Melanggar Janji

Melanggar Janji
Mulai nakal


__ADS_3

“Bee.” Panggil Malik, ketika memasuki rumahnya.


Suasana di rumah itu begitu sunyi. Angel pun tak menjawab panggilan suaminya. Malik baru saja sampai, setelah seharian bekerja. Ia baru tiba pukul tujuh malam. Ia menelusuri anak tangga untuk langsung menuju kamarnya.


“Bee.” Panggil Malik lagi, setelah membuka pintu kamar.


Malik tampak kusut dengan kemeja yang sudah tak lagi di masukkan ke dalam celananya, dasi yang kendor, dan lengan kemeja yang sudah ia gulung. Namun, tampang acak-acakan Malik yang seperti ini, yang membuat Angel suka.



Ia tersenyum mendapati tubuh sang istri yang tengah berbaring membelakanginya. Walau tak biasanya sang istri tertidur di jam segini. Perlahan, ia duduk di tepi ranjang, persis di samping tubuh Angel yang tengah berbaring. Ia mencium kening sang istri, lalu bahunya. Namun, Angel belum juga terbangun.


“Bee.” Malik mengelus pipi istrinya.


Sontak Angel pun menggeliat. Ia membalikkan tubuhnya hingga wajahnya tepat berada di depan wajah sang suami.


“Hai, kamu sudah pulang.” Ucap Angel dengan senyum yang selalu Malik sukai.


Malik mengangguk dan tersenyum, sembari mengelus pipi Angel.


Satu tangan Angel terangkat utuk menangkup pipi Malik. “Sepertinya kamu lelah sekali.”


“Tidak lelah ketika sudah melihatmu.” Jawab Malik.


“Gombal.”


Malik tertawa.


“Tumben sudah tidur jam segini?” Tanya Malik lirih, masih dengan mengelus perut rata istrinya.


Keduanya bersuara pelan seperti sedang berbisik. Mungkin karena wajah mereka yang sangat dekat dan tak berjarak.


“Aku sakit perut.”


Sontak Malik membuka balutan tangtop yang menutupi perut sang istri. Ia mengelus perut itu.


“Kenapa?”


“Baru datang bulan.” Jawab Angel.


“Hmm, berarti belum ada Malik junior di sini?”


Angel menggeleng dan menjawab dengan suara manja. “Belum.”


“Aw.. Sshh..” Angel kembali meringis, ketika ingin bangkit. Rasa sakit pada hari pertama masa periode itu amat menyakitkan.


“Apa sering seperti ini, jika datang masa periodemu?” Tanya Malik yang masih terus menggosokkan perut sang istri.


Angel mengangguk. “Malah dulu pernah lebih sakit dari ini.”


“Apa tidak bahaya?” Malik bertanya lagi. Ia tak ingin istrinya kenapa-napa.


“Tidak, ini biasa.”


“Tapi, kalau bulan depan kamu seperti ini lagi, kita periksa. Oke.”


Angel mengangguk dan tersenyum. “Siap 86.”


“Lebih enak 69. Bee. Ah, tapi aku harus puasa.”


Angel tertawa. “Dasar mesum.” Ia menoel pipi Malik hingga bergerak ke samping.


Malik pun tertawa. Sementara, Angel kembali berusaha untuk bangun.


Malik melepaskan tangannya dari perut Angel dan membantu sang istri untuk duduk. Lalu, Angel mengambil lagi tangan suaminya dan di letakkan ke perutnya.

__ADS_1


“Tanganmu hangat, Kak. Perutku lebih enak di sentuh olehmu seperti ini.”


Malik tersenyum.


“Seperti ini.” Malik kembali menggosokkan tangannya ke perut sang istri dengan memutar seperti arah jarum jam.


Angel mengangguk.


“Kamu sudah makan?”


Malik menggeleng. “Belum, aku ingin cepat pulang. Ingin cepat bertemu denganmu.”


Angel langsung menegakkan tubuhnya. “Kalau begitu, aku siapkan makanan untukmu.”


“Tidak usah, nanti aku ambil sendiri di bawah. Kamu istirahat saja.”


Angel tetap bangun dan duduk di tepi ranjang persis di samping suaminya.


Ia menggeleng. “Aku ingin melayanimu.”


Angel berdiri. Namun, Malik dengan cepat menahan tangan sang istri hingga Angel duduk kembali.


“Sudah ku bilang tidak apa. Nanti aku ambil sendiri. Kamu sedang sakit, jadi istirahatlah. Apa Mau aku buatkan coklat hangat? supaya lebih baik.”


Angel menggeleng. “Seharusnya aku yang melayanimu. Kamu baru pulang kerja, pasti lelah.”


“Hei, kamu seperti ini hanya satu bulan sekali, sedangkan melayaniku setiap hari. Jadi it’s oke, Bee.” Malik tersenyum.


Angel langsung menangkup wajah Malik dan menciumnya. Angel ******* bibir suaminya dan Malik pun menerima ******* dari bibir manis sang istri.


“Mengapa semakin hari kamu semakin manis sih?” Tanya Angel.


“Karena kamu juga semakin hari semakin manis dan menggairahkan.” Ledek Malik.


“Ih, aku serius.” Ucap Angel.


“Kak.”


“Bee.”


Mereka tertawa. Kemudian, Malik merangkul kepala Angel dan memeluknya. “I love you so much, Bee.”


