
Di Jakarta, Tomy seperti orang yang tidak lagi punya warna dalam hidup. Ia lebih memfokuskan dirinya untuk bekerja. Ia jarang pulang dan sering menginap di kantor. Hal itu pun yang membuat kedua temannya merasa prihatin. Tomy dan kedua sahabatnya ini sangat dekat, hingga membuat usaha periklanan bersama. Kedua sahabat Tomy tahu betul apa yang tengah menimpa sahabatnya.
“Tom, pulanglah. Kasihan Diva. Biar gimana pun dia juga istri lu dan lagi mengandung anak lu. Dia butuh perhatian lu, Tom.” Kata salah seorang sahabat Tomy.
Tomy hanya diam. Bayangan Farah bersama Adrian masih lekat dalam ingatannya. Mungkin sakit hati ini yang di rasakan Farah saat ia bersama Diva.
“Gue udah ceraikan Farah.” Kata Tomy pada sahabatnya.
“Semoga ini yang terbaik, Tom.”
Tomy mengangguk, walau di hatinya ia masih tidak menginginkan perceraian ini. Namun, mngingat lagi kata-kata Farah yang sudah tidak lagi mencintainya, membuat ia harus mengambil keputusan ini.
Di rumah, Tomy pun seperti mayat hidup. Ia tak pernah mengeluarkan suaranya. Hanya ada anggukan atau gelengan kepala, saat Diva menanyakan sesuatu.
“Mas, anak kamu minta di elus nih.” Ucap Diva saat Tomy tengah duduk di ruang televisi.
Tomy mendekat dan memegang perut istri keduanya yang belum begitu besar. Ia mengelus perut itu tanpa ekspresi, arah pandangan matanya hanya tertuju pada televisi.
Diva menghelakan nafasnya. Awalnya ia sangat senang dengan berita bahwa suaminya menggugat cerai istri pertamanya itu. Ia mengira bahwa dirinya adalah pemenang, karena telah berhasil mengandung buah hati Tomy dan menyingkirkan istri pertamanya. Diva mengira setelah ini ia dan Tomy akan hidup bahagia tanpa ada gangguan dari orang ketiga. Nyatanya, semua di luar ekspektasinya. Tomy justru semakin jauh darinya.
Di rumah sakit, Adrian dan farah tidak sering bertemu. Sekali pun bertemu mereka justru terlihat canggung. Biasanya, Farah selalu menggoda Adrian, tapi kini ia lebih sering menghindar.
“Yan, dokter Farah tuh.” Ucap Bayu saat melihat Farah yang berdiri di kasir.
Adrian tengah makan di sana bersama Egy dan Bayu.
“Terus mau ngapain?” Tanya Adrian.
“Ya lu, tegor kek. Diem aja lu, kaya orang-orangan sawah.” Jawab Bayu.
“Eh dia nengok ke sini.” Kata Egy.
“Eh tapi tumben loh, gue liat Farah ga se ceriwis dulu. Biasanya kalo dia ketemu lu, lu langsung di godain, Yan.” Kata Egy lagi.
“Wah udah bosen kali dia sama lu, Yan.” Jawab Bayu.
“Lu sih ga ada gregetnya jadi laki.” Celetuk Egy.
__ADS_1
Kedua sahabatnya ini saling berceloteh, sementara Adrian hanya diam.
“Dia udah mau cerai, Yan. Besok katanya sidang penentuan cerainya.” Kata Bayu.
Adrian tertawa. “Lu update banget.”
“Yah gue, kalo sama dokter yang bening pasti tau infonya.”
“Dasar.” Cibir Egy, sementara Adrian hanya menggelengkan kepala.
“Yan, kalo lu kaga buru-buru deketin doi. Gue tikung nih.” Kata Bayu lagi.
“Udah, kasih Adrian cewek, Bay. Jangan lu mulu yang embat.” Ledek Egy.
“Abis, si Iyan mah kelamaan. Liat Yan, dokter Farah tuh body nya waw banget. Dari tampangnya aja gue tau dia sebenernya kuat di ranjang.” Bayu melirik ke arah Farah yang masih berdiri antre di kasir.
Adrian pun mengikuti arah mata sahabatnya. Kalau di pikir-pikir memang yang di katakan Bayu benar. Farah cantik dan memiliki postur tubuh yang proporsional.
“Mupeng lu, kalo liat cewek bawaannya ranjang mulu.” Egy mengetuk jidat Bayu dengan ujung sendok.
