Melanggar Janji

Melanggar Janji
Lebih agresif


__ADS_3

Dret.. Dret.. Dret..


Ponsel Angel berdering, saat mereka berada di supermarket. Ia pun langsung membuka tas dan mengambilnya. Di sana tertera nama ‘Bi Ella’ yang meneleponnya melalui video call.


“Siapa, Bee?” Tanya Malik yang sedang mengambil troli yang cukup besar.


“Bi Ella.” Jawab Angel yang langsung menekan tombol hijau.


“Hai, Bi.” Angel melambaikan tangannya.


“Angel.” Ella juga melambaikan tangannya.


“Angel.” Kini wajah Enin yang terlihat.


“Kamu lagi apa?” Tanya Ella.


“Kami lagi di supermarket, Bi. Nin.” Angel menampilkan wajahnya bersama sang suami. Malik juga tersenyum ke arah layar ponsel itu.


“Senangnya, lihat kalian bersama.” Kata Ella.


Angel tersenyum dan membentuk ‘love’ pada jari telunjuk dan ibu jarinya.


“Ini semua berkat Bi Ella dn Enin. Makasih ya.”


“Enin sehat?” Tanya Malik.


“Sehat. Jaga cucu Enin ya, Lik. Awas kalau kamu sakitin, Angel akan Enin bawa pergi jauh.”


“Jangan dong, Nin! Itu sama aja Enin bunuh Malik.”


Angel tertawa. Di sana, Ella dan Enin pun tertawa.


“Ya sudah, kalian lanjutkan belanjanya.” Kata Enin dan di angguki Ella.


“Kapan waktu, kalian ke sini ya.” Ucap Ella.


“Siap, Bi.” Jawab Angel.


“Oke.” Malik mengangkat ibu jarinya.


Lalu, Angel mematikan panggilan telepon itu dan memasukan ponselnya kembali ke dalam tas. Mereka menelusuri area supermarket itu dan membeli kebutuhan yang di perlukan.


Angel berhenti di area jejeran pembalut wanita. Ia pun mengambil satu yang berukuran besar.


“Buat apa beli ini?” Tanya Malik sembari mengangkat bungkus pembalut itu.


“Buat aku kalau nanti datang bulan.” Jawab Angel santai.


“Semoga bulan depan kamu udah ga datang bulan, Bee.”


Angel menggeleng. “Sepertinya masih datang, kak. Karena minggu ini masa tidak suburku. Mungkin minggu depan tamunya sudah datang atau beberapa hari lagi.”

__ADS_1


“Berarti beberapa hari lagi aku harus puasa? Oh, No.” Ucap malik lemas.


Angel tertawa melihat ekspresi suaminya. Mungkin memang seperti itu ekspresi para suami yang malas menunggu para istri yang akan memasuki masa periodenya.


Setelah beberapa jam berada di mall itu dan membeli semua keperluan yang di butuhkan, mereka pulang. Angel dan Malik sampai di rumah sesaat sebelum adzan magrib berkumandang.


Angel langsung merapihkan barang-barang yang ia beli tadi ke tempatnya. Lalu, ia beralih ke kamar. ia menyiapkan pakaian tidur suaminya. Tak lama kemudian, Malik keluar dari kamar mandi. Malik hanya melilitkan handuknya di pinggang, menampilkan dadanya yang bidang dan rambutnya yang basah hingga mengalir di dada itu.


Angel pun menghampiri suaminya.


“Sayang, aku udah siapin baju kamu, nih.”


Malik menerima pakaian itu. “Makasih, Bee.’


Lalu, Angel menangkup wajah Malik dan mencium bibirnya. Mungkin karena hormon Angel yang akan datang bulan, membuatnya bernafsu ketika melihat suaminya yang sedang bertelanjang dada.


Angel aktif ******* bibi suaminya. Malik menerima pangutan itu dan memegang pinggang Angel.


“Mmpphh.” Angel melepas pangutan itu dengan nafas terengah-engah.


Malik tersenyum, melihat istrinya yang agresif mencium bibirnya dengan brutal.


“Tadi di mobil aku janji memberimu ciuman.”


Malik tertawa. “Tapi kurang.”


Kini Malik yang memangut lebih dulu bibir itu. Cumbuan panaspun terjadi. Sesaat sebelum Malik melakukan penyatuan, terdengar suara adzan maghrib. Ia pun tidak jadi menenggelamkan miliknya ke dalam tubuh sang istri dan lebih memilih membaringkan tubuhnya ke samping dengan nafas memburu.


“Kak, kok ga jadi?” Tanya Angel kesal, pasalnya baru saja ia akan sampai pertama kali.


