Melanggar Janji

Melanggar Janji
Adrian dan Farah


__ADS_3

Pagi ini, Adrian dan Farah berangkat bersama ke rumah sakit, tempat mereka bekerja. Farah sudah mengurangi jadwal prakteknya sesuai permintaan sang suami. Ia hanya praktek tiga hari dalam satu minggu, itu pun dengan durasi yang tidak lama, hanya dari jam sembilan pagi hingga jam tiga sore. Waktu Farah lebih banyak berada di rumah. Namun, ia sangat menikmati kehidupannya sekarang.


Walau Alika dan Faris tidak lahir dari rahimnya, tapi kedua anak Adrian sudah se[erti anak kandung. Ia sangat menyayangi kedua anak Adrian yang baik. Jujur, dan tidak banyak menuntut.


“Hai.” Adrian menepuk bahu Bayu dan Egy yang sedang berada di kantin dengan senyum. Ia berdiri di tengah kedua temannya yang sedang duduk.


“Wes, tumben datang pagi lu,” ledek Egy.


“Lah emang gue selalu dateng pagi sih,” sanggah Adrian.


“Ah, lu kaya ngga tau aja. Sekarang Adrian udah ngga jomblo jadi sering dateng kesiangan. Olahraga pagi dulu dia.” Ledek Bayu sambil menaik turunkan alisnya.


“Iya, olahraga di kasur. Liat aja badannya makin melar karena jarang ngegym lagi,” sambung Egy, menertawakan sahabatnya.


Adrian pun ikut tertawa. “Bukan olahraga pagi aja, malem juga.”


Bayu dan Egy tertawa.


“Akhirnya, sekarang ada yang di salurkan ya, Yan. Engga main solo lagi,” kata Bayu, sontak ketiga dokter somplak itu pun tertawa.


“Udah gitu lawan maennya hot lagi, makin gila dah tuh si Adrian,” sambung Bayu.


“Beneran, Yan. Farah hot banget?’ tanya Egy.


Adrian tersenyum. “Lu berdua kepo banget. Udah ah, gue balik ke ruangan.”


Bayu langsung menahan bahu Adrian yang hendak berdiri dari duduknya.


“Ah elah, lu baper banget. Yan,” kata Egy


“Tau berbagi cerita keles. Pelit banget,” ucap Bayu.


“Nanti lu kepengen.” Adrian mentoyor jidat Bayu. “Gue tau lu kan dari dulu suka ngebayangin body istri gue. Jadi mending kaga usah. Nanti lu makin ngebayangin dan gue ngga rela.”


Bayu tertawa. “Dasar, orang-orangan sawah, posesif banget.”


Egy pun ikut tertawa.


“Terserah, gue balik ke ruangan dulu. Ngebayangin yang semalem sama tadi pagi,” ucap adrian yang langsung mendapat impukan dari Bayu.


“Sue lu,” ucap Bayu kesal. Pasalnya di antara mereka bertiga, hanya Bayu yang belum menikah walau kawin sering.


Adrian yang sudah berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu pun kembali menoleh ke arah mereka yang masih duduk di sana. Ia sengaja tersenyum menang ke arah Bayu, karena ia berhasil mendapatkan wanita yang di incar Bayu, si dokter perayu ulung ternyata kalah dengan orang-orangan sawah.


“Sekarang lu nih, yang bakalan sering nyeri SENDI. Nyeri karena SENDI rian,” sambung Egy menepuk bahu Bayu dan meninggalkannya.


“Wah, awas ya lu pada. Bini gue lebih bohay bakalan lebih cantik dan lebih bohay dari lu berdua.” Ancam Bayu sembari menunjuk ke arah Egy yang hendak berdiri dan pergi meninggalkannya.


Seketika, Bayu teringat suster Alifia yang mengenakan hijab. Namun, tetap terlihat seksi di mata Bayu, karena mata pria itu mampu menerawang isi dari setiap tubuh wanita walau wanita itu menggunakan pakaian longgar dan tertutup. Ajib memang.

