
Satu jam setelah kepergian Angel dan Malik dari rumah Hendra, Enin bersama Bi Ella beserta keluarganya tiba di rumah itu.Mereka memasuki rumah yang memang selalu sepi, setelah Angel memutuskan untuk kerja di Jakarta
“Neng, Hendra mana?” Teriak Enin, yang baru saja memasuki rumah itu dan masih berdiri di meja makan.
Neneng terkejut dengan suara ramai di sana. ia pun menghampiri Enin. “Eh Enin, sudah pulang?”
“Nin, rumah sepi banget sih.” Celetuk Bi Ella, saat memasuki rumah itu.
“Emang A Hendra pergi?” Tanya Fajar, sambil meletakkan anak bungsunya di karpet yang berada di ruang televisi.
“Pak Hendra ada di kamar. Sudah satu jam ga keluar luar. Padahal saya sudah siapkan makanan, tapi belum bapak sentuh juga.” Jawab Neneng.
Tak lama kemudian, Hendra yang masih terduduk di atas tempat tidurnya berusaha bangkit mendengar suara ramai itu.
“Sudah datang, Bu?’ Tanya Hendra, setelah keluar dari kamarnya.
Hendra mencium punggug tangan sang ibu.
“Ndra, kamu kenapa? Sakit?” Tanya sang ibu.
Hendra menggeleng, padahal sudah sedari tadi dadanya nyeri.
“Iya, A. Tangan Aa juga keringat terus.” Kata Ella.
“Mungkin karena belum makan dari pagi.” Jawab Hendra.
Lalu, Enin langsung menyiapkan makanan yang sudah Neneng sajikan di meja makan.
“Ini, makanlah dulu, Ndra.” Enin menyerahkan sepiring nasi dan aneka lauk pauk.
“Bu, maafkan atas segala Hendra selama ini. Maaf jika ada kata-kata Hendra yang tidak berkenan di hati Ibu, Maaf jika belum menjadi anak yang berbakti. ” Ucap Hendra tersenyum.
“Apa sih,Ndra. Kamu itu udah jadi ayah sekaligus kakak yang baik untuk Ella.” Enin memeluk kepala Hendra yang sedang duduk di meja makan.
“Iya, apa sih A. Kalau ngomong suka aneh-aneh aja.” Celetuk Ella. Sedangkan fajar hanya mengeryitkan dahi, melihat keanehan kakak iparnya itu.
“Kamu juga sudah menjadi ayah yang hebat untuk Angel.” Kata Enin.
Namun, Hendra dengan cepat menggeleng. “Belum, Bu. Angel tidak bahagia dengan pernikahannya. Semua itu karena saya yang terlalu menggebu ingin berbesanan dengan Radit.”
“Maksudmu?” Tanya Enin bingung dan menarik kursi di samping Hendra.
“Mereka akan bercerai.” Kata Hendra.
__ADS_1
“Apa?” Tanya Enin terkejut, begitu Ella dan Fajar yang langsung ikut duduk berhadapan dengan kakaknya di sana.
“Tadi Angel datang ke sini meminta restu untuk bercerai dengan suaminya dan menikahi mantan pacarnya.”
“Lalu?” Tanya Enin dan Ella bersamaan.
“Kamu tahu pacar Angel itu siapa, La?” Malik balik bertanya pada Ella dan menatapnya.
Sontak semua orang menatap Ella.
“Ella hanya tahu Angel memang sangat mencintai pria itu. Saat pernikahan, ia menunggu pria itu datang untuk menggagalkannya. Tapi, pria itu tidak datang.” Jawab Ella lirih.
“Jadi kamu tahu semuanya? Kamu juga tau siapa pacar Angel? Mengapa kamu tidak cerita hal ini padaku, La.” Ucap Hendra dengan mata berkaca-kaca.
Ella mengangguk lagi. “Ella hanya tau dari cerita Angel, tapi Ella juga belum pernah bertemu pria itu. Angel itu anak baik, A. Dia tidak ingin sedikitpun membantahmu, walau ia berat menjalaninya.”
“Ya, Allah. Ella. Berarti kesalahannya adalah kesalahanku. Aku yang tidak peka dengan perasaan putriku sendiri.” Ucap Hendra lirih.
Hendra bergumam. “Berarti tidak ada yang tahu bahwa malik adalah pacar Angel.”
“Hendra.” Enin berdiri dan memeluk putranya.
“Aku titip Angel pada kalian, dia masih labil.” Ucap Hendra lagi.
“Kamu, jangan khawatir, Ndra. Nanti Enin akan bicara dengan Angel.” Kata Enin, yang langsung di angguki Ella.
