
Angel masih tetap tidur di kamar Alika atau Fariz. Ia masih belum bisa menerima Adrian dan Adrian pun sadar bahwa dirinya selama ini memang sangat keterlaluan. Tidak pernah terpikir oleh Adrian bahwa sikap Angel yang seperti ini di karenakan pria lain, karena yang Malik tahu Angel memang tidak pernah berpacaran.
Setelah percakapan Antara Angel dan Adrian di kamar Alika kemarin, Angel tak lagi melihat Malik di rumah ini. Menurut cerita Hendra, Malik keluar dari rumah tanpa bicara apapun. Adrian mengira, Malik sedang ada urusan pekerjaan yang mendadak, karena sebelumnya Malik memang sering seperti itu jika ada tugas dari bosnya.
“Mas, tolong antarkan Alika dan Fariz dulu sebelum kamu berangkat, karena aku ada janji dengan dosen pagi ini.” Ucap Angel saat bertemu dengan Adrian di meja makan.
“Tidak bisa, Angel. Aku juga sedang buru-buru.”
“Kali ini saja, Mas. Aku mohon!” Ucap Angel.
Hendra yang hendak melangkah ke dapur, melihat pemandangan itu.
“Mas, bekerjasamalah.” Ucap Angel memelas.
“Aku buru-buru Angel, menolong orang yag sakit lebih penting di banding tesismu.” Kata Adrian.
“Mengertilah.” Ucap Adrian lagi, meminta pengertian pada sang istri.
Adrian mengecup kening Angel, lalu pergi setelah meminum teh manis hangat yang sudah tersedia di meja itu.
Angel bingung melihat sikap Adrian yang ingin menang sendiri. Ia ingin Angel menerimanya, tapi Bagaimana ia bisa menerima pria ini, jika sikapnya selalu menyebalkan. Adrian selalu minta di mengerti tanpa mengerti kondisi pasangannya, padahal wanita adalah makhluk yang selalu ingin di mengerti. Angel menarik nafasnya kasar dan kembali menata makanan di meja itu.
Tiba-tiba Hendra menepuk punggung Angel yang masih berdiri melihat Adrian pergi.
“Adrian benar, Ngel. Tugas menolong orang itu jauh lebih penting.”
“Tapi tidak seperti itu juga, Ayah. Rumah tangga itu tercipta karena kerjasama yang baik dan saling mendukung. Seharusnya kami berjalan beriringan, bukan hanya dia yang di depan dan membiarkan Angel berjalan jauh di belakang. Angel bukan baby sitter di sini, Yah. Angel juga punya cita-cita. Entah mengapa Angel harus terjebak di sini dan mengurusi anak-anaknya. Angel lelah, Yah.” Kata Angel dengan nada lirh. Ia kesal dan meremas rambutnya sendiri.
Hendra menatap putrinya yang sedikit frustrasi. Baru kali ini, Hendra mendengar putrinya mengeluh, selama ini Angel tidak pernah menjawab dan selalu berkata ‘ya’ atau mengangguk jika ia menasehati.
Angel kesal dan kekesalananya bertambah karena tiba-tiba Mallik pergi tanpa berpamitan padanya, Lalu, Adrian yang tidak bisa di ajak kerjasama, dan sang ayah yang membela menantunya.
“Angel, kamu kenapa?” Tanya Enin yang melihat cucunya bersedih.
“Bunda..”
Belum selesai percakapan Hendra dan Angel. Kedua anak Adrian turun dan menggelayut pada Angel. Hendra menatap raut wajah Angel yang di penuhi dengan beban berat.
Kemudian, Angel melayani Alika dan Fariz untuk sarapan, lalu mengantar mereka ke sekolah. Ia membatalkan janjinya pada sang dosen, karena kebetulan dosen pembimbingnya hanya bisa membantu Angel di jam pagi.
Angel kembali ke apartemen, setelah mengantar Alika dan Fariz. Ia sengaja memulangkan Mang Asep dan menaiki taksi untuk sampai ke sana.
Malik yang melihat keberadaan Angel di apartemen itu pun langsung mendatanginya lepas jam makan siang.
Ceklek
__ADS_1
Perlahan Malik membuka pintu apartemen itu.
“Kamu di sini?” Tanya Malik pura-pura tidak tahu.
Angel menoleh sekilas dan kembali mengetik.
“Kamu ngapain ke sini?” Tanya Angel yang masih kesal karena Malik pergi tanpa pamit saat menginap di rumah Adrian.
“Hey. Kamu kenapa? Ini aku bawakan makan siang. Jangan sampai telat makan lagi dan sakit lagi.” Ujar Malik.
“Biarin. Sakit juga biarin. Toh ga ada yang peduli sama aku.” Gerutu Angel sembari tetap fokus pada laptopnya.
Tiba-tiba Malik menutup layar laptop itu, membuat angel langsung menoleh ke arah pria itu.
“Siapa yang tidak peduli?”
