
Matahari mulai menyinari ruang kamar pasangan halal yang lagi-lagi melakukan serangan fajar setelah melaksanakan kewajiban pada sang khalik saat matahari belum menampakkan diri.
Malik terbangun lebih dulu dan mengelus wajah sang istri yang berada di dekapnya. Tubuh mereka yang polos, hanya di tutupi oleh selimut tebal bermotif daun. Tak lama, Angel pun membuka matanya karena gerakan tangan Malik yang menelusuri wajahnya. Seperti biasa, Angel tersenyum ketika matanya terbuka.
Malik membalas senyum manis itu. “Morning, Bee.”
“Morning.”
Malik membawa tubuh Angel untuk sedikit bangun dan bersandar pada dinding tempat tidur. Ia memeluk istrinya dari belakang. Bibirnya pun masih menelusuri bagian belakang tubuh istrinya itu, membuat Angel tertawa kegelian.
“Kak.” Angel merengek kegelian dengan tubuh yang sedikit di condongkan ke depan untuk mnghindari dagu Malik yang sedikit berbulu dan menyentuh kulitnya.
Malik tertawa, lalu menarik lagi tubuh Angel untuk kembali menempel padanya.
“Kamu libur hari ini, Bee?”
“Iya. Setiap Rabu, aku tidak ada jadwal mengajar.” Angel hanya mengajar empat hari dalam satu minggu.
“Hmm..” Malik gemas dan menggigit bahu Angel.
“Aww.. Sss. Jangan di gigit lagi, Kak! Ini pasti sudah banyak.” Rengek Angel, karena sedari tadi Malik selalu menggigit tubuhnya.
“Banyak banget.” Malik malah tertawa melihat hasil karyanya dari semalam.
“Kamu kan libur, jadi ga masalah aku buat tanda merah yang banyak.” Kata Malik lagi dengan nada tak berdosa.
“Ish. Sampe ke perut juga.” Angel menunduk dan menurunkan selimut tebal itu hingga ke pinggang. Ia melihat perutnya yang keunguan karena ulah sang suami.
Lalu, Angel menoleh ke arah Malik, tapi yang di tatap malah tersenyum seperti anak kecil tanpa dosa.
“Maaf, Bee.” Malik kembali memeluk erat istrinya.
Tangan Malik mengelus perut Angel, sembari satu tangannya lagi memegangi kedua gunung kembarnya dari belakang. Kemudian, Angel menengadahkan kepalanya, membiarkan bibir Malik yang masih menelusuri lagi area itu.
“Kak.”
“Hmm..”
“Kemarin, Rumi sudah mulai kerja.”
“Oh.”
“Dia cantik deh, Kak.” Kata Angel lagi.
“Rumi itu pacarnya Joni.” Jawab Malik yang masih menciumi pundak Angel.
“Oh, tapi Rumi bilang, dia dapet pekerjaan ini dari temannya Joni.” Angel menoleh sedikit ke belakang, membuat aktifitas Malik terhenti.
“Mungkin dia ga enak sama kamu. Jadi bilangnya seperti itu. kalau Joni bilang ke aku, itu pacarnya yang lagi butuh pekerjaan.”
“Oh, tapi dia mau kerja apa aja ya.” Kata Angel.
“Ya, yang penting gajinya seperti kerja kantor.”
“Kamu sudah ketemu Rumi?” Tanya Angel.
Malik mengangguk. “Sebelum ke rumah ini, Joni membawanya menemuiku dulu di kantor.”
“Cantik kan?” Tanya Angel lagi.
Malik mengangguk. “Cantik.”
Tiba-tiba hati Angel seperti di sentil, saat Malik mengatakan wanita lain cantik, padahal dia sendiri yang mencoba mengetes suaminya.
“Tapi lebih cantik kamu.” Ucap Malik lagi, membuat Angel kembali tersenyum.
“Masa?" Angel masih tak mau ge-er, walau hatinya kembali berbunga.
“Kamu tahu, Bee. Sewaktu di Singapore, banyak wanita yang mendekatiku, tapi aku ga tertarik. Justru malah wajahmu yang sering melintas. Terus, saat pertemuan beberapa pebisnis besar disana, kamu tau kan kalau pertemuan seperti itu sering di sediakan wanita.”
Angel mengangguk.
