
Pada sore hari, Angel dan Bi neneng masih berkutat di dapur. Mereka memasak untuk menyambut kedatangan mantan bosnya.
“Mantan bos Non Angel itu bule?” Tanya Neneng.
Angel mengangguk. “Iya, Bi.”
“Pasti ganteng ya, Non.”
“Gantenglah, Bi.” Jawab Angel tertawa.
“Tapi masih gantengan aku dong.” Malik celetuk.
“Apa sih kamu nyamber aja, udah kaya bensin.” Sahut Angel tersenyum.
Lalu, Malik langsung memeluk Angel dari belakang. “biarin, lagian siapa suruh neybut pria lain ganteng. Hmm?”
Bi Neneng hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat Malik yang selalu bergelayut manja pada istrinya.
“Ish, malu tuh sama Bi Neneng.” Angel sedikit menggoyangkan bahunya agar Malik tidak menempelkan bibirnya di sana.
Malik menoleh ke arah Bi Neneng. “Udah biasa ya, Bi.” Ucap Malik.
Bi Neneng hanya mengangguk dan tersenyum.
“Kamu di sini, anak-anak di kamar ngapain?” Tanya Angel yang sudah menugaskan Malik untuk menjaga putra putri mereka sementara Angel sedang berkutat di dapur.
“Beres, bee. Adam dan Hawa lagi tidur.” Jawab Malik dengan masih posisi yang sama. Ia masih menciumi pundak Angel.
“Bee, temenin aku dulu dong di kamar.”
“Aku belum selesai ini, Kak.” Angel menunjuk kuah Soto khas Bandung yang ada di sebuah panci stainles besar di atas kompor.
“Itu sudah selesai, ‘kan?” Tanya Malik.
Angel pun menolehkan wajahnya ke arah Malik dan mencubit hidungnya. “Kamu ya kalau udah maunya. Iiih.”
Malik tertawa.
“Bi Neneng, dulu suaminya kaya gini ngga sih?” Tanya Angel pada Neneng yang berdiri tak jauh darinya. Bi Neneng sedang menguleng kentang untuk di buat perkedel bondon.
“Sama, Non. Yah namanya juga lelaki, apalagi Non Angel dan Den Malik masih muda. Tenaganya lagi sedeng-sedengnya kuat,” Bi Neneng menunjukkan tangannya yang sudah mengendur.
__ADS_1
Sontak, Angel dan Malik pun tertawa bersama. Bi Neneng memang sudah mereka anggap seperti orang tua nya.
“Ya udah sana, Non. Biar ini Bibi yang terusin.” Kata Neneng lagi.
“Beneran nih?” Tanya Angel.
“Iya, Non.”
“Tenang, Bi. Nanti gajinya saya tambahin.” Kata Malik.
“Beneran nih, Den.” Mata Neneng berbinar.
“Iya dong. Saya mah ngga pernah ingar janji.” Jawab Malik sembari menaikan telapak tanganya ke atas untuk bertos ria pada Neneng tanda sepakat.
Angel tertawa melihat kelakuan suaminya.
“Ayo, Bee!” Malik benar-benar sudah tak tahan ingin menerkam istrinya, padahal ini masih sore.
Angel menggelengkan kepalanya.
“Bi ini bubbur candilnya sebentar lagi matang. Jangan lupa di aduk ya, supaya santannya ngga pecah.” Kata Angel pada Neneng sebelum meninggalkan dapur.
Neneng mengangguk. “Iya, Non.”
Dengan bersemangat Malik merangkul Angel dan mengajaknya ke kamar. Angel di giring ke kamr tamu.
“Kok ke sini, Ngapain?”
“Kita malam pertama di kamar ini. Kalau sebelumnya kita kan malam pertama di kamar sana.” Malik menunjuk kamar utama mereka yangs ekarang tengah di isi oleh Adam dan Hawa yang sedang terlelap.
“Niat banget sih kamu.” Angel menggelengkan kepalanya dan tertawa.
“Abis, kamu jahat sih. Aku di suruh puasa terus padahal kan kamu udah selesai.”
“Aku beneran masih takut, Kak. Ngga tau kenapa? Maaf ya.”
Angel duduk di tepi tempat tidur dan Malik berdiri di hadapannya sambil menggenggam tangan Angel.
“Aku akan melakukann dengan pelan, Bee. Ngga usah takut.” Malik menarik kaos longgar Angel dan membantu meloloskan kaos itu dari kepalanya.
Angel yang hanya memakai kaos longgar itu pun, langsung terpampang bra warna krem dan kain segitiga pengaman dengan warna yang sama.
__ADS_1
“Coba aku lihat perutmu.” Malik berjongkok dan meraba perut Angel yang belum rata maksimal seperti dulu. Walau sudah sangat kempis sekarang.
“Lukanya sudah sangat kering, Bee.”
Angel mengangguk. “Iya sih.”
Malik mencium luka jahitan yang terlihat seperti garisan di perut Angel. “Ini salah satu bukti perjuangan cintamu padaku, Bee.”
Angel menunduk ke arah Malik dan tersenyum. Ia mengelus rambut Malik yang sedikit pirang dan tidak gondorong.
Malik menenggakkan wajahnya. “Love you more, Bee.”
Angel tersenyum. “love you too, Kak.”
Lalu, Malik mensejajarkan wajahnya pada Angel dan mencium bibir sang istri. Angel pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Malik. Seperti biasa, mereka akan berpangutan cukup lama. Mengecap dan ******* kedua bibir hingga saling melilitkan lidah dan bertukar saliva.
Di tengah pangutan itu, kedua tangan Malik tak tinggal diam. Ia akan bergerilya untuk membuka bra dan kain segitiga pengaman Angel sehingga tanpa di sadari tubuh sang istri sudah polos dan ia kembali memainkan bagian sensitif itu.
“Aku selalu menginginkanmu, Bee.” Ucap Malik dengan mata yang berkabut gairah, setelah mereka melepaskan ciuman itu.
“Ah.” Desah Angel lolos karena jari Malik tengah bermain-main di area sensitifnya.
“Kak, sakit ngga? Hmm.” Angel merasa seperti akan melakukan malam pertama, karena ini adalah pengalaman pertamanya melakukan s*x pasca melahirkan. Menurut cerita orang, sakitnya akan sama seperti pertama kali. Oleh karena itu, ia sedikit khawatir.
“Ngga, Bee. Percaya sama aku.”
Lalu, Malik menggendong Angel, agar tubuh Angel berada di tengah tempat tidur dan berbaring leluasa di sana.
“Pelan ya, Kak.” Kata Angel lagi.
Malik mengangguk. “Pasti, Bee.”
Perlahan Malik mengarahkan miliknya pada milik sang istri dan menanamkannya dengan penuh hati-hati.
“Hmm.” Angel sedikit meringis saat Malik menghentakkan miliknya hingga mereka berada dalam penyatuan.
“Tidak sakit kan?” Tanya Malik.
“Sedikit.” Angel tersenyum.
Kemudian, Malik menciumi seluruh wajah Angel sambil menggerakkan tubuhnya. tak lupa ia memainkan kedua gunung kembar yang terlihat sangat menggiurkan itu.
__ADS_1
Angel semakin melenguh, matanya sayu sembari meremas rambut Malik. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, seolah menikmati sensasi yang tiada tara itu. Sungguh ia seperti tengah melayang dan terbang ke langit ke tujuh.
Malik benar-benar selalu bisa membuat Angel seperti ini. oleh karenanya, ia tak pernah menolak jika Malik menginginkannya, karena selain berpahala, hal ini juga sesuatu yang di sebut surga dunia.