
Satu hari terlewati setelah kejadian Adrian mengamuk pada Angel yang terlambat menjemput kedua anaknya. Sabtu, ini Angel bersiap pergi, untuk menghilangkan sedikit kejenuhannya. Namun, ia beralasan akan pergi ke kampus.
“Angel, kamu mau ke kampus?” Tanya Radit yang akan kembali pulang ke Bandung.
“Iya, Pa.” Jawab Angel yang sudah rapih.
“Kalau begitu ayo papa antar sekalian.” Kata Radit.
“Loh, kok Bunda ke kampus, bukannya kalau hari sabtu itu libur?” Tanya Alika.
“Iya, ada urusan sebentar di kampus. kalian sama papa ya.” Ucap Angel.
Di sana Adrian tengah duduk bersama Radit sembari menyesap kopi mereka. Adrian sama sekali belum meminta maaf pada Angel karena kata-kata kasarnya waktu itu. Sebenarnya, ia ingin sekali meminta maaf, tapi setiap kali ia ingin menyapa Angel atau mendekatinya, ia canggung karena Angel pun berusaha untuk menghindarinya.
“Yan, papa pamit.” Ucap Radit pada putranya, bergantian dengan Angel yang lebih dulu berpamitan pada suaminya dan mencium punggung tangannya.
“Iya, Pa. Hati-hati.” Jawab Adrian.
“Oh iya Yan, satu lagi. Papa tahu kamu tidak mencintai Angel, tapi setidaknya perlakukan dia seperti istimu. Angel wanita yang baik, papa hanya takut nantinya malah kamu yag menyesal bersikap seperti ini padanya.” Radit menepuk punggung Adrian.
Adrian pun terdiam. Ia memang belum bisa mencintai istrinya itu, tapi ia sudah mulai memberikan perhatian sebelumnya, walau kejadian beberapa hari yang lalu itu membuat keadaan keduanya kembali dingin.
****
__ADS_1
Angel di antar oleh ayah mertuanya persis hingga depan kampus.
“Ngel. Maafkan Adrian ya!” Pinta Radit pada Angel yang baru saja akan keluar dari mobil itu.
Angel tersenyum dan mengagguk. “Iya, Pa. Papa hati-hati di jalan ya.”
“Iya, Sayang.”
Angel melambaikan tangannya ke arah ayah mertuanya yang membuka kaca jendela sebelum pergi. Radit pun membalas lambaian tangan itu dengan penuh senyum. Di jalan, Radit tak habis pikir dengan sikap putranya, padahal Angel telah menyayangi kedua anaknya dengan tulus.
Setelah melihat mobil mertuanya sudah jauh melaju, Angel kembali menyebrangi jalan dan melangkah menuju stasiun kereta. Ia ingin menikmati kesendiriannya pagi ini, mungkin sore harinya ia baru akan pulang.
Angel menggunakan kereta api dan ojek online roda dua untuk sampai ke tempat yang ia rindukan itu. Dengan langkah yang pelan , Angel memasuki apartemen itu. Apartemen yang penuh kenangan karena di berikan oleh lelaki yang sangat ia cintai.
Bip
Malik yang sedang berada di Jakarta, untuk menjenguk sang ayah itu pun tengah menuju apartemen yang ia berikan untuk kekasihnya waktu itu. Terkadang Malik mengecek cctv di apartemen itu, hanya untuk melihat apa Angel pernah datang ke sana. Namun, sudah lebih dari satu tahun, ia tak pernah melihat wanita yang ia cintai itu berkunjung ke sana. Sungguh ia rindu akan kebersamaannya bersama sang kekasih. Ia pun ingin berkunjung ke apartemen itu dan memeluk pakaian Angel sebagai penghilang rindunya.
Malik menyempatkan diri untuk membeli dimsum dan nasi goreng seafood kesukaan kekasihnya untuk ia makan sendiri saat berada di apartemen.
Bip
Pintu apartemen terbuka,setelah Malik menekan pascodenya. Matanya mengelilingi penjuru sudut ruangan itu. Ia pun tersenyum. Keadaan apartemen Angel tetap rapih, wangi, dan bersih, karena Malik telah menyuruh orang untuk membersihkan tempat ini satu minggu sekali.
__ADS_1
Lalu, kaki Malik melangkah ke kamar. Ia melihat pintu kamar itu yang sedikit terbuka. Perlahan ia membuka pintu itu dan melihat sosok wanita yang ia kenal tengah berbaring membelakanginya. Sontak Malik terkejut. Ia sungguh tak menyangka bahwa Angel sedang berada di sini.
Dua jam yang lalu, Angel membaringkan tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya. Memang hal ini yang ingin ia lakukan di apartemen itu. Ia ingin berteriak dan menangis. Setelah itu, Angel tertidur karena lelah menangis hampir lebih dari satu jam.
Malik mendekati wanita itu. Ia melihat mata angel yang sembab dan pipinya yang basah.
“Kamu kenapa, Bee? Apa kamu tidak bahagia?” Tanya Malik lirih sambil mengusap wajah Angel.
Suara Malik terdengar sayup-sayup di telinga Angel. Ia mengira itu adalah mimpi, karena matanya sangat berat untuk di buka.
Lalu, Malik membaringkan tubuhnya di ranjang itu dan memeluknya dari belakang. Malik pun ikut memejamkan mata, karena rasa nyaman berada dekat dengan wanita yang ia rindukan ini. Angel pun semakin pulas, karena rasa nyaman berada dalam pelukan Malik. Angel merasa semua ini seperti mimpi.
Dret.. Dret.. Dret..
Alarm ponsel Malik bergetar di saku celananya. Ia pun terbangun karena getaran itu.
“Oh, sebentar lagi pesawatku akan berangkat.” Gumam Malik, lalu terbangun.
Ia memang sudah memesan tiket untuk kepulangannya ke Singapura. Kemudian, malik mengecup kening Angel.
“Tunggu aku, Bee. Aku akan kembali dan mengambilmu.” Ucap Malik lirih.
Ia pun berdiri dan memakai kembali jasnya. Lalu, keluar dari kamar itu, meninggalkan makanan kesukaan Angel yang belum sempat ia makan.
__ADS_1