Melanggar Janji

Melanggar Janji
Adrian akan melamar


__ADS_3

Farah terkejut oleh kehadiran Tomy. Sedangkan Adrian terkejut oleh kehadiran orang tuanya. Walau kegaduhan ini tidak membuat Alika dan Faris terusik dari tidur mereka.


“Ya ampun, Yan. Apa-apaan ini?” Tanya Dila tak mengerti melihat putranya sedang bertelanjang dada bersama seorang wanita di kamarnya.


Adrian melirik ke arah Farah dan Farah pun demikian. Mereka saling melontarkan tatapan. Lalu, Tomy berlari mendekati istrinya dan menarik tangannya.


“Ayo pulang!” Rahang Tomy mengeras, ingin rasanya ia memukul Adrian, tapi ia urung melakukan itu karena ada kedua orang tua Adrian dan saat ini ia juga berada rumahnya.


“Lepas.” Farah yang sudah berdiri paksa itu pun mau tak mau mengikuti langkah Tomy, sembari menggerakkan tangannya agar terlepas dari cekalan tangan Tomy.


Adrian pun langsung berdiri dan menahan aksi Tomy yang sedang menarik paksa Farah.


“Tom, ini salah faham. Kita ga ada apa-apa.”


“Lu kira gue buta. Hah? Lu udah cium istri gue.” Bentak Tomy.


“Lepas, aku sudah bukan istrimu lagi, Mas. Kita akan bercerai.”


“Oh, jadi karena dia, kamu bersikeras untuk minta bercerai.” Tomy menunjuk wajah Adrian. Sementara Adrian masih menggeleng.


“Tom, ini..”


“Diam.” Teriak Tomy, memotong perkataan Adrian.


“Hei, apa kamu bentak-bentak anak saya.” Dila yang tak tau duduk persoalannya tetaap membela sang putra.


“Anak ibu mau merebut istri saya.” Ucap Tomy dan kembali menarik tangan Farah untuk keluar dari kamar ini.


“Yan, apa itu benar?” Tanya Dila pada putranya.


Namun, Adrian memilih meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berdiri di dalam kamarnya dan mengikuti Farah yang tengah di tarik paksa oleh Tomy.


Si bibi berdiri di bawah anak tangga. Ia menyaksikan lagi tragedi besar di rumah ini. Kalau waktu itu, Adrian yang menjadi korban adik sepupunya yang merebut istrinya, sekarang Adrian yang merebut istri orang seperti adik sepupunya.


“Masa si bapak selingkuh?” Tanya si Bibi dalam hati.


Si Bibi juga melihat Dila dan Radit menuruni anak tangga itu dengan cepat. Ia tak ingin melewatkan kejadian ini.


“Tom, lepasin Farah. kasihan dia.” Adrian masih mengejar Tomy dan mencoba meraih lengan Farah agar langkah mereka terhenti.


Hingga sampai di teras, Farah berhasil melepaskan tangannya dari sikap kasar Tomy. Tomy menoleh ke arah Farah. Sementara kaki Adrian berhenti di ambang pintu rumahnya. Tomy melihat ke arah Farah dengan wajah sedih, lalu ia berganti melirik ke arah Adrian dengan marah. Ia menghelakan nafasnya.


“Ayo pulang, Far! Aku memaafkanmu atas kejadian ini, aku anggap kita impas dan kita jalani semuanya seperti dulu.”

__ADS_1


Farah terdiam. Ia menunduk.


“Tom, lu salah faham. Gue sama Farah...”


“Aku sudah tidak mencintaimu, Tom.” Untuk pertama kalinya, Farah memanggil suaminya dengan sebutan nama. Farah sengaja memotong perkataan Adrian yang ingin menjelaskan kejadian sebenarnya malam ini.


“Kamu juga sudah tau, kalau aku berselingkuh dengannya.” Farah menunjuk ke arah Adrian.


Sontak hal itu membuat Dila rasanya ingin pingsan dan si Bibi menganga, tapi Radit terlihat biasa saja.


“Far.” Panggil Adrian, karena hal itu tidak benar.


“Oh, jadi kamu mengakui.” Tomy tertawa.


“Maaf, aku tidak bisa hidup tanpa pria, jadi ketika kamu tidak bisa di sisiku, maka aku mencari perlindungan pada pria lain dan Adrian pria yang tepat.”


“Far.” Adrian kembali memperingatkan Farah, bahwa ini tidak benar.


Farah menghiraukan peringatan dari Adrian. Matanya menatap melas ke arah Adrian, seolah memberi isyarat bahwa ia minta maaf karena telah memanfaatkan pria itu dengan keadaan ini, karena ia berharap setelah kejadian ini, Tomy segera menceraikannya.


“Oke, aku akan menceraikan Diva, walau dia belum melahirkan. Yang penting kamu pulang dan anggap semua ini tak pernah terjadi.” Ucap Tomy lirih.


Ia berjalan menghampiri Farah dan meraih tangannya.


Farah menghentikan langakahnya, ia melepaskan tangannya dari genggaman Tomy.


