan menuju tempat yang di tuju.


Empat puluh menit kemudian, Angel dan Malik sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka pun berjalan dan memasuki restoran itu. Keduanya duduk berhadapan.


“Pokoknya pesan apapun yang kamu mau.” Ujar Angel tersenyum bahagia.


Malik pun tersenyum sembari membaca buku menu yang ia pegang. Lalu, mereka memesan makanan. Mereka asyik berbincang sambil tertawa. Sekilas orang yang melihat mereka pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Angel juga menceritakan semua yang terjadi di ruangan mencekam dengan tujuh dosen mumpuni tadi kepada Malik. Ia menceritakan rasa bahagia karena telah merampungkan pendidikannya ini.


“Aku seperti mimpi, Kak. Hah, akhirnya bisa lulus S2. Seneng.” Ujar Angel.


Malik hanya tersenyum melihat wanita cantik di hadapannya yang tak lepas mengluas senyum. Angel selalu cantik dalam keadaan apapun di mata Malik, terlebih saat ini.


Di tempat yang sama, Adrian pun tengah makan siang bersama teman-temannya. Ia melewati restoran steak yang Angel dan Malik datangi. Sesaat Adrian berhenti di depan restoran itu. Ia memastikan apakah yang ia lihat benar istri dan adik sepupunya?


“Hei, Ayo Yan!” Ajak teman Adrian yang sudah jalan lebih dahulu. Ia menunggu Adrian yang berhenti di depan restoran steak itu.


“Sebentar, sepertinya ada istri gue di sana.” Adrian menunjuk ke dalam restoran itu pada temannya.


“Bentar, Yas. Gue ke sana dulu. Tunggu.” Ucap Adrian dan masuk ke dalam restoran itu. Ia melihat Angel yang tertawa sumringah di depan Malik. Tawa yang tak pernah ia lihat ketika bersamanya.


Tiba-tiba hati Adrian teriris melihat kebersamaan mereka. Serasa Malik dan Angel sudah kenal lama.


“Hai, kalian di sini?” Tanya Adrian yang tiba-tiba duduk di samping Angel.


Angel pun seketika berhenti tertawa dan Malik pun berhenti tersenyum tatkala mendengar cerita Angel yang antusias. Angel dan Malik langsung menoleh ke sumber suara itu.


“Eh, Bang, di sini juga?” Tanya Malik yang berusaha tenang. Ia yakin saat ini, Angel pasti sedang gugup dan gemetar, pasalnya mereka seperti kepergok berselingkuh.


“Harusnya aku yang tanya. Kok kalian bisa di sini bersama?” Kata Adrian.


“Oh, iya, kebetulan tadi aku liat Angel di toko buku atas, terus kita akhirnya makan siang bareng. Ya, Ngel?” Malik beralih ke kedua bola mata Angel. Angel pun menatap Malik sekilas.


“Iya, benar.” Jawab Angel menganggukkan kepalanya.


“Yan.” Teriak salah satu teman Adrian dari depan resto itu.


“Wait.”


“Oh, ya udah kalo gitu. Lik, nanti sekalian anter Angel sampe rumah ya.” Kata Adrian yang kini sudah berdiri lagi. Tak lupa Adrian mengecup kening Angel, saat ia hendak pergi.


Angel hanya diam mematung, sementara Malik memalingkan wajahnya.


“Aku balik lagi ke rumah sakit. Kamu hati-hati.” Kata Adrian pada Angel.


“Thanks ya, Lik. Gue lebih percaya Angel pulang sama lu, daripada naik ojol.” Adrian menepuk bahu Malik.


“Oke.” Malik mengangguk dan tersenyum paksa.


“Tapi gue ga percaya sama lu, Adrian.” Gumam Malik dalam hati.


Tiba-tiba tangan Angel menggenggam tangan Malik, setelah Adrian pergi. “Kak, maaf ya.”


Malik tersenyum dan mengangkat tangan Angel lalu mengecupnya. Ia tahu, Angel merasa tak enak pada Malik saat Adrian mencium keningnya.


****


Pagi hari, seperti biasa Angel sibuk membuat sarapan untuk Adrian dan kedua anaknya. Sejak kejadian, Adrian yang ingin meminta haknya, membuat Angel semakin menghindar. Ia pergi saat Adrian berada di rumah atau lebih sering bersama Alika dan Fariz, karena ketika bersama kedua anak itu, Adrian tidak akan berani mencumbuinya.


