Melanggar Janji

Melanggar Janji
Mengawali semua dengan cara yang baik


__ADS_3

Malik menyuapi Angel hingga sendokan terakhir. Sedangkan di dapur, semua orang membicarakan Angel yang hanya nurut oleh kata-kata pria yang bukan suaminya. Telinga Dila panas mendengar hal itu. Namun, Radit berusaha untuk tenang. Setelah acara tahlilan selesai, ia akan menyidang keponakannya itu. Sementara, Adrian belum juga muncul.


Malik masih menemani Angel di kamar. Ia berusaha mengajak wanita itu untuk istirahat. Namun, Angel malah menceritakan kisahnya sewaktu kecil. Ia menceritakan bagaimana sang ayah yang sangat menyayaginya, selalu ada untuknya, dan tak pernah marah.


“Iya, udah ya ceritanya. Sekarang kamu tidur. Sudah malam, besok cerita lagi.” Kata Malik sembari mengelus rambut Angel.


Saat ini, Angel memang terlihat sangat rapuh. Ia seperti anak kecil yang perlu bimbingan.


Sementara di luar sana, suasana sepi karena orang-orang yang mengikuti acara tahlilan malam ini sudah selesai dan bubar. Radit dan Dila menunggu Malik keluar dari kamar Hendra. Adrian juga sudah ada di sana. Enin pun bingung dengan keadaan ini. Mereka duduk lesehan dengan pikirannya masing-masing. Ella dan Fajar yang mengerti situasi ini, berusaha menjadi penengah. Mereka berusaha membuka pembicaraan ringan.


Tak lama, mereka melihat Malik keluar dari kamar itu. Ia pun meninggalkan Angel yang sudah terlelap. Perlahan Malik duduk di antara mereka yang telah menunggu penjelasan.


“Assalamualaikum.” Suara Berliana dan suaminya memasuki rumah itu.


“Waalaikumusalam.” Enin dan Ella langsung berdiri dan menyambut.


Sebenarnya, Berlin memang ingin taziah ke rumah ini, tapi esok hari. Namun, Radit meneleponnya untuk datang sekarang, karena ada hal yang penting menyangkut tentang putranya.


“Ma.” Malik menyalami ibunya.


“Om.” Ia pun menyalami ayah tirinya.


“Hei, apa kabarmu? Lama om tidak lihat kamu, ada dua tahun ya?” Tanya suami Berlin sembari menepuk bahu Malik.


“Baik, Om.” Jawab Malik.


Setelah berbasa basi sebentar, menyambut kedatangan Berlin dan suaminya. Tiba-tiba Radit mengeluarkan suaranya, itu pun setelah sekian kali lengan Radit di sikut oleh sang istri.


“Nah, sekarang sudah ada ibumu di sini. Ayo jelaskan bagaimana kamu bisa sedekat ini dengan istri Adrian.”


“Iya, apa kamu ga tahu malu. Sedangkan di sini ada abangmu. Dia harus pergi karena melihatmu menggantikan posisinya.” Sahut Dila.


“Apa Hendra, kena serangan jantung, karena kalian? Apa yang kalian bicarakan hingga dia shock?” Tanya Enin bertubi-tubi.


“Nin.” Ella berusaha untuk menenangkan ibunya.


“Tenang, biarkan Malik menceritakan semuanya dari awal. Beri dia waktu untuk menjelaskan.” Fajar menengahi, karena semua orang menghakimi Malik.


Kemudian, Malik menceritakan pertemuannya dengan Angel pertama kali, lalu berpacaran. Dia pun menceritakan bahwa antara ia dan Angel bukan hanya pacaran biasa tapi sudah seperti suami istri. Lalu, Malik menunduk saat ia menceritakan bahwa dirinya tak siap, saat Angel meminta untuk menikah, bukan karena ia tak mencintai gadis itu, tapi karena masih trauma akan sebuah ikatan pernikahan, mengingat kedua orang tuanya yang sering bertengkar dan akhirnya bercerai. Berlin menunduk kala Malik menceritakan itu.


Lalu, ia pun menceritakan perihal penjodohan Antara Angel dan Adrian. Ia berusaha menggagalkan. Namun, terlambat.


“Sungguh, Om. Setelah mendengar ijab qobul dari suara Adrian. Saya mengikhlaskan Angel untuknya. Saya merelakannya. Tapi ternyata, Adrian tidak bisa membahagiakan Angel. Akhirnya saya bertekad untuk mengambilnya kembali.” Tutur Malik dengan mata berkaca-kaca.


Radit menunduk. Ia pun tidak memungkiri bagaimana sikap Adrian kepada Angel, karena ia pun pernah menyaksikannya.

__ADS_1


Lalu, Malik menceritakan kembali, ketika Angel kehujanan, hingga akhirnya ia menolongnya dan melakukan kesalahan itu lagi.


Bugh


“B’jing”n.” Adrian kembali memukul pipi Malik. Ia tak kuasa mendengar cerita Malik yang telah menyentuh istrinya pada saat Angel masih berstatus istrinya.


Malik melawan. Ia pun membalas pukulan Adrian, hingga terjadinya suara riuh malam itu.


“Sudah, sudah. malu sama tetangga.” Fajar dan suami Berlin menahan tubuh Malik. Sedangkan Radit dan Dila menahan tubuh putranya.


“Kau mencorengkan nama keluarga, Lik. Jijik tante melihatmu.” Kata Dila.


Plak


Berlin menampar pipi putranya.


