
Angel berlalu menuju kamar mandi. Ia sempat menoleh dan tersennyum ke arah Malik yang masih berdiri di pintu balkon, seolah ingin mengajak suaminya untuk mandi bersama. Namun, Malik sedang tidak ingin bercinta di dalam kamar mandi, terlebih ini adalah malam pertama setelah menjadi halal, walau bukan yang pertama ali melakukannya.
“Jangan lama-lama ya, Bee.” Ucap Malik santai sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana itu.
Angel tersenyum dan mengangguk. Lalu, masuk ke kamar mandi.
Malik duduk di tepi ranjang dan meraih ponselnya. Ia membuka semua akun sosial media yang semula ia tutup sepuluh tahun silam. Terakhir ia menggunakan sosial media itu, ketika masih kuliah. Ia yang tak pernah membuat status dan hanya melihat status teman-temannya yang memposting diri bersama pacar-pacarnya itu, membuat ia jenuh dan akhirnya menutup semua akun itu. Kini, ia ingin membukanya kembali dan memajang foto kebersamaan dengan sang istri.
Malik mengangganti foto profinya dengan foto pernikahan mereka yang masing-masing sedang memegang buku nikah. Lalu, ia juga memposting dengan kata-kata, ‘new city, new home, new company, and new status.’
Kata-kata itu di selipkan di atas fotonya bersama sang istri pada saat mereka baru saja menginjakkan kakinya di kota gudeg itu. Foto selfie itu menampilkan Malik yang tengah mengecup pucuk kepala Angel dan Angel tertawa sumringah menghadap kamera. Pasti setiap orang yang melihat foto itu akan berkomentar bahagia.
Setelah itu, Malik turun ke lantai bawah. Kakinya beralih menuju dapur untuk membuatkan Angel coklat hangat.
Di Jakarta, Adrian tengah menatap foto yang baru saja di unggah Malik. Sudah lama sekali, ia tak pernah melihat adik sepupunya itu memposting di sosial media. Terakhir yang ia lihat pada sepuluh tahun tahun silam, Malik memposting motor sport Ninja 250R tahun 2009 di facebook miliknya.
Adrian menarik nafas dan membuangnya kasar, sungguh dadanya terasa sesak. Terlintas kata-kata Egy yang menyalahkannya karena bodoh tidak pernah menyentuh mantan istrinya itu.
“Benar kata Egy, padahal untuk apa menunggu cinta, harusnya waktu itu aku tidak perlu menjaga jarak padanya. Ck, bodoh.” Gumam Adrian sembari mengusap wajahnya kasar.
Ia pun beranjak dari duduknya. Entah mengapa hari ini, ia belum ingin pulang, padahal hari semakin gelap. Adrian menaiki lift ke lantai paling atas gedung itu. Ia hanya ingin merokok dan merenung sejenak di sana. Adrian bukan pria perokok, tapi terkadang jika kepenatan tingkat tinggi melanda, ia baru mengkonsumsi benda tidak sehat itu.
Saat berada di lantai paling atas, ia melihat seorang wanita yang juga tengah merokok sembari menopangkan kedua sikunya pada tembok itu. Perlahan Adrian mendekati wanita yang sangat ia kenal, walau wanita itu sedang membelakanginya.
“Far, lu ngerokok?” Tanya Adrian terkejut, melihat rekan kerja yang sangat ia kenal sebagai wanita periang dan tidak pernah marah ini, berada di sini sendirian.
“Eh, ngapain lu di sini.” Gagap Farah karena terciduk oleh rekan kerjanya. Ia pun langsung mematikan rokok itu.
Adrian menyandarkan punggung di setengah dinding itu, melihat dengan jelas raut wajah Farah yang berantakan. Dia adalah Farah, dokter kendungan yang sempat menangani Angel yang sedang bermasalah dengan rahimnya pada waktu itu.
Adrian tertawa melihat wajah itu. Tawa yang belum pernah ia tunjukkan ke siapapun.
“Ih bisa ketawa juga lu?" Tanya Farah yang ikut tertawa, padahal sebelumnya ia terlihat sangat sedih.
Farah memang satu-satunya rekan kerja wanita yang dekat dengan Adrian. Pasalnya Adrian terkenal dingin dan pendiam, ia juga lebih lurus di banding Egy sahabatnya. Wajah Adrian yang datar dan selalu serius, membuat Farah ingin selalu menggodanya, jika ada kesempatan bertemu.
Intensitas Adrian dan Farah bertemu di rumah sakit ini memang terbilang sering, karena Farah merupakan dokter tetap rumah sakit ini dengan pasien yang cukup banyak. Farah termasuk dokter idola karena selain supel, cara dia menjelaskan ke pasien sangat enak dan friendly. Hal itu membuatnya cukup terkenal di sini dan Adrian selain sebagai dokter bedah senior, ia juga sebagai manajemen rumah sakit ini, karena Radit sudah membeli lima puluh persen sahamnya di sini.
“Sumpah lu kusut banget, Far.” Kata Adrian yang lagi-lagi masih tertawa.
__ADS_1
“Iya, gue emang jelek kalo lagi kusut.” Jawab Farah.
“Bukan, bukan jelek tapi lu kan biasanya paling heboh, periang.” Adrian pun memelankan tawanya.
Hening, Adrian tidak lagi tertawa dan Farah hanya memandang pandangannya lurus ke depan.
“Lu kenapa? Ada masalah?” Tanya Adrian.