“Pagi, bagaimana tesismu? Semua lancar?” Tanya Adrian dan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Angel yang berdiri di depan kitchen set itu.

__ADS_1


“Hmm.. Geli Mas.” Angel berusaha menghindar saat Adrian menelusuri leher jenjang Angel


.


“Akhir-akhir ini kamu menghindariku.” Kata Adrian berbisik.


“Alika dan Fariz selalu minta di temani, Mas.” Jawab Angel beralasan.


“Bunda...” Fariz menghampiri ibu sambungnya di dapur. Sontak Adrian melepas pelukannya pada Angel.


“Iya, Sayang. sebentar ya.” Angel lupa kalau Fariz meminta di buatkan susu.


“Nanti siang kamu ke kampus?” Tanya Adrian lagi, kali ini ia hanya berdiri di samping Angel dan menghadapnya.


“Iya, aku mau ambil toga dan pakaian wisuda.”


“Hah, kamu sudah mau di wisuda? Sudah sidang?” Tanya Adrian kaget, ia selalu lupa ingin menanyakan ini pada Angel ketika mereka bertemu.


Angel mengangguk malas.


“Congrat, Beib. Kamu hebat.” Kata Adrian lagi sembari menepuk bahu Angel.


“Baguslah, setelah ini kamu jadi bisa fokus mengurus rumah dan anak-anak.” Ucap Adrian yang membuat Angel langsung menoleh.


“What?” gumam Angel dalam hati.


“Aku tunggu di meja makan ya.” Adrian meninggalkan Angel yang masih mengaduk susu untuk Fariz.


Sungguh Angel kesal dengan perkataan Adrian tadi. Ia benar-benar hanya di manfaatkan untuk mengurus rumah dan anak-anaknya saja.


“Bunda, ini susunya kurang manis.” Kata Fariz menyerahkan susu yang tadi Angel buat, tapi susu panas itu sedikit terlepas sebelum Angel mengambilnya.


Prank


Gelas itu pun jatuh dan tumpah. Angel tersiram susu yang masih hangat itu.


“Bunda, Maaf.” Ucap Fariz lirih.


“Angel kamu mengambilnya tidak benar.” Kata Adrian, membuat Angel geram.


Angel hendak menunduk dan membersihkan gelas itu.


“Sudah, Bu. Tidak apa. Biar saya saja yang bersihkan.” Kata si Bibi sigap.


Angel menatap Adrian yang makan dengan santai di sana. Ia sama sekali tak iba atau membantu istrinya. Sungguh ia sangat kesal dengan sikap Adrian.


Angel kembali menaiki tangga untuk ke kamar dan mengganti bajunya yang tersiram susu milik Fariz tadi.


“Bun, kami berangkat ya.” Kata Alika.


“Menunggumu ganti baju akan lama dan mereka akan semakin telat. Biar mereka aku yang antar.” Kata Adrian.


Adrian hanya berdiri dan tidak menghampiri istrinya. Ia menunggu Angel yang menghampirinya dan mencium punggung tangannya, karena seperti itulah istri yang baik pikirnya. Namun, Angel malah kembali menaiki anak tangga itu dan menghiraukan Adrian yang masih berdiri di bawah.


“Ayo, Pa!” Ajak Fariz pada sang ayah.


Lalu Adrian berjalan keluar mengikuti kedua anaknya. Ia kembali menoleh ke arah tangga. Ia melihat Angel yang tak sekalipun menoleh ke arahnya. Ia memang tidak bisa mengerti sikap Angel, karena sewaktu bersama Alya, Alya yang selalu menyodorkan diri, berlari mencium tangan Adrian saat ia pulang atau berangkat kerja dan melayaninya tanpa di minta. Ia lupa kalau pernikahannya itu tidak seperti pernikahannya yang sebelumnya. Alya mencintainya tapi tidak dengan Angel. Angel tidak bisa menjadi seperti Alya untuk Adrian.


****


Angel ke kampus, setelah menjemput Alika dan Fariz pulang sekolah. Ia ke sana untuk mengambil perlengkapan wisuda yang akan di gelar dua minggu ke depan.


“Yeay Ngel, akhirnya kita wisuda juga.” Kata Nadia, temannya.


