
Sore harinya, Malik bermain catur dengan Hendra di teras taman belakang. Sengaja Malik ingin mendekatkan dirinya pada ayah Angel. Dengan susah payah, ia mengajak Hendra bermain catur. Akhirnya Hendra mau juga.
“Skak.” Kata Malik.
Hendra mengeryitkan dahinya. “Selain nakal, ternyata kamu cukup pintar.”
Malik tersenyum dan berkata dalam hati, “aku juga cukup pintar mengambil hati putrimu, yah.”
“Boleh saya memanggil om dengan sebutan ayah?” Tanya Malik.
Hendra tersenyum dan mengangguk.
“Sebelumnya, saya meminta maaf karena dulu saya selalu buat ayah kesal saat kita bertemu.” Kata Malik.
“Ya, kamu memang anak nakal.”
“Kalau ayah punya menantu anak nakal sepertiku, apa setuju?” Tanya Malik tiba-tiba.
“Maksudmu?” Hendra kembali bertanya dan menghentikan aktifitasnya.
“Tidak maksud saya, Saya hanya bertanya pada ayah yang memiliki anak perempuan. Setidaknya ketika saya nanti melamar anak perempuan orang. saya jadi tahu respon ayahnya terhadap saya. Hitung-hitung belajar melamar dan ceritanya ayah adalah ayahnya.”
Hendra kembali meneruskan aktifitasnya. “Skak.”
“Memang kamu sudah punya calon?” Tanya Hendra.
“Sudah.” Malik mengangguk.
“Kebetulan, ayahnya pun menganggpku anak nakal, karena ternyata kami saling kenal sejak SMA.” Kata Malik lagi, sembari mengambil satu pion kuda milik Hendra.
“Skak.” Kata Malik yang pion kudanya berada dua garis di depan ratu milik Hendra.
Hendra menarik nafasnya kasar.
“Tapi itu kan dulu, kamu sekarang sudah menjadi pengusaha sukses bukan?” Sambung Hendra.
David memang memberikan Malik satu perusahaan cabang di Jogya sebagai wujud terima kasih David atas dedikasi asisten pribadinya itu yang tak kenal lelah mengurus perusahaannya dengan baik dan menjadi besar di sini.
“Jadi? Ayah menerima jika memiliki menantu sepertiku?” Tanya Malik ambigu.
Hendra mengangguk. “Kenapa tidak? Masa kecil buruk belum tentu ketika besar akan menjadi buruk bukan? Lagi pula seorang pria itu butuh keluarga yang akan menjadikan hidupnya berarti. Biasanya ketika remajanya bandel, setelah menikah akan setia pada pasangan.”
Malik mengangguk. “Benar sekali, Yah.”
“Satu lagi, apa ayah merasa Angel dan Adrian bahagia?” Tanya Malik.
“Maksudnya?”
“Tidak ada. Hanya saja, saya tahu betul bagaimana Adrian mencintai almarhumah istrinya dulu. Saya cukup kaget, Adrian mau menikah lagi, karena setahu saya Adrian berjanji pada istrinya untuk tidak menikah lagi.”
“Begitukah? Ayah tidak pernah tahu itu. Bahkan Radit tidak pernah mengatakan itu.” Hendra menatap mata Malik.
Malik mengangkat bahunya. “Tidak tahu juga sih, Yah. tapi yang aku tahu dulu seperti itu. Mungkin Ayah harus lebih sering menginap di sini dan melihat apa putri ayah bahagia?”
“Ayah kalah.” Kata Malik lagi, saat ia memakan raja milik Hendra.
__ADS_1
Hendra masih duduk mematung. Ia mencerna semua perkataan Malik. Hendra tahu betul kedekatan Adrian dan Malik, mereka seperti kakak adik. Pastinya Malik tahu banyak tentang perasaan Adrian pada putrinya. Lalu, Malik membereskan permainan itu.
“Mau saya buatkan teh hangat, Yah?” Tanya Malik.
Hendra mengangguk. “terima kasih.” Ia menepuk pundak Malik yang akan beranjak mennuju dapur.
Di dapur, ia melihat Angel yang tengah memasak sendirian, karena Enin sedaang berada di taman bersama Alika dan Fariz, sementara Adrian masih memebersihkan diri di kamar dan si Bibi juga berada di kamarnya sedang menjalankan ibadah sholat ashar.
“Hai cantik.” Malik berbisik di telinga Angel.
Angel lamgsung membulatkan matanya.
“Jangan marah, Bee. Aku semakin tidak kuat kalau lihat kamu ngambek.” Kata Maik lagi.
“Kak.”
“Iya, aku ke sinni hanya ingin membuatkan teh hangat untuk ayahmu.”
“Kamu bicara apa pada ayah? Jangan bicara macam-macam, ayahku punya penyakit jantung.” Ucap Angel.
“Tidak ada. Aku hanya ingin ia tahu bagaimana perlakuan Adrian padamu selama ini.”
Adrian menuruni anak tangga dan melihat Malik yang tengah berbincang dengan istrinya. Angel langsung memberi jarak pada Malik, setelah mendengar langkah kaki dari tangga.
“Kalian cepat akrab.” Kata Adrian pada Malik dan Angel.
“Ya, istrimu supel dan mudah bergaul.” Sahut Malik.
