Melanggar Janji

Melanggar Janji
Merawat istri orang


__ADS_3

Selesai bertemu klien, Malik langsung meluncur ke apartemen Angel. Hari semakin sore dan langit pun semakin menguning. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah, mengingat jalan yang kian padat karena memasuki jam pulang kerja.


Sesampainya di apartemen. Malik menekan passcode dan masuk ke kamar itu. Ia melihat Angel yang tengah berbaring. Ia menyentuh kening itu dan terasa sangat panas. Malik ingat sebelumnya, Angel pernah seperti ini. Ia pun langsung menelepon Jonathan untuk datang dan memeriksa mantan kekasih yang tidak pernah ia sebut mantan.


Tut..Tut..Tut.


“Halo.” Jo mengangkat sambungan telepon itu.


“Jo, dateng ke apartemen Angel sekarang!” dengan satu kalimat, Malik langsung memutus sambungan telepon itu.


Ia berlari ke dapur dan mengambil es batu untuk mengompres kening Angel. Ia pun sudah membelikan bubur dan kue untuk mantan kekasihnya yang tidak pernah ia putuskan. Dengan telaten, Malik mengurus dan menjaga Angel.


Mata Angel terbuka, saat terasa ada benda dingin menempel di keningnya.


“Mengapa selalu membuatku khawatir? Aku sudah bilang, jangan kecapean! Bandel.” Kata Malik kesal. Ia sungguh tak tega melihat kondisi Angel saat ini.


Angel tersenyum. “Aku ga apa-apa, Kak.”


Malik melepas kemeja dan celana panjangnya. Ia semakin mendekat pada tubuh Angel dan memeluknya. Sebelum Jo datang, ia akan melakukan pertolongan pertama dengan metode skin to skin untuk sedikit menurunkan suhu tubuh Angel, sama seperti yang pernah ia lakukan dulu.


“Selalu bilang tidak apa-apa. Jangan pura-pura kuat kalau memang tidak kuat.” Malik semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku harus bagaimana?” Tanya Angel yang kepalanya mnempel pada dada bidang Malik.


Udara panas yang keluar dari mulut Angel menerpa dada telanjang Malik. Pria itu terus mengelus rambut Angel.


“Berpisahlah darinya dan menikahlah denganku!” Kata Malik lirih.


Tak terasa, air mata mengalir di ujung pelupuk mata Angel yang terasa panas. Malik menunduk dan melihat air yang mengalir di pipi wanitanya itu. Ia pun mengapus airmata itu dengan ibu jarinya.


“Bagaimana dengan ayah?” Tanya Angel lirih.


“Aku akan bicara dengannya.”


Kepala Angel menggeleng. “Alika dan Fariz?”


“Lambat laun, mereka juga akan mengerti.”


“Tidak semudah itu, Kak. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa bahagia di ats penderitaan orang lain.”


Malik meleonggarkan pelukannya.


“Walau dirimu yang menderita? Sampai kapan kamu akan menyiksa dirimu seperti ini? Aku tidak rela, Bee.” Kata Malik dengan mata memerah.


Ting Tong.


Bel apartemen itu berbunyi dan menghentikan pembicaraan mereka. Malik melepas pelukannya pada Angel. Ia segera turun dari tempat tidur dan melangkah ke pintu utama.


Malik membuka pintu itu dan berdiri seorang pria berbadan gempal dengan kacamata yang meghiasi wajahnya.


“Lama lu.” Ucap Malik pada Jo.


Jo langsung masuk dan Malik kembali menutup pintu itu.


“Ini jam berapa, cungkring? Jam segini tuh lagi macet-macetnya.” Sahut Jo


Begitulah panggilan Jo pada Malik yang sejak kecil memiliki postur tubuh yang kurus dan tinggi. Walau Malik sekarang berbadan atletis, tapi Jo tetap memanggilnya cungkring.

__ADS_1


“Ya udah, langsung ke dalam. Periksa cewek gue.”


“Ih, cewek lu? Bini orang tuh.” Ledek Jo dan langsung meluyur meninggalkan sahabatnya itu di belakang.


“Rese lu.”


Kemudian, Jo mulai memeriksa Angel. Suasana hening, tanpa ada yang bicara saat itu, karena Jo tengah serius memeriksa Angel.


“Gimana keadaannya, Jo?” Tanya Malik yang terlihat panik.


“Sama seperti sebelumnya. Kamu kena thyfus lagi.” Kata Jo dengan wajah mengarah pada Angel.


“Tuh kan, Bee. Kamu pasti kecapean.” Sahut Malik, setelah Jo berbicara.


“Ya.. kamu harus istirahat yang cukup, Ngel. Dan, makan makanan yang cukup.”


Angel mengangguk. Lalu, Jo menuliskan resep dan memberikannya pada Malik.


“Okeh, kalau begitu aku pulang. Istirahat ya Angel, kalau Malik macem-macem, hubungi aku!” Kata Jo sembari mengedipkan satu matanya.


“Jangan ganjen lu.” Kata Malik kesal pada sahabatnya.


Jo tertawa, hingga tubuh gempalnya bergoyang. Angel pun ikut tersenyum melihat kedua bersahabat itu tengah bersenda gurau.


“Bee. Aku antar Jo ke depan.” Kata Malik pada Angel.


Angel mengangguk dan melihat kedua pria itu keluar dari kamarnya. Ia pun kembali membaringkan tubuhnya.


“Lik, awas lo jangan gila! Sekarang Angel bukan pacar lu lagi. Walaupun antara Angel dan Adrian ga ada cinta, tapi Angel tetap istrinya Adrian. Lu jangan macem-macem.”


