
Adrian membelokkan mobilnya untuk masuk ke basemant apartemen.
“Loh, kok malah ke aaprtemenku? Kita ngga pulang ke rumah kamu?” Tanya Farah pada suaminya.
Adrian menoleh ke arah Farah dan tersenyum. “Aku ingin menyelesaikan urusan kita.”
Farah tertawa. Ia tahu apa yang di maksud suaminya.
“Ngga tahan, pak?” Ledek Farah pada suaminya.
Adrian hanya nyengir.
“Terus Alika dan Faris gimana?” Tanya Farah lagi.
“Mereka di urus Mama dan Papa.”
“Dasar ya kamu!” Farah tertawa sambil memukul pelan lengan kiri Adrian yang masih fokus menyetir.
Mereka pun tertawa.
“By the way, aku ngga enak nih sama Mama.” Kata Farah.
“Ngga enak kenapa?”
“Ya, kita enak-enakan berduaan semetara Mama dan Papa kamu repot ngurus Alika dan Faris, harusnya kan itu tugas aku.”
Adrian memberhentikan mobilnya tepat di parkiran apartemen itu. lalu, ia memajukan wajahnya tepat di depan wajah Farah. Tangan Adrian terangkat untuk merapihkan rambut Farah dan menyelipkan rambut yang terurai itu ke belakang telinga.
“Aku terharu mendengar itu.” Ucap Adrian.
“Yang mana?” Tanya Farah bingung.
Adrian kembali tersenyum. “Mengurus Alika dan Faris adalah tugasmu.”
“Loh, kan memang iya seperti itu. Anakmu adalah anakku, Yan.”
Seketika Adrian memeluk tubuh Farah yang sekal. “Terima kasih.”
“Untuk apa? Aku belum mengurus kalian loh.” Ledek Farah.
“Tapi dengan niat baikmu saja aku sudah harus berterima kasih.”
Farah tertawa. Lalu, Adrian melonggarkan jaraknya.
“Kenapa ketawa?” Tanya Adrian.
“Lucu aja, ternyata kamu bisa romantis juga.” Farah terus tertawa.
Adrian langsung membuka pintu mobilnya dan keluar. Kemudian, Farah sedikit menghentikan tawanya. Ia pun keluar dari mobil dan mengejar langkah Adrian yang berjalan lebih dulu.
“Hei, tunggu.” Teriak farah karena Adrian meninggalkannya sendiri di basement, sementara Farah masih mengambil tasnya di jok belakang.
“Yan, Adrian tunggu.”
Kaki Adrian yang panjang sudah jauh meninggalkan Farah. Ia ahanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh kebelakang
Farah berlari ke arah Adrian dan langsung menomplok punggung Adrian dengan kedua tangan yang sudah bergelayut di leher suaminya itu.
“Jahat, kamu jahat ninggalin aku. Nyebelin.. nyebelin.. nyebelin.”
Adrian tertawa. Kedua tangannya di arahkan kebelakang untuk menahan b*k*ng Farah dan menggendongnya. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Farah.”
Adrian menolehkan wajahnya ke samping, karena wajah Farah menempel persis di telinga kanan Adrian.
“Jelek.” Kesal Farah pada suaminya.
“Biarin, lagian siapa suruh ngeledekin aku terus.” Adrian tertawa.
__ADS_1
“Hmm..” Rengek Farah, sambil terus memukul pelan punggung Adrian dan menggoyangkan kakinya dengan posisi Farah yang masih di gendong belakang.
Adrian menggeendong Farah hingga sampai di depan pintu apartemen Farah. Adrian yang sibuk menahan b*k*ng dan paha Farah tidak bisa menekan passcode yang ada di gagang pintu itu. lalu dengan cepat Farah menekan passcode itu.
Ting, pintu itu pun terbuka. Lalu, mereka masuk dan Adrian menutup pintu itu dengan sebelah kakinya.
“Yan, turunin.” Rengek Farah.
“Belum sampai kamar.”