Adrian tersenyum. Entah mengapa Angel tidak pernah bisa supel padanya.
“Gue ke sana, bang.” Ia menunjuk Hendra yang tengah duduk di teras taman belakang.
“Kalian berbincang apa? Serius banget.” Tanya Adrian yang berada di belakang Angel.
Seketika, tubuh Angel menegang, karena tak biasa mereka sedekat ini.
“Oh, tadi kak Malik tanya aku kuliah di mana dan ambil jurusan apa. Jadi kami bebincang tentang tesisku.”
“Oh.” Jawab Adrian yang sedikit cemburu, melihat Malik yang langsung bisa dekat dengan istrinya. Ia sadari ketidak dekatan dirinya dengan sang istri itu pun terjadi karena sikapnya yang selalu membatasi diri. Kini saatnya ia memulai untuk bisa dekat dengan Angel.
****
Semua keluarga duduk bersama untuk menikmati makan malam. Hendra, Enin, Malik, Angel, Adrian, dan kedua anaknya ada di sana. Suara riuh Alika dan Fariz menghiasi suasana makan malam itu.
“Alika, jangan berebut!” Kata Adrian memeperingatkan, saat keduanya meminta ayam goreng bagian paha.
“Tidak ada lagi bagian pahanya, Bun?” Tanya Alika.
“Tidak ada sayang. Ini saja, ini sama walau pun bukan bagian paha tapi tetap enak.” Jawab Angel yang mencuil kecil-kecil daging itu.
Lalu, Alika memakannya. Malik melihat Angel yang dengan lembut dan penuh keibuan mengurus Alika dan Fariz. Ia membayangkan ketika Angel melahirkan anak-anak untuknya dan berada dalam keadaan seperti ini. Malik tersenyum.
Adrian menatap Malik yang tengah tersenyum. “Kenapa lu senyum-senyum?”
“Ah, ngga. Gue ngebayangin punya keluarga.” Jawab Malik.
__ADS_1
“Makanya nikah.” Sahut Adrian.
“Sebentar lagi.”
“Lu udah punya pacar?” Tanya Adrian lagi.
Sontak Angel menunduk dan memasuki makanan ke mulutnya perlahan.
“Udah lah.”
“Siapa?” Tanya Adrian penasaran, karena Malik tidak pernah dekat serius dengan wanita.
“Ada deh.” Jawab Malik santai sembari memasukkan makanannya.
“Dasar lelaki misterius.” Ledek Adrian.
Selesai makan malam, Angel memilih ke kamar Alika. Ia ingin melanjutkan pengetikan tugas akhir kuliahnya. Namun, tiba-tiba Adrian masuk ke kamar itu.
“Angel, ada yang ingin aku bicarakan.” Adrian menarik kursi dan duduk persis di samping Angel yang duduk di meja belajar Alika.
“Aku benar-benar ingin kita memulai lagi semuanya dari awal. Maaf kalau aku banyak salah padamu. Aku minta maaf. Mulailah tidur di kamarku. Aku ingin kita selayaknya sebagai suami istri. Aku sudah bisa menerimamu apa adanya.” Adrian menggenggam tangan Angel. Ia terus berkata.
“Empat hari tanpamu di sini, membuatku cukup merasakan ada yang hilang. Aku juga tidak bisa menghubungimu karena ponselmu tidak pernah aktif.”
“Ya, aku lupa membawa charger.” Jawab Angel.
“Ya, aku mengerti. Tidak apa.”
Keduanya terdiam.
“Bagaimana?” Tanya Adrian lagi.
“Ah, bagaimana apa?” Angel malah balik bertanya. Ia tidak fokus dengan semua perkataan Adrian, karena ia memikirkan Malik, pria yang selama emapt hari ada untuknya.
“Tentang kita. Aku ingin kamu mulai tidur di kamarku.”
“Tapi bagaimana dengan janjimu pada almarhumah mbak Alya?” Tanya Angel.
Adrian kembali menarik tangannya. ia pun masih bingung.
“Mas, apa bisa kita berpisah?” Tanya Angel membuat Adrian terkejut.
Adrian menggelengkan kepalanya. “Anak-anak membutuhkanmu, Angel. Dan, aku juga.”
“Mulai sekarang kita akan belajar untuk saling mencintai.” Adrian kembali menggenggam kedua tangan Angel. Kali ini ia memang harus mengambil keputusan.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Malik sengaja berdiri di sana dan mendengar percakapan itu. Seketika tubuhnya melemah, saat mendengar perbincangan terakhir wanita yang ia cintai itu. Apakah ia masih memiliki harapan untuk bersatu dengan Angel?
Malik tak kuasa, ia sedih. apalagi Adrian kini sudah mulai mencintai wanitanya dan mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan gontai meninggalkan pemandangan yang tak sedap di pandang, karena Adrian tengah memeluk Angel.
Malik terus merutuki kebodohannya. Ia menyesal mengapa dulu, ia tak pernah serius untuk menikahi Angel, padahal wanita itu selalu memintanya. Sekarang justru ia yang ingin menikahi Angel, tapi keadaan tak berpihak padanya.
“Malik, kamu kenapa?” Tanya Hendra yang melihat Malik melewatinya dan menghiraukan keberadaannya.
“Dasar anak nakal.” Gumam Hendra yang merasa di acuhkan oleh Malik.
__ADS_1