“Stres lu. Dasar pebinor.” Ledek Jo.


“Eh, gue bukan pebinor ya. Gue yang lebih dulu kenal Angel. Lagian salah Adrian yang ga bisa jagain istrinya. Padahal gue udah relain buat dia. Tapi nyatanya apa? Dia ga bahagia. So.. sorry, kalau gue ambil Angel lagi.”


“Ck, tau dah. Kisah lu tuh rumit banget. Pusing gue dengernya. Udah ah gue mau pulang!” Kata Jo.


“Btw, ga ada makanan nih?” Tanya Jo yang mengedarkan pandangannya ke arah dapur.


“Makan nih buahan-buahan keras.” Malik melempar ke arah Jo, pajangan dari bahan plastik yang berbentuk aneka macam buah.


“Stres lu.”


Malik tertawa. “Lagian yang ada di pikiran lu tuh ngegares mulu. Malam minggu nih, pacaran dong!”


“Males gue pacaran. liat lu pacaran aja ribet banget. Malam minggu mending tuh di rumah, leha-leha sambil nonton dan makan popcorn. mantap.” Ucap Jo sembari membuka kulkas di dapur itu.


“Udah sono pulang.” Malik mengusir Jo.


“Rese lu.” Kata Jo yang sedang memakan kue yang ia ambil di dalam kulkas. Kue yang baru saja Malik beli saat tau bahwa Angel ada di apartemen ini.


Malik medorong Jo untuk keluar dari apartemen itu. “Udah pulang sana, gue sama Angel mau istirahat.”


Seketika Jo menahan pintu apartemen yang tengah di tutup lagi oleh pemiliknya.


“Lu tidur berduaan di sini? Lik, Angel istri orang.” Katanya.


“Iya gue tau. Emang gue mau apain dia. Gue cuma jagain doang. Gue juga tau diri, Jo.” Jawab Malik.

__ADS_1


“Ck, gue ga percaya. Tampang kaya lo bisa nahan diri, apalagi sama Angel.” Kata Jo yang kemudian pergi.


Malik pun tertawa. “Bisa lah.”


Ia tahu Jo adalah sahabat yang paling baik dan perhatian. Ia kembali menuju kamar Angel, setelah berhasil mengusir Jo, sebelum semua makanan yang ia beli tadi habis di makan olehnya.


“Bee, makan ya! Supaya langsung minum obat.” Kata Malik, setelah sampai di dalam kamar Angel.


Mata Angel kembali terbuka, rasanya ia ingin tidur terus dan malas untuk bangun. Malik dengan telaten membantu Angel duduk dan bersandar pada dinding tempat tidur itu.


“Aku suapin?”


Angel mengangguk. Lalu, Malik mulai menyuapi Angel dengan lembut, sambil bercerita tentang suasana di kantornya hari ini. Malik pun menceritakan ayahnya yang memminta dirinya untuk berhenti di kantor David dan memulai memegang perusahaan sang ayah.


“Kasihan papi kamu.” Kata Angel.


“Ck. Entahlah, mungkin nanti aku akan memegang perusahaan papi, tapi tidak sekarang.” Malik mengerdikkan bahunya.


“Prioritas aku sekarang bukan pekerjaan.” Kata Malik lagi.


“Hmm..” Jawab Angel.


“Cuma ‘Hmm’. Ga tanya prioritas aku sekarang apa?” Malik mendekatkan wajahnya pada wajah Angel, hingga tubuh Angel agak sedikit terdorong kebelakang untuk memberi jarak pada pria itu.


“Apa?” Tanyanya.


“Kamu.”


“Aku?” Angel mengeryitkan dahinya dan kembali bertanya.


Malik mengangguk.


“Priorotas aku saat ini adalah bagaimana caranya merebut istri Adrian.”


Sontak Angel tertawa, memperlihatkan jejeran giginya yang rapih. Malik pun tersenyum melihat wanitanya tertawa lepas. Rasanya senang sekali, melihat Angel seperti ini.


“Ayo, Aaa lagi!” Malik memberikan suapan di sendok terakhir.


Angel menggeleng dengan bibir yang masih tertawa. “Kenyang, Kak. Udahan ya.”


“Kebiasaan.” Kemudian, Malik memakan sendiri suapan terakhir untuk Angel tadi..


Angel masih tersenyum lebar. “Terima kasih ya, Kak.”


“Terima kasih doang?” Tanya Malik meledek dan memberikan obat penurun panas biasa sebagai pertolongan pertama.


Angel terdiam dan menunduk.


“Ya udah, istirahat ya. Aku tinggal sebentar untuk beli obat dari Jo tadi.”


Angel mengangguk.


“Sebentar ya, Bee.” Malik kembali mendekati Angel dan mengecup keningnya sebelum pergi.


Di sepanjang jalan keluar apartemen hingga menuju apotek, Malik tak henti mengulas senyum. Ia akan bersama dengan Angel di apartemen ini. Ia akan merawat dan menjaga Angel dengan baik. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu kebersamaannya, karena seperti yang di katakan Mang Asep padanya di telepon tadi pagi. Angel izin pada Adrian untuk empat hari ke Jogya. Namun nyatanya, sekarang Angel akan beristirahat empat hari di apartemen ini.


Walau begitu, Malik tetap akan menjaga jarak dengan Angel, karena bagaimanapun status wanita itu bukan lagi pacarnya melainkan istri orang.

__ADS_1


__ADS_2