
“Jo, udah malem. Lu ga pulang?” Tanya Malik pada sahabatnya.
“Gue mau di sini sampe besok.”
“Lah, emang lu ga kerja? Dokter gabut dasar.”
“Gue dua hari off, karena dua minggu gue gantiin dokter yang pada absen. Sekarang gantian. Gue harus jagain Angel juga, takut lu khilaf, makin repot urusan.” Jawab jo.
“Gue tau diri, Jo.”
“Bohong ntar lu khilaf, lu kan paling ga bisa deket-deket sama Angel. Hmm..” Malik langsung membungkam mulut Jo, pasalnya di ruangan itu ada Angel yang tengah mengetik di meja yang tak jauh darinya.
Angel melirik dan tersenyum.
“Terima kasih kak Jo.” Kata Angel sembari menaikkan ibu jarinya ke atas.
“Oke.” Jo membalas dengan menunjukkan ibu jarinya juga ke atas.
“Gue sebagai sahabat yang baik, pengen yang terbaik buat lu, Lik.” Kata jo lagi, setelah Malik melepas tangannya dari mulut Jo.
Ting Tong.
Bunyi bel apartemen.
“Siapa lagi sih?” Gumam Malik kesal, karena sedari tadi sudah tiga kali orang memencet bel apartemen itu dan semuanya adalah driver jasa pengantar makanan online.
“Ya.” Kata Malik setelah membuka pintu itu dan mendapati seorang pria berdiri di hadapannya.
“Dengan Bapak Malik? Saya delivery martabak bangka sprsial.”
“Jo...” Teriak Malik.
“Apa?’ Jo berlari menghampiri sahabatnya yang berdiri di depan pintu.
“Lu pesen makanan lagi?” Tanya Malik kesal.
“Buat Angel juga ini. Dia kan lagi pemulihan.” Ucap Jo sembari menerima bungkusan makanan dari driver pengantar makanan itu.
‘Bayar.” Kata Malik.
‘Lah lu tuan rumah, elu lah yang bayar.” Jawab Jo yang langsung meluyur ke dalam.
Malik pun merogoh kantong celananya dan membuka dompetnya. Ia membayar lebih makanan itu pada rpia berjaket hijau itu. Lalu, Malik kembali menutup pintu dan berjalan ke dalam.
“Lama-lama, dompet gue kempes kalo lu ada di sini, Jo.” Kata Malik sinis.
Angel tertawa melihat tampang Malik yang sangat kesal.
“Sedekah, biar tambah berkah.” Sahut Jo.
“Sedekah sama lu, namanya bukan sedekah. Sedekah tuh ya sama orang yang ga pernah makan enak. Nah ini perut isinya makan enak mulu.” Malik menepuk perut sahabatnya.
“Sini.” Baru saja Jo ingin memakan makanan itu, tapi Malik langsung mengambilnya.
“Buat Angel dulu.” Kata Malik lagi yang menyerahkan makanan itu pada Angel.
“Makan, Bee. Pisahin, nanti kamu ga kebagian.” Malik meeltakkan separuh makanan itu di piring kosong yang ada persis di sebelah laptop Angel.
“Udah ga apa, kak. Buat kak Jo aja.”
“Jangan dia mah udah gembul dan sangat sehat. Ini untuk kamu yang lagi masa pemulihan.”
Jo mencibir. “Dasar bucin.” Gumamnya.
Angel semakin tertawa melihat tingkah konyol kedua pria ini.
__ADS_1
****
Sudah empat hari Angel berada di apartemen ini. Tubuhnya kian kembali sehat dan pulih seperti sedia kala. Tesisnya pun sudah hampir enam puluh persen berjalan. Oleh-oleh khas Jogya juga sudah Malik belikan untuk Angel bawa pulang. Semua di siapkan oleh mantan kekasih yang dulunya selalu menunda membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Namun, kehilangan Angel, membuat Malik mengerti arti cinta, membuat Malik mengerti arti sebuah hubungan dan saling berkasih sayang.
“Kak, terima kasih untuk semuanya.” Ucap Angel, saat mereka sudah rapih dan akan meninggalkan apartemen itu.
“Akhirnya, gue selesai juga jagain lu bedua.” Jo tertawa.
