Melanggar Janji

Melanggar Janji
yang penting kamu bahagia


__ADS_3

Di rumah, Adrian menatap terus ponselnya. Ia menunggu Angel meberinya kabar mala mini. Namun, ponselnya tak memberikan satu notifikasi pun dari nama yang kini tengah ia harapkan.


Adrian keluar dari kamarnya. Kakinya melangkah menuju kamar Alika, ia melihat putrinya yang sudah terlelap dengan memeluk boneka besarnya. Lalu, ia beralih ke kamar Fariz, di sana ia pun melihat putranya yang sudah terlelap. Ia baru merasakan ada yang kurang di rumah ini, yaitu kehadiran Angel. Biasanya ia melihat tubuh Angel yang juga berbaring di salah satu kamar anaknya itu.


Kamudian, Adrian beralih ke dapur untuk mengisi air mineral ke dalam botol khusus miliknya.


“Bi, ada kabar dari Angel?” Tanya Adrian yang kebetulan berpapasan dengan si Bibi.


“Tidak, Pak.”


“Oh.” Jawab Adrian sembari mengisi botol minumannya.


“Telepon donk, Pak.” Si Bibi memberi saran.


Adrian hanya terdiam dan mengangguk. Lalu, ia pun kembali menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia langsung membaringkan tubuh di tempat tidur dan kembali menatap layar ponsel itu. Ia menyimpan nomor ponsel Angel, tapi hingga dua tahun bersama, menelepon istrinya bisa di hitung dengan jari.


Adrian coba mendial nomor Angel. Namun, beberapa saat kemudian, ia menghapusnya.


“Sudahlah, besok pagi saja. Dia mungkin sudah tidur.” Gumam Adrian.


Di apartemen Angel, ia sengaja menonaktifkan ponselnya sejak sampai di tempat itu. Memang dari awal, Angel ingin istirahat dan sendiri tanpa ada gangguan dari apapun.


Angel membuka matanya. Seharian ia hanya tidur dan tidur. Mungkin karena efek obat yang ia minum. Dengan keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar, Angel mengedarkan pandangannya. Ia tak melihat siapapun di kamar ini. Lalu ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


Malik menepati janjinya. Ia tak tidur di kamar ini, sepertinya pria itu tidur di sofa yang berada di ruang televisi.


Perlahan Angel bangun menuju kamar mandi. Ia ingin buang air kecil. Tangannya coba meraba nakas, agar bisa berdiri tegak. Namun, kepalanya masih agak berat.


Prang


Angel menumpahkan sisa makanan yang Malik beli sepulang dari apotik sore tadi. Makanan berkuah itu tumpah dan berserakan di lantai, untuk saja piringnya bukan terbuat dari bahan yang mudah pecah.


Seketika, Malik yang sedang berada di ruang televisi pun langsung berlari ke kamar Angel.


“Bee.. kamu tidak apa-apa?” Tanya Malik yang langsung mendekati Angel dan melihat makanan yang berantakan di lantai itu.


“Maaf, Kak. Aku menumpahkan itu.” Kata Angel.


“Tidak, apa. Biar nanti aku bersihkan. Kamu mau kemana?”


“Aku mau ke kamar mandi, mau pipis.” JAwab Angel malu.

__ADS_1


Sontak, Malik langsung menggendong Angel dan membawanya ke kamar mandi. Ia mendudukkan Angel di kloset, lalu keluar.


“Nanti kalau sudah selesai, panggil aku.” Kata Malik sebelum menutup pintu kamar mandi itu.


Angel mengangguk dan tersenyum.


Malik ke dapur dan mengambil alat pel untuk membersihkan lantai di kamar Angel. Setelah lantai itu kembali bersih, suara Angel terdengar memanggil.


“Kak.”


“Kak.”


“Iya, tunggu sebentar.” Malik menaruh kembali alat pel itu ke tempatnya dan segera menghampiri Angel yang sudah dua kali memanggilnya.


“Sudah?” Tanya Malik saat ia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Sudah.”


Malik membuka pintu itu perlahan, lalu menghampiri Angel yang sedang duduk di kloset duduk yang tertutup itu. Kemudian, Malik kembali menggendong Angel ke tempat tidur. Angel tersenyum memandang Malik yang begitu tulus mengurusnya yang sedang sakit. Malik pun membalas senyum itu.


“Kalau nanti mau ke kamar mandi, panggil aku. Aku ada di luar.” Kata Malik, setelah ia membaringkan Angel di tempat tidur itu.


“Sudah ku bilang, aku tidak merasa di repotkan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan selalu menjagamu.”


Angel tersenyum. “Terima kasih.”


