
Rumah Malik kembali sepi. Kini mereka tinggal hanya berdua, karena Rumi sudah berhenti menjadi asisten rumah tangga di rumah itu. Calon istri Jonathan itu tengah mempersiapkan pernikahan yang akan di gelar dua minggu lagi.
Malik menggeliat di atas ranjang. Tangannya meraba sisi samping, tapi ia tak menemukan tubuh yang setiap hari menemaninya tidur. Malik terus meraba sisi sampingnya dengan mata yang masih terpejam. Lalu, ia pun membuka matanya.
“Bee.” Malik langsung bangun dan mendaratkan kakinya di lantai.
“Bee.” Malik membuka pintu kamar sembari memanggil pujaan hatinya.
Ia melangkah menuruni anak tangga. Hatinya lega saat melihat sang istri tengah bergelut dengan peralatan masak di dapur.
“Beib, udah bangun.” Kata Angel sambil menoleh ke arah suaminya.
Malik mendekati istrinya dan seperti biasa ia akan memeluk sang istri dari belakang sambil bergelayut manja di bahunya. Pagi ini, Angel kembali memasak dengan pakaian super sexy, karena di rumah ini hanya ada mereka berdua. Angel masih mengenakan kimono satin super pendek tanpa bra.
“Kamu masak apa, Bee?” Malik melihat ke arah wajan. Sementara tangan Angel masih sibuk mengaduk makanan di atas kompor itu.
“Aku buat krim sup jagung. Habis kamu suka muntah, kalau aku buatin nasi goreng seafood.”
“Nah, kalau ini baunya harum. Hmm..” Malik mencondongkan tubuhnya ke atas wajan itu. asap yang mengebul mengeluarkan aroma sangat lezat di sana.
“Kalau nasi goreng seafood, amis sekali baunya bee.” Ucap Malik lagi.
Angel mengangguk dan tersenyum.
“Padahal kamu suka banget nasi goreng seefood ya, Bee? Maaf ya.” Malik berkata persis di telinga Angel, hingga pundak Angel merasakan pergerakan dagunya yang menempel di sana.
“Ngga apa kok.” Angel menoleh sedikit dan tersenyum.
Perlahan, tangan Malik meraba paha mulus Angel. Bibirnya mencium leher jenjang sang istri yang tebuka, karena rambutnya tengah di gelung tinggi ke atas. Malik menggigit leher Angel dengan tangan yang semakin intens meraba bagian bawahnya hingga ke atas. Ia pun menarik tali kimono yang berada di perut Angel. Seketika tangan Angel menahan kimono yang tengah melorot. Ia menahannya hingga pinggang, lalu menampilkan dua gunung kembar yang sedang tampil tegak tanpa penghalang apapun.
Malik mengangkat tangannya untuk mematikan kompor, karena mata Angel terpejam dan menikmati sentuhan suaminya. Sungguh, ia pun ingin sekali melakukannya. Sudah beberapa hari ini, hormon Angel tak terkandali. Ia sering menggoda sang suami dengan selalu memakai lingeri yang hampir memperlihatkan semua bentuk tubuhnya. terkadang Angel malah meminta tangan Malik untuk bermain di bagian miliknya. Padahal Malik tengah bersusah payah untuk menahan hasrat itu, tapi sang istri malah terus menggodanya.
“Bee, aku benar-benar ga tahan.” Kata Malik sembari terus menggerayangi tubuh istrinya dengan bibir dan tangannya.
“Hmm.. aku juga.”
Malik membalikkan tubuh istrinya dan sedikit bergeser pada meja marmer yang kosong. Tubuh Angel di dudukkan di sana.Malik kembali mencumbu dada dan bagian bawah Angel, membuat Angel semakin mengeluh nikmat.
“Kak.” Panggil Angel dengan nada sensual sembari menggingit bibirnya menahan sensasi nikmat yang Malik berikan.
Angel semakin memberi jalan untuk sang suami, agar dapat melakukan lebih.