__ADS_1


Saat ini, Bayu tengah mengincar suster baru itu. padahal Alifia sering sekali menolak ajakannya, entah ajakan yang hanya sekedar makan siang atau pulang bareng, karena Alifia tahu rumor tentang dokter Bayu di kalangan para dokter dan suster di sini. trade record Bayu yang tidak baik, membuat Alifia menjaga jarak.


“Liat aja, klo gue dapetin Alifia, langsung gue ajak nikah,” gumam Bayu yang inign membuktikan kepada kedua sahabatnya, jika ia pun ingin hidup normal seperti mereka dan memiliki keluarga.


Hari sudah menunjukkan pukul empat sore. Adrian mematikan laptop dan merapihkannya. Ia ingin keluar dan menghampiri sang istri di ruangannya, karena di jam segini sang istri sudah tidak lagi bertugas.


Adrian berjalan melewati lorong dan membuka pintu ruangan istrinya. “Sayang, sudah selesai?”


Farah yang sedang mencuci tangan di wastafel itu pun langsung menoleh dan tersenyum. “Sudah.”


Adrian dengan cepat memeluk Farah dari belakang dan menciumi leher sang istri.


“Yan, kita masih di rumah sakit loh.” Farah memperingatkan sang suami, karena tangan dan bibir Adrian sudah menjelajahi tubuh sang istri.


“Nanti suster Alifia dateng, Yan.. Hmm ..” Farah sedikit melenguh karena Adrian memainkan bagian sensitifnya. Ia khawatir suster asisten yang mendampigi Farah selama bertugas membuka ruangan ini.


“Aku sudah mengunci ruangan ini,” jawab Adrian dengan bibir yang masih menelusuri leher dan bahu Farah.


Adrian juga sudah membuka tiga kancing kemeja Farah.


“Yan ... Aww ... Hmm ..” Farah menggigit bibirnya, saat ia merasakan Adrian tengah memberikan kissmark di bagian itu.


“Yan, jangan di tambahain lagi! Itu semua belum hilang. Aku jadi pakai shal terus kalo praktek.” Farah membalikkan tubuhnya. Ia mellihat kabut gairah di kedua bola mata sang suami.


“Aku suka, Sayang.”


Farah tersenyum. “Aku juga. tapi pas aku libur aja ya.”


“Eumm ...” Suara Farah tercekat karena Adrian langsung menyambar bibirnya.


Adrian mendorong Farah hingga tubuhnya terhimpit ke dinding samping wastafel itu. Dengan kasar Adrian pun membuka kemeja yang di pakai Farah dan membuka pengait bra merah muda yang ia kenakan.


“Mmmppph ... Yan.” Farah mendorong dada Adrian dan menahannya. Padahal Adrian masih bernafsu untuk mencium lagi sang istri.


“Yan, ini masih di rumah sakit. Kalau kamu kepengen, kita check in hotel dekat sini,” ucap Farah yang mengerti kondisi sang suami yang sedang menginginkannya.


“Aku ingin sekarang.” Adrian menarik tengkuk Farah dan kembali ******* bibirnya.


Adrian terus memperdalam pangutan itu, mngecap dan menelusuri semua yang ada di sana tanpa terkecuali. Farah bisa merasakan gairah Adrian yang tak biasa. Kali ini, Adrian terlihat lebih bringas. Kedua tangan Adrian sudah bergerilya menyentuh seluruh tubuh sang istri, hingga berakhir di bongkahan padat bagian belakang. Lalu, ia langsung mengangkat bongkahan padat itu dan menggendongnya.


Farah hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan sang suami. Ia melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Adrian dan terserah tubuhnya akan di bawa kemana.


Kemudian, Adrian meletakkan Farah di atas meja, tempat sang istri menerima keluh kesah pasien. Adrian menghisap kedua gunung kembar Farah bergantian, lalu perut dan ke bagian favoritnya itu.


“Yan, Ah. Eummm ... Ah.” Farah terus merintih karena serangan sang suami yang bertubi-tubi membuat dirinya melayang mersakan nikmat yang tiada tara itu.