“Kamu memang tidak pernah bisa membanggakan orang tua, yang ada selalu bikin mama malu.”


Malik tertunduk sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah. Fajar dan suami Berlin pun melonggarkan pertahanannya pada tubuh Malik.


“Maaf, Ma. Tapi aku tidak menyesal, karena aku mencintainya.”


“Gila.” Adrian berdecih.


“Stop. Jangan panggil gue abang, gue ga sudi punya adik b*jing*n seperti elo.” Teriak Adrian.


“Iya, mulai detik ini juga. Adrian akan menceraikan Angel.” Sahut Dila.


“Ma.” Ucap Adrian membulatkan matanya. Ia tak ingin perceraian itu.


“Buat apa mempertahankan istri yang sudah berselingkuh hingga sudah melakukan itu dengan pria lain. Jijik mama melihatnya.” Kata Dila.


Enin menunduk malu. Ia pun sangat marah dengan Angel. Kalau saja saat ini kondisi Angel tidak sedang terpukul, mungkin Enin pun akan mengusirnya.


“Saya ga sudi punya menantu tukang selingkuh, saya menyesal menjodohkan Angel dengan Adrian.”


Enin, Ella, dan Fajar hanya menunduk. Mereka dikatai sumpah serapah oleh Dila. Enin merasa terpukul, tubuhnya lemas. Ella merangkul ibunya dan berusaha untuk tegar.


“Ayo, Pa! Kita pulang. Tidak akan kami menginjak rumah ini lagi.” Dila menarik lengan Radit dan Adrian.


“Dan, kamu Ber. Ajari anakmu dengan baik!” Ucap Dila sinis sembari mengacungkan telunjuknya ke wajah Berlin.


Untungnya, sedari sore Alika dan Fariz sudah pulang terlebih dahulu. Dila keluar dari rumah itu dengan perasaan yang sangat benci. Sedangkan, Radit dan Adrian mengikuti langkah sang ibu. Walau Adrian sesekali menengok kebelakang.


“Mama ga habis pikir sama kamu. Lik. Sudah berapa kali mama di kecewakan sama kamu.” Ucap Berlin.

__ADS_1


“Tapi, Ma.”


“Jangan panggil mama lagi! Jangan sebut mama dengan mama lagi.” Berlin kembali menampar putranya.


Sejak SMP, Malik memang sering berbuat ulah. Ia juga pernah di skors saat mengikuti teman-temannya tawuran dan menjadi garda depan. Kemudian, saat SMA, ia pun di skors karena narkoba, walau itu tak berlangsung lama karena Malik hanya coba-coba. Lalu, masih di saat SMA, ia pun pernah kepergok berciuman di toilet dan kena skorsing lagi.


Berlin menarik suaminya untuk pulang. Mereka pun pergi tanpa berpamitan pada yang punya rumah. Enin merasa sangat tak di hargai oleh keluarga Adrian.


“Sekarang, kamu yang pergi dari sini.” Kata Enin.


“Tapi, Nin. Sungguh saya sangat mencintai Angel.” Ucap Malik lirih.


“Pergi!”


“Bu.” Ella berusaha menenangkan ibunya.


“Kamu tidak tahu, La. Kalau Angel pacaran sama siapa waktu itu? Kami menitipkan Angel pada kalian, tapi kenapa tidak kalian larang kalau Angel pacaran dengan pria begajulan ini.” Kata Enin memarahi Ella dan Fajar.


Ella dan Fajar menggeleng.


“Maaf, Bu. Kami pikir Angel sudah dewasa.” Jawab Ella menunduk.


Malik tetap di minta pergi dari rumah itu. Ia pun tetap menunggu Angel di luar rumah Hendra, hingga tertidur di dalam mobilnya.


Saat subuh menjelang. Fajar mengetuk jendela mobil Malik. Segera Malik membenarkan posisi duduknya, lalu membuka kaca jendela itu.


“Sholat subuh berjamaah, Yuk!” Ajak Fajar.


“Bajuku kotor.” Jawab Malik.


“Nih, pakai! Di masjid aja gantinya.” Fajar membawakan baju ganti untuk pria malang itu.


Fajar menyalahkan tindakan mereka, tapi Fajar dan Ella faham ketika cinta menggelora di usia mereka tanpa iman, maka akan seperti inilah jadinya.


“Bisa sholatkan?” Tanya Fajar sembari tersenyum.


Malik mengangguk. Namun, ia sudah lama meninggalkan aktifitas ini, karena sejak sang ibu menikah lagi, ia tinggal sendiri dan jauh dari pengawasan orang tua.


“Kalau lagi ruwet kaya gini, banyakin istighfar dan mohon ampun.” Fajar menepuk bahu Malik.


Fajar sering mendapati teman seprofesinya yang selingkuh dan ia sering juga menjadi curhatan temannya itu. Ruwet, gelisah, hidup menjadi banyak beban, dan banyak masalah, itulah yang sering di alami oleh temannya yang kala itu tengah berselingkuh dengan seorang dokter.


Malik menarik nafasnya kasar. Ia pun mengganti pakaian. Setelah itu ia berdiri mensejajarkan dengan jamaah yang lain. Tak terasa air matanya pun jatuh, kala doa di panjatkan imam itu selesai sholat berjamaah.


Ia memang pendosa. Namun, ia pun ingin berubah, ia ingin membina rumah tangga dengan Angel dan mengawali semuanya dengan cara yang baik. Itulah pintanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2