
“Yan, aku malu kalo ketemu si Fia. Itu anak jadi canggung gitu ngobrol sama aku.” Keluh Farah pada suaminya.
Farah sadar saat melakukan hubungan itu di dalam ruangannya, ternyata suster Alifia menunggu aktifitas mereka selesai di luar.
Kemudian, Adrian dan Farah sampai di parkiran dan hendak memasuki mobil. Mereka bergegas akan pulang ke rumah.
“Cuek aja, anggap saja tidak terjadi apa-apa,” jawab Adrian santai.
Farah memukul lengan suaminya. “Ini gara-gara kamu.”
Adrian memajukan tubuhnya dan mendekati Farah. ia memasangkan seatbelt untuk sang istri. “Abis kamu bikin aku ngga kuat.”
“Ngga kuat apa?” tanya Farah pura-pura polos sembari mengulas senyum dan menepuk pelan dada Adrian yang tengah berada dekat di depannya.
“Ngga kuat sama goyangan kamu, bikin nagih. Ngebor mah kalah, ngecor juga kalah.”
Keduanya tertawa dan Farah terus memukul lengan suaminya dengan manja, karena Adrian terus menggoda Farah yang selalu hebat dalam bercinta.
“Tuh, ngeledikin kamu aja, dia on.’ Adrian melirik bawah dan terlihat ada sesuatu yang menyembul dari balik celananya.
“Adrian .....” teriak Farah manja. “orang-orangan sawah mesum.”
Adrian tertawa dan menyalakan mesin mobil itu, lalu menjalankannya.
Setelah beberapa menit di perjalanan, Adrian berbelok ke sebuah Mall.
“Loh, kok kita ke sini, ngapain?” tanya Farah, saat Adrian tengah memarkirkan mobilnya di basement.
“Mau makan malam dulu sama kamu.”
“Ih, kasian Alika dan Faris udah nungguin kita, Yan.”
“Ngga apa-apa sebentar. Lagian sekarang di rumah lagi ada mama sama papa.”
“Oh, ya? Kok aku ngga tahu.”
Adrian membuka pintu mobilnya dan Farah pun merapihkan rambut serta pakaiannya untuk keluar dari mobil itu. Namun, belum Farah membuka pintu itu tertnyata Adrian sudah membukanya.
“Terima kasih,” ucap Farah dengan senyum yang sangat manis.
“Sama-sama.”
Adrian menggenggam tangan Farah untuk berjalan bersama beriringan.
“Yan, jadi di rumah sekarang ada mama dan papa. Kok kamu ngga cerita?” tanya Farah lagi, karena oborlan mereka tadi sempat terputus.
“Iya, mama papa ngga bilang. Aku juga baru di wa mama tadi pas keluar dari ruangan kamu.’
Farah menatap suaminya dari samping sembari terus berjalan santai.
“Katanya mama sama papa mau lama di jakarta dan kita di suruh honeymoon,” ucap Adrian lagi.
“Ngga bisa dadakan gitu, Yan. Aku ngga bisa cuti bulan-bulan ini. kalau mau bulan depan.”
Adrian mengangguk. “Aku juga ngga bisa. Ya udah nanti aja honeymoonnya, kita samain jadwal cuti dulu.”
Farah mengangguk dengan cepat.
“Sayang, mau es krim?” tanya Adrian dan menghentikan kakinya persis di depan restoran siap saji itu.
“Hmm ... lihat es krim jadi ingat Faris. Aku ngga enak nih, kita senang\=senang sementara anak-anak di rumah.”
__ADS_1
Adrian tersenyum dan mengusap rambut Farah, membawa anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik sang istri itu ke belakang telinga.
“Terima kasih sudah menyayangi putra putriku,” kata Adrian lirih.
“Apa sih, pake terima kasih segala. Memang sudah semestinya seperti itu. lagi pula anak-anakmu lucu, Yan. Terutama Faris, mulutnya ceplas ceplos tapi lucu.” Farah tertawa. Faris memang anak yang jujur dan terkadang kejujuran yang menyakitkan itu, membuatnya menjadi lucu.
Adrian dan Farah mengantri di restoran khusus melayani es krim yang berbentuk monas. Adrian merangkul sang istri dan terkadang mengelus kepalanya, juga pengecup kening Farah. Perilaku Adrian yang romantis, mengundang banyak mata tertuju ke arah mereka saat melintas. Mereka sudah seperti anak abege yang jatuh cinta.
“Sayang, nonton yuk. Mumpung belum malam.”
Kebetulan hari ini adalah hari terakhir kerja dan besok akan libur weekend. Adrian sengaja pulang sore dan membawa Farah ke tempat ini, hanya untuk jalan-jalan berdua, karena jika sudah sampai di rumah. Ia tak lagi punya privasi untuk mendominasi istrinya. Ia harus rela berbagi pada Alika dan Faris yang memang membutuhkan figur ibu.
“Ngga makan dulu?’ tanya Farah.
Adrian menggeleng. “Nonton dulu aja, baru makan. lagi pula aku udah kenyang tadi sempat makan besar di ruanganmu.”
Farah tersenyum sembari mengeryitkan dahi. Ia mencerna kata-kata sang suami, lalu tertawa.
“Ih, ketawanya telat,” ledek Adrian.
“Soalnya otakku ngga mesum, jadi harus mencerna kata-katamu.”
“Masa, otak ngga mesum tapi bisa hebat gitu ya,” ledek adrian lagi sambil meluyur jalan lebih dulu.
“Adrian ... jelek ..” Farah mengejar suaminya dan saat mendekat, lagi-lagi Adrian terkena pukulan pelan di lengannya.
