
Hari ini, Angel begitu gembira, karena tesisnya di terima tanpa revisi lagi. Ia tinggal mengikuti sidang dan gelar sarjana strata dua itu pun akan tertulis di belakang namanya. Ia segera menelepon Malik, satu-satunya orang yang telah banyak membantunya dalam hal ini. Nama Malik pun ia sematkan di awal paragraf pada bab pendahuluan yang ia buat di tugas akhir itu. Padahal Malik tidak mengetahuinya.
Tut.. Tut.. Tut..
Angel menelepon Malik, mengabarkan kabar bahagia ini.
“Halo.” Malik menjawab panggilan telepon melalui video call .
“Kak.. Tesisku di terima dan tidak ada revisi lagi.” Angel menampilkan senyum lebarnya di layar itu.
Malik pun ikut tersenyum. “Good job, Bee. Aku senang mendengarnya.”
“Minggu depan aku sidang. Doakan ya!” Kata Angel lagi.
“Selalu, Bee. Aku selalu doakan yang terbaik untukmu.” Jawab Malik dengan senyum senang.
“Kak, terima kasih untuk semuanya. Aku tidak mungkin bisa selesai secepat ini tanpa bantuan darimu. Sekali lagi terima kasih.” Ucap Angel lirih.
“Hei, don’t be sad. Kita kan berjanji akan saling mendukung. Aku bahagia melihatmu bahagia, Bee.”
Tiba-tiba Angel menangis.
“Bee.. kok nangis?” Tanya Malik bingung.
Angel menggeleng. “Aku nangis senang, Kak. Aku juga doakan semoga kamu selalu mendapat yang terbaik. Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istrimu nanti.”
“Bee.”
“Udah ya Kak.” Angel mematikan sambungan telepon itu. Ia tak kuasa menahan air matanya.
Di sana, Malik menatap ponselnya. Ia tahu rasa gundah yang ada di hati wanitanya itu.
****
Hampir satu minggu, Angel berada di rumah. Ia sudah tidak lagi sibuk dengan tesisinya, hanya tinggal menunggu sidang untuk mengimplentasikan isi tugas akhir yang ia buat di hadapan para dosen yang bersangkutan. Selama itu pula, ia tak bertemu Malik.
Namun, sesekali Malik tetap mengirim pesan,
'jangan makan terlambat',
'jaga kesehatan,
'jangan terlalu capek'
__ADS_1
Selalu itu isi pesan Malik padanya.
“Bunda.. ayo berenang!” Ajak Alika yang sedang berenang di sore hari bersama Fariz
Mereka bermain air di kolam renang yang tersedia di dalam rumah itu.
“Bunda udah mandi sayang.” Jawab Angel dengan melangkahkan kakinya mendekati kedua anak yang sedang gembira bermain air di sana.
Cuplak cuplak..
Byur..
Fariz dan Alika sengaja mengepakkan air itu ke arah Angel, agar Angel ikut basah dan mau berenang bersamanya.
“Aa... Jangan Fariz.” Angel berteriak sambil tertawa, karena Fariz terus saja melempar air ke arahnya.
Alika dan Fariz naik dan menarik Angel untuk turun ke kolam itu.
“Ayo, Bunda!” Alika menarik lengan kanan Angel.
“Ayo, Bun!” Fariz ikut menarik lengan kiri Angel.
Tiba-tiba dari belakang Angel di bopong oleh Adrian dan mereka menyebur bersama. Ternyata sedari tadi Adrian sudah memperhatikan keseruan yang ada di hadapannya, persis sesaat setelah ia pulang kerja.
Adrian masih memeluk Angel dari belakang setelah, ia menggedongnya tadi untuk masuk ke dalam air. Angel spontak ikut tertawa lebar.
“Mas, aku sudah mandi.” Rengek Angel dengan mata yag tertutup terbuka karena Fariz masih terus menyiramnya dengan air.
“Asyik.. berenang sama papa dan bunda.” Ucap girang Alika.
Adrian ikut tertawa. Sudah hampir satu bulan ia sibuk dengan pekerjaannya, hingga sedikit sekali perhatian pada istri dan kedua anaknya. Ia senang sore ini, bisa bersenang-senang bersama kelaurganya. Memang bahagia itu sederhana, pikirnya.
Setelah puas bermain air. Angel membersihkan dirinya di kamar mandi Adrian. Alika membersihkan dirinya sendiri, sedangkan Fariz di bantu si Bibi.
Angel berdiri di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba tubuhnya tercekat, karena ia merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya.
“Terima kasih, Angel. Kamu memang malaikat di keluargaku. Kamu memberi anak-anakku kebahagiaan.” Suara Adrian lirih di telinga Angel.
