Melanggar Janji

Melanggar Janji
Jangan salahkan, jika aku mengambilnya


__ADS_3

Aktifitas Angel semakin hari semakin padat. Ia harus mengimbangi tugas di rumah sebagai ibu sambung untuk Alika dan Fariz, juga menyelesaikan tugas akhir pendidikan strata dua nya. Namun, Angel menjalani semua hal dengan baik. Terkadang Malik mengirim makanan lewat jasa apikasi online saat Angel tengah berada di kampus. Tidak jarang, Malik juga menunggu Angel di stasiun kereta hanya untuk memastikan wanita yang ia cintainya itu dalam keadaan baik, walau mereka tidak janjian untuk bertemu di tempat itu sebelumnya.


Hari ini, Angel sudah meminta izin pada Adrian untuk ikut bersama teman-teman kampusnya ke Jogya. Sebelum berpisah, teman-teman satu kelas Angel itu merencanakan jalan-jalan ke sana. Bukan hanya untuk jalan-jalan saja, mereka juga ingin mengunjungi beberapa pengrajin dan pebisnis tradisional yang cukup banyak mempekerjakan warga di sana, sebagai bahan tugas akhirnya nanti.


“Bi, maaf ya. Kemungkinan saya pergi cukup lama. Tolong jaga Alika dan Fariz.” Kata Angel pada si Bibi di dapur.


“Tenang saja, Bu. Mereka akan baik-baik saja selama ibu pergi.” Jawab si Bibi tersenyum.


“Bu, tapi sepertinya muka ibu pucat. Ibu sakit?” Tanya si Bibi.


“Masa sih, Bi?” Angel balik bertanya sembari menangkup wajahnya sendiri.


“Emang sih, sudah dua hari saya rasanya lemas dan ga nafsu makan, Bi.” Kata Angel lagi.


“Kalau kondisi ibu seperti ini, tidak usah pergi atuh Bu.” Jawab si Bibi.


“Hmm.. sudah terlanjur janji dengan teman yang lain, Bi. Semoga nanti jalan-jalan malah jadi sehat.” Ucap Angel sembari mengangkat kedua lengannya ke atas, membuat si Bibi tertawa.


Si Bibi tahu betul bagaimana repotnya Angel di rumah, di tambah ia pun masih tetap menlajutkan pendidikannya. Pasti Angel butuh resfreshing dan jalan-jalan.


“Kamu sudah siap berangkat?” Tiba-tiba suara Adrian yang datang ke arah dapur, menghentikan obrolan Angel dengan si Bibi.


“Sudah.” Angel mengangguk.


“Tapi sebelum berangkat, antar Alika dan Fariz dulu ke sekolah ya, karena aku sudah terlambat.” Ucap Adrian terburu-buru.


Padahal baru saja Angel ingin meminta Adrian untuk mengantarkan kedua anaknya dulu kesekolah sebelum ia berangkat kerja, karena Angel masih ingin istirahat sebentar.


“Kamu tidak bisa mengantar mereka? kali ini saja.” Pinta Angel.


“Tidak bisa, aku buru-buru.” Jawab Adrian sembari mengambil sandwich yang sudah Angel siapkan, setelah meminum air jeruk hangat yang juga di siapkan juga oleh Angel sebelumnya.

__ADS_1


“Aku pergi duluan.” Kata Adrian lagi, lalu meninggalkan Angel dan si Bibi yang masih berdiri di sana.


Angel menarik nafasnya kasar. Pasalnya Adrian tidak pernah membantu Angel dalam mengurus anak-anaknya. Setidaknya Adrian mau berbagi sedikit dalam mengurus Alika dan Fariz, jika Angel sedang kerepotan.


“Sabar ya, Bu. Pak Adrian memang seperti itu. Dulu almarhumah Bu Alya juga tidak pernah bisa ada waktu untuk dirinya sendiri, karena Pak Adrian sibuk terus. Kalau Bu Angel masih mending boleh kuliah lagi, boleh jalan-jalan sama teman-temannya. Dulu, Bu Alya boro-boro. Mau keluar rumah ga boleh. Jalan-jalan sama temannya juga di larang. Pokoknya harus di rumah ngurusin anak dan nunggu suami pulang.” Kata si Bibi menceritakan kisah rumah tangga Adrian sebelumnya.


“Oh, begitu. Kasihan dong yang jadi istrinya dia, Bi” Angel semakin ilfil mengetahui karakter Adrian.