“Yan, aku lapar. Aku mau buat makanan dulu.”
“Delivery aja.” Jawab Adrian.
Mereka pun sampai kamar dan Adrian menjatuhkan Farah tepat di atas ranjang. Pria itu langsung membuka kemejanya.
“Kamu mau apa, Yan?” Tanya Farah.
“Menurutmu?” Adrian menaikkan alisnya.
“Yan, aku mau makan, lapar.” Farah hendak menurunkan kakinya ke lantai, tapi Adrian dengan cepat menahan tubuh Farah untuk turun dari ranjang itu.
“Jangan banyak alasan!” Adrian menyeringai licik.
Farah menatap wajah Adrian dan menutup wajah itu dengan telapak tangannya. “Yan, kamu jangan mesum deh! Ngga pantes tau.”
Adrian tertawa dan menangkap tangan Farah untuk membuka wajahnya. “Ini semua gara-gara kamu. Pokoknya salah kamu sampai aku jadi seperti ini.”
“Ih, apa coba.” Farah mengangsur mundur, karena Adrian terus merangkak maju di atas ranjang itu.
“Ini gara-gara kamu, biasanya aku bisa tahan dengan godaan wanita. Kamu tahu. Hmm..” Adrian menggelitiki Farah.
“Aww.. Yan, geli.” Farah tertawa.
“Adrian..” Teriak Farah sambil tertawa karena Adrian terus menggelitikinya.
Pria kaku itu pun ikut tertawa.
“Ayo mau bilang aku apa lagi! si gunung es, muka datar, si gorgon, alien.” Adrian mengucapkan kata yang sering terlontar dari mulut Farah untuk menjulukinya.
“Ya, ampun, engga. Ampun. Udah.” Farah menyerah dan memohon ampun untuk tidak di gelitiki lagi.
Adrian pun menyudahi aksinya. Mereka berdua berbaring di atas tempat tidur itu dengan pandangan lurus pada langit-langit kamar. Nafas Farah tersengal-sengal akibat candaan Adrian padanya tadi. Ia menarik nafas dan mengatur pernafasannya agar kembali normal.
“Yan.”
“Hmm..”
“Kamu mikir apa?” Tanya Farah.
Adrian menoleh ke arah Farah dan tersenyum. “Ternyata aku memang menyukaimu sejak saat itu.”
Farah ikut menoleh ke arah Adrian, membuat pandangan mereka bertemu.
“Sejak kapan?” Tanya Farah lagi.
“Aku rasa kamu pun sama.” Jawab Adrian ambigu. Namun, Farah tau maksud dari jawaban itu.
Farah dan Adrian terdiam sesaat dengan tetap saling berpandangan. Mereka menatap bola mata masing-masing, mencoba mencari apa yng telah tersirat selama ini.
“Dulu kamu udah punya tunangan.” Ucap Farah lirih.
“Kamu juga udah punya pacar.”
“Kalau pacar masih bisa putus, tapi kalau tunangan kan udah serius.” Jawab Farah.
“Jadi, kenapa kamu suka sama aku?” Tanya Adrian.
__ADS_1
“Hmm.. karena kamu kaku dan suka aja ngeledekin dan ngebully kamu.”
Adrian tersenyum dan menggeserkan tubuhnya untuk lebih dekat pada wajah Farah agar bisa mengelus pipi dan rambut itu. Adrian menyampingkan tubuhnya dan menopang kepalanya pada satu tangan.
“Kalau kamu, kenapa bisa menyukaiku?” Tanya Farah.
“Karena kamu wanita yang menyenangkan.” Jawab Adrian.
Farah tersenyum. “Masa?”
Adrian mengangguk.
“Sekarang buat aku menyenangkan dalam hal yang lain.” Ucap Adrian lagi.
“Maksudnya?’ Tanya Farah.
“Kamu pasti faham maksudku.”
“Adrian. Aku bukan wanita penghibur.” Jawab farah ketus.
“Kau wanita penghibur yang khusus untuk menghiburku.”
