
Adrian menatap ponselnya dengan lekat. Sungguh hatinya teriris melihat senyum yang merekah dari bibir Angel di sebuah foto yang menampilkan buku nikah berwarna merah di tangannya bersama dengan Malik.
Adrian berteman medsos dengan Faisal dan nama Faisal di tag oleh Kanaya, adik Malik yang duduk di bangku SMA. Rahang Adrian mengeras, sungguh sebenarnya ia masih tak terima dengan ini semua, walau sebelumnya ia dan Angel sudah berpisah secara baik-baik di pengadilan agama waktu itu.
“Udah, Bro. Jangan diliatin terus tuh foto. Sekarang udah jadi bini orang. lu juga yang sok jual mahal waktu itu.” Kata teman sejawat Adrian di rumah sakit yang berprofesi sama dengannya.
Egy Bramantyo namanya, dia salah satu teman Adrian yang duduk di sampingnya saat acara doorprise seminar yang di menangkan Angel dulu.
“Lagian punya istri cantik di anggurin. Kalo gue jadi lu, kaga usah nunggu cinta. Sikat aja langsung.” Egy tertawa.
“Ya, elu sama gue beda.” Jawab Adrian melengos. Ia kembali memakan makanannya. Mereka memang sedang duduk berhadapan di kantin tempat mereka bekerja.
“Sayang banget lu, Bro. Belum sempet nyobain udah bubar.” Ledek Egy lagi.
“Berisik lu.” Adrian pun tak menyelesaikan makanannya. Ia memilih pergi.
“Ih, ngambek.” Cibir Egy.
Lalu, Egy mengerjarnya. Ia ikut tak menghabiskan makanannya.
“Ya udah suh, ikhlasin. Ntar juga nemu cewek lagi. Mudah-mudahan lebih cantik dari Angel.”
Adrian tetap berjalan tanpa menjawab perkataan sahabatnya.
“Tapi Alika sama Fariz udah ga rewel lagi kan?”
Adrian menggeleng. “Engga sih. Tapi ya gue harus sering di rumah sekarang.”
“Baguslah, ada hikmahnya kan. Lu jadi deket sama anak-anak lu.”
Adrian mengangguk. Sebelum menikahi Angel, Alika dan Fariz memang lebih sering menghabiskan waktunya dengan si Bibi. Namun, setelah ada Angel, Alika dan Fariz terbiasa dengan Angel dan setelah sosok Angel itu tak ada lagi di rumah itu, kini Adrian yang menggantikannya.
****
Angel dan Malik sudah sampai di Jogja. Mereka melewati waktu hampir delapan jam perjalanan. Kini, mereka tiba pas ketika adzan isya berkumandang.
“Mampir ke mushola dulu ya.” Ajak Malik dan Angel langsung mengangguk.
Tangan kiri Malik menarik koper Angel yang berwarna pink, sementara tangan kanannya menggenggam jari Angel. Mereka berjalan beriringan menuju mushola terdekat. Sekarang, sebisa mungkin mereka ingin melaksanakan kewajibannya, mereka ingin melaksanakan sholat lima waktu. Seperti di dalam kereta tadi, mereka tetap melaksanakan sholat zuhur, ashar, dan maghrib di dalam kereta, walau dengan posisi duduk.
Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Malik menunggu Angel di teras mushola itu, karena Malik keluar lebih dulu di banding Angel.
Ia pun tersenyum tatkala melihat wanitanya keluar dari mushola. Angel langsung mengampiri Malik dan menjulurkan tangannya. ia ingin mencium tangan suaminya usai beribadah.
Malik tersenyum dan menjulurkan tangannya. Angel pun mencium punggung tangan Malik. Hatinya begitu bahagia, sangat bahagia. Rasanya indah sekali. Apalagi, setelah Angel mencium punggung tangan itu, ia menampilkan senyum manisnya.
“Yuk pulang.” Kata Malik sembari menarik lengan Angel dan kopernya.
“Tunggu, aku belum pake sepatu.” Kata Angel yang masih memakai sandal bakiak.