“Bolehkah? Apa dia akan baik-baik saja?” Tanya Malik dengan perasaan tidak yakin, saat melihat perut Angel.
“Hmm.. tidak apa, Kak. Yang penting pelan.”
Malik menegakkan tubuhnya dan kembali membenarkan kimono itu di tubuh Angel. Namun, Angel menahan tangan Malik yang akan memakaikan kembali pakaiannya. Namun, kesadaran Malik kembali normal setelah mengingat bahwa ada dua nyawa yang bersemayam di perut sang istri.
“Aku juga ingin, Kak.” Kata Angel dengan mata berkabut gairah.
“Bee.” Malik tersenyum, sungguh wajah Angel benar-benar terlihat sexy.
Lalu, Malik menggendong Angel seperti koala. Angel di bawa menuju ruang televisi dan mendudukkannya di sofa. Malik kembali mencumbu sang istri menarik balutan kain yang menutupi bagian miliknya.
“Aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut.”
Angel mengangguk dan sedikit meringis saat mereka bersatu. Mungkin karena sudah dua minggu mereka tak melakukan ini. Angel terlihat sangat agresif. Ia selalu ingin mendominasi. Sesungguhnya, Malik sangat menyukai pelayanan yang di berikan istrinya itu. Namun, jika ia melirik ke arah perut Angel, ada kekhawatiran di sana.
“Bee sudah, aku takut kamu lelah.” Kata Malik yang akhirnya membiarkan Angel istirahat di bawahnya.
Malik benar-benar melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati, hingga satu jam pergelutan itu, akhirnya mereka mengerang bersamaan.
Nafas keduanya masih tersengal. Malik pun masih memeluk erat istrinya dan masih berada dalam penyatuan itu.
“Bee, mereka tidak apa-apa kan?” tanya Malik yang masih sangat khawatir.
__ADS_1
“Tidak apa, Kak. Lagian kamu juga melakukannya dengan hati-hati.”
Malik tersenyum dan mengecup kening istrinya. Angel pun dengan cepat membalas senyuman itu. Setelah itu, mereka pun membersihkan diri, sarapan pagi bersama dan Malik seperti biasa mengantar Angel tepat hingga lobby kampus.
Angel sedikit berjalan cepat, matanya selalu tertuju pada jam di tangan kanannya. Sepertinya ia sangat telat, pergulatan pagi tadi cukup menguras waktu yang banyak, sehingga ia harus terburu-buru menuju kelas.
Sesampainya di kelas, Angel mengatur nafasnya dan berusaha mengajar dengan tenang. Hari ini, jadwal mengajarnya memang cukup padat. Dan, kebetulan posisi kelas yang ia masuki pun lumayan jauh dari ruang dosen. Bahkan, ia harus menaiki dua lantai untuk sampai di kelas yang terakhir.
Bulir-bulir keringat membasahi kening Angel. Namun, ia tetap memaksa untuk menaiki tangga itu perlahan.
“Ya ampun, capek juga ya. Huft.” Gerutu Angel sembari menegakkan kepalanya, melihat anak tangga yang terlihat masih sangat banyak untuk di daki.
sesekali ia mengusap bulir-bulir keringatvyang menempel di dahinya.
“Bu Angel, tidak apa-apa?” Tanya seorang mahasiswa laki-laki yang sedang menaiki tangga dan berpapasan dengan Angel.
“Tidak apa.” Jawab Angel tersenyum.
Mahasiswa itu pun tersenyum dan berpamitan untuk jalan lebih dulu. Angel mengangguk tanda mempersilahkan mahasiswa itu untuk mendahuluinya.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Terlalu banyak jadwal mengajar hari ini, membuat ia lupa bahwa perutnya hanya terisi krim sup jangung dan roti croisant saja. Untung saja sebelum memasuki kelas terakhir, ia menyempatkan diri untuk membeli susu dan roti di koperasi. Sehingga ia dapat mengganjal dulu dengan makanan itu, sebelum aktifitas hari ini selesai.