“So much.” Malik menambahkan.


Angel membalas pelukan itu dengan erat. “Love you, too, My Hubby.”


Malik mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Angel. Ia mencium kening Angel. Lalu, mereka kembali berpelukan. Setelah lama berpelukan, Angel melepasnya dan kembali berdiri.


“Kalau begitu aku siapkan air hangat unttukmu.”


Malik menghelakan nafasnya dengan posisi yang masih duduk di tepi ranjang. Istrinya itu memang keras kepala. Walau di suruh untuk istirahat, tapi tetap saja ia ingin melayani suaminya. Angel beralih ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bath up. Sementara Malik memilih untuk turun ke dapur dam membuatkan coklat hangat untuk sang istri.


“Kak, airnya sudah siap.” Angel keluar dari kamar mandi tapi tak mendapati suaminya di kamar ini.


Kemudian, ia hendak ke bawah untuk menyusul suaminya.


“Ups.” Langkah Malik terhenti karena berpapasan dengan sang istri yang hendak keluar kamar, sementara ia ingin memasuki kamar dan membawa gelas panas.


“Kamu nagapain, kak?”


“Buatin kamu ini.” Malik menyodorkan gelas yang berisi coklat hangat.


Angel tersenyum dan menerimanya. “Terima kasih.”


Angel langsung meminum air di gelas itu.

__ADS_1


“Terima kasih juga, udah di siapkan air hangat untukku.” Malik mengacak-acak rambut Angel dan berlalu ke kamar mandi.


Sambil menunggu suaminya mandi, Angel meminum coklat hangat itu hingga tandas. Ternyata benar, perutnya sedikit lebih baik. Lalu, ia menata pakaian yang akan suaminya kenakan. Ia menaruhnya di tepi tempat tidur. Kemudian, beralih ke dapur.


“Bee.” Malik keluar dari kamar mandi, setelahbtiga puluh menit membersihkan diri. Ia tersenyum saat melihat bajunya sudah di siapkan di sana.


Lalu, Malik turun untuk menemui istrinya, karena sang istri pasti sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam untuknya.


“Bee. Kamu kan lagi ga enak badan.” Malik menghampiri Angel dan melingkarkan tangannya di perut itu.


“Hanya menghangatkan, kebetulan aku sudah buat makanan ini tadi sore.” Jawab Angel.


“Terima kasih, Bee.” Malik mengecup bahu istrinya yang terbuka.


Selama tinggal di rumah ini. Angel memang selalu memakai pakaian sexy, membuat Malik selalu ingin cepat-cepat pulang.


Malik kembali mengelus perut Angel. “Sudah tidak sakit?”


Angel menggeleng. “Udah ngga, karena obatnya udah ada di sini.” Angel menggenggam tangan Malik yang sedang melingkar di perutnya.


“Aw.” Teriak Angel, karena Malik menggigit bahunya.


“Sakit, Kak.” Angel menoleh.


Namun, dengan cepat Malik mengusap bahu Angel. “Lagian, belajar gombal dari siapa?”


“Ish, kak. Sakit tau.” Rengek Angel.


Malik tertawa. "Maaf, Bee. Lagian gemesin sih.”


Sesaat Angel mengerucutkan bibirnya, lalu kembali tersenyum, membuat Malik semakin gemas.


Malik kembali melanjutkan aktifitasnya mengganggu Angel yang tengah menghangatkan tumis cumi cabe hijau di atas kompor itu. Bibirnya masih menelusuri tengkuk dan bahu mulus Angel. Lalu, tangannya meraba paha Angel, hingga memegang bagian sensitifnya.


“Kira-kira aku puasa berapa hari?”


Angel menoleh dan tersenyum. “Tujuh hari.”


“Sss.. Ah.” Malik merintih memegang kepalanya.


Angel panik dan mematikan kompor. Ia langsung ikut memegang kepala Malik.


“Kenapa?”


“Aku pusing. Tidak bisakah kurang dari tujuh hari?”


Angel langsung melepaskan tangannya dari kepala Malik. “ish. Aku kira kamu sakit kepala beneran.” Bibirnya mengerucut dan menjauhi suaminya yang mesum itu.


“Ih, Bee. Tidak tersalurkan juga akan pusing nanti.”


“Ya sudah salurkan dengan metode lain?”


“Maksudnya?” Tanya Malik menyipitkan mata, ia ingin tahu sejauh mana sang istri mengetahui cara untuk memuaskan pasangannya.


“Dengan cara seperti ini.” Angel mengambil buah pisang dari dalam lemari es dan memakannya dengan perlahan serta bergaya sensual.


Malik tertawa geli. “Oh my God. Mulai nakal kamu, Bee.


Angel pun ikut tertawa. Entah mengapa setelah menikah ia pun menjadi wanita nakal dalam tanda kutip, tapi hanya di depan suaminya saja.


"Kamu belajar dari mana itu.”


“Nyari di you tube.” Angel nyengir, menampilakan jejeran giginya yang rapih, hingga terpampang jelas kecantikan di wajah itu.


Malik kembali tergelak sembari menghampiri sang istri dan mencubit kedua pipinya.

__ADS_1


“Memang tidak salah aku memperjuangkanmu, Bee.” Gumamnya dalam hati.


__ADS_2