Angel terdiam membeku. Sementara Adrian mulai mengelus rambut Angel dan menyibakkan rambut itu ke sisi samping. Bibir Adrian menelusuri leher jenjang Angel.
“Boleh aku meminta hakku sekarang?” Tanya Adrian yang tidak bisa Angel jawab. Sudah satu bulan lebih, Angel tidak menjawab ajakan Adrian yang ingin memulainya dari awal.
Adrian semakin mengeratkan pelukannya dari belakang. Ia semakin menelusuri leher dan pundak Angel dengan bibirnya.
__ADS_1
“Mas aku..” Angel mencoba untuk melepas cumbuan itu.
Adrian membalikkan tubuh Angel. “Aku menginginkanmu.” Ucap Adrian dengan nada yang serak. Ia menahan hasrat yang sudah lama tertahan.
“Aku.. “
Adrian langsung ******* bibir Angel. Ia mencium bibir Angel dengan kasar, mungkin karena sudah bertahun-tahun ia tak pernah melakukan ini.
“Mmpphh..” Angel berusaha tidak membuka mulutnya. Namun, Adrian memaksa Angel untuk membuka mulutnya. Ia terus menggigit bibir Angel agar mau terbuka.
“Aa..” Akhirnya bibir Angel terbuka karena gigitan keras dari Adrian.
Adrian terus memangut bibir itu dengan rakus, hingga tubuh Angel terhuyung ke belakang. Lalu, Adrian menahan tubuh Angel dengan tangan kirinya dan menahan kepala Angel dengan tangan kanannya.
Mata Angel terpejam, ia membayangkan Malik yang menciumnya dengan lembut, tidak seperti apa yang Adrian lakukan sekarang.
Angel mulai kehabisan nafas, tapi Adrian tak kumjung menyudahi pangutan liar itu. Hingga Anggel mendorong kuat tubuh Adrian, agar mau melepasnya.
“Hah..” Angel menarik nafas sedalam-dalamnya. Begitu pun Adrian. Nadas merengah tersegal-sengal seperti lari maraton seribu meter.
“Mas, kamu membuatku kehabisan na...”
Belum Angel selesai meneruskan perkataanya. Adrian kembali menyambar bibir angel dengan rakus. Angel pun kembali menahan dada suaminya dan mendorongnya agar terlepas kembali.
“Ternyata bibirmu sangat manis, Ngel.” Ucap Adrian. Ia menyesal tidak pernah menyentuh Angel selama dua tahun ini, padahal bibirnya saja sudah manis, apalagi yang lainnya.
Angel mulai menghindar dan kakinya berjalan mundur. Namun, Adrian tetap memeluk Angel dan memajukan langkahnya, hingga kaki Angel terbentur ranjang di sana dan terduduk di ranjang itu.
“Aku sangat menginginkanmu, Ngel. Kita mulai dari awal.” Kata Adrian yang mulai membaringkan tubuh Angel di sana.
Kepala angel menggeleng. Ia merasa tidak rela jika tubuhnya di sentuh Adrian. Entah mengapa? Padahal Adrian adalah satu-satunya pria yang berhak atas tubuhnya di mata hukum dan agama. Kepala Angel terus di penuhi oleh wajah Malik yang tersenyum padanya, wajah Malik yang selalu membantunya, wajah Malik yang berlari tergesa-gesa untuk menolongnya saat laptopnya di penuhi virus, padahal saat itu Malik pun sedang sibuk.
Akankah ia mengkhianati cinta Malik yang tulus? Tanpa terasa air mata Angel mengalir dari sudut matanya, ketika Adrian sedang mencumbui buah dadanya.
“Bunda... Bun..” Alika dan Fariz berteriak. Mereka mengetuk keras pintu kamar Adrian berkali-kali.
“Mas.” Angel mencoba menyadarkan Adrian yang masih mengungkungnya.
Lalu, Adrian menyudahi cumbuan iu. Ia menggulingkan diri di saming Angel. Kemudian angel langsung memakai kembali jubah pakaian malam yang ia kenakan saat ini. ia memang salah, biasanya ia memakai piyama dengan lengan panjang dan celana panjang, tapi kali ini ia memakai pakaian tidur yang cukup terbuka dan hanya di lapisi jubah tipis.
“Ah, sial.” Gumam Adrian yang tidak bisa lagi menyalurkan hasratnya.
Angel bangkit dan beralih menuju pintu. Ia membuka pintu itu dan melihat Alika juga Fariz yang tersenyum padanya.
__ADS_1
Angel membalas senyum itu, seraya bergumam dalam hati, “kalian memang malaikatku.”