“Ya udah pulangnya pake sendal begitu aja.” Ledek Malik.
“Iya, supaya bisa nimpuk kamu, kalo lagi ngeselin.” Jawab Angel tertawa sembari mengganti alas kakinya.
“Jahat kamu, Bee. Ga ada cinta-cintanya sih sama aku.” Cibir Malik.
Lalu, Angel berlari dan memeluk pinggang Malik. “Becanda, Sayang.”
“Apa?” Tanya Malik pura-pura tak mendengar. Pasalnya ini kali pertama, ia mendengar Angel memanggilnya ‘sayang’.
__ADS_1
Wanita pendiam dan sulit di taklukan itu, akhirnya menjadi milik Malik seutuhnya.
Di parkiran, Malik sudah di tunggu oleh asistenn sekaligus sekretarisnya yang bernama Joni.
“Hai, Bos.”
“Hai, sorry nunggu lama.” Malik menepuk pundak Joni, untuk langsung masuk ke dalam mobil.
“Ciye yang udah jadi bos.” Ledek Angel.
Joni menatap Angel tak berkedip. Pasalnya baru kali ini ia melihat wanita secantik Angel, walau ia sering bergonta ganti pacar.
“Jaga mata lu.” Kata Malik saat mendapati Joni yang tengah menatap istrinya.
“Sorry, Bos. Abis istrinya cantik banget sih.” Kelakar joni.
“Iya, makanya dapetnya juga susah banget. Ayo Jon, jalan!”
Angel yang sibuk mengaktifkan ponselnya dan mengecek beberapa pesan yang masuk pun tak mendengar percakapan antara Malik dan Joni.
Joni tahu betul kisah antara Angel dan Malik, karena Malik menceritakan semua tentang kisah cinta pertamanya itu.
“Yang penting akhirnya Bos yang menang.” Kata Joni.
“Dari awal gue emang udah menang, Jon. Doi cinta matinya sama gue.”
Joni dan Malik tertawa.
“Menang apa?” Tanya Angel yang baru menyadari bahwa kedua pria yang berada di dalam mobil itu sedang tertawa.
“Menang tender, Bee.” Jawab Malik.
Joni dan Malik kembali tertawa. Sedangkan Angel hanya menggeleng melihat bos dan asistennya sama-sama stres.
Setelah tiga puluh menit di perjalananan. Akhirnya Malik sampai di rumah yang telah ia beli dadakan. Bukan hanya tahu bulet ya yang dadakan.
“Thanks, Jon.” Kata Malik setelah Joni menyerahkan kunci mobilnya.
“Santai, Bos. Ngomong-ngomong saya punya obat kuat, Bos. Buat ntar malem.” Bisik Joni.
“Emangnya gue udah uzur. Tanpa obat kuat, gue masih bisa lima ronde dalam semalem.” Jawab malik.
“Busyet, ngga salah tuh.” Ucap Joni terkejut.
“Ya enggak lah.” Malik hendak meninggalkan Joni dan ingin menghampiri Angel yang berdiri menunggunya di depan pintu.
“Emang sih, ngeliat istri cantik kek gini, jadi kepengen terus ya, Bos.” Kata Joni yang sudah duduk di sepeda motonya
Joni memang sengaja memarkirkan sepeda motor di halaman rumah Malik, sebelum berganti mobil untuk menjemput bosnya itu.
“Ya. Iyalah. Udah hati-hati sana.” Malik mengusir Joni untuk segera pergi, sembari berjalan mendekati Angel.
“Bikin ngiri aja sih, Bos.” Kata Joni yang akhirnya berlalu pergi.
Malik hanya tertawa.
“Kok kamu ga kenalin aku ke asisten kamu itu?” Tanya Angel yang memang sejak bertemu Joni, Malik tak sekalipun memperkenalkannya.
Angel hanya tahu dari cerita Malik sebelumnya, kalau ia sekarang sudah menjadi pemilik perusahaan yang David berikan sahamnya sebesar tujuh puluh persen, dan tiga puluh persennya lagi ia beli dari hasil pundi-pundinya sendiri selama bekerja dengan David, termasuk menjual apartemen miliknya dan sementara ia tinggal di apartemen milik Angel waktu itu.
