
Adrian meletakkan dua tiket pesawat ke Maldives Maladewa, sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol di Samudera Hindia. Ia tak sengaja meletakkan dua tiket itu di sana, karena tubuhnya yang lengket membuat ia segera bergegas ke kamar mandi tanpa menyembunyikan dua kertas itu untuk kejutan sang istri.
Farah dan Adrian baru saja sampai di rumah pukul setengah empat sore. Kebetulan jadwal kedua tidak padat hari ini dan mereka bisa pulang lebih cepat. Namun sesampainya di rumah, Alika dan Fariz yang sedang bermain tembak air di taman belakang, langsung mengajak sang ibu ketika melihat Farah datang. Farah pun dengan senang hati menuruti keinginan anak-anak sambungnya.
“Hahahaha ... Mama basah kuyup nih,” rengek Farah melihat ke dirinya sendiri. Pakaiannya kini menjadi warna warni.
Farah, alika, dan Faris sudah bermain hampir setengah jam. Alika dan Fariz tertawa dengan nafas tersengal, pasalnya mereka bermain kejar-kejaran untuk menembakkan air berwarna-warni itu ke tubuh lawan.
“Mama ke tembak terus,” ucap Fariz sembari tertawa.
“Iya .. iya, Mama kalah,” jawab Farah yang juga tengah mengatur nafasnya dan memelankan tawa.
“Sesuai janji, kalau Mama kalah berarti Mama harus tidur dengan kami nanti malam,” kata Alika.
“Iya, Mama harus bacakan dongeng yang banyak,” sahut Fariz.
“Oke ... oke ... tantangan diterima,” jawab Farah tersenyum, lalu membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Alika dan Fariz.
Kedua anak itu langsung berhambur menuju bentangan tangan Farah dan memeluk ibu sambungnya sembari tertawa. Permainan ketiga orang ini tadi cukup membuat seisi rumah ini menjadi ramai. Adrian yang berada di lantai dua saja dapat dengan jelas mendengar tawa itu.
Adrian berdiri di jendela kamarnya yang menyuguhkan pemandangan taman belakang. ia pun menyaksikan kebersamaan anaknya dengan ibu sambung mereka. ia sangat bersyukur, kedua anaknya selalu dikelilingi oleh wanita baik sebagai ibu sambung mereka, karena sebelumnya Angel pun mampu menjadi ibu sambung untuk Alika dan Fariz. Namun sayang, takdir berkata lain dan itu memang karena ulah Adrian sendiri, atau memang karena mereka tidak berjodoh.
Adrian keluar menuju balkon rumahnya dan berteriak. “Alika ... Fariz ... sudah mainnya. Ayo mandi!”
Alika dan Fariz langsung mendongak ke atas, ke arah sang ayah yang berdiri di sana. Begitu pun Farah.
“Iya, Pa,” jawab Alika yang dilanjut dengan Fariz.
“Pa, tolong lemparin bathrobe dong!” teriak Farah dari bawah pada suaminya.
Adrian hanya tersenyum menggeleng. Lalu, masuk ke dalam untuk mengambil benda yang diminta istrinya tadi. Namun, Adrian tidak melemparnya seperti yang diminta Farah. ia lebih memilih turun dan memberikan benda itu langsung.
“Papa, cepetan! Mama udah kedinginan tuh,” ucap Fariz saat berpapasan dengan sang ayah di tangga.
“Kalian nih, kalau udah main ngga ingat waktu.” Adrian memperingatkan kedua anaknya sembari menepuk b*k*ng mereka.
Alika dan Fariz pun tertawa, lalu menaiki anak tangga itu dengan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Adrian tersenyum melihat istrinya meringkuk kedinginan di luar.
“Yan, cepetan siniin bathrobe nya,” kata Farah setelah melihat sang suami membawa benda yang ia minta. “Lagian kenapa ngga dilempar dari atas aja sih, supaya cepet.”
Kemudian, Adrian tidak menyerahkan benda itu dan hanya di sipmpan pada pergelangan lengannya. Ia mendekatkan tubuhnya pada sang istri dan tangannya langsung meraih kancing kemeja yang basah itu untuk di buka.
“Aku maunya lempar kamu ke tempat tidur aja, gimana?”
Farah tertawa. “Apaan sih kamu mesum banget, ih.”
Farah mendorong pelan dada bidang itu. Adrian yang tampak sudah segar dan sudah membersihkan diri itu terlihat semakin tampan. Ia hanya menyungging senyum sedikit dan tetap fokus membantu melepaskan pakaian istrinya yang basah.
Adrian membantu Farah melepaskan kemeja itu dari tubuh sang istri, hingga kini Farah hanya mengenakan bra berwarna pitch yang juga basah. Kemudian, Adrian tertawa melihat tubuh terbuka sang istri.
__ADS_1
Farah mengeryitkan dahi. “Kenapa ketawa?”
“Hmm ... ngga apa-apa, suka aja ngeliat kamu ngga pake apa-apa.”
“Adrian ...” teriak Farah manja.
Pasalnya bukan hanya Adrian suka melihat sang istri yang tak berpakaian, tetapi ia juga senang melihat beberapa tanda kemerahan hasil karyanya. Adrian menyentuh beberapa tanda itu, hingga arah mata Farah pun mengikuti tangan itu.
“Ini tidak pernah hilang?” tanya Adrian polos.
“Ck, gimana bisa ilang kalau kamu melakukannya setiap malam.”
Adrian tertawa.
“Bahkan siang pun juga,” sambung Farah, karena beberapa kali mereka pun pernah melakukannya di ruang kerja saat berada di rumah sakit.