“Iya ya, alhamdulillah banget.”


“Iya.”


“Setelah ini, lu mau kemana?” Tanya Nadia.


“Jangan jadi ibu rumah tangga doang, Ngel. Sayang banget kerja keras lu.” Kata Nadia lagi.


“Ngga tau deh, belum kepikiran sih.” Ucap Angel. Ia masih terngiang ucapan Adrian tadi pagi, rasa kesalnya timbul lagi.


“Kalau kamu mau kemana?” Tanya Angel pada temannya itu.


“Gue pengen coba tes CPNS aja kali ya. Gue pengen jadi dosen tapi ga di sini. Di luar kota, mungkin.” Jawab Nadia.


“Peluang CPNS dosen di sana lebih memungkinkan ya, Nad?” Tanya Angel lagi.


Nadia mengangguk. “Katanya sih gitu, Ngel.”


Ingin rasanya, Angel mengikuti itu. Namun, lagi-lagi ia harus terjebak oleh kedua anak Adrian.


Angel memulangkan semua buku yang ia pinjam di perpustakaan, selama membuat tesis. Ia menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan tugasnya kemarin, karena sebentar lagi ia tak jadi mahasiswa kampus ini lagi. Tak terasa ia kesana kemari, hingga hari mulai gelap dan awan mulai mengeluarkan dentuman suara akan datangnya hujan.


Jedar


Bunyi petir menyambar, tapi hujan belum turun.


“Ngel, gue pulang duluan ya, takut keburu ujan.”


Angel mengangguk.


“Iya, gue mau pulangin satu buku lagi ke bu Susan.” Ucap Angel yang ingin mengembalikan buku dosennya yang baik hati.


Setelah bertemu dosennya dan memulangkan bukunya. Ia keluar dari ruangan itu dan ternyata hujan sudah menguyur deras.

__ADS_1


Angel menunggu hujan turun cukup lama. Hari pun semakin gelap. Para mahasiswa di sana sedikit demi sedikit hilang karena telah pulang.


Angel bingung ingin menelepon siapa? Lalu, tangannya memencet nomor Malik.


Tut.. Tut.. Tut..


Tiga kali Angel menelepon Malik, tapi telepon itu tak kunjung di angkat. Mungkin Malik sedang sibuk, pikirnya.


Memang, Malik tengah bersama David dan kedua klien pentingnya di hotel, ia sengaja mensilent ponselnya.


Lalu, Angel mendial nomor Adrian.


Tut.. Tut.. Tut..


Adrian pun tak mengangkat panggilan itu. Angel mencobanya sekali lagi.


“Halo.” Jawab Adrian di sambungan telepon itu.


“Mas, aku boleh minta jemput?” Tanya Angel ragu.


“Maaf, Angel. Aku sedang bersama rekan-rekanku tengah merayakan keberhasilan divisi kami.”


“Mas, di sini hujan deras. Aku ga bisa pulang.” Kata Angel lirih.


“Tunggu saja hujannya, paling sebentar lagi reda. Lagi pula di sini tidak hujan kok.” Jawab Adrian.


“Oh, ya sudah. terima kasih.” Angel langsung menutup teleponnya. Seharusnya ia tidak meminta tolong pada Adrian, karena jawabannya pasti akan mengecewakan.


Angel kembali duduk dan menunggu hujan itu reda. Hampir satu jam ia duduk di sini, tapi hujan tetap deras malah semakin deras.


Angel melihat jam di tangannya, hari semakin malam. Kemudian, ia berinisiatif berlari menyebrang hujan deras itu menuju halte di seberang gedung ini.


Ia berlari dengan bawaan yang banyak, karena ia membawa perlengkapan baju untuk wisuda yang ia ambil di bagian administrasi tadi.


“Aaa...” Angel berlari dan sampai di halte pertama.


“Huft..” Ia mengusap baju dan bawaannya yang cukup basah. Lalu, ia siap untuk berlari ke halte yang lain untuk sampai ke stasiun depan yang sudah semakin dekat.


“Ya ampun.” Bawaan Angel berserakan di jalan, saat Angel mencoba berlari menerjang hujan.


Angel memungut bawaannya sambil menangis. Ia berkata dalam hati, “seandainya ada yang menolongnya saat ini, ia akan menjadikan orang itu dewa.”