Mata Farah sayu antara terjaga dan ingin di pejamkan. Setelah sang istri mendapatkan pelepasan, akhirnya Adrian mulai melakukan penyatuan.


"Ah." Suster Alifia yang hendak menarik handle pintu ruangan Farah pun terdiam mendengar lenguhan suara Farah.

__ADS_1


Ia menempelkan telinganya di balik pintu itu.


"Yan ... Eumm ..."


Kini mereka sudah menyatu. Adrian pun terus mencari kenikmatannya. Lalu, menyatukan keningnya pada kening Farah. “Maaf, Sayang. aku terlalu menginginkan ini.”


Alifia mengeri apa yang sedang dokter Farah lakukan di dalam sana. "Waduh, tas gue di dalam," gumam Alifia yang ingin segera pulang, setelah selesai menyerahkan laporan pasien hari ini ke bagian administrasi. Namun, tasnya tertinggal di dalam ruangan itu. Dengan terpaksa, ia pun harus menunggu kedua insan yang tengah bergelut hingga selesai.


Sementara di dalam ruangan itu. Farah dan Adrian tidak menyadari bahwa aktifitas mereka telah di tunggu seseorang.


“Hmm ... seharusnya ti .. dak ... di sini, Ya ..n,” kata Farah terbata-bata karena hentakan itu sungguh menyiksa.


“Apa aku menyakitimu?” tanya Adrian karena memang sedari tadi, Adrian memberikan pemanasan yang cukup kasar.


Farah menggeleng. “Tidak apa, aku tetap menyukainya.”


Adrian kembali ******* bibir Farah sebentar. “Aku mencintaimu, Farah. aku tidak rela tubuhmu di bayangi oleh pria lain.”


Farah mengeryitkan dahinya. “Siapa? Ah.”


“Hmm ... pelan, Yan.” Farah menahan dada sang suami.


“Sorry.” Adrian diam sejenak dan kembali melakukan aksinya.


“Bayu,” jawab Adrian.


Farah tersenyum. “Memang temanmu seperti itu. Dia hanya bercanda. Jangan di dengar!" Ia menjeda perkataannya, karena aktifitas yang Adrian lakukan membuat isi kepalanya oleng.


"Yang penting sekarang aku adalah milikmu, yang boleh menikmati aku sesukamu dan sebanyak yang kamu mau.”


Adrian tersenyum lebar. Jawaban Farah membuatnya semakin bergairah. Ia kembali mencium bibir Farah dengan rakus dan terus menyatukan miliknya pada milik sang istri dengan tempo cepat, hingga Farah mendapatkan pelepasannya berkali-kali. Farah akui bahwa Adrian memang hebat dalam bercinta. Sang suami mampu melakukan penyatuan dalam durasi yang cukup lama.


Dulu ketika bersama Tomi, Farah tak terkalahkan. Tomi selalu tumbang lebih dulu. Namun, Kini ia terkalahkan oleh Adrian, si orang-orangan sawah yang pendiam dan tak banyak bicara.


Farah tersenyum menatap sang suami yang fokus dengan pergulatan itu, hingga mendapatkan pelepasannya.


“Ngg ....” suara Adrian tertahan, agar tak terdengar keluar.


Farah memeluk erat tubuh sang suami, saat benih itu tertanam di rahimnya. Ia selalu berharap akan mendapatkan keturunan dari pria yang ia cintai ini.


Adrian tersenyum dan mengecup pucuk kepala Farah. “Terima kasih.”


Farah menangkup wajah Adrian dan membalas senyum sang suami dengan manis. “Aku suka melayanimu, Yan.”


Adrian kembali mencium bibir sang istri. “ Semoga dia akan hidup di sini.” Adrian mengelus perut sang istri.


“Aamiin.” Farah pun menunduk dan melihat perutnya yang rata seraya senyum yang mengembang.


Lalu, Adrian kembali menyatukan keningnya. “Aku cinta banget sama kamu.”

__ADS_1


“Aku juga mencintaimu.”


__ADS_2