
"Bee. Hawa sepertinya pup nih. Aromanya ngga enak” Ucap Malik sembari berdiri dan menggendong Hawa menghadap depan.
Sementara, Angel tengah merapihkan Adam yang baru selesai mandi pagi. Sejak ada baby twins, kamar mereka mendadak menjadi ramai. Namun, ini adalah hal yang sangat menyasyikan untuk Malik dan Angel. Mereka sangat menikmati perannya menjadi orang tua. Malik pun suami yang bisa di andalkan, karena dia mau berbagi tugas untuk menjaga dan mengurus Adam Hawa.
Angel sengaja tidak mempekerjakan baby sitter. Ia ingin mengurus kedua buah hatinya sendiri, walau Malik selalu menawarkan seorang pengasuh untuk membantu Angel, tapi Angel tetap menolak. Padahal Malik hanya tidak ingin istrinya kelelahan.
Angel yang sedang berada di atas tempat tidur sambil memakaikan Adama pakaian pun menoleh ke arah Malik yang sedang berdiri. Ia tersenyum.
“Sebentar, ya! Setelah ini, aku mandikan Hawa.”
Usia Adam dan Hawa baru memasuki dua bulan pada hari kemarin. Baby twins itu makin terlihat berisi, pipi yang bulat dan betis kaki yang bulat, membuat semua orang gemas ingin menggigitnya.
“Nah, Adam udah ganteng.” Angel mengangkat putranya ke atas dan menyerahkan pada Malik.
“Adama sama Ayah ya.”
“Iya, Bunda.” Jawab Malik.
Mereka bertukar, Malik menyerahkan Hawa dan menerima Adama. Sedangkan Angel menyerahkan Adama dan menerima Hawa dalam gendongannya.
“Hmm.. iya nih, aromanya sedep banget ya Hawa.” Ucap Angel tertawa. Malik pun ikut tertawa.
“Hawa kalau di gending kamu, selalu pup.” Kata Angel lagi sambil tersenyum ke arah suaminya.
“Berarti, dia betah sama aku, Bee.”
Angel mengangguk. “ya, sepertinya Hawa akan lebih dekat nantinya denganmu.”
“Emang gitu?” Tanya Malik.
“Katanya sih gitu.” Angel tertawa dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia mulai membersihkan tubuh mungil Hawa di sana.
Sedangkan Malik bermain bersama Adam di sofa. Malik menyukai aroma minyak telon yang di bubuhkan pada tubuh kedua anaknya.
Tak lama kemudian, Angel keluar dari kamar mandi dan membawa Hawa ke ata stempat tidur. ia pun memakaikan Hawa pakaian dengan telaten.
“Bee.” Panggil Malik yang masih duduk di sofa bersama Adam di pangkuannya.
“Hmm.” Jawab Angel tanpa menoleh ke arah Malik, karena ia masih tanggung memakaikan Hawa pakaian.
“Kamu ngga capek?” Tanya Malik yang sudah berdiri dan hendak mendekati istrinya di sana.
“Ngga, Kak. Aku seneng kok. Seneng banget.” Angel tersenyum ke arah Malik yang sudah duduk di sampingnya.
Malik meletakkan Adam di samping hawa. Kedua anak mereka tengah aktif menggigit tangan dan menggerakkan kedua kakinya ke atas.
Malik mendekatkan tubuhnya pada Angel dan menangkup wajahnya. “Aku ngga mau lihat kamu sakit karena kelelahan.”
Angel menangkap tangan Malik yang berada di pipinya, lalu mencium tangan itu.
“Aku ngga lelah kok. Beneran deh. Lagi pula semua pekerjaan rumah sudah di pegang Bi Neneng. Aku Cuma mengurus mereka. Yah.” Angel tertawa pada kedua anaknya yang tengah berbaring di hadapannya.
Malik pun melakukan hal yang sama. Ia menatap kedua buah hatinya yang sedang tertawa bersama Angel. Ia memeluk pinggang Angel sambil mengajak Adam dan Hawa bicara, walau kedua buah hatinya belum b isa bicara, hanya bisa tertawa dan menampilkan gusinya.
