Melanggar Janji

Melanggar Janji
Bonus chapter 5


__ADS_3

“Arrggg ...” Adrian mengerang, saat ia melepaskan pelepasan dari penyatuannya dengan sang istri.


“Eum ...” Farah pun menyambut erangan sang suami.


Adrian ambruk di atas tubuh istrinya dengan peluh. Hampir satu tahun, mereka menikah. Satu bulan lagi, mereka akan merayakan satu tahun pernikahan. Namun, untuk urusan bercinta, mereka tetap melakukannya hampir setiap malam, Adrian hanya absen, jika sang istri sedang mendapatkan tamu bulanan.


Rumah tangga Adrian dan Farah terlihat sangat harmonis. Mereka bekerjasama dalam mengurus Alika dan Faris. Adrian pun tidak lagi egois dan hanya memikirkan pekerjaannya saja, tetapi ia juga ikut berperan dalam mengurus kedua anaknya.


Farah dan Adrian semakin kompak. Mereka kompak dalam mengurus anak, juga kompak dalam pekerjaan. Hampir setiap malam mereka berbincang masalah pekerjaan. Mungkin, karena keduanya memiliki profesi yang sama, sehingga mereka sering berbincang, saling mendukung, dan menghasilkan komunikasi yang baik.


Setelah lama berada di atas tubuh Farah, akhirnya Adrian merebahkan tubuhnya ke samping. Ia menyelipkan tangannya pada leher dan bahu Farah, agar ia dapat memeluk sang istri. Kemudian, Adrian mencium kening itu.


“Terima kasih.” Adrian tersenyum.


Farah menonggak dan membalas tatapan itu dengan senyum. “sama-sama.”


Mereka saling tersenyum dan menatap penuh cinta. Lalu, Farah kembali pada posisi semula. Jemarinya menari di atas dada bidang sang suami sembari memainkan bulu-bulu tipis yang ada di area itu.


“Yan.”


“Hmm ...”


“Bagaimana, jika kita mencoba bayi tabung?” tanya Farah lirih.


Ini adalah kali pertama, keduanya berbincang masalah keturunan. Mungkin, untuk Adrian keturunan tidaklah hal yang utama, karena dia sudah memiliki putra dan putri. Namun, untuk Farah, anak masih sangat ia rindukan. Ia ingin menjadi wanita seutuhnya, karena baginya seorang wanita baru dikatakan sempurna, jika dia bisa melahirkan. Apalagi, dari pria yang dicintai, seperti Adrian. Farah sangat ingin memiliki keturunan dari pria yang menjadi suaminya ini.


“Menurutku tidak perlu,” jawab Adrian santai.


Farah menggeser tubuhnya, agar bisa berhadapan dengan sang suami.


“Tapi, menurutku perlu. Aku ingin seorang anak. Apa kamu tidak meginginkan anak dariku?” tanya Farah sedih.


“Hei, kamu bicara apa? Pasti aku Ingin.” Adrian kembali merengkuh tubuh sang istri da memeluknya erat, hingga tubuh polosnya menempel pada tubuh polos sang suami. “Aku hanya tidak ingin membebanimu dengan ini. biarlah semua berjalan apa adanya.”


“Tapi usiaku sudah tidak muda lagi, Yan. Aku ingin sebelum memasuki usia empat puluh, sudah melahirkan anak kita.”


“Aku pun ingin seperti itu. Kita sudah berusaha, tapi memang belum diberi.”


“Usaha kita belum maksimal, Yan. Yah, program bayi tabung. Oke.” Farah menatap melas pada sang suami. “Coba dulu, siapa tau rezeki... Yah!”


Farah terus membujuk sang suami untuk melakukan program yang menurutnya cukup akurat.


Adrian terdiam. “Bagaimana kalau tunggu satu tahun lagi?”


“Tahun depan, aku sudah tiga puluh delapan tahun. Kalau program langsung berhasil, kalau tidak, berarti menunggu tahun berikutnya. Semakin lama usiaku menjadi emapt puluh, Yan. Aku tidak ingin membuang-buang waktu.”


Adrian tersenyum. Ia melihat kesungguhan sang istri yang sangat ingin memiliki keturunan darinya.


“Apa kamu ingin sekali memiliki anak dariku?” tanya Adrian sembari mengelus rambut dan pipi Farah.


Farah mengangguk. “Sangat, Yan. Kamu adalah pria yang aku cintai. Aku ingin ada buah hati sebagai bukti cinta kita.”


