
Delapan bulan kemudian ....
Malik tengah berbaring di sofa kamar dan kepalanya tertidur di atas paha sang istri, padahal Angel masih serius membaca buku yang berjudul “Lewati usia emas anak tanpa cemas”.
Waktu, baru akan menjelang sore dan masih jauh menjelang maghrib. Biasanya waktu seperti ini adalah waktu berharga untuk pasangan ini, karena baby twin masih terlelap menikmati tidur siang di kamar mereka dan Malik pun masih berleha-leha setelah membersihkan diri sepulang dari kantor.
“Bee, serius banget sih,” ucap Malik sembari memiringkan tubuhnya dan kepalanya terbenam di perut sang istri.
Angel pun mengusap lembut rambut sang suami dengan satu tangannya lagi, tetap memegang buku.
Malik memang benar-benar manja. Ia selalu seperti ini, sepulang dari kantor. Bergelayut manja di pundak sang istri, jika sang istri tengah berdiri atau tertidur sebentar di pangkuan Angel, ketika mendapati sang istri tengah duduk di sofa ini, hingga terdengar suara adzan maghrib.
Malik tidak pernah pulang hingga larut malam. Jika pekerjaan menumpuk, ia akan membawa pulang pekerjaannya ke rumah dan melanjutkan pekerjaan itu sambil melihat anak dan istrinya di kamar ini. Ia tak ingin seperti dirinya dulu yang tumbuh besar tanpa kehadiran sosok kedua orang tua yang utuh, karena sejak kecil, ayah Malik sibuk bekerja dan sang ibu pun meniti karir di rumah sakit.
“Bee,” panggil Malik manja dengan tetap melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Angel dan membenamkan wajah di perut sang istri yang semakin rata karena Angel rajin berolahraga.
“Apa?” kepala Angel menunduk, mengarahkan pandangannya pada sang suami seraya tangan yang terus mengelus lembut rambut Malik yang ikal dan sangat pendek.
“Aku ngga suka di cuekin.”
“Siapa yang nyuekin kamu.”
“Bacanya udahan.” Malik mencoba meraih buku yang Angel pegang dan menutupnya.
“Apa sih, Kak. Kamu makin manja aja ih,” Goda Angel sembari tersenyum manis.
“Biarin.”
Angel tertawa dan meletakkan buku itu asal. “Makan dulu yuk! Dari tadi sampai, kamu belum makan.”
Malik kembali terlentang dan menatap wajah cantik sang istri yang menunduk dan menatap wajahnya. Tangan Malik terangkat untuk mengelus pipi halus istrinya.
“Makan kamu dulu aja ya, Bee.”
Angel tersenyum dan menekan ujung hidung Malik. “Kebiasaan.”
Malik pun tertawa dan dengan cepat ia meloloskan kedua tali dres yang tersangkut di kedua bahu Angel. Lalu, terpampang kedua bukit kembar yang masih terlihat padat, walau sedikit menggantung cantik alami. Kemudian, Malik memajukan wajahnya dan membenamkan di kedua bukit itu. Ia dengan lahap menyesap bagian itu, sama seperti Adam dan Hawa, ketika berada di pangkuan ibunya.
__ADS_1
“Sudah tidak ada ASI nya?” tanya Malik saat mulutnya menjeda aktifitas itu.
“Iya, sepertinya sudah kering, gara-gara nemenin kamu ke Prancis bulan lalu. ASI ku nyaris hilang dan sekarang udah bener-bener ngga ada,” jawab Angel lirih.
Malik telah resmi pindah ke Jakarta enam bulan yang lalu. Ia memegang penuh usaha tekstil yang dimiliki keluarga sang ayah, yang berkantor pusat di kota ini, walau pabriknya berada di luar daerah.
Malik memboyong keluarga kecilnya untuk pindah dan mempercayakan kantor di Jogja pada Joni. Walau Koni selengeyan dan tidak pernah berkomitmen serius dalam urusan cinta, tapi urusan pekerjaan pria itu cukup amanah dan bisa diandalkan.
Satu bulan yang lalu, Angel terpaksa meninggal Adam dan Hawa untuk menemani sang suami yang mencoba menawarkan produknya pada seseorang yang ia kenal di sana, atas rekomendasi David, bosnya dulu. Malik dan Angel cukup lama berada di negara itu, hingga ASI Angel surut dan hampir mengering. Walau akhirnya, usaha mereka tidak sia-sia dan negosiasi itu mampu memulihkan kembali pabrik tekstil milik ayah Malik yang hampir mengalami krisis.
“Hmm ... pantas aku melihat susu formula di kamar mereka,” ucap Malik dengan tangan yang masih aktif memainkan benda kenyal itu.
“Maaf, ya. Kak. Aku sudah berusaha tapi tetap kering,” sahut Angel sedih.