Malik dan Angel masih tinggal di Jogja dan rencananya malam ini, mereka akan menyambut tamu istimewa.
“Kak, nanti malam Pak David dan keluarganya jadi ke sini kan? Aku udah beli bahan makanan untuk makan malam nanti.”
“Sepertinya jadi. Malah sudah dari kemarin Pak David dan keluarganya ada di sini.”
“Oh. Syukurlah.”
Tiba-tiba Adam menangis.
“Bee, sepertinya Adam haus.” Kata Malik.
“Iya, Adam emang ngga pernah kenyang nih.” Ucap Angel dengan nada seperti anak kecil pada putranya.
Angel mengangkat Adam dan mulai menyusui. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan mulai membuka kancing kemejanya. Angel memang hanya menggunakan kemeja tanpa lengan dan tanpa memakai pakaian bawahan.
Malik yang melihat istrinya menyusi itu pun hanya bisa menelan ludahnya.
“Hmm, kamu enak banget sih, Dam.” Malik mengusap pipi Adam dan ibu jarinya sengaja mengusap payudara Angel yang bulat.
“Modus deh.” Angel tersenyum ke arah suaminya.
__ADS_1
Malik memang selalu meremas payudara Angel, ketika ia akan menyusui.
“Aku mau juga dong, Bee.” Rengek Malik.
Angel tertawa. Pasalnya Malik merengek seperti anak kecil yang tidak kebagian makanan.
“Apaan sih, kamu.” Angel mencoba mendorong wajah Malik yang sengaja mendekati payudaranya yang terbuka.
“Sesak, Kak. Kasihan Adam kejepit.” Angel mendorong wajah Malik agar tidak terlalu menghimpit Adam yang sedang menyusui.
Sementara Hawa sedang asih bermain sendiri di box tempat tidurnya, karena Malik sudah memindahkan Hawa di sana saat Angel hendak mengambil posisi yang enak untuk menyusi Adam.
“Aku mau juga seperti Adam, Bee.”
Angel tertawa. “Iya, nanti.”
“Kamu tega, Bee. Dari kemarin nanti-nanti terus. Sudah lebih dari empat puluh hari loh. Sudah boleh kan?”
Malik masih duduk di samping Angel dan menelusuri punggung terbuka itu. ia pun tengah memeluk erat pinggang Angel yang masih menyusi Adam.
“Seharusnya sih udah. Tapi aku masih takut. Kak.”
“Coba nanti aku lihat lagi luka di perutmu.” Ucap Malik.
Angel tersenyum dan menoleh ke arah Malik. Ia menangkup pipi Malik yang menempel di pundaknya. “Emang nih ya, kamu kalau udah ada maunya. Ngga bisa di bilang ngga.”
Malik tersenyum dan kembali merengkuh pinggang istrinya dari samping. “Kangen, Bee. Kangen ada di sini kamu.” Ia mengelus-ngelus bagian bawah milik istrinya yang terbalut kain.
“Kak.” Sentuhan Malik memang selalu membuat angel berdesir.
Adam yang hanya melihat kedua orang tuanya berbincangmu, hanya mendelik karena bibirnya asyik mengemut put*ng sang ibu.
Kebetulan hari ini adalah hari libur. Seusai menyusi Adam dan hawa bergantian, Malik membawa Angel dan kedua buah hatinya ke toko kue terdekat. Angel ingin membelikan oleh-oleh makanan khas Jogja untuk istri mantan bosnya itu sebagai buah tangan sepulang dari rumahnya nanti. Sari memang telah lama berniat mengunjungi Malik dan menjenguk bayi kembarnya. Namun, David selalu sibuk dan baru hari ini, mereka bisa mewujudkan niatnya itu.
Sesampainya di toko kue, Malik mendorong stroler khusus untuk bayi kembar. Sementara Angel fokus memilih kue yang menurutnya enak. Sedikit banyak, Angel juga tahu makanan kesukaan mantan bos dan istrinya itu.
“Bee, jangan lupa beli ini. Bu sari sangat suka tiramisu.”
