Melanggar Janji

Melanggar Janji
Nasib Diva


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Usia kehamiln Angel sudah memasuki trimester ketiga. Jadwal untuk kontrol pun semakin sering. Seperti sore ini, Malik mengantar sang istri untuk memeriksakan kandungannya. Mereka duduk di ruang tunggu persis di depan ruangan Farah.


Malik menopangkan kepalanya pada bahu Angel dengan mata terpejam. Memang sudah dua hari ini, suami Angel itu hanya tidur sedikit. Walau ia tak pernah pulang malam, tapi ia selalu membuka lagi laptopnya setelah sampai di rumah.


“Ibu Angel.” Panggil suster itu.


“Kak.” Angel menggoyangkan bahunya dan menepuk pelan pipi suaminya yang tertidur pulas.


“Hmm.. sudah di panggil.” Malik bangun dan angel mngangguk.


Mereka pun bangkit dan berjalan menuju ruang Farah. Mereka melebarkan senyum saat melihat dokter cantik itu, karena Farah sudah memasang senyumnya lebih dulu.


“Kantung matamu tebal sekali, Lik.” Ucap Farah.


“Ya, sedang banyak pekerjaan, Mba.”


“Kurangi olahraga malam, jadi bisa lebih banyak istirahat.” Ledek Farah.


Malik duduk di hadapan Farah dan Angel di tuntun perawat untuk berbaring di tempat tidur pasien.


“Kalau itu mah ngga bisa di kurangi, Mba.” Ledek Angel, membuat Farah dan suster itu tertawa.


“Begadang terus donk kamu jadinya.” Farah menambahi.


“Puas-puasin, Mba. Kan nanti kalau Angel lahiran bakal puasa dua bulan.”


Farah dan suster itu pun kembali tertawa. Sedangkan Angel hanya tersenyum mendengar kemesuman suaminya di depan orang lain.


“Kamu kasih service apa dia Ngel, sampe kek gini?” Tanya Farah pada Angel yang tengah berbaring menghadapnya.


Farah mulai mengolesi alat untuk di tempelkan pada perut Angel yang besar.


“Seperti saran Mba dulu.”


Farah tertawa dan menggeleng. “Ya ampun, ternyata saranku jitu juga ya.” Farah dan Angel tertawa bersama.


“Sepertinya Bang Adrian bakal seperti saya nanti.” Ledek Malik pada Farah.


Mereka pun kembali tertawa.


“Udah ah, dari tadi kita becanda terus.” Farah mulai mengarahkan alat itu tepat di perut Angel yang bulat.


“Alhamdulillah mereka sehat, beratnya pun sesuai usianya. detak jantungnya bagus. Organ-organ tubuhnya yang lain juga berkembang bagus.” Farah menunjukkan organ-organ baby twin yang masih terlihat titik saja di layar monitor itu.


“Alhamdulillah.” Ucap Malik dan Angel bersamaan.


“Jenis kelaminnya, Mba? Kemarin kan baru terlihat satu.” Tanya Malik antusias.


Farah kembali menekan alat itu di bagian bawah perut Angel. “Hmm.. kalau di lihat ini.. Wah yang satunya monas.”


Wajah Malik langsung berbinar, karena sebelumnya Farah hanya menunjukkan satu calon bayi yang menunjukkan jenis kelamin perempuan.


“Jadi kami akan dapat sepasang, Mba?” Tanya Angel dan Farah mengangguk.

__ADS_1


“Alhamdulillah.” Malik kembali mengucap syukur. Begitu pun Angel.


Kedua wajah pasangan suami istri ini terlihat bahagia dan berbinar senang.


“Oke kalau begitu. Secara keseluruhan semua bagus. Kalau kalian ingin lebih akurat lagi, bisa melakukan USG empat dimensi.” Sambung Farah.


Farah membersihkan tangannya dan suster membersihkan perut Angel dari gel yang menempel.


“Mba, lusa makan malam di rumah ya!” Ajak Malik.


“Wah ada apaan nih?” Tanya Farah.


“Alika dan Faris lagi ada di rumah kami, Mba. Dan katanya mereka kangen Mba.” Jawab Angel.


“Oh, ya? Kok Adrian ga bilang kalau Alika dan Faris di sini.”


“Kemarin, aku ke Jakarta sebentar buat nemuin Papa, terus Alika dan Faris lagi libur semester dan minta ikut. Ya udah saya ajak. Nanti pulangnya biar di jemput bapaknya aja.”


“Oh, Oke.” Farah mengangkat ibu jarinya ke atas.


Setelah selesai periksa, Malik menggandeng Angel keluar dari ruangan itu. mereka pnn kembali pulang, karena Alika dan Faris sudah menunggu di rumah. Kedua anak Adrian itu sangat antusias menunggu kelahiran baby twins yang ada di perut Angel. Sudah tiga hari mereka menemani Angel di rumah. Sedangkan Adrian akan kembali ke Jakarta besok, setelah selesai tugas di jerman selama empat bulan.


Angel menjadi pasien terakhir untuk Farah hari ini. Farah membereskan peralatan medis di temani oleh perawat yang membantunya di setiap praktek. Setelah ini, ia ingin membelikan sesuatu untuk kedua anak Adrian.


Ceklek


Salah satu perawat membuka pintu ruangan Farah.


“Dok, di ruang IGD ada ibu yang ingin melahirkan. Keadaannya memprihatinkan karena ibu itu terpeleset di kaamr mandi.” Kata perawat itu.


“Oke.” Farah segera keluar dari ruangan itu dan mengikuti langkah perawat tadi.