“Semua orang pasti punya masalah, Yan. Lu juga ke sini karena mau melepaskan penat kan?”
“Maybe.” Adrian membalikkan tubuhnya dan ikut memandang langit yang gelap.
“Kalo gue, mungkin semua orang udah tau masalah gue.” Kata Adrian, menoleh ke arah Farah.
Memang sudah bukan rahasia lagi di rumah sakit ini gosip tentang Adrian yang sudah bercerai karena istrinya selingkuh dengan adik sepupunya. Gosip yang akhirnya menjadi nyata itu cukup membuat Adrian semakin terkenal dan membuat orang simpati padanya.
Farah mengangguk. “Istri lu di ambil pebinor?” Ledek Farah.
“Kalo di bilang pebinor bukan juga sih, gue aja yang b*go karena ga pernah tau perempuan yang gue nikahin itu mantan pacar adik gue. Bodoh emang gue.” Adrian menggeleng dan menepuk jidatnya.
“Ya, kata orang kita pintar, tapi nyatanya dalam urusan cinta, ternyata kita bodoh.”
Keduanya tertawa. Sesaat kemudian, kembali hening.
Farah diam.
Adrian menarik nafasnya. “Kalau lu ga mau cerita gak apa.”
“Gue dokter kandungan, Yan. Tapi mirisnya gue malah ga bisa punya anak.” Ucap Farah.
Memang Adrian tahu bahwa Farah sudah delapan tahun menikah tapi belum di karuniai anak.
“Belum aja kali, Far. Lagian lu udah melakukan banyak treatmant kan?”
Farah mengangguk.
“Tapi dia ga sabar nunggu, Yan. Terus dia malah menikah lagi. Padahal sebelum menikah dia janji akan mencintaiku dalam keadaan apapun, akan menerimaku dalam keadaan apapun. Tapi apa buktinya? Setelah aku punya kekurangan, dia beralih ke wanita lain.”
Adrian menatap wajah Farah yang tengah menatap lurus ke depan, memandang bintang di langit yang kian berwarna hitam, sembari tangannya ikut bicara seolah ia sedang marah.
__ADS_1
“Suamimu menikah lagi?” Tanya Adrian memastikan apa yang tengah di katakan Farah tadi.
“Ya iyalah suami gue, kalo lu nikah lagi ga apa-apa udah duda juga.” Farah menoleh kesal ke arah Adrian.
“Sorry, gue kan cuma memastikan dia itu siapa.” Adrian menggerakkan dua jari ke atas saat mengucap kata ‘dia’.
Memang bukan rahasia lagi, bahwa Farah sudah mengangkat satu ovariumnya saat ia mengalami kista yang cukup besar dan membahayakan. Hal itu membuatnya sulit memiliki anak, terlebih satu ovarium yang masih ada pun ikut bermasalah dan tidak cukup bagus untuk mereproduksi.
“Gue di madu, Yan. Setahun yang lalu, mereka menikah. Katanya dia terpaksa menikah karena desakan ibunya yang selalu meminta cucu, basi ya. Gue udah kaya sinetron ikan terbang.” Farah tertawa.
“Terus?” Tanya Adrian yang antusias mendengar kisah hidup Farah, karena sejauh ini wanita itu low profile, ia selalu riang, seperti orang yang tidak pernah punya utang atau telibat perang dengan siapapun.
“Dia emang izin dulu sama gue pas mau nikah, dengan alasan dia melakukan itu hanya untuk mengabulkan permintaan ibunya yang sudah sakit-sakitan. Dia janji ga akan nyentuh istri keduanya itu.”
“Dia di jodohin?”
Farah mengangguk.
“Iya sama ibunya, dia tuh anak laki yang nurut banget sama ibunya. Gue kesel, kenapa sih seorang ibu yang punya anak laki-laki malah nyuruh seperti itu ke anak laki-lakinya. Dia kan juga perempuan, dia ga tau apa perasaan gue seperti apa?” Jawab Farah dengan suara berapi-api.
Tiba-tiba Farah pun meneteskan air mata.
Ia menangis. Dengan refleks, tangan Adrian langsung merangkul bahu Farah.
“Dan, finaly, gue lihat istrinya periksa kandungan seminggu yang lalu.” Farah kembali menangis, kini ia menangis di dada Adrian.
“Kenapa dia harus periksa kandungan di rumah sakit ini? padahal dia tau gue kerja di sini. dia mau nunjukin gitu kalo dia bisa hamil, walau hanya sekali sembur.”
“Lu kira simitsu, iklan pompa air.” Kata Adrian yang membuat Farah tertawa.
“Gue serius, Yan.” Farah menepuk dada bidang itu pelan.
“Iya, sorry.”
“Ya udah, terus rencana lo apa sekarang?” Tanya Adrian.
Farah mengerdikkan bahunya.
“Saran gue kalo lu masih cinta dan mampu bertahan. Bertahan aja. Kalau lu udah ga cinta dan ga sanggup bertahan, ya pisah aja.” Sejenak Adrian berpikir, setelah ia memberikan saran ini pada Farah.
__ADS_1
Mungkin ini juga yang di rasakan Angel saat ia menjadi istrinya, walau beda kasus, tapi tetap Farah dan Angel merasa tertekan di dalam ikatan ini.
Farah terdiam dan kembali menangis. Ia malah semakin mempererat pelukannya pada Adrian dan Adrian pun membiarkan dadanya menjadi tempat pelampiasan Farah untuk melepas semua kepenatannya.