Bayu memang dokter paling brengsek di sini. Rumor tentangnya yang affair dengan beberapa perawatpun tidak sedikit. Namun, rumor itu selalu hilang seiring waktu.
Farah pun sampai di depan kasir dan membayar makanan yang ia pesan. Lalu setelah itu ia membalikkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu.
Mata Adrian terus menatap Farah yang tak melirik ke arahnya.
“Tenang, Yan. Dia bakalan noleh ke sini kok. Satu, dua, ti.”
Farah pun menoleh ke arah Adrian duduk dan tersenyum pada Adrian. Sontak Adrian langsung membalasnya, karena Adrian pun saat itu sedang menatap ke arah Farah.
“Nah, kan dia nengok.” Kata Bayu lagi.
“Uuuhh..” Sorak Bayu dan Egy sembari memukul lengan Adrian.
“Lu udah kaya Anak Abege.” Kata Egy tertawa.
Bayu pun ikut tertawa. Adrian tersenyum. Entah mengapa ia seperti ini sekarang? Seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
****
Di persidangan terakhir. Farah sengaja mengambil cuti untuk mengadiri persidangan ini. Biasanya, Tomy tidak pernah hadir dan hanya di wakilkan oleh pengacaranya saja. Namun, hari ini Tomy hadir. Farah pun menoleh ke arah Tomy yang baru saja datang dan duduk di sampingnya. Namun, Tomy tak sekali pun menoleh ke arah Farah.
Farah tersenyum tipis. Ini adalah porses perceraian tercepat, karena tidak ada mediasi dan tidak ada hak asuh anak, juga tidak ada pembagian harta gono gini. Farah tidak menuntut apapun dari Tomy, dan Tomy pun tidak menginginkan adanya mediasi. Sehingga perceraian ini dapat berlangsung dengan cepat.
Hakim memberikan lagi pertanyaan pada Tomy dan meyakinkan Tomy untuk melanjutkan perceraian ini tanpa mediasi. Tomy pun mengangguk dengan lemah. Di belakang Diva hadir bersama ibunya Tomy. Ibu Tomy tersenyum sumringah, karena akhirnya putranya tidak lagi di atur oleh sang istri. Setelah Tomy menikah, sang ibu merasa bahwa Tomy lebih perhatian dan selalu mendahulukan istrinya.
Hakim pun menanyakan pada Farah dan Farah mengangguk. Tak lama kemudian, hakim membacakan beberapa hal dan mengetukkan palunya.
Seketika Tomy menunduk, hatinya perih dan terluka. Berbeda dengan Farah yang memang sudah menyiapkan mental.
Farah menoleh ke arah Tomy dan mengajaknya bersalaman. “Tom, maafkan aku.”
Tomy bangkit dari duduknya dan meninggalkan Farah tanpa menoleh sekali pun ke wajah mantan istrinya itu. Ia juga tak menyambut tangan Farah yang mengajak bersalaman.
“Hmm, Maaf. Tom. Kamu pasti benci sama aku sekarang.” Gumam Farah.
Farah keluar dari ruang persidangan itu dan hendak memesan taksi online. Dari kejauhan, Tomy tengah menatap mantan istri yang masih sangat ia cintai. Farah berkutat dengan ponselnya. Tak lama, ia pun menengadahkan kepalanya. Di sana ia melihat Adrian yang tengah menghampiri.
“Sudah selesai?” Tanya Adrian.
“Kamu ngapain ke sini?” Farah malah balik bertanya.
“Jemput kamu. Aku tahu mobilmu masih di bengkel.”
“Kamu ga usah repot-repot, Yan.” Jawab Farah.
“Ngga repot kok. Kebetulan aku juga lagi free dan. Hmm... aku tahu kamu pasti membutuhkan seseorang saat ini.” Ucap Adrian.
Farah menatap wajah teman rekan kerjanya itu. “Kok kamu sweet banget sih sekarang, Yan?”
Adrian mengangkat bahunya. “I don’t know.”
Farah pun tertawa.
Di seberang sana, Tomy menatap mantan instrinya yang berinteraksi dengan pria itu, dengan pria rivalnya itu. Rahang Tomy mengeraas saat Adrian membawa Farah menuju mobilnya. Diva melihat suaminya yang masih menatap kesal sang mantan.
__ADS_1
“Mas, ayo pulang!” Ajak Diva yang langsung menggandeng lengan Tomy.
Tomy menepis gandengan itu dan berjalan lebih dulu.