__ADS_1
"Ngga usah, anaknya genit. Ga bisa liat bening dikit." Jawab Malik.
Angel menggeleng meilhat posesivenya Malik yang sudah seperti bosnya dulu.
“Ayo, Bee!” Malik mengajak Angel untuk masuk dan merangkulnya.
“Aku hanya bisa membeli rumah minimalis seperti ini. tidak apa ya, Bee. Karena aku baru memulai usahaku di sini. jadi belum bisa boros dulu.” Kata Malik, setelah mereka berada di dalam rumah.
Angel menoleh ke arah Malik. “Ini juga udah bagus. Lagian aku ga suka rumah besar. Takut.”
Malik tertawa. Ia memang tahu kalau Angel penakut.
“Untung deh, punya istri seperti kamu. Aku jadi irit karena ga perlu beli rumah besar.”
Angel pun tertawa.
Rumah minimalis ini, hanya ada tiga kamar. Dua kamar di lantai dua dan satu kamar pembantu di lantai bawah arah dapur. Di lantai bawah ada ruang tamu, beserta ruang keluarga. Sedangkan di atas ada satu kamar utama dengan kamar mandi di dalamnya, serta balkon. Sedangkan satu kamar lagi juga terdapat kamar mandi di dalamnya dan ada mushola kecil di sisipkan di antara dua kamar itu.
“Bagus, Kak.” Ucap Angel saat melihat seluruh isi rumah itu.
Malik melihat wajah Angel yang terus mengulas senyum.
“Kamu suka?” Malik menggelayutkan wajahnya di bahu Angel dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu.
“Suka.” Angel mengedarkan pandangannya pada penataan dapur minimalis yang tersusun rapih.
“Kita ke atas.” Ajak Malik menarik tangan Angel untuk mengikuti langkahnya.
Angel membuka satu kamar itu.
“Ini kamar anak-anak kita nanti.”
Angel pun tersenyum lebar dan mengedarkan pandangannya. Kamar itu sudah di dekor dengan gambar princes dan batman.
“Karena aku tidak tahu nanti anak kita perempuan atau laki-laki, jadi aku buat gamabr berbeda di setiap sisinya.” Ucap Malik dan langsung di angguki Angel.
Lalu, Malik kembali menarik tangan Angel. “Sekarang, kita ke kamar utama.”
Angel mengikuti langkah Malik. Ia pun kembali sumringah, melihat kamar yang cukup luas itu dengan balkon di luarnya. Angel pun langsung keluar, di sana terlihat suasana kota Jogja yang cukup padat.
“Suka?” Malik kembali melingkarkan tangannya di perut Angel dan menempelkan dagunya di bahu itu.
Kepala Angel mengangguk, hingga kepala Malik ikut bergerak.
Lalu, Malik memutar tubuh Angel untuk menghadap padanya. Ia mngelus kepala Angel dan menyisipkan anak rambut itu ke belakang telinga Angel. Malik mendekatkan wajahnya, di kecup mata, ujung hidung, dan kedua pipi Angel.
“Aku sangat mencintaimu, Bee.”
Angel tersenyum. “Aku juga.”
Lalu, Malik mulai ******* bibir yang masih berwarna merah muda itu. Ia ******* dengan durasi yang cukup lama. Angel pun larut dalam ciuman itu dan ikut memeluk pinggang Malik, semenatar kedua tangan Malik menangkup kepala Angel. Ia ingin terus memangut bibir itu lagi dan lagi, hingga bibir Angel mulai menebal.
Malik menempelkan keningnya pada kening angel, saat pangutan itu selesai. Ia mengelus bibir Angel yang membengkak karena ulahnya.
“Bee, kamu capek?” Tanya Malik.
Angel menggeleng. “Tapi aku mandi dulu ya.”
Angel tahu, ke arah mana pertanyaan itu. Malik pun langsung tersenyum.
__ADS_1