Melanggar Janji

Melanggar Janji
Bonus chapter 4


__ADS_3

“Hai.”


“Pak David.”


Mantan bos Malik dan Angel itu keluar dari mobil dan segera menghampiri Malik. Sementara Angel berpelukan dengan Sari dan mengcup kedua anak bosnya itu.


“Malam, Pak.” Angel sedikit membungkukkan tubuhnya pada David dan bersalaman.


Malik bergantian menyalami istri mantan bosnya itu.


“Hai, Boy.” Malik menyapa Melvin, putra sulung David dengan mengangkat satu telapak tangannya ke atas.


“Hai, Om Malik.” Melvin pun menyatukan telapak tangannya pada Malik. Mereka bertos ria.


Lalu, Malik memeluknya. “Kau semakin besar, David junior.”


Malik memeluk erat Melvin, pasalnya ia ingat betul bagaimana kisah mantan bosnya itu tatkala tengah mengejar-ngejar wanita yang sekarang sudah memberikannya dua orang anak yang cantik dan tampan. Kala itu Malik pun di buat pusing oleh mantanbosnya ini, hingga hubungannya dengan Angel pun terabaikan.


“Akhirnya, kalian bahagia,” ucap David menupuk bahu Malik dan Angel bersamaan.


“Ngel, aku itu sudah sering kali memperingatkan pria ini. tapi dia tidak pernah bisa di nasehati,” kata David sembari berjalan ke dalam rumah itu.


Malik tertawa. Ya, pada saat Malik menjadi asistennya, David selalu memperingatkan dirinya untuk segera menikahi Angel. Namun, saat itu Malik masih trauma akan pernikahan hingga akhirnya ia benar-benar kehilangan cintanya.


“Tapi jika tidak seperti itu, Malik tidak akan menyadari bahwa dia cinta mati sama kamu, Ngel.” Ledek Sari.


Angel tertawa. “Berarti pria itu harus merasakan kehilangan dulu ya, Bu. Baru merasakan cinta.”


“Ya, begitulah,” Jawab Sari.


"Tapi aku enggak begitu ‘kan, Sayang.” David merangkul sang istri dan mengecup pipinya.


“Ngga, Bos. Kalau bos baru di gertak aja udah takut, sampe menyerahkan semua asset buat ibu.” Malik tertawa mengingat kalang kabut bosnya saat akan di tinggal Sari ke Paris karena ulahnya.


"Oh ya?” Tanya Angel yang memang tidak mengetahui hal ini.


“Ah, kamu Lik. Buka kartu saya aja,” ujar David tersenyum tipis.


“Wah.. kalo gitu aku ngambek ah, supaya asset Malik pindah ke aku.” Ledek Angel.


“Tanpa ngambek juga, semua assetku sudah jadi milikmu, Bee.”


“Eh, beneran?” Tanya Angel tak percaya, pasalnya tadi ia hanya celetuk asal.


Malik mengangguk dan merangkul pundak sang istri.


“Ekhem, masih ada tamu di sini. Jangan mesum!” Pinta David, karena Malik hendak mencium bibir istrinya.


“Eh, maaf.” Cengir Malik.


“Wah, bos sama asisten mirip banget ya.” Ledek Sari.


“Jangan bilang, kamu tiap hari di gigit Malik.” Sari langsung membuka sedikit kerudung Angel dan melihat kissmark di leher itu.


“Ah, iya. Sama.” Sontak Sari tertawa kegirangan, seperti orang menang lotre.


“Ah, Bu Sari.” Pipi Angel memerah seperti tomat, pasalnya memang mereka baru saja melakukan aktifitas panas tadi sore, sehingga kissmark itu masih sangat terlihat jelas dan banyak.


“Eh, itu namanya tanda cinta,” Sanggah David, walau tak melihat kissmark itu.


“Bener banget, Pak.” Lalu kedua suami ini bertos ria.