“Waktu itu aku menerima wanita yang disediakan itu dan sedikit bercumbu, tapi milikku biasa saja. Tidak seperti saat bersamamu. Padahal wanita itu sudah tanpa busana di hadapanku.”
__ADS_1
“Masa?" Angel tersipu malu, wajahnya merah. Ia tak menyangka dengan pernyataan kekasih yang telah resmi menjadi suaminya itu.
“Iya, sungguh. Kamu emang dahsyat, Bee. Milikku hanya ingin berada di tubuhmu. Dia tidak mau kalau bukan dengan sarangnya.”
“Kak, ih kalo ngomong tuh ga di saring banget.” Angel tertawa, begitu pun suaminya.
“Biarin. Sama istri sendiri ini.” Jawab Malik sembari tangannya bergerak bebas menelusuri tubuh polos itu.
Lalu, berakhir pada dua gunung kembar Angel. Tangannya meremas benda kenyal itu.
“Hmm, berarti kamu udah sering bercumbu dengan wanita lain?” Tanya Angel lirih dan meluruskan tubuhnya.
“Sebentar doang. Itu juga ga ada rasanya. Pokoknya beda banget kalo lawan mainnya itu kamu.”
Angel tersenyum. Malik benar-benar berbicara seenaknya tanpa di saring terlebih dahulu.
“Kalo kamu, pernah di sentuh Adrian?” Tanya Malik. Ia menatap wajah Angel dengan lekat.
“Hampir, tapi untung ada Alika dan Faris.” Angel manarik nafasnya.
“Aku kangen kedua anak itu, Kak. Mereka yang selalu membuatku tertawa.”
“Maafkan aku yang bodoh pada waktu itu, Bee.” Malik kembali mengeratkan pelukannya.
“Aku pengen banget telepon Alika dan Faris. Bisa ga ya?” Angel menoleh lagi ke wajah suaminya.
“Bisa, tapi pas mereka lagi di rumah dan lagi ga ada Adrian. Kita telepon ke si Bibi aja.”
Angel mengangguk.
Tangan Malik masih meraba tubuh polos itu.
“Udah sana mandi. Nanti kamu kesiangan.” Kata Angel
“Terus ini juga tangannya dari tadi ga bisa diem banget.” Ucap Angel kesal sembari menepak kedua tangan suaminya yang tengah menggerayangi tubuhnya. Namun, bibir Angel tetap mengulas senyum.
Malik tertawa. “Suka, Bee. Kenyal seperti squishi.”
Malik terus tertawa. Lalu, menahan kedua tangan Angel.
“Mandi bareng yuk, Bee.”
“Ogah, nanti malah lama. Aku belum buat sarapan.”
“Sebentar.” Ucap Malik.
“Bohong.”
“Beneran, Bee. Kita main air doang.”
Malik langsung menggendong istrinya ala bridal.
“Kak, aku belum jawab iya.” Rengek Angel saat tubuhnya terangkat.
“Kelamaan.” Malik langsung membawa istrinya ke dalam kamar mandi.
Malik menurunkan tubuh istrinya persis di bawah shower. Lalu, tangan Angel memutar benda bulat itu, hingga air membasahi tubuh keduanya. Tubuh Angel semakin sexy dengan guyuran air itu.
Maik mendekati tubuh Angel dan menempelkannya. Angel merasakan ada sesuatu yang mengganjal di balik bongkahan b*k*ngnya yang bulat. Lalu, Malik membalikkan tubuhnya. Ia langsung ******* bibir Angel. Angel pun membuka mulutnya dan membalas ciuman itu. lagi-lagi mereka berciuman panas, tapi kali ini di tengah guyuran air shower.
Malik benar-benar sudah menggilai tubuh itu, rasanya seperti morfin yang ingin di cobanya lagi dan lagi. Sementara Angel pun membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan hasrat sang suami.
****
“Bee” Malik bergegas menurunin anak tangga.
Ia menghampiri Angel yang sedang membuatkan sarapan untuknya.
“Tolong pasangin.” Malik menyerahkan dasinya.
Angel mematikan kompor dan memasangkan dasi itu. Sementara, Malik memperhatikan wajah sang istri yang tengah serius. Ia merasa sangat beruntung karena ternyata menikah itu indah, ada yang mengurusi, menemaninya tidur, dan memasak untuknya. Entah mengapa dulu ia tidak mau menikah hanya karena rasa takut yang tidak mendasar.
