Melanggar Janji

Melanggar Janji
Perseteruan panjang


__ADS_3

“Assalamualaikum.” Ucap wanita paruh baya yang bernama Neneng, masuk ke rumah Hendra.


Ia melihat Hendra yang tengah duduk termenung sembari memegangi kepalanya di atas meja makan, Ia adalah orang yang membantu membersihkan rumah Hendra dan bekerja paruh waktu di sana.


“Pak, tadi saya lihat mobil keluar dari sini. tadi itu Non Angel?” Tanya Neneng pada Hendra yang masih terdiam.


Hendra mengangguk.


“Neng, kalau kamu sudah selesai beres-beres. Pintu di kunci saja dari luar, saya ingin istirahat.” Ucap Hendra dan berlalu meninggalkan Neneng yang masih mematung.


“Bapak, mau saya siapkan makanan?” Tanya Neneng lagi.


Hendra menggeleng. “Saya sedang tidak berselera makan.” Ucapnya.


Kemudian, Hendra berlalu dari hadapan Neneng.


“Eta si Bapak, kenapa? Tampangnya meni galak pisan.” Gumam Neneng, yang tak pernah melihat raut wajah hendra yang masam seperti sekarang ini.


Sementara di jalan, Malik dan Angel kembali ke Jakarta. Mereka akan ke rumah Adrian.


“Bee. Tenanglah.” Malik terus menenangkan Angel yang tak henti-hentti menangis sejak keluar dari rumah ayahnya.


“Aku lihat raut wajah kecewa ayah. Aku anak yang ga tau diri, Kak. Aku hanya bisa mempermalukan orang tua.” Lagi-lagi Angel menangis.


“Bee. Kamu anak baik, kamu selama ini sudah berbakti padanya.” Malik menepikan mobilnya, karena kebetulan mereka belum memasuki jalur bebas hambatan.


Ia meraih kepala Angel dan memeluknya. “Ayah hanya butuh waktu. Percayalah! Dia sangat menyayangimu dan lambat laun dia pasti akan memaafkan kita.”


“Apa begitu?” Tanya Angel yang tak pernah sedikitpun melakukan kesalahan pada sang ayah.


Malik mengangguk. “Aku sering membuat ayah kecewa saat sekolah. Awalnya dia marah, tapi selang keesokan harinya dia memaafkan. Begitulah orang tua, akan selalu memaafkan sebesar apapun kesalahan anaknya.”


Angel mendongak dan menatap Malik. Pria ini benar-benar selalu membuatnya nyaman. Ia pun tersenyum.


“Nah, gitu dong. Aku kangen senyuman kamu.”


“Gombal.” Ucap Angel dengan nada manja, sambil manarik tubuhnya dari pelukan Malik dan menghapus sisa air mata di wajahnya.


Ia kembali duduk dengan sempurna di kursi penumpang dan Malik mulai menjalankan mobilnya. Kali ini, Malik mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka pun mulai memasuki jalanan bebas hambatan agar cepat sampai ke Jakarta.


“Bee. Kita mampir makan dulu ya. Dari tadi pagi kamu belum makan. aku ga mau kamu sakit.”


Angel mengangguk.


Lalu, Malik memberhentikan mobilnya di rest area yang tersedia di beberapa kilometer pada jalur bebas hambatan itu.


“Kita berhenti di sini dulu ya, Bee. Supaya kamu semakin tenang.” Kata Malik sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat parkir yang dekat dengan beberapa tempat makan yang tersedia.


“Kamu mau makan apa?” Tanya Malik, saat ia sudah memberhentikan mobilnya.


“Apa aja terserah. Aku lagi ga nafsu makan. aku masih kepikiran ayah.” Jawab Angel malas.


“Tapi kamu harus makan, kamu sudah dua kali kena thyfus, Bee. Yang penting kita sedang berusaha untuk menjadikan hubungan ini ke arah lebih baik. Sumpah aku ingin nikahin kamu, Bee. Apalagi semalam aku menumpahkan banyak benih di sini.” Kata Malik lirih, sambil mengusap perut Angel.


Angel pun menunduk ke arah perutnya. Ia pun menyadari apa yang Malik lakukan padanya malam itu. Tanda merah di leher Angel pun masih terlihat jelas dan banyak. Hal itu pula yang membuat Hendra menanyakan pertanyaan itu.


“Apa sekali bisa langsung hamil?” Tanya Angel polos.


Malik tersenyum dan mengangguk. “Mungkin. Bisa iya, bisa tidak. Tapi aku ga mau berspekulasi. Mau kamu hamil atau engga, kita harus segera menikah.”


