
“Malik, lu dimana? Gue khawatir.” Ucap Jo pada dirinya sendiri, ssat ia tak berhasil menelepon sahabatnya.
Berulang kali Jo mencoba menghubungi ponsel Malik, tapi hasilnya nihil. Hanya ada operator mesin selular yang terus menjawabnya.
“Lu baik-baik aja kan?” Tanya Jo bergumam.
Hari semakin larut, Malik masih berada di sini, di sebuah cafe tempatnya bersama sang kekasih dulu bercengkrama dan bersenda gurau. Malik mengingat saat ia menyuapi Angel di bangku ini. Melayani kekasihnya yang sedang merajuk karena ia tak memberi kabar saat keluar menemui klien dari pagi hingga sore.
Malik meneguk kembali secangkir kopi di tangannya. ia memang tidak menyukai alkohol, karena sebelumnya ia pernah mabuk parah hingga tiga hari tak bisa bangun dan rasanya seperti mau mati. Setelah itu, Malik tak lagi mau menyentuh minuman beralkohol, ia cukup meminum kopi untuk menghilangkan penatnya.
Kesedihan Malik lengkap sudah karena musik di cafe ini tengah menyuguhkan lagu melow dari Michael Learns To Rock yang berjudul 25 minutes. Lagu ini pun mengisahkan sang vokalis yang terlambat 25 menit saat kekasihnya akan menikah, padahal sang kekasih itu pun tengah menunggu kedatangannya di altar gereja.
After some time
I've finally made up my mind
She is the girl
And I really want to make her mine
I'm searching everywhere to find her again
To tell her I love her
And I'm sorry about the things I've done
I find her standing in front of the church
The only place in town where I didn't search
She looks so happy in her weddingdress
But she's crying while she's saying this
Boy I've missed your kisses all the time
But this is twentyfive minutes too late
__ADS_1
Though you travelled so far
Boy, I'm sorry you are twentyfive minutes too late
Against the wind
I'm going home again
Wishing me back
To the time when we were more than friends
But still I see her in front of the church
The only place in town where I didn't search
She looked so happy in her weddingdress
But she cried…
Malik merogoh ponsel di saku celananya.
Ia menelepon David, bos besarnya yang sedang bercengkrama bersama anak dan istrinya di rumah.
“Halo, Lik.” Kata David menjawab telepon itu.
“Sir, saya saja yang di tempatkan di Singapura.” Ucap Malik lirih.
Sejenak ponsel itu hening, karena tidak ada jawaban dari David dan juga ucapan lagi dari Malik.
“Baiklah. Jika itu maumu.” Ucap David yang mengerti kondisi asistennya saat ini.
David pun mematikan sambungan ponsel itu. Malik menatap ponsel itu lagi. Ini adalah keputusan yang tepat baginya, pergi sejauh mungkin dari negara ini dan melupakan masa lalu, melupakan semua kenangan indah di sini.
Tepat dua minggu yang lalu, Malik dan Abram memantau manajemen Mall yang David miliki di Singapura. Keadaan manajemen di sana sangat buruk, sehingga David meminta Abram untuk menjadi leader di sana selama dua tahun. Malik pun tidak mengajukan diri, karena ia masih berharap Angel akan kembali padanya dan membatalkan pernikahan itu, karena ia tahu kekasihnya sangat mencintainya. Namun, semua tidak sesuai pemikirannya, Angel tidak datang dan ia pun tidak memperjuangkan. Masing-masing dari mereka sama-sama berharap kekasihnya yang berjuang tapi tidak dengan dirinya sendiri. Mereka sama-sama berasumsi bahwa kekasihnya yang sangat mencintai dirinya, padahal dia sendiri yang sangat mencintai kekasihnya.
“Selamat tinggal, Bee.” Ucap Malik sembari mengelus wajah Angel yang berada di layar ponselnya. Wajah Angel selalu menjadi walpaper ponsel miliknya.
__ADS_1
****
Angel dan Adrian masih berada di rumah Hendra. Rencananya, besok pagi Hendra dan keluarga akan mengantar Angel ke jakarta, tepatnya ke rumah Adrian. Hendra akan benar-benar melepas putrinya kali ini. Angel sudah tidak lagi tanggung jawabnya lagi. Ia menyerahkan semua kepada Adrian sebagai suaminya kini.
“Alhamdulillah, Nak. Ayah senang sekali. Akhirnya kamu menikah.” Hendra tersenyum, saat Angel melepas gaun dan membersihkan riasannya di depan meja rias kamarnya.
Hendra memeluk putrinya. “Terima kasih karena kamu selalu menjadi anak ayah yang patuh. Kamu tidak pernah membantah dan selalu menjadi putri ayah yang baik.”
Angel membalas pelukan itu, walau sebenarnya hatinya kini sedang menangis.
“Angel senang bisa membuat ayah bahagia. Angel juga berterima kasih karena ayah telah mendidik dan merawat Angel dengan baik. Maaf ayah, kalau Angel banyak salah.” Jawab Angel.
Sementara Adrian masih enggan untuk memasuki kamar Angel, sedari tadi ia hanya di ruang tamu atau di meja makan rumah mertuanya. Sedangkan Alika dan Fariz sedang tertidur karena kelelahan di sofa ruang televisi rumah Hendra.
“Yan, kamu masuk sana ke kamar istrimu. Alika dan Fariz biar tidur di kamar tamu bersama mama dan papa.” Kata Dila yang juga menginap di rumah Hendra, agar besok pagi bisa bersama-sama berangkat ke rumah putranya di Jakarta.
“Benar, Yan.” Sahut Hendra.
Adrian pun mengalah. Namun, sebelumnya ia menggendong satu persatu anaknya untuk di pindahkan di kamar tamu dari tempat mereka tidur sekarang.
Setelah itu, perlahan Adrian melangkahkan kakinya menuju kamar Angel. Ia melihat Angel yang sudah lengkap menggunakan piyama sopan setelah membersihkan dirinya.
“Aa mau mandi? Ini handuknya.” Ucap Angel.
Adrian masih cuek dan langsung menuju kamar mandi kecil yang berada di dalam kamar itu.
Dada Angel bergemuruh, ia takut melakukan malam pertama dengan suaminya. ia takut jika nanti Adrian akan marah karena mengetahui kenyataan bahwa ia tak lagi seorang gadis. Angel merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia menggigit kukunya, sambil membelakangi pintu lamar mandi itu.
Ceklek
Setelah tiga puluh menit, Adrian keluar dari kamar mandi. Ia melingkarkan handuk di pinggangnya. Tubuh Adrian terlihat atletis dan segar walau usianya tidak muda lagi.
Sekilas Adrian melirik ke arah Angel yang sudah tidur membelakanginya, padahal di sana mata Angel masih terbuka.
Kemudian, Adrian memakai pakaian tidur yang Angel siapkan. Ia pun langsung merebahkan dirinya di samping tubuh Angel. Namun, keduanya tetap tidak bicara. Beberapa kali Adrian menoleh ke arah Angel yang tak bergerak dari posisinya. Ia pun menelentangkan tubuhnya dan menarik selimut untuk dirinya sendiri. Ia tak bicara, apalagi menyentuh Angel malam itu.
“Hah, syukurlah.” Gumam Angel dalam hati sembari mengelus dadanya.
__ADS_1
Memang sesungguhnya ini yang ia harapkan, tidak ada kontak fisik antara dia dan suaminya nanti. Tapi entah sampai kapan? Ia pun tidak tahu.
Adrian mulai memejamkan matanya, keadaan di kamar itu hening hingga akhirnya Angel pun dengan tenang melakukan hal yang sama.