Angel mengangguk. Lalu, Malik meilih sendiri kue yang ia mau. Ia berjalan meninggalkan Angel sambil mendorong Adam dan Hawa. Baby twins yang menggemaskan mampu membuat semua yang melewati pun menoleh ke arah mereka dan ingin sekali menggoda. Di tambah pesona Malik yang tampan dan cool saat membawa kedua buah hatinya itu, pantas mendapatkan julukan hot daddy.
Angel tengah mencari sauminya. Ternyata Malik tengah berbincang bersama wanita yang juga sedang membawa stroler.
“Ini, cukup ya?” Tanya Angel tanpa menoleh ke arah wanita yang dari tadi mengajak suaminya berbincang, hingga terlihat akrab dan seru. Ia menunjukkan keranjang dengan berbagai aneka macam kue, dari kue tradisional sampai modern.
Malik mengangguk. “Cukup, Bee.”
“Ini istri saya.” Malik memperkenalkan Angel pada wanita itu. Namun, Angel hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu aku bayar, ya.” Angel hendak pamit pada Malik untuk ke kasir.
Malik pun mengangguk lagi.
Di kasir, arah mata Angel terus tertuju pada Malik dan ibu muda itu. perbincangan mereka terlihat akrab seperti wakan lama yang tidak pernah bertemu, bahkan Malik beberpa kali terlihat tertawa di sana. sepertinya, mereka berbincang seputar anak, karena sesekali Malik menyentuh pipi anak wanita itu yang brada di strolernya dan sebaliknya wanita itu pun sesekali menunduk untuk menyapa Adam dan Hawa yang berada di strolernya.
Angel membuang pandangannya. Mengapa hatinya langsung perih melihat suaminya berbincang pada wanita lain? padahal hal ini biasa. Ia pun tidak ingin terlihat posesive pada Malik.
Pada saat mengantri, Angel berjalan terlalu ke depan, hingga keranjangnya mengenai orang yang sedang berdiri di depannya.
“Ups, maaf.” Ucap Angel tersenyum ke arah pria itu. karena orang yang berdiri di depan Angel adalah seorang pria dan langsung menoleh ketika keranjang Angel menyentuh pinggang belakangnya.
“It’s oke.” Ternyata pria itu adalah bule yang pernah Angel temui di pesawat. Bule yang membuat Malik cemburu dan mencium Angel tepat di depan wajahnya.
Angel punhanya mengingat tampang itu sekilas, tapi ternyata bule itu masih mengingat Angel.
“Sepertinya kita pernah bertemu.” Pria bule itu berkata lagi. Bahas Indonesianya terbilang fasih, mengkin dia memang sudah lama tinggal di sini.
Angel tersenyum. “Mungkin wajahku banyak yang punya.”
“No, justru aku sangat mengenalimu karena wajahmu tidak banyak yang punya.”
Angel megeryitkan dahinya, karena bule ini seperti pria gombal yang sedang merayu wanita. Ia hanya tersenyum pada pria bule itu.
“Kamu ingin duluan.” Pria itu menwarkan Angel untuk menempati posisinya, agar Angel tidak mengantri lama.
“Tidak apa?” Tanya Angel meyakinkan.
__ADS_1
“It’s oke. Agar kamu tidak berdiri terlalu lama.”
Pria bule itu pun meminta temannya yang berdiri di depannya unttuk memberi Angel agar sampai lebih dulu di depan kasir.
“Silahkan.” Pria itu memberi jalan untuk Angel.
Angel semakin mengembangkan senyumnya. Ia tersenyum sangat manis pada pria bule itu. “Terima kasih.”
Di seberang sana, Malik melihat semua itu. Ia langsung berpamitan pada ibu muda di hadapannya dan segera menghampiri Angel.
“Sudah selesai?" Tanya Malik persis berdiri di samping Angel yang tengah berada di depan kasir dan hendak membayar belanjaannya.
“Iya sudah.” Jawab Angel sembari menerima kembalian dari kasir.
Angel tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada kasir lalu hendak berjalan keluar. Saat melewati pria bule itu, Angel kembali tersenyum ke arahnya.