“Iyuh.” Cibir Sari, hingga menatap ke sembarang arah, membuat Angel tertawa.


Setelah berbincang hangat, Sari dan David melihat Adam dan Hawa yang sedang dibaringkan di ruang keluarga.

__ADS_1


“Wah lucu juga kalau kita punya anak kembar, Sayang,” Ucap David.


Sari mengangguk. “Iya, aku juga ingin, lucu.”


Lalu, sari mengambil Hawa dan menggendongnya. Kemudian, bergantian menggendong Adam. Mungkin setelah ini, ia dan David akan mencoba untuk mengikuti program bayi kembar.


****


Di pagi hari dan di tempat yang lain. Farah tengah menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.


“Sayang, dasi aku mana?” Teriak Adrian dari dalam kamar. sedangkan Farah sedang berada di dapur, sementara Alika dan Faris sudah duduk manis di meja makan.


Setiap pagi, suasana rumah Adrian memang selalu ramai, karena Adrian selalu minta di layani. Padahal dulu sewaktu bersama Angel, ia mandiri dan melakukan segalanya sendiri, tapi bersama Farah, ia seperti anak kecil yang selalu minta diambilkan ini itu.


“Sayang.” Panggil Adrian dari lantai dua, mengarahkan matanya ke arah Farah yang berada di bawahnya.


“Apa?” tanya Farah sembari menengadahkan kepalanya ke arah Adrian.


“Dasi aku, kamu taruh di mana?”


“Sudah aku siapkan semua di atas tempat tidur, Pa.” Di depan Alika dan Faris, Farah memanggil Adrian dengan sebutan ‘papa’.


“Ngga ada,” Jawab Adrian.


“Ish kamu.” Farah menghentakkan kakinya, pasalnya Adrian sering kali cari perhatian dengan cara seperti ini.


“Bi, tolong ini di teruskan dan kasih ke anak-anak.”


Si Bibi mengangguk. Saat ini, Farah tengah membuatkan omelet untuk Alika dan Faris.


“Sayang, kalian sarapan dulu, baru berangkat ya! Terus selesai sarapan langsung berangkat aja di antar Mang Asep. Oke!” Farah mengelus rambut dan mengecup kening kedua anak Adrian satu persatu.


“iya, Ma.” Jawab Alika dan Faris bersamaan.


“Pintar. Mama urus satu bayi lagi di atas ya,” ucap Farah, membuat Alika dan Faris tertawa.


Lalu, Farah menaiki anak tangga dan menuju kamar Adrian.


“Apaan sih, Yan?” Tanya Farah, saat ia membuka pintu kamar itu.


Adrian pun langsung menutup kamarnya.


“Dasi aku mana?” Adrian balik bertanya sembari berjalan menghampiri Farah.


“Kamu nyari apa sih? Ini Dasi.” Farah menunjuk Dasi yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur itu. tubuhnya sedikit merunduk.


Adrian memeluk tubuh Farah dari belakang dan pusaka miliknya tepat menempel pada b*k*ng Farah. Farah merasakan ada yang mengganjal di belakang sana. Ia pun mengerti dengan situasi ini.


“Bukan yang ini. aku mau yang lain,” jawab Adrian berbisik.


Farah menegakkan tubuhnya dan tertawa. “Modus dasar.” Lalu, ia membalikkan tubuhnya.


“Kalau mau bilang aja. Tadi abis subuh di tawarin katanya ngga. Dasar muna.”


“Apaan tuh muna?” tanya Adrian.


“Munafik lah, masa iya munaroh.”


Adrian tertawa dan memeluk Farah hingga keduanya jatuh di atas ranjang.


“Kamu ngga ada operasi?” tanya Farah.


Adrian menggeleng. “Hari ini hanya mengerjakan laporan saja.”


“Kamu libur kan?” tanya Adrian.

__ADS_1


Farah menggeleng. “Nanti sore, aku ada penyuluhan.”