Angel tersipu malu dan bangkit. “Ya udah, aku mandi dulu.”


Dengan cepat, Malik menahan tangan istrinya. “Nanti sambung lagi habis maghrib.”


Angel mengangguk.


“Bee, aku suka kamu yang seperti ini.” Kata Malik sesaat sebelum Angel berlalu meninggalkannya sembari mengedipkan matanya.


Angel tersenyum lebar dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Malik ingat, sewaktu mereka masih berstatus pacaran, Angel memang pasif. Namun, wanita itu juga tidak menolak, jika Malik menyentuhnya. Tapi sekarang, Angel terlihat berbeda. Ia lebih agresif dan aktif, apalagi saat di ranjang, membuat Malik selalu menginginkan istrinya itu.


Malik menggelengkan kepalanya, mengingat sikap Angel yang membuatnya selalu mencintai wanita itu dan menggilai tubuhnya.


****


Setelah makan malam, Angel serius di depan laptopnya. Sedangkan Malik asyik menonton televisi dan duduk persis di samping Angel. Sesekali Malik melirik ke arah Angel yang sangat serius hingga tak mengeluarkan suaranya.


“Bee, masih lama?” Tanya Malik.


“Iya, Kak. Sebentar.” Angel masih fokus pada laptopnya, ia lupa belum membuat bahan ajar untuk hari pertama mengajar besok.

__ADS_1


“Aku harus buat ini, Kak. Kalau enggak bisa mati gaya di depan kelas.” Ucap Angel lagi.


Setu jam berlalu. Malik sudah mondar mandir ke dapur dan ke kamar lagi dengan membawa banyak camilan.


“Bee bosen nih.” Malik mendekatkan tubuhnya pada Angel.


Ia menelusuri leher jenjang Angel yang terbuka karena rambutnya yang di gelung ke atas. Dan, seperti biasa, Angel kembali mengenakan pakaian tidur yang sexy dengan satu tali di bahunya.


Perlahan Malik membuka satu tali di bahu itu dengan mulutnya. Ia pun memainkan bibirnya di area itu sembari menggigit-gigit kecil.


“Ah, Kak. Sebentar, dikit lagi." Ucap Angel sambil tangannya menari di keybord laptop itu dengan pandangan ke layarnya.


Namun, Malik tak kehabisan akal. Tangannya pun mulai meraba paha dan bagian sensitifnya.


“Kak.”


“Tadi kan belum di lanjutin.” Kata Malik merajuk.


“Salah sendiri, tadi kamu yang berhenti.” Jawab Angel tersenyum dengan mata yang masih tertuju pada layar laptopnya.


“Tadi kan adzan, Bee.”


Angel pun menoleh ke arah suaminya dan menangkup wajahnya.


“Iya, Sayang. aku seneng kamu udah berubah.” Ia tersenyum manis dan mengecup bibir Malik sekilas.


“Sebentar lagi ya, sebentar lagi. Ini udah hampir selesai.” Ucap Angel lagi.


Namun, Malik menghiraukan perkataan istrinya. Ia tetap memainkan tubuh itu, walau si pemiliknya sedang fokus mengerjakan hal lain.


“Kak, Hmm..” Sesekali Angel melenguh saat Malik melesatkan jarinya di titik-titik sensitif itu.


“Selesai.” Angel menutup laptopnya.


“Ga sabaran banget sih, kamu. Heh..” Angel menggelitiki pinggang suaminya, hingga Malik kegelian dan tertawa.


“Bee..”


“Biarin, abis ngeselin. Dari tadi tangannya ga bisa diem.” Angel terus menggelitiki pinggang Malik.


“Bee.. udah.” Malik berusaha menahan lengan istrinya dengan tawa menggema.


“Ngga.” Angel tetap berusaha menggelitiki suaminya dengan semangat.


“Oke.” Malik bangkit dan langsung mengendong Angel seperti karung beras.


“Kak.” Angel berteriak sambil.tertaea dan memukul punggung suaminya.


Tubuh Angel di banting pelan ke ranjang dan Malik menindihnya.


“Sekarang giliran kamu yang aku buat kegelian. Siap-siap ya!” Ucap Malik dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Aaaa..." Angel tertawa kegelian saat Malik baru menelusuri lehernya.


Malik terus melakukan aksinya. Ia mencumbui Angel tanpa ampun, ******* bibir itu dengan rakus, hingga Angel berteriak sambil menyebut nama suaminya. Malik tersenyum, lalu melanjutkan aksinya lebih dalam dengan sebuah penyatuan yang tiada tara rasanya. Mereka pun saling memberi kenikmatan, melakukan gaya apapun untuk mendapatkan kepuasan masing-masing.


__ADS_2