“Thank you.” Angel membungkukkan sedikit tubuhnya.
“You’re welcome.” Pria bule itu pun membalas senyum manis Angel.
Malik menoleh ke arah Angel yang tak menoleh ke arahnya. Ia menatap sinis Angel yang berani tersenyum manis pada pria asing di depannya.
Di dalam mobil, keduaya hening. Tak ada suara tawa dan riang seperti saat mereka berangkat tadi. Angel menoleh ke arah Malik yang terlihat serius. Ia tahu, ada sesuatu yang membuat Malik terdiam. Ia juga sadar tadi ia sempat tersenyum manis pada pria bule itu di depan Malik, tapi ia memang harus berterima kasih karena tanpa bantuan dari pria bule itu, ia pasti masih mengantri dan berdiri lama.
“Kamu kenapa? Kok diam?” Tanya Angel pada Malik. Ia tidak ingin egois, karena jika menuruti egonya, mereka tidak akan bicara hingga sampai di rumah nanti.
“Kamu juga diam. Jadi aku diam.”
Angel menghelakan nafasnya. “Karena pria bule tadi?”
“Menurutmu?” Tanya Malik datar.
“Kak, dia tadi membantuku supaya ngga antri lama. Lagi pula aku juga ngga marah kamu berbincang sama ibu muda tadi. Udah ngobrolnya lama, ngga lihat-lihat ke arah aku yang lagi berdiri nunggu atrian yang panjang banget.” Ucap Angel dengan tatapan ke depan.
Malik menoleh ke arah istrinya. Ia melihat ekspresi Angel yang juga datar. Lalu kembali fokus menyetir.
“Tadi aturan kamu peka, kamu yang antri dan aku yang di sana ngobrol sama ibu muda itu. jadi kita ngga salah paham seperti ini.” Ucap Angel lagi dengan ekspresi yang sama.
Malik terdiam.
Lalu, mereka sampai di rumah dan Malik memarkirkan mobilnya. Angel keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam dengan belanjaan yang ia pegang. Sedangkan Malik keluar belakangan sambil membawa Adam dan Hawa. Malik membawa Adam dan Hawa ke kamar dan meletakkan mereka di box tempat tidur mereka masing-masing.
Kemudian, Malik kembali turun dan melihat istrinya sedang merapihkan makanan yang tadi di beli ke dalam lemari es.
“Iya deh, Maaf.” Ucap Malik lirih di telinga Angel dan memeluknya dari belakang.
“Maaf untuk apa?”
“Tadi katanya aku ngga peka.” Ucap Malik lagi.
Namun, Angel masih dengan ekspresi yang sama, dingin.
“Bee.” Panggil Malik.
“Kamu masih marah? Aku kan udah minta maaf.”
Lalu, Angel memutar tubuhnya. “Lagian ngapain sih pake ngobrol deket gitu sama ibu-ibu itu. emang kamu kenal?
Malik menggeleng. “Cuma ngomongin anak. Dia banyak tanya tentang bagaimana ngurus anak kemabr, karena katanya dia ingin sekali punya anak kembar.”
Angel tetap merengut.
“Hei, kamu cemburu?” Tanya Malik tersenyum. Ia suka melihat istrinya cemburu, karena Malik tak pernah melihat ekspresi seeprti ini dari wajah Angel.
“Tau ah.” Angel membalikkan lagi tubuhnya dan menghadap kitchen set.
“Aku suka kamu cemburu.” Lirih suara Malik di telinga Angel karena ia kembali memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Nanti jadi kan?” Tanya Malik ambigu sambil tangannya bergerilya di bawah tubuh Angel dan mengelus bagian sensitif itu.
Angel membalikkan tubuhnya dan melonggarkan pelukan suaminya. “Ngga, udah ga mood.”
Angel berjalan meninggalkan Malik.
“Bee, tega banget kamu.”
__ADS_1
“Bee.” Malik mengejar langkah kaki Angel.
Padahal Angelpun tak bersungguh-sungguh. Di balik itu ia pun tertawa. Senang rasanya mengerjai suami yang lama tak menyentuh istrinya.