Melanggar Janji

Melanggar Janji
Penyesalan Joni


__ADS_3

Di kamar kosan yang cukup mewah itu, Joni melihat-lihat album foto di sosial mediany. Di sana cukup banyak foto yang men-tag Rumi. Lalu, ia mengklik profile Rumi, di sana tidak terliat anda-tanda kehidupan. Terakhir Rumi memposting ‘hari pertama bekerja, semangat.’ Setelah itu dan hingga kini tidak ada lagi postingan di sana.


“Apa kabar kamu, Rum?” Gumam Joni sembari meyungging senyum.


Kemudian, Ia mencoba mendial nomor Rumi, ternyata tiak aktif. Ia coba sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Ia coba menyapa Rumi lewat whatsapp. Tapi hanya centang satu. Sudah lama sekali, ia tak berkomunikasi dengan Rumi. Satu bulan lebih ia mengabaikan Rumi, karena masih kesal akan kejadian itu. Walau Malik telah menjelaskan bahwa itu sebuah kesalahpahaman, tapi Joni sok jual mahal dengan menunggu Rumi untuk datang padanya dan meminta maaf lagi. Namun, nyatanya Rumi tak memberi kabar setelah satu bulan lebih lamanya. Dan, Joni pun asyik bermain-main dengan wanita lain, hingga hari ini ia sadar bahwa tidak ada wanita sebaik Rumi yang mau menerimanya dengan tulus.


Keesokan harinya, sepulang kerja Joni bertandang ke rumah Rumi.


Tok.. Tok.. Tok..


“Assalamualaikum.” Joni menyapa rumah Rumi yang terlihat sepi.


“Waalaikumusalam.” Jawab Ibu Rumi.


Pintu itu memang suda terbuka.


“Eh, Nak Joni.” Ibu Rumi menunjuk ke arah Joni dengan ragu.


“Iya, Bu. Ini saya Joni. Ibu sama Bapak apa kabar?”


“Baik. Ayo masuk!”


Joni mengikuti dan masuk ke dalam.


“Ya ampun sudah lama, nak Joni ndak ke sini.” Kata Ibu Rumi.


“Iya, Bu. Kemarin sempat ada ke salah pahaman antara saya dan Rumi.”


“Oh.” Ibu Rumi hanya membulatkan bibirnya.

__ADS_1


Joni berbasa-basi dengan menanyakan kabar semua anggota keluarga Rumi, dari Bapak hingga ke adik-adiknya. Ibu Rumi pun menceritakan adik-adik Rumi yang sedang bersekolah.


“Hmm, rumah kok sepi. Bu. Rumi belum pulang kerja?” Tanya Joni yang mengira Rumi sudah mendapatkan pekerjaan lagi.


“Loh, memang Nak Joni tidak tahu?”


“Apa, Bu?” Tanya Joni bingung.


“Rumi sudah menikah dua minggu yang lalu.”


Jedar


Joni seolah tersambar petir mendengar itu. dadanya bergemuruh, entah ia marah atau menyesal karena telah lama mengabaikan wanita itu dan tidak memulai untuk komunikasi lebih dulu.


“Memang Nak Joni tidak di undang Rumi?”


Joni menggeleng.


“Rumi menikah dengan siapa, Bu?” Tanya Joni.


“Dokter Jonathan, temannya Pak Malik.”


Joni semakin terhantam mendengar hal itu. Ternyata apa yang ia lihat waktu itu benar adanya. Ia semakin merasa telah di khianati mentah-mentah oleh Rumi. Hatinya semakin kesal bercampur menyesal. Menyesal karena tidak memperjuangkan cintanya sama sekali. Ia terlalu naif dengan menunggu Rumi untuk mememinta maaf dan membujuknya untuk meminta kembali menjalin kasih.


“Sekarang mereka tinggal di Jakarta ya, Bu?” Tanya Joni lagi.


Ibu Rumi menggeleng. “Tidak, Nak. Satu minggu yang lalu Rumi di bawa suaminya ke Jepang.”