Angel menatap wajah Malik, begitupun dengan Malik, ia kembali mengelus rambut wanitanya itu. Lalu, mereka keluar dari mobil bersamaan dan mencari tempat makan yang Angel inginkan.


****


“Ayo, Bee. Makan! Apa mau aku suapi. Aaaa..” Malik mengumpulkan makanannya di tangan dan menyodorkanya ke dalam mulut Angel.


Angel pun membuka mulutnya. Ia memakan ayam bakar dengan sambal ijo.

__ADS_1


“Udah, kak. Aku makan sendiri aja. Kalau kamu suapinin aku terus, kamu jadi ga makan-makan.” Kata Angel tersenyum, sembari menerima suapan ketiga dari tangan Malik langsung.


Malik membalas senyum itu. “Oke.”


Malik berusaha membuat Angel tersenyum. Ketika makan, ada saja keisengan Malik dengan berkomentar lucu pada apa yang ia lihat.


Angel mengambil kerupuk yang kalengnya tersedia di meja itu.


“Bee.. kerupuknya di tutup lagi yang rapet. Kasihan kalo nanti kena angin, bisa masuk angin, terus minta di kerokin. Ga lucu kan kerupun minta di kerokin.”


Sontak Angel tertawa. “Jayus kamu, Kak.”


“Biarin.”


Angel menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


Kemudian, Mereka kembali melanjutkan perjalanan, setelah mengisi bensin pada perutnya dan pada mesin mobil milik Malik.


Malik kembali memasuki mobil, setelah membayar pada petugas SPBU itu.


“Kamu siapkan?” Tanya Malik sambil menggenggam tangan Angel yang berada di sampingnya, sebelum ia menyalakan mesin mobil itu.


Angel menarik nafasnya kasar dan mengangguk. “Siap.”


Lalu, Malik menyalakan mesin mobilnya. Mereka pun kembali berjalan menuju rumah Adrian.


****


Tiga jam dua puluh menit, Mereka sampai persis di depan rumah Adrian. Alika dan Fariz yang sedang bermain di teras langsung menghampiri suara deru mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Mereka melihat Angel yang keluar dari mobil bersamaan dengan sang paman.


“Yeah. Bunda pulang.” Sorak Fariz yang langsung berlari ke arah Angel, di ikuti oleh Alika.


“Sayang.” Angel tersenyum dan membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Alika dan Fariz.


“Om ga di peluk juga?” Tanya Malik yang berada di sebelah Angel dan ikut membentangkan kedua tangannya.


“Angel.” Tiba-tiba Adrian berlari dan memeluk istrinya.


“Maafkan aku, Ngel. Maaf semalam aku malah mementingkan urusanku. Aku ke kampusmu untuk menjemput, tapi kata penjual..” Perkataan Adrian terpotong saat sadar ada Malik di samping Angel.


“Kok Om, bisa ke sini sama Bunda?” Tanya Alika.


“Om yang jemput Bunda dari rumah temannya ya?” Tanya Fariz.


Angel melirik Malik, begitupun sebaliknya. Mereka bingung menjawab apa dengan kedua krucil ini.


“Hmm.. ngga, kebetulan tadi Om ketemu sama Bunda di jalan.” Jawab Malik ragu.


“Oh.” Alika dan Fariz mengangguk.


“Bunda, Papa dari tadi nungguin Bunda pulang.” Celetuk Fariz.


Adrian menatap Malik dari kepala hingga kaki. Ia menyamakan ciri-ciri pria yang di sebutkan penjual klontong itu pada diri Malik.


“Kamu yang menjemput Angel malam itu?” Tanya Adrian.


Malik menarik nafasnya kasar.


“Bi, bawa anak-anak masuk ke dalam.” Teriak Adrian pada si Bibi.


Si Bibi yang baru saja ingin menyapa Angel karena senang melihat kepulangan majikan perempuannya itu pun tersentak dan langsung membawa kedua anak Adrian ke dalam rumah.


“Jadi selama ini, lu suka sama kakak ipar lu? Hah.” Adrian melangkah maju untuk mendekati Malik.


Tangan Malik pun sudah terkepal. Ia sudah memasang kuda-kuda, jika Adrian memukulnya, ia akan membalas pukulan itu.


“Mas, dengarkan penjelasanku.” Angel menyela di antar tubuh Malik dan Adrian yang saling berdiri tegap dengan dada yang sama bidang, sama tinggi dan hendak ingin saling di benturkan.

__ADS_1


“Tolong dengarkan aku dulu.” Kata Angel lagi.