“Terima kasih juga buat Kak Jo. Maaf telah merepotkan.” Kata Angel.
“Gue ga direpotin sama lu, Ngel. Justru gue repot kalo liat dia patah hati.” Arah mata Jo tertuju pada Malik.
Angel tertawa. Sementara Malik dengan santai berdiri sambil menyedekapkan kedua lengannya.
“Ya udah. Ayo berangkat!” Kata Jo, lalu merekaberjalan bersama kelaur dari apartemen itu dan melangkah menuju basement.
“Lik, Adrian ga curiga kalau lu anter Angel sampe rumahnya?” Tanya Jo berbisik.
Malik menggeleng. Padahal Angel sudah melarang malik untuk mengantarnya, tpi malik bersikeras dengan sejuta alasan.
“Lu lupa gue sepupu Adrin. Tinggal kasih alasan aja kalau gue ga sengaja ketemu angel di jalan dan menawarkan pulang bareng karena gue juga mau ketemu sama keponakan gue. Beres kan?”
“Dasar gila.” Jo meninggalkan Malik dan menaiki mobilnya sendiri.
“Iya, Kak. Aku ga usah di antar, aku naik ojek online aja.” Rengek Angel.
“Aku antar atau tidak pulang sama sekali.” Jawab Malik.
“Kak.”
Malik langsung menggiring Angel untuk memasuki mobilnya. Jo sudah melambaikan tangan dan melajukan mobilnya lebih dulu. Sedangkan, Malik baru menyalakan mesin mobil itu dan mulai berjalan.
“Kak, Aku ga mau Mas adrian salah paham.” Kata Angel.
“Jangan sekarang, Kak! Ini terlalu cepat. Mereka akan shock mendengarnya.” Jawab Angel.
“Sekarang kenapa kamu yang mengulur waktu, Bee. Kamu sudah tidak mencintaiku? Sudah tidak ingin bersama denganku?” Tanya Malik bertubi-tubi sembari menyetir dan sesekali melirik ke arah Angel yang duduk di sebelahnya.
“Bukan begitu, Kak. Hanya saja keadaan sekarang tidak seperti dulu.”
“Bagiku sama saja, Bee. Hanya saja, kamu terlalu memikirkan kebahagiaan orang lain.” Jawab Malik yang membuat Angel terdiam.
Sesampainya di depan rumah Adrian. Angel melihat mobil Hendra terparkir di halaman rumah itu.
“Ayah datang.” Ucap Angel lirih.
“Bagus kalau begitu.” Malik dengan semangat hendak keluar dari mobilnya.
“Kak.” Angel menggeleng.
“Kamu tidak perlu khawatir, aku ahli dalam melobby.” Malik tersenyum.
Angel hanya bisa menarik nafasnya kasar. Mereka pun keluar dari mobil itu dan berjalan untuk masuk ke dalam rumah itu.
“Assalamualaiku.” Ucap Angel yang di ikuti Malik di belakangnya.
“Waalaikumusalam.” Jawab Hendra dan Adrian bersamaan yang sedang duduk di ruang tamu.
“Loh, kalian kok bisa bareng?” Tanya Adrian.
“Ya, kebetulan gue ketemu Angel di jalan. Dia lagi nunggu ojek online di stasiun, terus gue ajak bareng aja.”
“Oh gitu.” Ucap Adrian tanpa curiga.
__ADS_1
Angel langsung mencium punggung tangan suami dan ayahnya.
“Kamu sehat, Nak?” Tanya Hendra.
“Alhamdulillah sehat, Yah.” Jawab Angel.
“Untung ada Kak Malik yang membantu Angel untuk sehat lagi.” Gumam Angel dalam hati sembari tersenyum.
“Ayah sendirian?” Tanya Angel.
“Enggak, ayah kesini sama Enin. Itu di sana lagi main sama Alika dan Fariz.”
“Oh.” Angel mengikuti arah mata sang ayah.
“Bunda..” Alika dan Fariz langsung berlari ke arah Angel saat mendapati Angel sudah berdiri di ruang tamu bersama ayahnya.
“Hai.” Angel juga langsung melepas barang bawaannya dan membentangkan kedua tangannya.