“Udah.” Angel menepuk dada bidang suaminya.
__ADS_1
“Terima kasih.” Jawab malik tersenyum.
Angel kembali berbalik ke arah kompor dan melanjutkan masaknya. Malik mengikuti langkah sang istri. Ia melingkarkan kedua tangannya di perut Angel.
“Belum selesai.” Kata Malik
“Sedikit lagi, Sabar ya.”
Ting Tong.
Bel rumah Malik berbunyi. Ia pun melepas tangannya yang tengah melingkar di perut sang istri.
“Aku buka pintu dulu ya.”
“Iya.”
Malik melangkah ke ruang tamu dan membuka pintu utama. Ia melihat Joni tengah berdiri di luar.
“Hai, Bos.” Joni melambaikan tangannya dan langsung meluyur ke dalam.
“Stop! Tunggu di sini.” Perintah Malik pada Joni, saat kaki Joni sudah berada di ruang tamu.
Ia ingat saat ini istrinya tengah berpakaian sangat sexy. Angel hanya mengenakan baju atasan tanpa lengan dan tak menggunakan bawahan. Ia tak ingin Joni melihat istrinya yang sexy itu, karena tubuh molek sang istri hanya boleh di pandang dan di nikmati oleh dirinya seorang.
Malik segera ke atas dan mengambil legging hitam panjang untuk istrinya. Lalu, ia kembali ke dapur.
“Kamu kenapa, Kak? Kok ngos-ngosan gitu.” Tanya Angel bingung melihat suaminya monndar mandir.
“Ini kamu pakai.” Malik menyodorkan yang tadi ia ambil di kamar.
“Buat apa? Emang ada siapa sih?” Angel bertanya lagi.
“Udah buruan pakai. Di depan ada Joni. Tuh anak matanya jelalatan. Aku ga rela dia liatin tubuh kamu yang sexy.” Kata Malik yang posesive.
Angel tertawa. “Ya, ya.” Ia memakai pakaian yang suaminya berikan.
“Bos. Ayo berangkat.” Tiba-tiba joni masuk ke dapur.
“Tuh kan, tuh anak main nyelonong, padahal aku udah larang dia supaya ga masuk.” Kata Malik pelan.
Angel hanya tersenyum. Untungnya Joni datang setelah ia memakai pakaian bawahan itu.
“Hallo, Bu.” Joni dengan gaya selengeyan menyapa istri bosnya.
“Hai, kamu ke sini sama Rumi?” Tanya Angel.
Joni hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Melihat Joni, mengingatkan Angel pada sikap Malik dulu, yang terkadang cuek terkadang perhatian saat mereka berada dalam satu pekerjaan.
“Udah ya, Bee. Aku berangkat.” Malik mencium bibir Angel sekilas dan meninggalkan istrinya.
“Loh, Kak. Sarapannya.” Teriak Angel.
“Buru-buru, Bee.” Malik hendak keluar.
“Tunggu, Kak.” Angel membungkus dengan cepat masakan yang baru saja matang.
Ia pun berlari menghampiri Malik yang masih berdiri di depan mobilnya. Pagi ini, Malik dan Joni memang akan mensurvei proyek yang akan di garap.
“Walau aktifitas padat, tapi tetap jangan lupa sarapan. Makan aja ini, di mobil.” Pinta Angel dan menyerahkan kotak makan berwarna hijau. Malik menerima bekal makanan itu dan tersenyum sumringah.
“Oke, makasih. Bee.” Malik mencium lagi bibir dan kening istrinya.
“Uhuk. Uhuk.” Joni pura-pura batuk melihat keromatisan bosnya.
Angel dan Malik menoleh. Angel tersenyum malu.
“Makanya nikah, jangan pacaran mulu.” Ucap Malik pada Joni.
Joni dan Malik memasuki mobil itu. Kemudian, Angel melambaikan tangannya sesaat sebelum Malik pergi. Malik pun tersenyum dan membalas lambaian tangan itu. Ini seperti dejavu. Bedanya dulu David yang menjadi posisinya saat ini dan Joni yang berada di posisinya dulu. Saat itu, David juga selalu menasehatinya untuk segera menikahi Angel dan tidak terus berpacaran. Sekarang ia menasehati Joni.
Malik menggeleng dan tersenyum.
__ADS_1