Adrian tertawa.
Di tempat yang cukup jauh, ada Tomy yang melihat kebersamaan Adrian dan Farah. Tomy pun tengah membawa kedua istrinya ke mall ini.
“Sayang, aku mau ke toilet,” kata Adrian. Lalu mereka berjalan mennuju toilet.
“Aku tunggu sini ya,” ucap Farah, berdiri di sebuah pagar besi mall yang berada di tengah-tengah gedung itu.
“Hai, Far. Apa kabar?” tanya seorang pria yang membuat Farah tersentak kaget.
“Hei.” Farah tersenyum paksa.
Semetara pria itu tersenyum manis dan tulus.
“Baik, kamu apa kabar?” Farah balik bertanya pada pria yang merupakan mantan suaminya.
“Tidak pernah baik,” jawab Tomy jujur, walau tetap dengan tersenyum.
“Mas, aku sudah membeli ini,’ ucap salah satu wanita mendekati Tomy.
“Ini istrimu?” tanya Farah bingung, karena wanita itu bukanlah Diva.
Tomy mengangguk.
“Mas, aku udah dari toilet.” Suara wanita juga menghampiri Tomy.
“Ini juga istrimu?” tanya Farah lagi.
Tommy pun mengangguk.
“Lalu, Diva?’
“Aku dan Diva bercerai. Sekarang mereka adalah istriku,” jawab Tomy dengan menunjuk ke kedua gadis yang satu masih belia, sedangkan yang satu lagi bukan belia tapi juga masih cukup muda. “Jika aku sudah bosan dengan mereka pun, aku akan menceraikannya.”
Farah menggeleng tak percaya. Ia tak percaya bahwa pria yang sekarang berada di hadapannya itu adalah Tomy, karena mantan suaminya ini telah banyak berubah. Gaya berpakaiannya pun berubah. Dulu, tomy paling jarang memakai jeans, tapi kini gayanya seperti anak muda.
__ADS_1
“Kamu banyak berubah, Tom,” ucap Farah.
Tomy tersenyum. “Ya, itu semua karena kamu.”
Setelah keluar dari toilet, Adrian melihat sang istri yang tengah brinteraksi dengan mantan suaminya. namun, di sana Tomy di gandeng oleh dua wanita yang berada di sisi kanan dan kiri. Adrian pun melangkahkan kakinya dengan cepat.
“Sayang.” Adrian lengasung merangkul pinggan Farah. Ia menunjukkan keposesifannya di depan Tomy.
“Eh, sudah selesai?” tanya Farah dan langsung di angguki Adrian.
“Kalau begitu, saya duluan,” ucap Tomy di ikuti kedua istrinya yang hanya tersenyum kecil. Bahkan Tomy tak memeprkenalkan kedua istrinya pada Farah. Tomy yang merasa di sakiti oleh Farah, kini menjadi pria yang suka menyakiti wanita.
“Kedua wanita itu istri mantanmu?” tanya Adrian.
Farah mengangguk.
“Luar biasa, raja minyak.’ Ledek Adrian.
“Katanya dia seperti itu karena aku,” ucap Farah.
“Alibi, dasar ngga setia ya ngga setia aja. Mau dia di sakiti orang pun kalau setia ya setia,” jawab adrian.
“Contohnya kamu?” Ledek Farah, tapi Adrian tidak menimpali ledekan itu. ia justru menarik tangan Farah untuk segera ke bioskop.
“Kamu mau nonton apa, Sayang?’ Adrian melingakarkan kedua tangannya pada pinggang Farah dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak Farah, semabri berdiri mengantri.
“Hmm ... apa ya? Film romance aja ya?” Farah menolehkan wajahnya ke arah Adrian.
Adrian mengangguk. Walau seumur-umur ia paling tak menyukai film romantis, karena menurutnya sangat cengeng.
Adrian sengaja mengambil tempat duduk paling pojok dan paling atas.
“Yan, tempatnya mojok banget,” keluh Farah saat mereka berada di dalam pintu dua.
“Sengaja, sekalian pacaran.”
Farah mengeryitkan dahi dan tersenyum. “Kamu bener-bener mesum, Yan.”
Adrian tertawa.
Benar saja, saat arah mata tengah serius berada di depan layar besar itu, tangan Adrian menggerayangi tubuhnya. Tubuh Farah terhimpit oleh dinding dan tubuh kekar sang suami.
“Yan. Hmm ...” lenguh Farah, saat bibir Adrian menelusuri leher Farah dan tangannya sudah mengobrak abrik miliknya.
“Yan ... kamu sengaja ya, ambil posisi duduk di sini?" tanya Farah berbisik.
“Hmm... “ jawab Adrian tersenyum.
"Tanganmu nakal, Yan."
Adrian tersenyum dan terus menatap sang istri. "Aku suka melihat ekspresimu yang seperti ini. sexy."
“Yan.. Yang tadi di ruanganku belum puas?” tanya Farah sembari menahan tangan Adrian yang bergerak bebas di bawah sana.
Adrian menggeleng. “Sepertinya ngga pernah puas. Setelah ini kita chek in ya.”
“Yan ... “ teriak Farah pelan.
Ia tak menyangka pria kaku seperti Adrian ternyata bergairah tinggi. Namun, yang membuat Farah takjub, selama menduda, Adrian kuat menahan gairahnya yang tinggi ini.
Visual Adrian dan Farah yang lagi jalan-jalan di mall berdua. Asyik banget kan gaya mereka, diluar dari tugas.. eaaa... 😁
__ADS_1