
Angel dan Malik sudah bersiap menuju supermarket. Mereka akan membeli berbagai kebutuhan rumah tangga, sekaligus berjalan-jalan di sekitar sana. Kini, mereka berada di dalam mobil. Angel dengan antusias bertanya setiap jalan atau gedung yang mereka lewati pada suaminya. karena Malik memang sudah sering ke kota ini sebelumnya.
“Sebenarnya, aku baru pertama kali ke kota ini, Kak.” Kata Angel sembari memandang jalanan.
“Emang, kamu tuh nekat. Belum pernah ke sini, tapi mau langsung menetap di sini. coba kalau belum nikah sama aku, kamu sendirian, Bee.”
Angel nyengir, menampilkan jejeran giginya.
“Coba kalo ketemu pria berbahaya, makin ga rela aku. Makanya aku mendesak keluargamu untuk setuju dan segera menikahkan kita.” Kata Malik lagi.
“Makasih, Sayang.” Angel menampilkan wajah innocent-nya dan menempelkan kepalanya pada Malik.
Malik langsung menangkup kepala Angel. “Emang nih keras kepala. Untung cinta.”
Angel tersenyum ke arah suaminya. “Abis aku kira kamu juga mau lupain aku. Jadi aku juga mau pergi jauh supaya bisa lupain kamu.”
“Siapa yang mau ngelupain? Aku sering telepon kamu tapi selalu di rijek.”
Angel nyengir lagi. “Waktu itu aku masih takut sama Enin.”
“Aku ga akan pernah bisa lupain kamu, Bee.” Kata Malik yang menoleh ke arah istrinya sekilas, lalu fokus kembali pada kemudinya.
“Masa?” Tanya Angel pura-pura tak percaya.
“Seperti laut yang tidak pernah bisa meninggalkan pantai, langit yang tak pernah bisa meninggalkan bulan, aku juga tidak akan pernah bisa meninggalkanmu.”
“Uuuuh.. kok aku mual ya dengernya.” Ledek Angel dengan senyum lebar di bibirnya.
“Jahat kamu, Bee. Udah nyusun kata sebagaus mungkin itu.” Malik menoel pinggang sang istri, membuat Angel langsung tersentak dan tersenyum.
"Berapa hari kamu hafalin katan-kata itu?" Tanya Angel meledek.
"Udah bisa ngeledek ya." Malik kembali menoleh pinggang Angel dan ia kembali tersentak kegelian.
Angel tertawa dan menahan tangan suaminya agar tak menole pinggangnya lagi. Namun, Malik terus menoel pinggang itu, membuat Angel berteriak geli.
“Aaa.. geli, Kak.”
“Baru di toel gitu aja geli.” Ledek Malik.
“Kata orang kalo di toel pinggangnya udah geli, berarti sayang sama pasangan.” Sahut Angel.
“Masa sih?”
Angel mengangguk.
“Percaya sih, aku emang tau kalo kamu cinta mati sama aku.” Kata Malik angkuh.
“Ih, pede banget.” Kini Angel yang menoel pinggang Malik dan membuat ia pun tersentak.
Angel mengulangi aksinya, hingga membuat malik kegelian.
“Geli, Bee. Aku lagi nyetir loh.”
Angel pun tertawa. “Berarti kamu juga sayang sama aku.”
Malik memberhentikan mobilnya, ketika lampu merah menyala. Ia langsung meraih lagi kepala Angel dan mencekapnya.
“Ya iyalah sayang, sampe di coret dari keluarga mama.”
Angel langsung terdiam dan mendekati wajah suaminya. “Maaf ya, kak. Terus hubungan kamu sama mama gimana?”
__ADS_1
Malik mengerdikkan bahunya. “Biarlah waktu yang akan menjawabnya.”
Ia kembali menatap wajah Angel yang sendu. “Ga usah di pikirin, Bee. Yang penting kita sama-sama. Aku yakin kita dapat melewati semua hal, asalkan sama-sama.”
Angel menganggukkan kepalanya.
“Apapun yang terjadi, kita harus saling jujur dan ga boleh ada yang di tutupi. Keputusan apapun harus dengan persetujuan bersama. Oke.” Malik menampilkan jari kelingkingnya ke atas.
Angel tersenyum dan menaikkan jari kelingkingnya dan menempelkan pada Malik. “Siap, Pak Bos.”
“Mmuah.” Angel mengecup sekilas bibir suaminya.
“Ah, ciumnya gitu doang.” Protes Malik.
Tin.. Tin.. bunyi klakson mobil dari arah belakang terdengar.
“Tuh, udah di protesin orang.” Ledek Angel, sembari menunjuk arah lampu lintas yang sudah berganti menjadi hijau.
“Nanti di rumah di lanjutin.” Kata Angel menepuk bahu suaminya yang kembali menjalankan mobil.
“Bener ya, sampe rumah aku tagih.” Malik menyeringai licik. Namun, Angel tetap mengangguk dengan senyumnya yang manis.
“Bee. Itu kampus tempatmu mengajar.” Ucap malik saat melewati universitas negeri itu.
Mata Angel mengikuti arah jari yang Malik tunjuk. “Berarti dekat dengan kantormu juga?”
“Yup, kita bisa makan siang bareng setiap hari, Bee.”