Mereka sama-sama memusatkan pandangan mereka pada benda kenyal milik Angel.
“Tidak apa, Bee. Yang penting, mereka sudah dapat ASI ekslusif. Aku malah tidak pernah di kasih ASI sama mama, karena mama sibuk. Padahal mama seorang dokter dan tahu banget pentingnya mendapatkan ASI.”
Angel tertawa. “Pantesan sekarang gemes banget sama susu istrinya.”
Malik ikut tertawa. “Bener banget, kamu pinter banget sih, Bee.” Ia menarik hidung istrinya yang mancung. “Gemes deh.”
Lalu, Malik memaksa tubuh Angel terlentang di sofa itu. “Sakit mana, sama dulu pertama kali aku memasukimu.”
“Ish, mesum!” Angel mengusap kasar wajah suaminya.
Keduanya pun tertawa.
Kemudian, perlahan Malik membuka pakaian yang membalut di tubuh Angel dan tubuhnya sendiri. Mereka mulai bergelut sebelum Adam dan Hawa terjaga dan sebelum adzan maghrib berkumandang.
Kini, Angel yang lebih sering memimpin pertempuran. Ia selalu menawarkan diri untuk di posisi ini saat penyatuan. Dengan lihai, ia berlenggak lenggok membuat sang suami merasakan nikmat tiada tara dan selalu ingin terus menikmati tubuhnya tanpa bosan, karena selalu ada saja gaya baru yang Angel praktekkan untuk memuaskan sang suami. Siapa lagi masternya, kalau bukan Farah. Kedua mamah muda ini selalu intens bertemu dan Angel sering mendapatkan ilmu baru dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu usai pertemuan mereka.
“Bee, kamu makin hebat,” ucap Malik menengadahkan wajahnya pada sang istri yang sedang berada di posisi misionaris.
Angel tersenyum. “Suka?”
“Banget. Terus, Bee.”
__ADS_1
Angel kembali tersenyum. Ia senang membuat suaminya senang. Kalau Malik, jangan di tanya? Pria itu semakin mesum dan tidak pernah absen menjamah istrinya, walau harus mencuri-curi waktu di sela-sela waktu tidur putra putrinya.
“Eum ....” Angel melenguh, menggigit bibir bawahnya dan menengadahkan kepalanya ke atas, saat ia merasakan pelepasan pertamanya.
Malik tersenyum melihat ekspresi sexy yang muncul dari wajah sang istri. Ia kembali mengelus wajah cantik Angel. “Kamu cantik, Bee.”
Angel menunduk dan tersenyum ke arah sang suami.
Lalu, Malik mengubah posisi. Mereka kembali merengkuh kenikmatan bersama, hingga keduanya terkulai lemas setelah hampir satu jam bertempur dalam peluh.
Malik memeluk tubuh sang istri usai melkukan kwajiban itu. Mereka masih berpelukan dalam keadaan polos, karena saat-saat seperti ini juga saat di mana keduanya bisa saling bercengkrama ringan dan saling bertukar pikiran setelah tubuh mereka yang relax usai bercinta.
“Kak, bulan depan Adam dan Hawa genap berusia satu tahun,” ucap Angel sembari jarinya memutar-mutar di dada Malik yang polos dan sedikit berbulu tipis.
“Oh, ya? Ya ampun, aku hampir lupa.” Malik mengusap kepalanya. “Terus, kamu udah siapain perayaan untuk mereka?”
Angel sedikit bangkit dan menyangga satu tangannya untuk tetap berhadapan dengan Malik tanpa jarak dan sedikit menindih dada sang suami.
Angel menggeleng. “Belum. aku justru nunggu rencana kamu.”
Malik tersenyum dan menyelipkan rambut Angel ke belakang telinganya. “Tidak perlu menungguku, Bee. Aku serahkan semua urusan rumah dan anak-anak padamu.”
“Tapi aku tetap mau bilang dulu rencanaku. Setelah kamu setuju, baru aku langsung eksekusi.”
Malik kembali tersenyum lebar hingga giginya yang rapih pun terlihat. “Aku setuju, kapan acaranya di adakan?”
“Tanggal 22 Oktober.”
“Sepertinya, tanggal itu jatuh di tanggal merah.”
Angel melihat ke arah ponsel yang sedang Malik pegang. “Oh iya, pas dong.”
“Ya, lakukanlah apa yang kamu mau, Bee.” Malik mengusap lembut rambut sang istri dan mengcup pucuk kepalanya berkali-kali.
“Terima kasih, Sayang.” Angel memeluk erat tubuh sang suami.
“Kalo ada maunya baru panggil sayang,” ledek Malik.
__ADS_1
“Hmm ... engga gitu,” rengek Angel.
“Iya, tahu.” Malik tertawa dan kembali mengambil kepala Angel untuk di peluk dan di ciumnya.