“Bisa diwakilkan yang lain, ‘kan?” tanya Adrian.


Farah menggeleng. “Aku ingin ikut andil dalam hal ini.”


Sore ini, Farah akan memberi penyuluhan pada beberapa pekerja s*x komersil tentang bahayanya penyakit kelamin pada wanita yang sering bergonta ganti pasangan.


“Memang kenapa?” tanya Farah, karena tidak biasanya Adrian melarang aktifitasnya.


“Nanti sore, Alika ikut audisi lomba piano. Dia minta salah satu di antara kita untuk datang,” jawab Adrian.


“Kalau begitu kamu yang datang. ‘kan hari ini hanya mengerjakan laporan.”


“Tidak bisa.”


“Apanya yang ngga bisa? Yan, kamu tuh ngga pernah ada kalau Alika dan Faris butuh. Ini masa-masa emas kamu dan anak-anak. Jangan dilewatkan hanya karena pekerjaan.”


Kini mereka berbincang di atas tempat tidur. sejak Alika dan faris lahir, Adrian memang tidak terlalu memiliki andil dalam membersarkan mereka. Adrian sibuk bekerja dan hanya sesekali mengajak kedua anaknya berlibur keluar kota atau ke tempat-tempat wisata yang sudah jauh-jauh hari di rencanakan.


“Kan, ada mamanya,” jawab Adrian santai.


“Dasar. Justru psikologi mereka di dapat dari kamu. Ketika kamu yang mengatakan hebat, mereka lebih antusias di banding ketika ibunya yang mengatakan itu. Karena bagi mereka apresiasi yang di berikan oleh ibu sudah biasa di bandingkan dari sang ayah.”


"Begitu ya?" tanya Adrian dengan tatapan meledek.


"Tau ah." Farah bangkit dan ingin meninggalkan Adrian yang egois.


Adrian langsung mencekal lengan Farah. “Hei mau kemana?”


Farah menepis lengan Adrian yang mencekal lengannya.


“Hei, kok marah.” Adrian bangkit dan menmeluk tubuh Farah terduduk di tepi ranjang.


Farah pun melepaskan tangan Adrian yang melilit di perutnya dan berdiri. “Aku mau ke bawah.”


“Hei, urusan kita belum selesai.” Adrian mencoba meraih tangan Farah yang hendak berjalan meninggalkannya.


“Terus aku bagaimana?” tanya Adrian memelas.


“Bodo amat.” Kesal Farah.


Adrian bergegas berdiri dan menangkap tubuh Farah, lalu menggendongnya.


“Yan, apaan sih. Turunin ngga?”


“Ngga.” Adrian menggeleng dan tetap membawa kembali tubuh Farah ke atas ranjang. Lalu mengungkung tubuh ang istri.


“Kamu belum tuntaskan keinginanku, Far.”


Tangan Farah terangkat untuk mengelus lembut wajah suaminya yang berada tepat di depan wajahnya.


“Aku akan selalu melayanimu, Yan. Tapi kita tetap harus berbagi tugas. Mengurus rumah dan anak-anak bukan hanya tanggung jawabku. Tanggung jawabmu juga bukan hanya memberi kami uang,” ucap Farah lirih.


“Iya, aku tahu. Maaf.”


Farah tersenyum. “Terus mau gaya apa?”


Adrian tersenyum lebar. “Yang semalam, oke.”


“Itu mah, mau kamu.” Farah mencubit ujung hidung Adrian yang mancung. Pasalnya semalam Farah memang aktif dan posisi women on top adalah kesukaan Adrian.


“Dua ronde ya,” ucap Adrian menunjuk dua jarinya ke atas.


“Adrian.. di kasih ati minta jantung.” Teriak Farah kesal dan Adrian pun tertawa.

__ADS_1


Akhirnya, Adrian memiliki lawan main yang seimbang.


__ADS_2