“Maaf, Tom. Aku sudah tidak mencintaimu, Maaf.” Farah berlari menghampiri Adrian dan memeluknya.


Entah mengapa, Adrian pun menerima pelukan itu.


Di depan mobilnya, Tomy tertinduk lemas. Ia sudah benar-benar kehilangan Farah, kehilangan wanita yang selama ini selalu ada untuknya, wanita yang ia cintai sejak pandangan pertama saat orientasi sekolah, wanita yang manja dan selalu meminta bantuannya, wanita yang selalu meminta di peluk dari belakang saat ingin tidur, dan wanita yang tidak pernah mengeluh. Tomy menatap lekat Farah yang di peluk oleh pria lain.


Jedar. Suara petir bergema tanda akan turun hujan.


Petir itu pun seolah menyambar hati Tomy yang luluh lantah, karena cintanya di khianati.


“Aku akan menceraikanmu, Farah Maulida.” Teriak Tomy.


Farah menoleh ke arah Tomy dan menatapnya. “Aku akan menunggu itu.”


Seketika air mata Tomy mengalir dan ia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sementara, Farah berdiri melihat Tomy yang perlahan berlalu pergi.


“Apa yang kamu lakukan, Far?” Tanya Adrian mendekati farah yang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


“Supaya urusanku cepat selesai, Yan.” Farah menangis.


“Ini untuk kebaikan dia juga. aku ga mau jadi penghalang keluarga kecil mereka.” Kata Farah sembari menangis, kali ini tangisannya semakin terisak.


Adrian meraih pucuk kepala Farah dan memeluknya. “Kamu masih mencintainya?”


Farah mengangguk dan kembali menangis.


Sementara di dalam sana, Dila, Radit, dan si Bibi menyaksikan adegan penuh haru itu di balik pintu utama yang terbuka lebar.


“Pa, anak kita pebinor? Hah, Mama rasanya mau pingsan, Pa.” Kata Dila bersandar pada suaminya.


Radit hanya tertawa, karena ternyata anaknya tak ada bedanya dengan keponakannya. Memang Adrian dan Malik besar sama-sama dan sekarang perilakunya pun tak jauh berbeda.


“Yan.” Teriak Radit memanggil putranya yang sedang memeluk seorang wanita yang memang belum mereka kenal.


Adrian melepaskan pelukannya dan meninggalkan Farah untuk menghampiri kedua orang tuanya.


“Sini, Nak.” Radit memerintahkan Farah untuk ikut menghampirinya.


Adrian pun menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya untuk berjalan beriringan dengan Farah.


“Namamu siapa?” Tanya Radit.


“Maaf, Pak, Bu. Saya membuat keributan di sini.” Farah tak lagi menangis. Ia pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Radit dan Dila seraya mencium punggung tangan mereka.


“Saya Farah, Pak, Bu. Saya rekan kerja Adrian. Tapi saya di poli kandungan.” Ucap Farah sopan.


“Kami tidak tahu, apa masalahmu dengan suamimu. Kami juga tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Adrian. Tapi jika kamu sudah bercerai nanti, Papa akan melamarmu untuk Adrian.” Kata Radit, yang tak pernah melihat Adrian sedekat ini dengan wanita setelah Alya meninggal. Bahkan dengan Angel yang waktu itu masih berstatus istrinya saja, Adrian terlihat dingin dan kaku.


“Pa.” Dila memukul dada suaminya.


“Tapi, Pa. Farah hanya..” Adrian tak lagi meneruskan ucapannya, ketika melihat dua bola mata Farah yang sedang menatapnya.


Ia tak ingin membuat Farah tersakiti lagi.


“Bagaimana, Yan?” Tanya Radit.


Adrian pun mengangguk. Sontak hal itu membuat Farah terkejut. Ia tak percaya bahwa Adrian akan melamarnya, setelah ia resmi bercerai. Apa ia sedang tidak bermimpi? Pria cuek yang selalu ia bully ini akan menjadi suaminya? hah, entahlah. Farah hanya mengikuti alur hidupnya seperti air yang mengalir dan terus berjalan. Walau ada halangan yang membuat air itu tersumbat dan tidak bisa berjalan, tapi air selalu mencari celah agar tetap keluar dan kembali berjalan.


Di dalam mobil, Tomy menangis, ternyata Farah bisa hidup tanpa dirinya. Padahal dia belum tentu akan bisa hidup tanpanya. Tomy berkali-kali memukul setir mobil itu untuk melampiaskan kekesalan. Lalu, ia berhenti di sebuah taman. Ia turun dari mobil walau hujan tengah rintik-rintik membasahi bumi.


Byur.

__ADS_1


Hujan akhirnya mengguyur cukup deras, tapi Tomy tetap berdiri di sana. di taman itu tidak ada orang satu pun. Tomy sangat terpukul. Ia berteriak sekencang-kencangnya, menyesali semua yang terjadi. Mungkin setelah ini, ia tidak akan seceria dan sebahagia dulu, karena Farah wanita ceria yang membuat hidupnya penuh warna.


__ADS_2