Malik melajukan mobilnya dengan pelan. “Nah ini kantorku.”
“Deket banget dong, Kak.” Ucap Angel antusias.
“Ga usah, Kak. Pulangnya aku naik ojek motor aja.”
“Ngga ada protes. Titik.” Jawab Malik tegas.
“Ish.” Angel merengutkan bibirnya dan kembali memandang ke depan.
Malik menoleh ke arah istrinya. “Cemberut aku cium nih.”
“Iih.. Nyebelin.” Angel mencubit kecil pinggang Malik dan memeluknya dari samping.
Malik pun tertawa.
Lima menit kemudian, mereka sampai di sebuah Mall yang cukup besar di dekat sana.
“Mall nya juga deket ya, Kak.”
“Iya. Nanti setiap weekend, aku akan ajak kamu berkeliling kota wisata yang keren di kota ini.”
“Hmm... mau.” Angel bertepuk tangan dengan riang.
Malik tersenyum dan mengacak rambut istrinya.
Mereka pun keluar dari mobil, setelah Malik meamrkirkan kendaraannya dengan benar. Mereka pun berjalan beriringan. Malik tak pernah membiarkan Angel berjalan sendiri. Ia selalu menggandeng pinggang sang istri, bahkan memeluknya dari samping atau merangkul bahunya.
“Mau es krim?” Tanya Malik.
Angel pun langsung mengangguk, kebetulan tenggorokannya sangat kering.
“Kamu duduk, aku saja yang megantri.”
__ADS_1
Angel menggeleng. “Aku temenin kamu antre.”
Sontak Malik tersenyum dan langsung memeluk istrinya dari samping, sembari mengelus kepalanya, membuat orang yang mengantre pun menjadi iri. Mereka seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara.
“Sebelum ke supermarket, nonton dulu yuk.” Ajak Angel.
“Good idea.”
Mereka pun beralih ke bioskop yang ada di lantai paling atas. Malik selalu menggenggam tangan Angel.
“Bee.” Dengan terpaksa Malik melepas tangan Angel yang menaiki lift lebih dulu, sementara Malik tidak kebagian untuk masuk, karena di dalam lift itu sudah penuh dan hanya menampung Angel yang lebih dulu masuk.
“Tunggu aku di atas, Bee. Diam di sana dan jangan ke mana-mana!” Pesan Malik melalui whatssapp yang tiba-tiba berbunyi sesaat setelah pintu lift itu tertutup.
Angel menunggu Malik cukup lama, karena ketika lift itu terbuka, Malik belum terlihat batang hidungnya. Ia menengok ke kiri dan kanan, menunggu Malik dengan gelisah.
“Mbak, kalo guardian di mana ya?” Tanya salah seorang pria pada Angel.
“Maaf, Mas. Saya tidak tahu. Saya juga baru di sini.” Jawab Angel.
“Oh, sama dong mba, saya juga baru di sini. saya dari jakarta. Mba pasti orang Jakarta juga ya.”
Angel mengangguk sembari mengedarkan pandangannya.
“Boleh kenalan? Nama saya Rega.” Rega mengulurkan tangannya.
Angel pun menerima uluran tangan itu dan hendak mengangkat tangannya. Namun, tiba-tiba tangan Angel yang sedang terangkat itu di pegang oleh Malik.
“Maaf, kami buru-buru.” Malik langsung membawa Angel pergi.
“Ups, udah punya pacar.” Gumam Rega, lalu menurunkan kembali tangannya yang belum sempat di balas.
Sepanjang jalan menuju bioskop, Malik diam dan tak mengeluarkan suaranya.
“Kamu mau nonton apa, Kak?” Tanya Angel. Namun, Malik masih diam dan hanya melihat ke arah papan baner film yang sedang berlangsung.
“Kak, kok dari tadi diem aja.” Angel menarik ujung kaos berkerah yang Malik pakai.
Malik menyedekapkan tangannya. Ia tak lagi menggenggam tangan Angel.
“Baru saja tadi di mobil, kamu bilang kita harus selalu jujur dan ga ada yang di tutup-tutupi.”
Malik menoleh ke arah Angel. “Baru aku tinggal sebentar, Bee. Kamu sudah sama cowok. Terus kamu juga mau lagi di ajak kenalan. Gimana ga kesel.”
“Maaf.” Angel menunduk.
“Sayang. Maaf.” Angel kmbali membujuk suaminya.
Malik melihat bola mata Angel. “Coba kalo aku yang seperti itu, kamu juga pasti akan cemburu kan?”
Angel menggeleng. “Aku ga bisa marah, apalagi sama kamu.”
“Masa sih.” Malik kembali merangkul kepala istrinya gemas.
“Aku ga bisa liat kamu berdekatan dengan pria lain, bahkan dengan wanita pun.”
Angel menengadahaka kepalanya ke arah Malik. “Ish, posesisve banget sekarang.”
“Because, you’re mine.” Malik kembali mngeratkan pelukannya.
Angel tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Malik. Ia tak keberatan dengan sikap Malik yang pencemburu dan posesive, karena memang seperti itulah cara pria itu mencintainya, yang penting Malik tetap memberinya gerak untuk meraih mimpi dan mendukung apa yang ia cita-citakan. Itu saja sudah cukup.
__ADS_1