“Ibu.” Farah memanggil wanita itu, yang tak lain adalah Ibu Tomy.


Ibu Tomy menengadahkan kepalanya dan bangun dari tempat duduk itu.


“Farah, kamu tugas di sini?”


Farah mengangguk.


“Far, tolong selamatkan cucu ibu, tolong Farah.” Ucap wanita paruh baya yang selalu mendzoliminya.


“Iya, Bu. Saya akan berusaha. Tenanglah!” Farah menepuk bahu mantan ibu mertuanya.


Farah menegdarkan pandangan, tapi tak ada sosok Tomy yang ada di sini, padahal ketika istri melahirkan, sosok suami adalah sosok yang paling penting untuk ada menemani.


Farah memasuki ruangan itu dan melihat Diva tengah meraung kesakitan.


“tensi darahnya tinggi, Dok.” Kata suster di sana.


Farah pun langsung memeriksa. Terlihat raut wajah sedih dan bermasalah di mata Diva saat menatap Farah.


“Mba, maafin aku. Maafin semua kesalahan aku.” Diva langsung menggenggam tangan Farah dan menangis.


Farah tersenyum. “Aku sudah memaafkanmu, Div. Jauh sebelum kamu memintanya.”

__ADS_1


Disa semakin menangis. Ia meratapi nasib dirinya yang memang menjadi penyebab berpisahnya Farah dan Tomy. Ia pikir setelah Tomy menceraikan Farah, ia akan menjadi ratu satu-satunya di hati Tomy yang akan selalu di sayangi dan di cintai. Tapi ternyata, paska perceraian itu, Tomy menjadi pribadi yang berbeda. Apalagi setelah tomy tahu bahwa Farah di lamar Adrian dan tidak ada lagi peluang untuk dirinya rujuk, Tomy semakin menjadi. Dua bulan setelah itu, Tomy menikahi wanita muda. Malah sekarang, hati Diva kembali berdenyut karena Tomy sedang dekat dengan anak SMA. Patah hati dari Farah, membuat Tomy melampiaskan pada banyak wanita untuk menyembuhkan hatinya yang terluka.


Diva di bawa ke meja operasi. Karena ketubannya sudah kering dan bayi yang ada di dalam perut Diva tidak menunjukkan tanda-tanda ingin keluar, akhirnya Farah mengambil tindakan.


“Tenangkan dirimu, Div. Fokuskan pikiranmu hanya untuk dia, anakmu yang akan lahir.” Ucap Farah untuk memberikan dukungan.


Farah menggenggam tangan Diva kuat.


“Sekali lagi, maafkan aku mba.”


“Iya, Diva.” Farah terus mengangguk.


“Mas Tomy menikah lagi, Mba. Kini aku tahu rasanya.” Diva menangis.


“Sudahlah, tenangkan dirimu. Jangan memikirkan apapun, yang penting bayi di periutmu selamat. Oke.” Farah kembali menenangkan psikis Diva yang sangat berantakan.


Farah di bantu oleh beberpaa perawat di sana, memulai untuk melakukan operasi. Setelah empat puluh menit di ruang operasi. Akhirnya, bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu menangis.


“Selamat, Diva. Bayimu sehat.” Farah menyerahkan bayi itu ke dada Diva.


Diva tersenyum bahagia. Rasanya rasa sakit itu lenyap hilang dan berganti senang.


“Terima kasih, Mba.”


“Iya.” Farah pun tersenyum bahagia.


Setelah itu, Farah membuka pintu ruang operasi. Ia masih belum melihat kehadiran Tomy. Farah menggelengkan kepalanya, ia tak menegrti mengapa Tomy menjadi pria yang tidak bertanggung jawab seperti ini.


“Bagaimana anak saya, Dok?” Tanya pria paruh baya beserta istrinya. Mereka adalah orang tua Diva, sekaligus sahabat dari ibu Tomy.


“Bagaimana cucu ibu, Far?” Tanya ibu Tomy.


“Kamu, dokter Farah?” Tanya ibu Diva.


Farah mengangguk. Ibu Diva langsung bersujud di kaki Farah. “Terima kasih telah menolong putri saya. Maaf, maafkan kesalahannya.”


Farah mengangkat bahu wanita paruh baya itu. “Saya merasa tidak pernah terjadi sesuatu, Bu. Tidak ada sakit hati di sini.” Farah tersenyum, sambil menunjuk dadanya.


“Putri saya sudah mendapatkan balasan dari apa yang dia lakukan. Dia sangat menderita sekarang.” Ucap ayah Diva.


“Suaminya pun tidak peduli padanya.” Ayah Diva menatap ibu Tomy.


Ibu Tomy hanya menunduk.


“Setelah ini, biarkan kami yang merawat anak kami, Jeng. Suami saya akan mengurus percerain Diva dan Tomy.” Sahut Ibu Diva.


“Tapi Jeng. Bagaimana cucuku.”


“Diva dan anaknya akan tinggal bersama kami.”


Seketika Ibu Tomy melemas.


“Maaf.” Farah menyela pertengkaran antara besan ini.


“Sekarang Diva dan anaknya bisa kalian lihat sebelum di pindahkan ke ruang perawatan.” Ucap Farah lagi.

__ADS_1


Lalu, ketiga orang yang telah berusia lima puluhan ke atas itu pun segera masuk. Ayah Diva langsung mengadzani cucunya.


Farah menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis pikir denganTomy sekarang. Mengapa ia bisa tega meninggalkan istrinya yang tengah hamil tua dan memilih bersenang-senang dengan wanita lain.


__ADS_2