Melanggar Janji

Melanggar Janji
"Kalau bukan kakak ipar, sudah habis kamu, Bee."


__ADS_3

Sehari, dua hari terlewati, tapi Angel tak pernah mengabari keadaannya pada Adrian sekali pun.


“Bi, Angel telepon Bibi?” Tanya Adrian, saat ia tengah duduk di meja makan dan si Bibi tengah menaruh beberapa makanan di meja itu.


“Tidak, Pak.” Jawab Bibi.


“Oh.” Adrian membulatkan bibirnya sembari menyesap air jeruk hangat. Ia kembali berfikir.


“Pa, Bunda kapan pulang?” Tanya Alika yang sudah menggeser tempat duduknya di hadapan Adrian.


“Lusa.” Jawab Adrian.


“Bunda kok lama, Pa?” Fariz yang kini bertanya dan duduk di samping sang kakak.


“Ya, kan memang bunda izin empat hari. Sekarang sudah dua hari jadi lusa pulang.”


“Bunda ga pernah telepon ke sini?” Tanya Adrian menunjuk telepon rumahnya yang terpasang di ruang keluarga.


Alika dan Fariz menggeleng.


“Hmm..” Adrian sedih karena ternyata Angel asyik bersama teman-temannya hingga melupakan kedua anaknya di sini.


“Mungkin Ibu sibuk di sana, Pak. Kalau setahu Bibi, Ibu di sana juga mau nyari apa tuh reprensi?” Kata si Bibi, saat kembali membawa makan untuk di taruh d meja makan.


“Referensi.” Sahut Adrian membenarkan perkataan si Bibi yang salah.


“Nah iya itu.” Si bibi nyengir.


“Pasti nanti Bunda bawa oleh-oleh banyak.” Kata Fariz sembari mengunyah makanannya.


Setelah selesai sarapan pagi, Adrian mengantar kedua anaknya ke sekolah.


****


Di apartemen, kondisi Angel semakin membaik. Malik mengambil cuti dadakan selama empat hari, hanya untuk menjaga dan merawat Angel di sini.


Matahari kian menerangi kamar Angel. Ia pun terbangun dan perlahan bangkit dari tempat tidur itu. Kini ia merasa tidak sepusing dua hari sebelumnya. Ia sedikit lebih segar untuk bergerak. Angel turun dari tempat tidur dan beralih ke kamar mandi. Ia mencuci muka dan gosok gigi. Sudah dua hari tubuhnya tidak tersentuh air, hanya bagian vitalnya saja yang terkena air ketika buang air besar dan kecil.


Kemudian, Angel perlahan membuka pintu kamarnya. Ia melihat Malik yang tertidur di atas meja di temani laptop Angel di depannya yang sudah redup karena batarai benda itu habis dengan sendirinya.


Angel tersenyum dan berjalan mendekati Malik. Hampir dua malam, Malik selalu tertidur dalam keadaan seperti ini.


Angel duduk di samping tempat Malik tertidur duduk.


“Kak.” Angel menepuk lembut pipi Malik.


“Kak.” Angel melakukan hal yang sama, karena Malik tak kunjung terjaga.


“Bee.. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Malik sembari menggenggam tangan Angel yang berada di pipinya. Namun mata Malik masih terpejam.

__ADS_1


Angel terenyum.


“Iya, aku tahu.”


Tiba-tiba Malik tersadar dan membuka matanya. Ia pun langsung melepas genggaman tangannya.


“Eh, aku kira, aku sedang bermimpi.”


Angel tersenyum.


“Kamu selalu tidur dalam keadaan seperti ini? Aku sehat, nanti malah kamu yang sakit.”


“Berarti kamu tinggal lagi di sini empat hari untuk menjagaku.” Kata Malik asal.


Angel mengangguk.


“Eh beneran? Iya, Bee? Kamu mau?” Tanya Malik bertubi-tubi melihat respon Angel.


“Itu kalau kamu beneran sakit. Tapi kalau kamu pura-pura, ya ngga.” Jawab Angel.


“Jahat kamu, Bee.” Malik merengutkan wajahnya.


Lalu, Angel mendekatkan wajahnya ke depan laptop. Ia mengisi daya benda itu dan kembali menyalakan.


“Kamu sudah baikan, Bee?” Tanya Malik.


“Alhamdulillah, sudah. Makasih ya.” Jawab Angel dengan senyum yang manis.