“Sama-sama.”


“Oh ya, itu judul tesismu tentang study kebijakan upah minimum dalam pelaksanaan otonomi daerah di Jawa Tengah?” Tanya Malik.


“Iya, kakak buka laptopku?” Angel balik bertanya.


“Maaf, aku hanya ingin bantu kamu. Kebetulan dulu, aku juga menggunakan judul yang sama, walau agak sedikit beda. Tapi mirip-mirip lah, jadi aku tau betul.”


“Oh, ya?” Tanya Angel sumringah.


“Iya.” Jawab Malik.


“Bisa kebetulan gitu ya?” Tanya Angel bingung.


“He em.. hidup kita dekat dengan kata kebetulan. Ayahmu sahabat Om Radit, kalian memang dari kecil sudah di jodohkan. Tapi Adrian punya kekasih dan tidak mau di jodohkan. Aku ingat betul saat Om Radit dan Tante Dila menetang Ardian ketika dia ingin melamar kekasihnya. Dan, aku beberapa kali bertemu dengan ayahmu, selalu dalam image yang tidak baik.” Kata Malik sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Kita seperti di permainkan takdir.” Ucap Angel yang mendunduk dan memainkan jemarinya.


“ini semua karena aku. Aku terlalu bodoh, padahal Sir David selalu mengingatkanku. Dan, dia benar. Aku menyesal.” Malik menarik nafasnya kasar.


“Sekarang aku akan menebusnya. Entah bagaimana caranya kita kembali bersatu? Yang penting saat ini adalah kamu bahagia, di manapun kamu berada, kamu harus bahagia. Kalau pun kamu merasa menderita, aku akan ada untukmu berbagi derita itu. Hm..” kata Malik lagi meyakinkan Angel bahwa dirinya tak sendiri.


Angek yang masih menunduk, tiba-tiba mengangkat tangannya dan mengapus air yang jatuh di pipinya.


“Hey, kenapa menangis?” Tanya Malik.


Namun, Angel hanya menggelengkan kepalanya.


Malik mendekatkan wajahnya pada Angel. Ia pun ikut menghapus airmata itu.


“Istirahatlah! tidak usah terlalu banyak berfikir. Mudah-mudahan semua akan berjalan dengan baik. Oke.”


Angel tersenyum dan menengadahkan kepalanya. Ia menatap wajah Malik, hingga keduanya bertatapan tanpa jarak


“Terima kasih, Kak.”


Malik pun menatap wajah cantik itu. Sungguh, jika Angel masih berstatus kekasihnya. Ia akan mencium bibir merah Angel. ******* habis bibir itu, hingga Angel kehabisan oksigen dan memukul dadanya. Namun, ia masih waras. Ia tak akan mengikuti imajinasi liarnya. Ia menggelengkan kepala, agar kembali tersadar.


“Kamu kenapa, Kak?” Tanya Angel saat melihat Malik yang aneh.


“Hah, ga apa-apa.”


Angel terenyum. “Pasti kamu lagi ngebayangin yang enga-engga deh.” Ucap Angel yang sangat memahami mantan kekasihnya.


Malik mengangguk. “Sepertinya kalau aku lama-lama di kamar ini, akan tidak baik untukmu.”


Angel kembali tersenyum.


Mereka tahu bahwa perasaan mereka masih sama, masih saling mencintai seperti dulu. Walau kini, status yang memberi jarak pada mereka dan mereka sadar itu, hingga membuat kedekatan ini terasa canggung. Entahlah ini di sebut sebuah perselingkuhan atau tidak? Yang pasti kebersamaan ini membuat rasa aman bagi Angel, ia tak lagi merasa sendirian, karena Malik bukan hanya pria yang ia cintai sebagai kekasihnya dulu. Namun, kini Malik bisa di andalkan seperti seorang kakak yang menjaga adiknya.


“Ya sudah, istirahat lagi.” Kata Malik sembari menarik selimut dan menutup tubuh Angel.


Ia juga mengecup kening wanita itu, saat selimut itu sudah menutupi hampir seluruh tubuh Angel.


Angel mengangguk. Lalu, Malik mematikan lampu kamar itu dan keluar dari sana. Ia menutup perlahan pintu kamar itu dan kembali menuju ruang televisi.


Malik kembali duduk di depan laptop Angel dan mencari beberapa bahan yang di butuhkan untuk membuat tugas akhir pada pendidikan Angel, agar ia segera lulus. Tak terasa, Malik berada di depan laptop itu hingga pukul dua malam. Ia pun menangkup kedua tangannya ke atas meja dan merebahkan kepalanya di sana.

__ADS_1


__ADS_2