“Iya, A. Jangan banyak pikiran.” Fajar mencoba menenangkan kakak ipranya.
“Ya sudah, makanlah!” Kata Enin lagi.
Lalu, Ella dan Fajar kembali ke ruang keluarga untuk menemani kedua anaknya di sana. Sementara Enin menemani Hendra di dapur hingga putranya selesai makan.
“Wah si Bapak makannya habis, sampe bersih banget. Tumben.” Ledek Neneng saat sedang mencuci piring, setelah selesai mensetrika.
Hendra meletakkan piring itu bersama dengan piring-piring yang lain yang baru akan Neneng bersihkan.
“Iya, makanannya enak.” Kata Hendra tersenyum.
“Tumben, Biasanya Bapak kan ga doyan tumis pare.” Ucap neneng lagi.
“Iya ternyata enak juga.” Jawab Hendra dan meninggalkan neneng yang berdiri di wastafel.
“Bu, Hendra duduk ke sana ya.” Ia menunjuk teras di luar rumahnya.
__ADS_1
Hendra berjalan perlahan, sambil menahan nyeri di dadanya. Namun, ia tahan. Hendra duduk di teras itu. Ia kembali membayangkan Angel kecil yang selalu bergelayut padanya, mengintili kemanapun ia pergi. Yang selalu menunjukkan prestasinya, kala ia pulang dari sekolah. Hendra tersenyum.
“Maafkan ayah, Nak. Kesalahanmu adalah kesalahan ayah. Di manapun kamu berada, semoga kamu selalu bahagia.” Gumam Hendra.
Matanya masih menerawang ke arah jalan, hingga ia terasa kantuk dan tertidur.
Suara adzan menyadarkan Ella dan Enin, bahwa Hendra masih terduduk di teras itu. Memang sudah biasa, jika setelah makan siang, Hendra duduk di sana dan tertidur hingga menjlang ashar. Fajar, sudah bersiap hendak ke masjid, karena kebetulan rumah Hendra dekat dengan masjid.
“A, tolong bangunin A Hendra sekalian ya.” Ucap Ella, saat suaminya akan keluar dari rumah, karena akan melewati teras.
“Iya, kok Hendra masih tidur. biasanya dengar adzan langsung bangun.” Ucap Enin, yang melihat dari dalam bahwa Hendra masih duduk dengan kepala yang sedikit miring ke kanan.
“Iya, nanti saya bangunkan.” Jawab Fajar yang berjalan keluar.
Perlahan Fajar mendekati Hendra. “A, udah ashar. Bangun!” Fajar menggoyangkan bahu Hendra yang tak bergerak.
“A, Bangun!” Kata Fajar lagi dengan goyangan bahu yang lebih kencang. Namun, tubuh Hendra justru malah tersungkur.
“Ella, Ibu.” Teriak Fajar yang berusaha menahan tubuh Hendra yang ingin terjatuh ke lantai.
Sontak Ella dan Enin kaget oleh teriakan Fajar. Mereka pun berlari keluar, begitu juga Neneng yang masih mengepel area dapur.
“Ya, Allah. Hendra kenapa, Jar?” tanya enin panik.
“Ga tau, Bu.” Jawab Fajar bingung. Ia berusaha membopong tubuh Hendra untuk masuk ke dalam. Lalu membaringkannya di karpet itu.
Enin menangis, begitu pun Neneng. Ella juga sudah merengek. Ia mengecek lagi nafas dan detak jantung Hendra. Fajar juga membantu. Fajar yang merupakan perawat, tahu betul keadaan Hendra saat itu.
“Neng, telepon ambulans. Cepet.” Teriak Enin.
“Tidak perlu, Bu.” Ucap Fajar.
“A hendra sudah meninggal.” Katanya.
“Innalillahi.” Neneng mengusap wajahnya kasar.
“Tidak.” Teriak Enin.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Ucap Fajar mengarah pada jasad Hendra yang terbaring di atas karpet di ruang keluarga.
“Bu.” Ella menangis memeluk sang ibu.
Neneng berlari keluar dan memberi tahu tetangga terdekat, sementara Fajar mencoba menghubungi ponsel Angel yang tidak aktif. Lalu, ia menelepon Adrian, tapi hanya ada nada sambung, karena Adrian tengah berseteru di pekarangan rumahnya dan meninggalkan ponselnya di kamar. kemudian. Fajar berinisiatif untuk menelepon rumah Adrian.
__ADS_1
Tak lama, si Bibi mengangkat telepon itu.