Adrian tersenyum dan menarik kepala Farah lembut. Lalu, ia mencium pucuk kepala itu. Walau sejujurnya ia sangat berat menyetujui permintaan Farah, tapi entah mengapa ia tidak bisa berkata tidak, jika Farah merajuk dan menginginkan sesuatu darinya. Segitu besarkah pengaruh Farah pada dirinya? Adrian kembali tersenyum menatap wanita yang tengah dipeluknya ini. Ternyata, Farah memang wanita yang ia cintai melebihi dari wanita-wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Ia mengecup lagi pucuk kepala itu.


“Bagaimana?” tanya Farah lagi.


“Lakukan apa yang menurutmu baik.”


Sontak, Farah bangun dan menoleh ke arah suaminya. “Sungguh?’

__ADS_1


Adrian tersenyum dan mengangguk. “Ya.”


“Adrian, aku mencintaimu. Love you so so so much much much more.” Farah senang dan mengecup seluruh wajah suaminya. Ia tak menyangka akan semudah ini membujuk sang suami untuk menuruti permintaannya, karena ia tahu Adrian adalah pria yang memiliki gengsi tinggi.


****


Keesokan harinya. Seperti biasa, Farah bangun lebih dulu dan menyiapkan semua keperluan suami dan anak-anak sambungnya.


“Sayang, sudah rapih?” tanya Farah menongolkan kepalanya di kamar Faris.


“Faris belum rapih, Ma. Dia susah sekali dibangunkan tadi,” jawab Alika.


Alika bertanggung jawab membangunkan sang adik di setiap hari kerja.


“Kenapa telat bangun, semalam ngga main game sampe larut kan?” tanya Farah, karena Faris pernah kepergok tengah asyik bermain game hingga larut malam. Padahal semula, Farah dan Adrian sudah mematikan lampu kamar itu dan menyelimuti tubuh Faris yang sudah memejamkan mata.


Kebetulan, Faris dan Alika memiliki kamar masing-masing dengan pintu yang saling berhadapan.


“Ngga, Ma. Faris ga main game kok. Tapi memang masih ngantuk.”


“Bener?” tanya Farah tersenyum.


Farah selalu meminta pada Alika dan Faris untuk selalu berkata jujur, walau itu sebuah kesalahan. Ia tidak akan mengadukan kesalahan itu pada sang ayah, jika mereka jujur. Namun, jika tidak, Farah akan mengatakan kesalahn yang dilakukan mereka pada Adrian. Itu kesepakatan Farah dengan kedua anak Adrian yang pintar dan lucu.


“Benar, Ma.” Faris berkata jujur.


“Baiklah, Mama percaya,” jawab Farah tersenyum, sembari merapihkan seragam yang digunakan Faris dan memasangkan dasi dan rompi di tubuh mungil itu.


“Alika sudah rapih?” tanya Farah pada anak perempuan Adrian.


Alika mengangguk. “Sudah.”


“Tasnya?’


“Pintar. Ayo sarapan dulu.” Farah menggiring kedua anak Adrian menuju meja makan.


“Kalian, ke ruang makan dulu. Mama lihat Papa udah rapih apa belum,” ucap Farah lagi, ketika mereka sudah keluar dari kamar Faris.


Farah dan Adrian pagi ini kebetulan memang akan berangkat pagi, sehingga ia yang akan mengantarkan Alika dan Faris terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit.


“Yan, sudah selesai?” tanya Farah dengan menongolkan kepalanya ke dalam pintu kamar mereka.


Farah melihat Adrian yang hendak memasangkan dasi. Ia pun langsung menghampiri suaminya dan segera mengambil alih untuk memasangkan dasi itu.


“Anak-anak sudah rapih?” tanya Adrian.


“Sudah, mereka menunggu di ruang makan.”


Adrian tersenyum. Hampir setiap pagi aktifitas mereka seperti ini. semua urusan aman terkendali. Farah mampu menjadi ibu sambung untuk kedua anaknya, sekaligus istri yang selalu memenuhi kebutuhannya. Ia bersyukur untuk itu.


Selesai sarapan. Mereka menaiki mobil. Adrian dan Farah berada di kursi depan, sedangkan Alika dan Faris di kursi penumpang. Sesampainya di sekolah, Farah turun dan mengantarkan kedua anak sambungnya hingga memasuki gerbang. Sebelum turun dari mobil, kedua anak Adrian tak lupa mencium punggung tangan sang ayah. Di depan gerbang sekolah itu pun, Alika dan Faris mencium punggung tangan Farah dan pipi Farah bergantian.


