Melanggar Janji

Melanggar Janji
Meminta Baikan


__ADS_3

Setelah puas beristirahat, Angel pun terbangun. Ia melihat jam dinding tepat pukul 15.30.


“Hmm.. sudah saatnya pulang.” Gumam Angel sembari melenguhkan tubuhnya.


Ia pun memegang pipinya yang tak lagi basah. “Aku memimpikanmu, Kak. Rasanya mimpi itu seperti nyata.”


Angel kembali menarik nafasnya kasar. Ia harus pulang ke rumah Adrian lagi. Rasanya sangat malas. Namun, mengingat wajah gemas Alika dan Fariz membuatnya kembali bersemangat. Ia sungguh tak tega dengan kedua anak itu. Ingin rasanya ia menceritakan sikap Adrian pada Hendra, tapi Angel tidak akan setega itu menjelek-jelekan suaminya di mata sang ayah. Ingin rasanya berpisah dari Adrian, tapi Angel tidak akan sanggup melukai hati Hendra, Dila, dan Radit.


Dengan kaki yang malas, Angel berusaha untuk bangkit. Lalu, ia melihat ada dua box makanan berwarna putih di meja rias itu. Perlahan ia menghampiri meja rias dan melihat box makanan itu. Ia terkejut saat makanan itu adalah dimsum dan nasi goreng seafood.


“Jadi kamu beneran datang ke sini, Kak.” Angel kembali menangis.


Ia memakan dengan lahap makanan kesukaannya itu, walau terkadang ia kembali menangis mengingat kebaikan Malik, sekaligus ke tidak gentle-annya pria itu.


****


Empat bulan berlalu, Angel kembali melaksanakan aktifitasnya. Begitu pun Adrian. Namun, hingga saat ini, Adrian tidak meminta maaf atas kejadian kasarnya pada Angel waktu itu.


“Bunda sakit?” Tanya Fariz yang kembali memasuki kamarnya, karena semalam Angel tidur bersama Fariz dan Alika di kamar Fariz.


Angel menggeleng. “Tidak apa, Sayang. Hanya sakit perut saja.”


Angel mencoba berdiri, tapi rasa nyeri di perutnya tidak bisa kompromi. Angel kembali duduk di tempat tidur itu. Rasanya ia tak kuat untuk berdiri, apalagi berjalan.


“Bun, Bunda kenapa? Kok muka Bunda pucat.” Kata Alika yang tiba-tiba masuk ke kamar itu.


“Papa.. Bunda sakit.” Teriak Alika dari lantai atas, yang dapat langsung terlihat sisi dapur lantai bawah.


Adrian pun berlari ke atas, setelah mendengar teriakan putrinya.


“Kenapa, Alika?” Tanya Adrian panik.


“Bunda sakit, Pa.” Alika dan Fariz berkata bersamaan.


“Ya sudah kalian sudah terlambat. Sana berangkat di antar Bibi dan Mang Asep. Biar Bunda istirahat.”


“Bun, Alika berangkat ya. Bunda sehat ya.” Kata Alika yang kemudian mencium punggung tangan Angel dan Adrian bergantian.


Fariz pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Hati-hati, Sayang. Maaf Bunda tak bisa antar.” Ucap Angel lirih sembari terus memegang perutnya.


Alika dan Fariz tersenyum sambil melambaikan tangannya dan berlalu dari kamar itu.


Adrian mendekati Angel. Ia mengambil tisu dan mengusap butir-butir keringat yang keluar dari dahi Angel. Angel hanya bisa diam di perlakukan seperti itu, ia masih canggung karena sebelumnya mereka sempat saling bersitegang.


“Apa sering seperti ini, jika datang bulan?” Tanya Adrian yang mengetahui tanggal datang bulan sang istri, walau pria itu tak pernah menyentuhnya.


“Tidak juga.”


“Tapi aku perhatikan kamu sering seperti ini, jika datang bulan.” Kata Adrian lagi sambil berjongkok di hadapan Angel.


“Hmm.. sepertinya tiga bulan terakhir memang seperti ini.”


“Baiklah, nanti kalau si Bibi pulang, aku suruh dia untuk membeli obat yang aku resepkan. Ini hanya obat anti nyeri.” Kata Adrian, sambil menuliskan nama obat di secarik kertas yang ia dapat dari meja belajar Fariz.


Ia kembali mendekati Angel dan memegang tubuh istrinya untuk pertama kali setelah hampir satu setengah tahun menikah.


“Tidurlah, aku akan membuatkan teh manis hangat untukmu.”


