
Malam semakin larut. Namun, kedua keluarga ini masih saja bersengkrama ria. Adrian berusaha mengikuti perbincangan para orang tua itu. Kebetulan karena Adrian seorang dokter membuat dirinya seperti nara sumber yang memberikan wejangan kesehatan untuk para lansia di hadapannya.
Alika dan Fariz yang bermain di kamar Angel pun, sampai tertidur di ranjang akamr itu, saat Angel mendongengkan mereka sebuah cerita.
“Yan, sudah jam sebelas malam. Panggil anak-anakmu, kita pulang.” Kata Radit.
Memang sudah biasa bagi Radit dan Dila berkunjung ke rumah Hendra jam berapapun, terkadang hingga tengah malam.
“Ini belum malam, malam minggu masih ramai di jalan.” Sahut Hendra.
Mereka pun tertawa.
Adrian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar Angel. Setelah, sampai di kamar itu, Adrian hanya berdiri dan tidak berani masuk, karena ia melihat Angel yang tengah tertidur bersama kedua anaknya. Dila pun melihat putranya yang masih berdiri di sana,lalu menghampiri.
“Kamu kenapamasih berdiri di sini. bukannya panggil Alika dan Fariz.” Ucap Dila gemas, lalu ia masuk ke kamar Angel.
“Loh mereka tidur, Ngel?” Tanya Dila, Adrian pun berdiri di samping sang ibu.
“Eh, iya Ma. Gimana donk ini?” Tanya Angel.
“Wah mereka benar-benar udah lengket sama kamu.” Jawab Dila tersenyum.
“Kalau begitu, biar Alika dan fariz aku gendong ke mobil satu-satu.” Ucap Adrian.
“Jangan, Yan. Kasihan, mereka sepertinya baru pulas.” Kata Dila.
Angel mengangguk. ‘Iya, mereka baru saja tertidur, kasihan kalau di bangunkan.”
Radit, Hendra, dan Enin pun menghampiri Adrian dan Dila yang tak kunjung keluar dari kamar itu.
“Ya sudah, biarkan mereka tidur di sini.” Ucap Enin.
“Tapi..” Adrian baru akan menjawab, tapi sang ayah sudah lebih dulu menyela.
“Ya sudah, Yan. Biarkan anakmu tidur di sini. Besok pagi-pagi kamu jemput dan sekalian pulang. Sekalian kamu antar Angel kembali ke apartemennya.” Kata Radit.
“Nah, begitu lebih bagus. Jadi kamu tidak kesiangan menghadiri seminar besok.” Sahut Dila.
“Baiklah.” Adrian mengikuti saran kedua orang tuanya.
“Oke, Ndra, Enin. Saya pamit. Dila akan mempersiapkan pernikahan dari sekarang.” Kata Radit lagi.
“Baiklah.” Hendra tersenyum dan mengangguk.
“Kalau ada yang bisa saya bantu, saya akan lakukan, Dil.” Kata Enin.
__ADS_1
“Udah, Enin santai-santai saja. Biar pesta ini saya yang siapkan.” Jawab Dila sambil merangkul tubuh Enin yang semakin tua.
Hendra dan Enin mengantar Radit dan Dila keluar. Angel yang sudah memisahkan diri dari tubuh kedua anak Adrian yang menempel tadi pun, ikut mengantar calon suami dan keluarganya keluar.
“Adrian, kamu kan juga tinggal di Jakarta. Sering-sering jemput Angel di kantornya, atau ajak Angel makan siang, supaya kalian semakin saling mengenal.” Kata Dila sesaat sebelum mereka pergi.
“Iya, mama.” Ucap Adrian kesal, karena sebagai pria dewasa, sang ibu tak perlu lagi mengajarinya hal ini.
Hendra dan Enin tertawa melihat ekspresi Adrian. Lalu, Adrian pamit dan menyalami ayah serta nenek Angel. Ia pun tampak canggung bersalaman dengan Angel, begitu pula Angel.
“Sekarang malu, nanti juga malu-maluin.” Ledek Radit melihat kecanggungan Adrian dan Angel.
****
Di hari minggu pagi, Malik terbangun. Ia tertidur dalam posisi yang masih duduk di samping Tiara.
“Ya ampun sudah jam berapa ini?” Malik terkejut, ia ingat janjinya pada sang kekasih.
Ia melihat jam di tangannya, tepat pukul enam lebih tiga puluh menit. Lalu, dengan cepat Malik bergegas keluar dari kamar Tiara yang masih tertidur. Dari semalam ia terjaga karena Tiara tak kunjung memejamkan mata.
“Malik, terima kasih, karena telah menolong putri Papi.” Ucap Abdi saat melihat Malik menutup pintu kamar putrinya.
“Sama-sama, Om. Kalau begitu saya pamit karena masih ada urusan.”
Abdi mengangguk.
“Tidak, Tante. saya buru-buru.” Jawab Malik dan bersalaman pada kedua orang tau Tiara.