“itu insidental," sanggah Adrian.
“Hmm ... ngeles aja kaya bajai,” jawab Farah sembari memakai bathrobe iu dan hendak menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
“Mau aku mandikan?” tanya Adrian.
Farah menoleh ke arah sang suami sembari menjulurkan lidah, membuat Adrian kembali tertawa dan menggelengkan kepala. Arah matanya masih tertuju pada sang istri yang kian lama menjauh menuju anak tangga di sana.
Kemudian, Adrian menunggu anak dan istrinya di bawah sembari membuatkan coklat hangat untuk istri dan anak-anaknya.
Adrian memang sudah sangat berubah. Ia tidak lagi beranggapan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan isri saja, seperti hal ini.
Farah mengeringkan rambutnya yang basah di depan meja rias. Tak sengaja, arah matanya menangkap dua carik kertas yang tergeletak di sana dan mengambilnya.
“Maldives?” gumam Farah penuh tanda tanya. “Apa Adrian akan bertugas ke sana? tapi mengapa dia ngga bilang.”
Farah mengeryitkan dahinya, lalu menaruh lagi dua carik kertas tadi pada tempatnya.
Krek ...
Tak lama kemudian, Adrian membuka pintu kamar itu dengan membawa segelas coklat panas, setelah memberikan minuman yang sama pada Fariz dan Alika di kamar mereka masing-masing.
“Ini untukmu.” Adrian meletakkan gelas itu persis di depan Farah.
“Terima kasih.” Farah tersenyum manis ke arah Adrian, membuat Adrian pun ikut tersenyum.
Lalu, Adrian menempelkan tubuhnya di belakang sang istri yang tengah berdiri dan masih menegringkan rambut dengan handuk kecil. Adrian melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping itu dan menyembunyikan wajahnya di cerug leher Farah.
“Harum,” ucap Adrian sembari menarik nafasnya panjang, menghirup aroma tubuh sang istri.
Farah menatap ekspresi sang suami dari cermin dan menangkup wajahnya dari depan. “Yan, kamu mau tugas ke Maldives?”
Adrian menggelengkan kepalanya.
“Loh, terus tiket itu?” tanya Farah lagi sembari menunjuk ke dua carik kertas itu.
__ADS_1
Adrian pun ikut menoleh ke arah yang Farah tunjukkan. “Oh itu. Itu untuk kita.”
Farah membalikkan tubuhnya. “Kita?”
“Iya, aku dan kamu akan ke maldives. Bukannya waktu itu kamu ingin bulan madu ke sana? Hmm ...” Adrian kembali mendekatkan tubuhnya pada sang istri.
“Aku belum ambil cuti, Yan.”
“Sudah. Sudah aku atur cutimu,” sahut Adrian cepat.
Farah tertawa kecil. “Kapan itu?”
“Minggu depan.”
“Lalu, Alika dan Fariz?” tanya Farah.
Adrian menatap wajah sang istri yang mengkhawatirkan kedua anaknya. Ia mengelus pipi itu dan berkata, “Mama dan Papa akan tinggal di sini selama kita pergi.”
“Yan, aku tidak ingin merepotkan Mama dan Papa.”
“Mereka tidak merasa direpotkan, Sayang. Justru mereka yang menyuruhku untuk honeymoon. Katanya supaya kamu hamil.”
“Ah, ngomong-ngomong hamil. Minggu depan itu kan jadwal kita melakukan tahap pertama program bayi tabung.”
“Di undur saja,” ucap Adrian.
“Yan,” rengek Farah. “Kemarin kita baru konsultasi dan minggu depan mulai tindakan awal.”
“Semoga setelah pulang dari sana, kamu hamil dan tidak perlu melakukan itu,” sahut Adrian.
“Yan. Itu tidak mungkin, kemungkinan aku hamil secara alami tipis.”
“Sstt...” Adrian langsung menutup bibir Farah dengan telunjuknya. “Tidak boleh berkata seperti itu, itu artinya kamu mendahului takdirNya, sayang.”
“Tapi aku memang pesimis, Yan,” lirih Farah.
“Tidak usah memikirkan itu. Kita jalani saja kebahagiaan ini. oke!” Adrian mencoba meyakinkan wanita keras kepala ini. Ia pun merengkuh tubuh itu dan memeluknya. “Aku yakin kamu sehat, Sayang. hanya saja kamu terlalu banyak berpikir tentang itu.”
Adrian melonggarkan pelukan itu dan menatap ke kedua bola mata wanita cantik di depannya. “Jangan jadikan hal ini sebagai beban! Lepaskanlah. Dengan ikhlas, justru kamu akan mendapatkan yang terbaik.”
Farah tersenyum dan mengeratkan lagi pelukan itu. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang kokoh itu.
Farah mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami. “dapat kata-kata itu dari mana?”
Adrian membalas tatapan sang istri. “Dari pengalaman hidup.”
“Saat melepaskan Angel dan mengikhlaskannya untuk Malik?” tanya Farah.
Adrian tersenyum dan mengangguk, membuat Farah ikut tersenyum.
Adrian dan Farah memang bukan lagi anak abege atau remaja yang baru menikah. Sudah tidak ada lagi cemburu-cemburuan yang biasa menjadi kesalahpahaman pasangan suami istri hingga terjadi pertengkaran. Mereka sama-sama insan yang memang pernah mengalami kegagalan dan mereka berjanji akan membawa pernikahan ini hingga maut memisahkan atau kalau boleh meminta, mereka ingin tutup usia bersama.
__ADS_1