“Angel, wajahmu pucat.” Kata Mirna saat mereka duduk bersebelahan di ruang dosen.
“Iya, tadi aku belum sempat makan siang. Banyak pengajaran yang tertinggal minggu kemarin jadi aku harus memberi tambahan minggu ini.”
Mirna mengangguk, memang minggu kemarin Angel sering meminta izin.
“Biasanya kalau siang, suamimu menjemput untuk makan siang bersama?” Tanya Mirna.
“Iya, hari ini dia sedang tidak bisa.”
“Oh.” Mirna membulatkan bibirnya.
****
Malam harinya, Angel lebih dulu merebahkan dirinya di ranjang. Malik yang baru selesai melaksanakan kewajiban pada sang khalik pun menatap ke arah istrinya.
“Kamu capek, Bee?” Tanya Malik sembari merapihkan sajadah itu.
“He em.” Angel mengangguk.
Malik menghampiri Angel yang sudah berbaring dan duduk di sampingnya. Ia mengelus perut Angel.
“Bee, jangan capek-capek! Hari ini jadwal ngajar kamu padat ya? Belum lagi tadi pagi kamu juga sudah kelelahan karena melayaniku.”
Angel tersenyum dan sedikit bangkit. Tangannya terangkat untuk mengelus dagu suaminya yang berbulu halus.
“Ngga apa-apa kak, aku ga capek kok. Lagian aku suka menjalani ini semua.”
Malik pun tersenyum dan mengambil tangan Angel yang berada di wajahnya. Kemudian, ia mengecup tangan itu.
“Boleh ngga, kalau kamu minta cuti dari sekarang. Apalagi saat ini kita belum mendapatkan asisten rumah tangga. Aku khawatir kamu kecapean.” Ucap Malik lirih.
“Tapi cuti itu di berikan satu bulan sebelum melahirkan, Kak. Sekarang usia kandunganku saja baru memasuki bulan ketiga, masih lama untuk mengambil cuti.” Jawab Angel tertawa, karena permintaan suaminya ada-ada saja, sementara ia merupakan dosen yang di gaji oleh negara.
“Ya udah, sekarang kamu istirahat ya.” Malik menarik selimut hingga pinggang Angel dan mengecup keningnya.
Angel tersenyum. “Aku tidur duluan ya.”
Malik mengangguk.
Bibirnya pun terus mengembang senyum. Ia mengelus rambut Angel hingga sang istri tertidur pulas. Lalu, ia berdiri dan mangitari ranjang king size itu untuk ikut merebahkan diri di sana. Malik menyempatkan diri memainkan ponselnya sebentar, lalu meletakkannya di nakas dan berbaring memeluk istrinya dari belakang. tak lama, matanya pun ikut terpejam, mengikuti sang istri yang sudah berada di alam mimpi lebih dulu.
Bunyi alarm, membangunkan kedua insan yang masih saling mendekap dan larut dalam mimpi. Sesaat kemudian, tidur Malik terusik karena suara riuh yang berasal dari ponselnya. Malik lebih dulu bangun dan melakukan kewajibannya. Lalu, ia membangunkan sang istri dengan mengelus pipinya.
__ADS_1
“Bee, subuh dulu.”
“Hmm..” Angel menggeliat.
“Jam berapa?” Kata Angel dengan mata yang masih terpejam.
“Sudah jam lima lewat lima belas. Bangun dulu yuk! Nanti tidur lagi.”
“He em.” Angel mengangguk dan berusaha untuk membuka matanya. Perlahan ia pun bangun. Rasanya pagi ini, ia masih lelah, padahal ia sudah istirahat dengan waktu yang sangat cukup.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Angel merebahkan dirinya kembali untuk tidur. sungguh, ia sangat malas untuk memulai aktifitas, sedangkan Malik justru kebalikannya. Suami Angel itu langsung duduk di sofa yang berada persis di depan ranjang yang Angel tiduri dan membuka laptopnya. Ia melanjutkan pekerjaannya kemarin. Seharusnya Malik lembur kemarin, tapi ia memilih melanjutkan pekerjaannya besok demi menjemput sang istri, karena saat makan siang ia tak menjemputnya untuk makan siang bersama.