Abdi dan Nesa mengantar Malik hingga pekarangan rumahnya. Mereka menatap Malik hingga mobilnya keluar dari gerbang rumah besar itu.
“Pi, katanya anak itu anak rekan bisnismu. Coba bujuk rekan bisnismu itu, agar Malik menikahi anak kita.” Kata Nesa.
“Akan Papi coba, Mi. Karena sepertinya anak ini baik dan bertanggungjawab.” Jawab Abdi.
Nesa pun mengangguk setuju.
Di perjalanan, Malik menyetir dengan kecepatan tinggi, karena kebetulan masih sangat pagi dan jalanan pun masih sangat sepi. Ia mnyempatkan ke apartemennya untuk mengambil ponsel yang tertinggal.
Tepat jam delapan tiga puluh, Angel sudah siap berangkat ke Jakarta bersama Adrian dan kedua anaknya yang sudah bangun dari subuh tadi.
“Yan, boleh ayah ikut sekalian ke restoran?” Tanya Hendra yang juga sudah siap untuk pergi mencari rezeki.
“Iya, Ayah. Ayo sekalian Adrian antar.”
Mereka pun pamit pada Enin dan pergi. Setelah setengah jam kemudian, Malik sampai di depan rumah Hendra. Mobilnya berjalan pelan, mengikuti arahan google map sesuai yang Angel share sebelumnya.
__ADS_1
Malik mencoba menelepon Angel sejak ia berada di mobil dan melaju menuju Bandung, tapi ponsel Angel tidak aktif. Angel pun sudah menghapus nomor Malik di ponselnya. Ia juga berniat akan mengganti nomor telepon untuk menjauhi pria itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Malik mengetuk pintu rumah Hendra.
“Ya, Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Enin, setelah membuka pintu rumah itu.
“Benar ini rumah Pak Hendra?” Tanya Malik.
“Benar. Tapi Hendra sudah pergi.”
“Saya mencari Angel.”
“Oh, kamu temannya Angel?” Tanya Enin yang langsung di angguki Malik untuk memecepat waktu.
“Angel juga sudah kembali ke jakarta tadi.”
“Oh, begitu. Kalau begitu terima kasih.” Malik langsung pergi menuju bus travel, seperti biasa transportasi yang Angel gunakan untuk pulang pergi dari kota ini.
Malik tak sempat mendengarkan pejelasan Enin yang masih ingin berbicara lagi. Enin pun hanya menggeleng melihat Malik yang tergesa-gesa.
Sesampainya di pangkalan bus travel, ia pun tak menemukan Angel. Ia kembali pulang ke Jakarta setalah lama berjam-jam di tempat itu.
“Bee, kamu dimana? Kenapa ponselmu tidak aktif.” Gumam Malik.
Di perjalanan mennuju Jakarta, Angel tak banyak bicara dengan Adrian. Ia hanya berbicara dan bermain bersama Alika dan Fariz. Angel pun memilih duduk di bangku belakang bersama Alika, sedangkan Adrian di temani fariz di bangku depan. Adrian pun tak mempermasalahkan itu, karena memang ia tak memiliki rasa pada Angel, rasa cintanya masih terpatri untuk sang istri yang telah berpulang lebih dulu menghadap Ilahi.
Angel sampai di rumah Bi Ella. Ia sengaja meminta Adrian untuk mengantarnya ke rumah itu dengan alasan kangen dengan sang bibi. Sementara beberapa jam kemudian, Malik sampai di apartemen Angel. Ia menunggu kekasihnya di sana.
Hingga malam menjelang, langit menggelap, Angel tak kunjung kembali ke apartemen ini.
“Bee, apa kamu marah padaku? Tapi jangan seperti ini, kenapa ponselmu tidak aktif.” Malik semakin frustrasi.
“Hah.” Ia mengacak-acak rambutnya dan kembali membuka berkas pekerjaan yang bosnya berikan, karena besok akan ada pertemuan penting.
Di rumah Bi Ella, Angel menangis menceritakan segala kegundahanannya pada bibinya itu. Bi Ella satu-satunya tempat curhatan Angel sejak kecil, wanita itu sangat mengerti keponakannya.
“Lalu, bagaimana nanti kalau kamu bertemu Malik?” Tanya Bi Ella.
Angel menggeleng. “Entahlah, mungkin menghindar. Angel juga sudah mengganti nomor ponsel baru.”
Angel hanya memberitahu nomor ponsel abrunya ini kepada David dan Yasmin. Ia beralasan bahwa ponsel lamanya hilang, padahal ponsel pemberian Malik itu ia simpan rapih di dalam kotak bersama kalung dengan liontin hati dan foto-foto mesra mereka.
“Ngel.” Bi Ella memeluk tubuh keponakannya. Angel pun semakin meangis kencang.
__ADS_1
Ella tahu, Angel tidak akan menolak permintaan sang ayah karena Angel sangat menghormati dan menyayangi Hendra. Ia pun tak bisa membantu keponakannya itu, hanya pelukan yang bisa ia berikan untuk menenangkan Angel.