Jarak Malik dan Adrian kink sedikit menjauh.


“Mas, maaf sepertinya pernikahan kita tidak bisa di teruskan.” Kata Angel.


Adrian mengeryitkan dahinya. “Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?”


“Ini tidak tiba-tiba, Mas. Ini sudah dua tahun lebih, aku pendam karena ayah, karena Alika dan Fariz. Tapi sekarang aku ingin menentukan kebahagiaanku sendiri. Kita menikah karena di jodohkan. Kamu masih mencintai almarhumah mbak Alya dan kamu sadar selama ini telah mengabaikanku.”


Adrian langsung memeluk tubuh Angel. “Sekarang tidak lagi, aku mencintaimu Angel. Maaf, dulu aku belum menyadari perasaan ini. Maaf.”


“Lepas.” Malik menarik tubuh Adrian dan melepas pelukannya terhadap Angel.


“Dia pacar gue, Bang. Angel pacar gue sebelum di jodohkan oleh ayahnya. Sekarang dia minta lu, buat menceraikannya.”


Adrian menggeleng. “Bilang itu tidak benar, Angel. Itu tidak benar kan?”


Angel mengangguk. “Itu benar. Dan semalam aku bermalam di apartemen bersamanya.”


Jedar


Seolah petir menyambar tubuh Adrian. Ia pun murka dan memukul Malik.


Bugh.


Malik yang tak siap, akhirnya terkena pukulan keras hingga sudut bibirnya berdarah.


“Kak.” Angel berjongkok dan membantu Malik berdiri karena tubub Malik sedikit terhuyung oleh pukulan itu.


“Gue dan Angel udah pacaran lebih dari dua tahun, kita kerja satu kantor. Gue salah karena selalu takut menikah. Perceraian mama dan papa, selalu menghantui gue. Lalu, ayahnya Angel menjodohkan kalian berdua. Itu pun Angel ga ngomong. Gue tau saat undangan ada di meja gue. Gue udah coba batalin pernikahan kalian, tapi gue terlambat. Gue coba pergi jauh dan mengikhlaskan satu-satunya wanita yang gue cintai buat lu. Tapi dua tahun gue kembali ke sini, dia ga bahagia di tangan lu. Apa gue salah mengambilnya kembali. Hah? Salah? Salah lu yang ga bisa jaga Angel dengan baik.” Teriak Malik dengan menunjuk-nunjuk wajah Adrian.


Sedangkan, Angel hanya bisa menangis.


Baru kali ini, Adrian merasa sakit hati. Ia seperti di tusuk dari belakang. Selama ini, ia sering melihat kebersamaan adik sepupunya ini bersama sang istri. Ia mengira itu hanya kedekatan biasa, nyatanya mereka memiliki hubungan khusus.


“Jadi dia juga yang sudah ambil keperawananmu?” Tanya Adrian pada Angel dengan menunjuk wajah Malik.


Angel mengangguk.


“Si*l*n.” Dada Adrian semakin nyeri. Ia kembali mendekati Malik dan hendak meninjunya.


Namun, Malik menahan lengan Adrian.


“Sorry, Bang. Selama ini lu emang selalu di atas gue. Prestasi, kebanggaan keluarga. Tapi kali ini untuk urusan cinta. Angel memilih gue. Ceraikan dia, Bang.”


Adrian tertawa sinis dan menjauh dari Malik.


“Gue ga akan ceraikan Angel. Gue ga akan biarin kalian semudah itu bersatu.”


Malik menghampiri Adrian dan memukulnya


Bugh


“Dasar lelaki egois. Lu rela Angel menderita demi kebahagiaan lu, Hah.”


“Kak.” Angel yang masih menangis mencoba menahan Malik yang ingin terus memukul Adrian.


“Sorry, biar bagaimana pun posisi gue di atas lu. Gue suaminya sekarang.” Kata Adrian dengan senyum menyeringai pada Malik.


“Ayo masuk!” Adrian menarik paksa lengan kiri Angel. Namun, Malik menahan lengan kanan Angel.


Tiba-tiba suara si Bibi, melerai perseteruan panjang mereka.


“Pak, Bu.. Pak Hendra meninggal.” Ucap si Bibi yang masih menggenggam telepon rumah Adrian yang bisa di bawa-bawa.


“Apa?” Sontak Angel terkejut dan berterik histeris.

__ADS_1


Malik langsung memeluk tubuh Angel yang hampir tumbang. Itu pun masih berebut dengan Adrian yang tak mau kalah dan ikut ingin memeluk istrinya.


__ADS_2