Malik masih berkutat dengan kertas dan laptopnya. Sesekali ia juga melakukan koordinasi dengan Joni. Sang asisten yang hingga kini belum mengetahui bahwa sang mantan pacar akan segera menikah, karena Rumi belum membagikan undangan untuk Joni.
“Kak, kamu tidak tidur lagi?” Tanya Angel membuat Malik langsung menoleh ke arahnya.
Saat sang istri sedang tidur pun, ia selalu menoleh ke arah itu dan tersenyum. Hanya dengan melihat orang yang di cintai ada di sampingnya saja sudah membuatnya bahagia.
Malik menggeleng. “Masih banyak kerjaan, Bee.”
Angel bangun dan sedikit meringis. Ia merasakan sedikit nyeri di bagian perutnya. Namun, perlahan nyeri itu sedikit menghilang. Ia pun berjalan menghampiri suaminya. Ia mengelus kepala sang suami.
“Kamu juga jangan kecapean!”
“Aku ga lagi hamil, Bee. Kecapean juga ga apa-apa. Lagi pula nutrisi di sini dan di sini sering terpenuhi. Jadi cukup membuatku tak merasa lelah lagi.” Dengan senyum mengembang, Malik menunjuk perutnya dan bagian bawah perutnya.
“Ish, dasar.” Angel mencibir dan meninggalkan suaminya.
“Kemana, Bee?”
“Kamar mandi. Mau ikut!” Ajak Angel dengan nada menggoda.
Malik tersenyum menyeringai. “Awas ya, Bee. Aku terkam kamu.”
Angel kembali tersenyum menggoda dan melangkah dengan meliukkan pinggulnya, membuat sang suami terus mengembang senyum, sambil menggelengkan kepalanya.
Lama Angel berada di kamar mandi. Hingga teriakan itu mengagetkan Malik.
“Kaaak!”
Malik pun langsung berdiri dan menghampiri Angel yang berada di dalam kamar mandi itu. “Ada apa, Bee?”
Malik membuka pintu kamar mandi dan melihat istrinya yang tenagh berdiri mematung.
“Kak.” Kaki Angel bergetar, matanya tertuju pada kakinya yang mengalirkan darah dari atas pangkal pahanya.
“Ya Allah, Bee.” Malik terkejut.
Ia panik dan langsung mengambil tisu untuk mengelap darah yang mengalir di kaki istrinya. Lalu, dengan cepat ia menggendong tubuh Angel dan membawanya keluar. Ia melangkah dengan setengah berlari menuju halaman rumahnya. Ia pun masih menggunakan celana pendek, sedangkan Angel masih mengenakan tangtop dres.
Malik melajukan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit. Sungguh ia sangat panik, hatinya berdegup kencang. jantungnya seolah ingin keluar dari tempatnya. Ia menoleh ke wajah Angel yang sangat pucat.
“Bee bertahanlah.” Ucap Malik dengan mata yang sudah merembang. Ia tak kuasa melihat istrinya yang sedang kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Ssshh.." Angel hanya bisa merintih dan menggigit bibirnya menahan sakit.
Malik meraih ponselnya dan menekan nomor Farah. fokus matanya kini menjadi dua arah, menyetir dan menelepon.
“Halo.” Farah mengangkat panggilannya.
“Mba, tolong ke rumah sakit sekarang, Angel pendarahan.” Ucap Malik bergetar.
Lalu. ia langsung mematikan sambungan telepon itu, setelah Farah mematikannya.
Malik terus berdoa dalam hati, agar istri dan calon bayi kembar yang satu bulan lagi akan di tiupkan ruhnya itu baik-baik saja. Ia tetap fokus menyetir sambil mengelus rambut Angel yang duduk di sampingnya. Walau hati Malik saat ini sedang bergemuruh hebat.
__ADS_1