“Ih, tapi Bapak baik, Bu. Ga pelit kalo soal duit dan sayaaang samam istri. Ibu tau ga? Bapak tuh setiap hari kalo pulang kerja tanya ibu udah pulang belum? Pulang jam berapa? Udah makan belum? Itu kan tandanya bapak sayang dan perhatian, Bu.” Sambung si Bibi panjang lebar.


“Masa’ sih?” Tanya Angel tak percaya.


“Ih ibu mah ga percaya.” Sahut si Bibi.


Angel hanya tersenyum. Ia mengingat lagi perkataan si Bibi sebelumnya. Yang di katakan si Bibi memang benr, Adrian tidak pelit dalam urusan duit, karena Angelpun merasakannya. Namun untuk apa berlimang harta tapi batin tersiksa, karena menikah itu adalah kerjasama, sama-sama nyaman, sama-sama aman, dan sama-sama berjalan beriringan untuk menggapai tujuan.


Angel kembali menarik nafasnya kasar. Ia melihat Alika dan Fariz yang siap untuk berangkat ke sekolah.


“Sarapan dulu, Bu.” Kata si Bibi pada Angel yang langsung pergi.


Angel hanya menggeleng. Ia sering sekali melewatkan sarapan paginya saat mengawali aktifitas sehari-hari.


Setelah mengantar Alika dan Fariz ke sekolah. Angel kembali memasuki mobil dan kembali pulang ke rumah bersama Mang Asep.


“Ibu sakit?” Tanya Mang Asep yang melihat Angel dari kaca spion dalam, tengah memegangi kepalanya.


“Sedikit, Mang. Tapi ga apa nanti minum obat juga sembuh.” Jawab Angel.


Sesampainya di rumah, Angel pun kembali berangkat ke kampus karena semua teman-temannya menunggu di sana untuk berangkat bersama.


“Bu, bawa makanan ini buat di jalan. Ibu belum makan apa-apa dari tadi.” Kata si Bibi.

__ADS_1


“Ga usah, Bi. Saya juga lagi ga nafsu makan.”


“Ih, si Ibu, nanti sakit loh.”


“Ngga, Bi. Makasih ya.” Jawab Angel tersenyum pada si Bibi yang begitu perhatian.


Angel pun di antar Mang Asep hingga stasiun kereta. Kepalanya semakin berat dan suhu tubuhnya pun agak hangat. Angel mengambil ponsel untuk menelepon salah satu temannya yang masih menunggu di kampus.


Tut.. Tut.. Tut..


“Halo.” Sambungan telepon tersambung dengan teman Angel yang bernama Nadia.


“Nad, maaf ya sepertinya aku batal ikut. Aku ga enak badan banget nih.”


“Oh gitu, yah sayang banget. Ngel.” Kata Nadia.


“Iya, maaf ya. Nad. Ga apa-apa kan?” Tanya Angel yang tidak enak dengan teman-temannya yang lain karena ia tak hadir dadakan.


“Ya mau gimana lagi. Ya udah istirahat daripada lo ikut malah tambah sakit nanti. Ya udah ga apa, Ngel. GWS ya.” Jawab Nadia.


“Thanks ya, Nad.” Ucap Angel dan mematikan ponselnya.


Angel berjalan pelan, karena rasanya ia ingin pingsan. Lalu, Angel ingat apartemen yang di berikan Malik. Tempat itu adalah satu-satunya tempat singgah yang aman untuknya me-recovery diri. Tidak ada yang tahu bahwa apartemen itu adalah miliknya, bahkan Ella dan Hendra pun hanya tahu bahwa apartemen itu adalah apartemen yang di sewa bos Angel untuknya selama bekerja. Adrian pun tak pernah sekali pun mengantar Angel ke apartemen itu sebelum mereka menikah.


Sesampainya di apartemen, Angel langsung ke kamar dan membaringkan dirinya di sana.


Di kantor, Malik melihat melalui cctv ponselnya bahwa Angel tengah berada di sana. sebelumnya, Mang Asep juga memberi tahu padanya tentang keadaan Angel yang pucat dan kurang sehat.


Malik langsung menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Ia ingin segera menemui Angel. Jika tidak ada pertemuan dengan klien, mungkin sekarang ia sudah langsung meluncur ke apartemen itu.


“Kamu keterlaluan Adrian. Kamu perlakukan wanita yang aku cintai seperti ini. jangan salahkan aku, jika aku mengambilnya.” Gumam Malik setelah melihat cctv itu dari ponsel yang ia pegang saat ini.

__ADS_1


__ADS_2