Alika dan Fariz memeluk Angel dengan erat. Hendra dan Adrian tersenyum melihat itu, sementara Malik hanya bisa menarik bibirnya paksa. Ia yakin Angel akan tidak tega meninggalakan kedua anak ini, walau hidupnya tidak bahagia.
“Ibu, akhirnya pulang juga.” Sambut si Bibi yang langsung membawa varag bawaan Angel ke dalam.
“Enin.” Angel mencium punggung tangan neneknya saat sang nenek menghampirinya.
“Bagaimana urusan kuliahmu, sudah selesai?” Tanya Enin.
Angel sedikit melirik ke arah Malik. Ia tak tega melihat Malik yang seperti orang asing berada di antara keluarganya, karena Hendra tak menyapa Malik sama sekali, padahal pria itu yang telah membantunya dalam segala hal.
“Sudah hampir selesai.” Jawab Angel menunduk.
“Syukurlah. Semoga urusan kuliahmu itu cepat selesai agar kamu tidak meninggalkan keluargamu lagi seperti ini.” Ucap Enin.
“Iya, untung Adrian pengertian dan mau di tinggal seperti ini. mengurus anak-anak sendirian selama empat hari, itu waktu yang lama, Ngel.” Sambung Hendra.
“Tidak apa ayah. Yang penting Angel senang menjalaninya.”
“Uhuk.. Uhuk..” Malik pura-pura batuk.
“Gue haus bang, ke dalam ya.” Ucap Malik lagi dan langsung menuju ke dapur.
“Ya, lu ambil sendiri sana.” Jawab Adrian.
Angel menengadahkan kepalanya ke atas, mensejajarkan pandangan ke arah dinding tepat di atas tempat sang ayah duduk. Ia membulatkan matanya, melihat dengan jelas foto yang terpampang besar di sana.
Adrian pun menangkap arah pandang Angel yang seolah-olah terkejut dengan foto yang terpajang di sana. Ya, Adrian telah mengganti foto pernikahannya yang dulu dengan fotonya bersama Angel. Ia memang sekali lagi ingin memulai hubungan yang selayaknya dengan Angel. Ia bertekad untuk menerima masa lalu Angel dan benar-benar menjadikan Angel sebagai istri sepenuhnya. Ia cukup merasa kehilangan sosok Angel selama empat hari ini. ia menyadari bahwa dirinya semakin merindukan sang istri. Ia mulai menyadari ada benih-benih cinta di sini.
Setelah dua hari Adrian merasa ada yang hilang di tinggal Angel. Ia menelepon sang istri, tapi ponselnya tak pernah aktif. Hingga tadi pagi pun, Adrian masih menelepon ponsel Angel yang masih belum di aktifkan. Ia khawatir dan ingin menjemputnya di kampus. Namun, Angel tak kunjung mengaktifkan ponselnya.
Adrian menghampiri Angel dan berkata. “Istirahatlah dulu di kamar. pasti kamu capek.”
“Ya Adrian benar. Istirahatlah, Nak. Biar ayah di sini.” Sambung Hendra.
“Ayah menginap?” Tanya Angel pada Hendra.
“Iya, ayah akan menginap hingga lusa.”
Angel tersenyum dan beralih ke dapur. Rumah Adrian terlihat ramai, karena kebetulan hari ini tanggal merah. Walau hari kerja, tapi semua tidak beraktifitas di luar.
Sesekali Angel melirik ke arah Malik yang kini bersama Alika dan Fariz.
“Lik, gue tinggal dulu.” Ucap Adrian pada Malik. Ia mengajak Angel untuk menuju kamarnya.
Sepanjang Angel menaiki anak tangga itu, arah mata Angel menatap Malik yang duduk di meja mini bar yang cukup terlihat jelas dari tangga. Malik pun sesekali melirik ke arah wanitanya itu, wanita yang selalu ada di hatinya sampai kapanpun.
“Malik memang dekat dengan Alika dan Fariz.” Kata Adrian yang menangkap arah mata Angel tertuju pada Malik, Alika, dan Fariz di sana.
__ADS_1
Angel mengangguk dan tersenyum. Lalu, arah pandangnya kembali lurus ke depan.