Melihat pemandangan itu dari dalam mobil, membuat hati Adrian semakin bahagia dan semakin mencintai istrinya yang memiliki hati baik.


Farah kembali memasuki mobil itu. Adrian tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Adrian dan Farah mendaftarkan untuk memulai program yang semalam mereka sepakati. Setelah itu, baru mereka kembali menjalankan tugasnya di ruang tugas masing-masing.


“Woi, sendirian.” Sapa Bayu, saat memasuki jam makan siang.

__ADS_1


“Iya nih, tumben. Biasanya kemana-mana berdua. Udah kaya perangko,” ledek Egy.


Kebetulan, siang ini Farah ada jadwal operasi caesar, sehingga ia menyuruh suaminya untuk makan siang lebih dulu, karena sekitar pukul dua, Adrian pun memiliki jadwal operasi.


“Farah lagi ada jadwal operasi,” jawab Adrian santai sembari memasukkan makanannya ke mulut.


“Kalo gitu kita gabung,” ucap Egy.


Sedangkan Bayu langsung meninggalkan kedua sahabatnya ini untuk memesan makanan.


“Bay, gue nasi rames satu. Sambelnya banyakan!” teriak Egy pada Bayu.


Bayu memesan makanan untuk dirinya dan Egy dan meminta pelayan itu untuk membawakan ke meja yang ia duduki.


“Ada gosip baru,” ucap Bayu.


“Halah, lu udah kaya emak-emak, hobbynya ngegosip aja.” Celetuk Adrian, yang selalu mendapatkan hot news seputar rumah sakit ini dari Bayu.


“Kenapa? Lu udah dapetin perawannya suster Alifia,” sahut Egy.


“Belum. kalo itu lagi otw,” jawab Bayu santai. Bayu memang sedang mengincar suster alim dan berhijab itu.


“Gila lu, awas aja lu mainin suster Alifia. Kasian Bay. Dia bukan wanita seperti yang biasa lu mainin.”


“Iya, orang-orangan sawah,” jawab Bayu pada Adrian. “Lagian siapa sih yang mau mainin suster Alifia. Gue deektin dia, emang pengen gue jadiin istri kok, bukan pacar.”


“Serius lu?” tanya Egy tak percaya.


“Seribu rius malah.”


“Akhirnya, tobat juga lu,” celetuk Adrian.


Ketiganya tertawa.


“Bro, lu program bayi tabung?” tanya Egy pada Adrian. “Gue liat lu sama Farah di sana tadi pagi.”


“Ck... Ah, kepergok aja gue.”


“Lu ngga subur, Yan? Apa lemah syahw*t?” ledek Bayu, membuat ia dan Egy tertawa geli.


“Kampret lu, ya ngga lah. Farah yang pengen. Lu tau kan, kondisi rahim Farah emang sedikit bermasalah. Jadi gue mengiyakan apa yang dia mau.”


“Tapi kalo punya lu maknyos. Doi bisa lah, walau kemungkinan itu tipis, tapi semoga berhasil.” sahut Egy.


“Ya, gue juga masih pengen pake cara alami dulu, tapi sepertinya Farah pengen cepet,” jawab Adrian.


‘Yaudah, sini sama gue. Test drive, bakal cepet deh,” ledek Bayu.


‘Si*l lu.” Adrian mentoyor kepala Bayu.


“Lu kira, gue sudi.” Sungut Adrian, membuat Bayu dan Egy tertawa lagi.


“Canda, Yan.” Bayu tertawa.


“Jangan ledekin Adrian terus, lu Bay. Taringnya keluar baru nyaho lu.”


Adrian tertawa.


“Sorry, Bro,” ucap Bayu yang langsung di beri senyuman oleh Adrian.

__ADS_1


Adrian tahu memang sahabatnya yang satu ini, paling menyebalkan. Namun, jika kehadirannya tidak ada, sangat dirindukan.


Mengingat kembali Farah, Adrian pun merencanakan kejutan anniversary satu tahun pernikahan mereka untuk sang istri tercinta. Adrian akan berlibur ke sebuah tempat yang romantis berdua selama beberapa hari. Bibirnya menyungging senyum, membayangkan ekspresi Farah nanti.


__ADS_2