
Sepanjang perjalanan, Malik tetap menggenggam tangan istrinya walau dengan wajah datar dan pendangannya lurus ke depan. Sesekali, Angel menghentakkan tangan yang berada di genggaman Malik. Namun, Malik tak kunjung menoleh ke arahnya, padahal Angel sudah memberi kode untuk menoleh ke arahnya saat mereka masih berjalan beriringan.
Hentakkan ketiga, akhirnya Malik menoleh. Angel menampilkan senyum manis dengan mengedipkan matanya beberapa kali. Malik pun tak bisa menahan untuk tidak tertawa.
“Akhirnya kamu ketawa juga. berarti udah ga marah lagi kan?” Tanya Angel manja.
“Udah ga marah lagi, bukan berarti terbebas dari hukuman.” Jawab Malik dengan raut yang masih terlihat datar.
“Ih, hukumannya apa sih? Pasti aku di suruh masak makanan kesukaanmu.”
Malik menggeleng.
“Mijitin kamu.”
Malik menggeleng.
“Aku tahu.” Angel menghentikan langkahnya persis di depan Malik.
“Memuaskan kamu.” Angel tersenyum.
Malik pun ikut tersenyum. ‘Itu mah kamu yang mau.”
“Ih, kamu.” Protes Angel, karena memang akhir-akhir ini, ia yang terkadang meminta untuk bercinta.
Malik tersenyum dan kembali berjalan.
Mereka berdiri di lobby utama Bandara Adisudjipto. Malik sudah di sambut oleh taksi khusus berwarna hitam yang di pesan Joni. Asisten Malik itu masih berada di Jakarta, sejak hadir di resepsi Malik. Joni masih berkumpul bersama keluarganya di sana.
“Kak. Ih kamu ga asyik kalo masih ngambek terus.” Ucap Angel, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Siapa yang ngambek, Hmm?” Malik menarik pinggang Angel agar tubuh sang istri semakin mendekat.
Kedua wajah mereka saling bertatapan tanpa jarak.
“Mau aku cium lagi di sini?” Tanya Malik dengan bibir yang sudah hampir menempel pada bibir istrinya.
Angel langsung mendorong dada Malik, karena ia melihat arah mata si supir melalu kaca spion dalam.
Malik kembali tertawa, melihat ekspresi lucu istrinya. Ia tahu bahwa Angel adalah wanita pemalu. Ia paling tidak mau mengumbar kemesraan di depan umum.
****
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Malik langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan Angel langsung berlalu ke kamar mandi.
“Bee.” Panggil Malik dengan posisi yang memiringkan tubuhnya ke arah Angel yang ingin masuk ke kamar mandi.
“Apa?” Tanya Angel, sembari menoleh ke arah Malik.
“Mmuaach.” Malik hanya menjawab dengan isyarat mencium, membuat Angel malas melihatnya.
Malik tertawa lagi.
Setelah setengah jam, akhirnya Angel pun keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa segar. Di sana, ia melihat Malik yang sedang menonton televisi. Angel mengoleskan tubuhnya dengan lotion. Ia pun sadar sedari tadi, Malik menoleh ke arahnya. Lalu, perlahan Malik bangkit dari sofa dan menuju ke arahnya.
“Sudah siap dengan hukumanmu?’ Tanya Malik berbisik.
“Kamu mandi dulu gih sana.” ucap Angel.
“Ga perlu.” Malik langsung menggendong Angel ala bridal.
“Aw.” Angel terkejut, karena Malik menggendongnya tiba-tiba.
Kemudian, Malik merebahkan tubuh Angel di ranjang. Ia mulai mecumbu istrinya yang nakal. Malik mulai memberikan rangsangan yang begitu nikmat pada Angel, dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki, semua tak luput dari bibir Malik. Lalu, di bagian sensitif itu Malik membenamkan kepalanya cukup lama.
“Ah, Kak. Hmm.” Angel menggigit bibirnya. Sungguh sedari tadi Malik mempermainkannya dengan terus bercumbu dan tak kunjung melakukan penyatuan, padahal Angel sudah berulang kali mendapatkan pelepasan.
Malik menggelengkan kepalanya. “Itu hukuman untukmu, Bee.”
“Please, Beib.” Angel meminta Malik untuk segera menyatukan miliknya.