“Aku siapin sarapan ya.” Malik berdiri dan segera beralih ke dapur.


“Kamu sudah mengerjakan sebanyak ini?” Tanya Angel setengah berteriak karena Malik berada jauh darinya.


“Apa?” Malik kembali bertanya, karena ia tak mendengar pertanyaan Angel tadi.


Kemudian, ia kembali berjalan mendekati Angel.


“Kamu sudah mengerjakan sebanyak ini?” Tanya Angel lagi.


Malik mengangguk.


“Masih sedikit ya?” Ucapnya sembari menjilat bubuk coklat yang menempel di sendok yang sedang ia pegang.


“Ih, ini sih sudah banyak banget, Kak. Banyak Banget.” Jawab angel dengan wajah yang sumringah dan arah mata yang tertuju pada laptop yang menyala.


Ia terus men-scrol semua yang telah Malik kerjakan di laptopnya.


“Kak makasih.” Angel memeluk tubuh Malik yang masih duduk di sampingnya.


Seketika Malik melepas sendok yang ada di mulutnya. Ia pun membalas pelukan itu dengan erat.

__ADS_1


“Aku ga tau harus balas kebaikan kamu dengan apa? Aku cuma bisa bilang makasih.” Angel melonggarkan pelukannya dan mereka saling bertatapan tanpa jarak.


Malik tersenyum lebar.


“Kamu sudah membalasnya dengan tidak mau di sentuh suamimu hingga saat ini.”


Sontak Angel melepas pelukannya.


“Tau dari mana hal itu?” Tanya Angel yang kemdian memalingkan wajahnya dan beralih ke depan benda elektronik itu.


“Aku tahu semuanya. Aku tahu semua hal yang terjadi di rumah itu. Aku kan asisten Sir David, aku banyak belajar menjadi seperti dia.”


Angel mencibir sembari menatap wajah Malik. Lalu, Malik tertawa melihat ekspresi Angel.


"Kalau bukan kakak ipar, udah habis kamu, Bee.” Kata Malik.


“Habis apa?” Tanya Angel bingung.


“Habis aku makan hingga tak tersisa.”


“Kamu.” Angel memukul dada Malik, hingga Malik tertawa lepas.


Lalu, Malik menarik lengan Angel dan memeluknya lagi. Mereka kembali bertatapan tanpa jarak. Suasana yang hening dan sepi membuat mereka larut dalam tatapan yang penuh makna.


Malik menatap wajah Angel dengan sesekali melirik ke arah bibir itu. Ia kembali memajukan wajahnya, sementara Angel hanya diam. Ia pun pasrah jika Malik akan menciumnya. Entah mengapa Angel tidak ingin menolak jika itu terjadi. Ia memang sudah gila.


Tangan Malik terangkat dan mengelus kepala Angel, ia kembali melirik ke bibir ranum itu. Bibirnya semakin mendekat dengan bibir Angel.


Ting tong


Tiba-tiba suara bel apartemen itu berbunyi membuyarkan keinginan keduanya.


“Shit.” Ucap Malik yang langsung berdiri.


Angel tertawa yang melihat kekesalan Malik. Kemudian, Malik melangkah menuju pintu utama. Ia pun membuka kasar pintu itu.


“Hay.. gue bawain sarapan buat kalian. Pasti kalian lapar kan? Sama gue juga.” Ucap Jo dengan riang, berdiri di hadapan Malik.


“Ah, elu. Ganggu aja.” Malik meluyur ke dalam sebelum menyuruh Jo masuk.


Lalu, Jo masuk sendiri dan menutup kembali pintu itu.


“Jangan bilang lu, mau macem-macem sama...” Kata-kata Jo terhenti saat melihat Angel yang sedang duduk menghadap laptopnya di ruang televisi.


‘Eh, Angel. Ayo makan. Aku bawain makanan nih.” Kata Jo lagi, meletakkan makanan di meja itu.


Malik menghela nafasnya kasar sembari mendudukan diri di sofa yang tak jauh dari Angel dan Jo. Angel kembali tertawa melihat ekspresi Malik yang masih kesal.


“Kenapa sih? Gue beneran ganggu ya?” Tanya Jo bingung melirik ke arah Angel dan Malik bergantian.

__ADS_1


“Ngga kok, malah Kak Jo udah jadi malaikat kita.” Jawab Angel tersenyum sembari melirik ke arah Malik.


__ADS_2