“Adrian.” Teriak Farah tak terima, karena semakin lama suaminya semakin menyebalkan.
Adrian tertawa dan menempelkan keningnya pada kening Farah. Nafas Adrian mulai memburu. Ia pun ******* bibir Farah dan Farah langsung membalasnya. Bibir Farah langsung terbuka untuk menerima ciuman Adrian. Mereka yang berpengalaman itu pun berciuman dengan lihai. Keduanya menikmati penyatuan bibir itu dan mengecap dalam durasi yang cukup lama.
Lalu, ciuman Adrian turun ke leher, perut dan sampai pada bagian sensitif itu. Adrian tahu bahwa Farah menyukai ketika ia memainkan milik istrinya dengan lihai.
“Yan, hmm..” Farah melenguh, merasakan sensasi dahsyat yang akan bergejolak dari tubuhnya. ia terus meremas kepala Adrian yang berada di bawah sana.
“Yan. A-ku.. sam.. Ah.” Farah semakin melenguh saat pelepasan itu tiba.
Adrian kembali mensejajarkan wajahnya pada wajah Farah dan mencium lagi bibir sang sitri. “Enak.”
Farah megangguk, matanya sayu dan tubuhnya melemas. Farah mengusap lembut wajah Adrian. “Sekarang gantian aku yang melakukan itu.”
“Santai saja. Atur dulu nafasmu.” Jawab Adrian sambil terus menelusuri tubuh istrinya yang tak lagi menggunakan apapun.
Farah sadar suaminya sudah sangat siap. Apalagi Adrian sudah lama menduda, tapi Adrian pria yang hebat yang bisa mengontrol dirinya dengan baik.
Setelah nafas Farah normal, ia mengambil alih peran. Farah mulai melakukan apa yang Adrian tadi lakukan untuknya.
“Far, Hmm.. Kamu hebat. Ah.” Racau Adrian saat mendapat pelayanan dari sang istri.
“Far, No. Aku ingin melepaskan di tempatnya. Sss.. top! Ah.” Adrian sudah hilang kendali dan langsung membantung tubuh Farah untuk di kungkung.
“Aku ingin melepaskan pada tempatnya.” Ucap Adrian lirih, tapi Farah malah nyengir, ia memang ingin menggoda suaminya.
“Nakal.” Adrian mencubit hidung Farah.
Lalu, Farah dengan cepat membalikkan tubuhnya hingga Adrian berada di bawahnya.
“Aku yang memimpin. Nikmati, Sayang.” Kata farah dengan suara sensual sambil menggoyangkan tubuhnya untuk menggoda sang suami. Ia juga menggigit bibir bawahnya.
Sudut bibir Adrian pun mengembang. Sungguh hasratnya sudah di ubun-ubun. Farah memang wanita yang pintar memberinya kesenangan. Ia benar-benar wanita penghibur, yang khusus untuk menghibur dirinya seorang.
Farah memimpin penyatuan itu. Ia menari-nari di atas tubuh Adrian, hingga Adrian lengah dalam permainan itu.
“Kamu jago banget, Sayang. Pintar. Hmm..” Racau Adrian.
“Suka?” Tanya Farah berbisik di telinga Adrian.
“Banget.”
Farah tersenyum. Mereka pun saling tersenyum dan bertatapan tanpa jarak. Adrian mengusap dahi Farah dan menyingkirka rambut yang menutupi wajah istrinya dengan lembut. Farah yang agresif dan semangat, membuat dahinya berpeluh banyak keringat. Namun, Adrian menyukai itu. ia menyukai wajah Farah yang seperti ini, sensual, erotis, bergairah, dan sangat menggoda.
__ADS_1
Guys.. Jangan lupa mampir di karya baru ku yang berjudul AKU BUKAN WANITA PENGGODA. Dukung dengan like, komen, vote, dan hadiahnya ya.. Hatur nuhun, matur suwun, tararengkyu, terima kasih se kebon buat readersku yang baik hati
😘😘😘😍😍😍😍🥰🥰🥰🤗🤗