“Nak Jo, memang dari awal sudah bilang kalau setelah menikah akan langsung membawa anak ibu ke sana dan menetap di sana.”

__ADS_1


Joni mengusap pelipisnya. Ternyata gadis yang ia kira akan menjadi pelabuhan terakhir untuknya, tidak menjadi kenyataan. Tak lama kemudian, Joni pamit dan keluar dari rumah itu dengan langkah gontai.


“Bodoh.” Joni tersenyum getir.


Ia merutuki kebodohan karena berharap Rumi akan meminta maaf dan memohon padanya untuk kembali, seperti biasa yang Rumi lakukan jika ia berbuat salah padanya. Bodohnya, Joni merasa tenang pada saat Rumi tidak menghubunginya sama sekali setelah kejadian itu.


Di Jepang, Jonathan dan Rumi tengah merengkuh kenikmatan dalam peluh. Jo selalu berusaha menjadi pria terbaik untuk Rumi. Walau pernikahan mereka masih seumur jagung, tapi Jo selalu menunjukkan sikap suami idaman, membuat Rumi merasa tidak menyesal memilih pria ini.


"Eumm.." Rumi terus melenguh dan mendesah, saat Jo lagi-lagi menghantam miliknya.


Gadis yang sebelumnya tak pernah mengenal bercinta ini pun di buat ketagihan oleh sentuhan sang suami.


"Mas, aku udah ga tahan. Ah." Rumi mengerang untuk kesekian kalinya. Namun, Jo masih bertahan dan belum memunjukkan untuk menyudahi penyatuan ini.


"Aku belum sampai, Sayang." Jo masih ingin berlama-lama di dalam tubuh istrinya. Padahal sang istri sudah sangat lelah malayani kebringasan seorang Jonathan.


Setelah lama memporak-porandakan tubuh itu, akhirnya Jo sampai pada puncaknya. Ia mengerang seraya mengeratkan pelukannya pada sang istri dan ambruk di atas tubuh itu.


"Hmm.. akhirnya kamu selesai juga." Rumi tersenyum manis pada sang suami, membuat Jo langsung membalas senyum itu.


"Maaf, Sayang. Aku terlalu menikmati percintaan kita, hingga tidak bisa sebentar." Jo merapihkan anak rambut Rumi yang basah dengan keringat.


"Love you, Rumi." Jo tersenyum.memandang istrinya dengan posiso yang masih berada dalam penyatuan itu.


"Aku juga sayang kamu, Mas." Rumi memang belum pernah mengatakan cinta. Dia hanya selalu bilang sayang. Tapi untuk Jo itu tak masalah karena seiring waktu sang istri pasti akan mencintainya.


Jo menarik lembut tubuh Rumi untuk di peluknya. Wanita itu pun langsung tertidur pulas. Jo memang membuatnya lelah setiap malam. Ia selalu melakukannya dengan durasi yang cukup lama. Jo memang terlihat bugar saat ini. ia rajin berolahraga sehingga tubuhnya lebih atletis dan tidak gempal seperti sebelumnya. Hasratnya pun ternyata sangat tinggi, di tambah istrinya yang polos sehingga membuat Jo ingin terus memakannya.


Jo mengelus pipi Rumi, wajahnya yang ayu memang sangat menarik perhatian Jo sejak pertama kali bertemu.

__ADS_1


“Terima kasih, sayang. Untung aku langsung membawamu ke sini. aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, hingga kamu benar-benar lupa dengan pria itu.” Gumam Jo, sambil terus mengelus pipi dan rambut istrinya.


Ia tahu Joni adalah cinta pertama Rumi. Namun, Jo yakin jika wanita sudah nyaman dengan suaminya, maka kisah lamanya akan tertutup dengan sendirinya. Apalagi dengan kehadiran buah hati nanti, akan semakin mengikat Rumi dan tak akan menengok ke belakang lagi.


__ADS_2