“Tidak perlu.” Angel kembali bangun, setelah Adrian hendak membaringkannya


“Aku akan buat sendiri. Kamu berangkat saja.” Kata Angel lagi. Ia tidak ingin ketergantungan dengan pria ini.


Adrian keluar dari kamar itu dan melaju cepat ke arah dapur. Ia menghiraukan perkataan Angel dan tetap membuatkan sang istri teh manis hangat. Kebetulan di rumah ini, hanya ada mereka berdua karena si Bibi dan Mang Asep sedang mengantar Alika dan Fariz ke sekolah.


“Ini, minumlah.” Adrian membantu Angel untuk bangun dan memberikannya minum.


“Terima kasih.” Ucap Angel.


“Setelah masa periodemu selesai, periksalah ke dokter!”


Angel menggeleng. “Tidak perlu, tidak apa. Ini biasa.”


“Penyakit tidak boleh di anggap biasa. Yang biasa bisa jadi tidak biasa. Periksalah! Nanti aku kenalkan dengan temanku di bagian kandungan.” Jawab Adrian.


Angel hanya terdiam dan menunduk.


“Hari ini kamu istirahat dan jangan ke kampus dulu!” Ucap Adrian lagi.

__ADS_1


Angel mengangguk.


“Sebentar, aku bawakan makanan juga untukmu, supaya tidak repot-repot turun ke bawah.” Kata Adrian lagi yang langsung turun ke bawah lagi dan membawakan sarapan untuk Angel ke kamar Fariz.


Setelah itu, ia meletakkan makanan di atas nakas yang berada persis di samping tempat tidur itu.


“Ini makanlah!”


“Iya, taruh saja. Nanti aku makan. sekali lagi terima kasih.” Ucap Angel tanpa senyum sedikitpun. Ia kembali menarik selimut.


Adrian masih menatap wajah Angel yang sedikit pucat. Lama, pria itu duduk di pinggir tempat tidur dan hanya melihat pergerakan Angel. Seketika Angel menoleh ke arah Adrian.


“Kamu tidak berangkat?” Tanya Angel, karena biasanya Adrian sudah pergi jam segini.


“Kamu mengusirku?” Adrian balik bertanya.


“Bukan begitu. Tapi ini sudah siang, kamu nanti terlambat.” Jawab Angel sambil memandang jam di dinding kamar itu.


Adrian ikut menoleh jam dinding itu. “Tidak apa kalau hanya telat beberapa menit.”


Angel mencoba berbaring lagi, tapi dengan cepat Adrian memegang tangan Angel.


“Maafkan aku, maaf atas sikapku padamu selama ini. Bisa kita berbaikan dan memulai semuanya dari awal?”


Angel tak menjawab permintaan Adrian. Bibirnya terasa kelu, mungkin karena terlalu banyak kata-kata yang tak mengenakan dari Adrian yang masih terngiang di kepalanya.


“Baiklah, jika kamu membutuhkan waktu untuk ini. Aku akan menunggu.” Adrian bangun dari duduknya dan hendak meninggalkan kamar itu.


Kemudian, ia kembali mendekati Angel. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Angel. Sedangkan Angel masih diam dan tidak bergerak. Ingin sekali Adrian mencium bibir Angel, tapi ia melihat bibir Angel yang membungkam. Akhirnya, Adrian hanya mengecup kening Angel.


“Istirahatlah!”


Angel menganggukan kepalanya lagi di iringi senyum tipis.


Adrian tak menyangka bahwa Angel bisa bersikap sedingin ini. ia memang bodoh, dari awal ia sudah menyukai paras Angel yang cantik sejak ia melihat wanita itu di acara seminar dua tahun yang lalu. Ia melihat wanita cantik yang tengah menaiki panggung dan menerima hadiah saat itu. Ternyata, ia di beri kesempatan dan langsung mendapatkan wanita cantik itu dengan mudah. Namun, janjinya pada ibu yang melahirkan Alika dan Fariz, membuatnya menepis perasaan itu dan berusaha untuk tidak melanggar janjinya dengan membatasi diri pada ibu sambung kedua anaknya kini. Sekarang, Adrian sudah menghiraukan janji itu. Ia benar-benar semakin terpesona akan sosok Angel.


Mulai hari ini, ia akan menjadikan Angel layaknya seorang istri. Ia pun akan meminta haknya sebagai suami, ketika hubungan mereka membaik.


________________________________________________

__ADS_1


Sabar ya para readers..


Ikuti alurnya terus ya, semua akan indah pada waktunya kok. Saya hanya membuat cerita ini mengalir dan terkesan tidak terburu-buru. Terima kasih 😘😘


__ADS_2