Tiba-tiba seorang memayungi tubuhnya saat ia tengah berjongkok dan masih memungut barang bawaannya. Angel terdiam, jika itu Adrian, maka mulai saat ini, ia akan mulai mencintainya dan melupakan Malik.


Angel menengadahkan kepalanya.


“Kamu tidak apa-apa, Bee?” Tanya Malik, yang ikut berjongkong dan membantu Angel sembari memegang payung untuk melindungi Angel dari derasnya hujan itu.


Setelah selesai pertemuan dengan klien, Malik melihat ponselnya dan ada tiga panggilan dari Angel. Ia melacak keberadaan Angel, karena kebetulan sejak menjadi kekasihnya, Malik telah menyadap GPS Angel. Jadi ia tahu setiap posisi Angel. Lalu, Malik meminta izin pada bosnya untuk pulang lebih dulu.


Angel menangis dan memeluk Malik. Mengapa selalu pria ini yang menolongnya?


“Aku antar pulang.” Kata Malik menggandeng bahu Angel erat, agar wanita itu tak terkena hujan.


Malik membukakan pintu mobilnya dan mendudukkan Angel di sana. Angel di perlakukan bak putri oleh Malik. Hal ini, yang membuat Angel semakin mencintainya.


“Ke apartemen kita saja.” Kata Angel.


“Apa?” Tanya Malik lagi, karena Angel menggunakan sebutan ‘apartemen kita’ padahal itu apartemen miliknya walau Malik yang membeli.


“Aku ingin ganti baju di sana. bajuku basah semua.” Kata Angel lagi.


Malik pun mengangguk.


Sesampainya di apartemen itu, Angel langsung ke kamarnya dan berganti baju


“Ups, maaf.” Malik kembali menutup pintu saat melihat Angel yang sedang membuka bajunya dan hanya menyisakan bra nya saja, karena biasanya Angel berganti pakaian di kamar mandi.


Angel langsung menarik tangan Malik untuk masuk ke dalam kamar ini dan menciumnya. Angel mencium malik dengan rakus. Malik langsung memeluk tubuh Angel dan membalas ciuman itu. Angel melingkarkan kakinya pada pinggang Malik, seperti koala, membuat Malik semakin bernafsu mengecap bibir itu hingga bengkak.


Malam semakin larut. Adrian sampai di rumahnya.


“Bi, Angel sudah pulang?” Tanya Adrian pada si Bibi.


“Belum, Pak.”


Adrian mengeryitkan dahinya. ia melihat jam di tangan, sudah empat jam dari Angel menelepon tadi, tapi istrinya belum juga sampai di rumah. Adrian kembali menatap ke arah luar jendela, melihat hujan yang lebat.


Jedar.


Suara petir menggelegar.


Angel dan Malik tengah bercumbu mesra di apartemen itu. Angel sengaja membuka seluruh pakaiannya, hingga satu yang tersisa. Tangannya pun mulai membuka bahan yang membungkus **** *************.


“Jangan, Bee. Aku tidak akan bisa berhenti, jika kamu mengizinkannya.” Kata Malik dengan suara yang serak.


Namun, Angel tetap membuka bahan itu. Malik pun melakukannya. Mereka bergelut dalam gairah yang tertahan. Lagi-lagi, mereka melakukan dosa itu.


Cetar.


Lagi-lagi petir mendentumkan gema suara yang begitu nyari, saat kedua insan berbeda jenis ini melakukan penyatuan. Langit tidak menerima hubungan terlarang ini.


Angel telah melanggar janji yang sudah ia ikrarkan di hadapan ayah, hukum, dan agama. Ia sudah tidak bisa memikirkan mana yang benar dan salah. Adrian sudah keterlaluan, ia kesal dan kali ini ia memang harus mengambil keputusan. Hati dan pikirannya memilih Malik. Entah apa yang akan terjadi nanti? Biarlah. Saat ini ia ingin egois dan memikirkan kebahagiaannya sendiri.


__________________________________________________


Kalo kata bang Napi "KEJAHATAN ITU TERJADI KARENA ADA KESEMPATAN"

__ADS_1


Jadi, jagalah dirimu dan keluargamu agar tidak ada KESEMPATAN setan untuk memasuki dan menghancurkan hidupmu.


Luv U 😘😘


__ADS_2