“Apaan sih.” Angel mencoba membuka kembali layar laptop yang masih di tahan oleh tangan Malik.
“Kamu juga kenapa tiba-tiba pergi malam itu? Kamu memang selalu datang dan pergi seenaknya.”
Cup
Malik langsung membungkam bibir Angel. Ia memangut bibir merah muda itu dan terus mengcapnya dengan durasi yang cukup lama. Angel pun membalas ciuman itu. Sesaat mereka larut dalam pangutan yang cukup lama, hingga pasokan udara di rongga dada Angel mulai habis.
“Aku berjuang sendirian, Bee.” Kata Malik lirih, setelah pangutan itu selesai.
“Adrian sudah mulai menyukaimu dan dia mempunyai kekuatan penuh atasmu sekarang, sedangkan aku bukan siapa-siapa. Bahkan ayahmu sangat memuja menantunya. Posisiku tidak kuat, Bee.” Kata Malik lagi.
“Lalu, Bagaimana dengan kita?” Tanya Angel bingung, ketika melihat Malik yang sudah menyerah.
Malik menggeleng.
“Aku sudah minta pisah dengan Adrian, tapi dia tidak mau dengan alasan anak-anaknya yang sangat menyayangiku. Aku pun sudah mengeluh pada ayah tentang sikap Adrian, tapi ayah masih membelanya.” Angel menangis.
“Mungkin ini takdir untuk cinta kita, Bee. Aku ikhlas.”
“Maksudnya?” Tanya Angel mempertegas perkataan Malik.
“Aku ikhlas kamu bersamanya. Bahagialah, Bee. Aku akan tetap menjagamu dari jauh.” Malik tersenyum, senyum yang terlihat begitu tulus.
Mereka pun berpelukan dan menangis bersama. Setelah ini, mereka bertekad akan saling mendukung dalam hal apapun. Walau status hubungan mereka tidak tau apa? Mungkin bisa di bilang teman tapi mesra.
“Oke, mana lagi bab yang harus di revisi?” Tanya Malik dengan arah mata pada berkas dan laptop di depan Angel. Ia mengusap air matanya.
Angel pun mengusap air matanya. Cukup sudah kesedihan mereka. Biarlah takdir yang akan membawanya entah kemana? Mereka pasrah.
__ADS_1
“Ini.” Angel menunjuk pada setumpuk buku yang ada di depannya.
“Mari selesaikan. targetku dua minggu selesai.” Kata Malik.
“Tidak mungkin, ini masih banyak. Satu bulan selesai aja udah hebat.”
“Lihat saja, kamu akan lulus lebih cepat, Bee.” Malik tersenyum ke arah Angel.
“Semoga saja.” Angel pun membalas senyum itu.
Biarlah kebersamaan mereka hanya sebatas ini, karena seperti ini pun sudah sangat bahagia.
****
Tiga minggu berlalu dan selama itu pula, Angel selalu di temani Malik dalam mengerjakan tesisnya. Malik selalu bisa di andalkan. Walau ia sibuk dengan pekerjaannya, tapi untuk urusan Angel, ia selalu menomorsatukan.
Angel pun makin jarang bertemu Adrian, karena aktifitas keduanya yang padat.
“Kak, ini datanya nge-hang semua. Gimana nih?” Tanya Angel pada Malik melalui sambungan telepon.
“Aku udah mau print semuanya, tapi tiba-tiba laptopku blank.” Angel menangis.
“Tenang, Bee. Mungkin itu hanya virus. Sekarang kamu di mana?” Tanya Malik.
“Apartemen.”
“Ya udah aku kesana. Kebetulan posisiku di kantor. Sebentar, tunggu aku dan jangan menangis, semua akan baik-baik saja.” Ucap Malik menenagkan Angel.
Angel pun menutup sambungan teleponnya. Ia sedikit lebih tenang.
Beberapa menit kemudian, Malik datang. Jarak antara kantor Malik dan apartemen itu memang sangat dekat, sehingga dengan cepat Malik tiba di sana.
Ia pun langsung mengecek isi laptop Angel yang bermasalah. Sesekali ia juga melihat jam di tangannya, pasalnya setengah jam lagi ia harus bertemu klien.
“Kak, maaf ya aku merepotkanmu.” Kata Angel.
“Tidak apa.” Jawab Malik dengan arah mata yang fokus pada laptop Angel.
“Nah. Ini dia sumber permasalahannya. Kamu menggunakan flashdisk yang penuh virus, Bee.” Kata Malik sembari menunjukkan pada Angel virus yabg masuk ke dalam laptopnya.
“Oke, semua file mu bisa di buka. Aku pergi lagi, Bee.” Malik langsung pergi meninggalkan Angell yang masih mematung.
Malik memang baik. Ia mau meluangkan waktu sibuknya demi angel yang kini bukanlah siapa-siapa untuknya.
“Terima kasih, Kak. Hati-hati.”
__ADS_1
“Oke.” Malik melingkarkan jarinya sebelum menutup pintu itu kembali dari luar.