Tiba-tiba, Malik berdiri dan menyudahi cumbuan itu. “Aku mandi dulu, Bee.”
“Kak.” Teriak Angel frustrasi. Sedangkan Malik hanya tertawa melihat eksprsi itu.
Angel pun langsung bangun dan menutup kedua gunung kembarnya dengan tangan. “Kamu jahat.”
“Kamu yang mulai, Bee.” Malik tersenyum menyeringai ke arah wajah Angel yang sedang kesal. Lalu, ia langsung masuk ke kamar mandi.
Angel semakin kesal, padahal ia sudah sangat bergairah. Hukuman malik benar-benar membuatnya tersiksa. Itu sama saja di sanjung-sanjung, lalu di jatuhkan. Angel masih sangat kesal dan langsung menggunakan pakaiannya. Kemudian, ia keluar untuk membeli es krim di mini market yang berada tidak jauh dari luar komplek rumahnya.
Angel berjalan kaki, di tengah matahari yang baru mulai gelap. Saat di mini market, matanya langsung tertuju pada mie siap saji yang langsung di seduh di tempat itu. Sudah lama sekali, Angel tak memakan makanan ini. Rasanya ia ingin. Lalu, Angel duduk dan menikmati makanan siap saji itu di teras mini market itu.
Di rumah, Malik baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangan dan tak mendapati sang istri di dalam kamar ini. setelah berpakaian, Malik menuruni anak tangga dan mencari angel di dapur. Namun, ia tak menemukannya juga. Sontak Malik berlari ke sudut ruangan yang lain, yang biasa Angel berada. Malik membuka pintu ruang baca, istrinya pun tak ada.
__ADS_1
“Bee, kamu kemana?” Tanya Malik pada dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia terlalu keterlaluan tadi.
Lalu, Malik segera kembali ke kamar dan meraih ponselnya untuk menelepon Angel.
Dret.. Dret.. Dret..
Malik mendengar panggilan telepon yang berasal dari ponsel sang istri yang tergeletak di meja rias.
“Ah, shit.” Malik meraih ponsel Angel yang tergeletak di sana.
“Bee, kamu dimana?” Malik mengacak-ngacak rambutnya. Ia panik sekaligus kesal. Akankah Angel meninggalkannya lagi.
“Ah.” Malik langsung meraih kunci mobil dan keluar untuk mencari istrinya.
Di minimarket, Angel masih duduk sendiri sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang. Makanannya sudah habis, tapi ia masih belum pulang, karena saat ini ia tengah menikmati es krim. Sementara Malik perlahan menelusuri jalan itu. Ia melihat kekiri dan ke kanan. Tak lama kemudian, ia menemukan sosok yang di cari, tengah asyik duduk di mini market sambil memakan es krim.
“Ternyata kamu di sini.” Malik memarkirkan mobilnya persis di depan Angel duduk.
Sontak Angel pun melihat sorot lampu mobil yang menyilaukan pandangannya.
Malik turun dari mobil dan langsung menghampiri Angel. “Bee.”
Angel hanya menganga, karena Malik memeluknya dengan erat, hingga es krim yang sedang ia makan terjatuh di lantai.
“Bee. Maaf. Maaf aku keterlaluan menghukummu tadi. Jangan tinggalkan aku!” Malik menangis.
Angel tersenyum di dalam pelukan itu. Ia pun bisa merasakan pipi Malik yang basah. ‘Memang siapa yang meninggalkanmu?”
Malik mengendurkan pelukannya dan menatap sang istri. “Kamu.”
Angel menggeleng. “Aku hanya keluar untuk membeli es krim, eh liat mie instan itu jadi pengen juga.”
Malik melirik ke arah makanan di meja yang Angel tunjukkan. Ia pun menghela nafasnya kasar.
“Kamu jahat, Bee. Sudah buat aku panik setengah mati.”
Angel nyengir. “Lagian, kamu juga jahat.”
“Ya udah, sekarang baikan.” Malik menunjukkan jari kelingkingnya.
Angel tersenyum dan mengangkat jari kelingkingnya, lalu di satukan pada jari kelingking Malik. “Love you, Malik Ibrahim.”
__ADS_1
Malik tersenyum. “Love you, Angel Agnita Putri.”