
Malik berjalan mondar mandir di luar ruang instalasi gawat darurat. Di sana, Angel tengah di periksa oleh Farah. untungnya Farah langsung sigap dan datang setelah kedatangan Malik yang terlihat sangat panik.
Malik tidak bisa tenang, hingga ia lupa untuk memberi kabar pada keluarga Angel atau keluarganya sendiri. Lama ia menunggu sendiri di tempat ini.
Ceklek
Akhirnya pintu ruangan Angel terbuka. Malik langsung menghampiri tempat tidur pasien yang berisi istrinya tengah terbaring lemah. Namun, sebelum itu langkah kakinya terhenti untuk bertanya pada Farah tentang keadaan sang istri.
“Bagaimana, Mba?” Tanya Malik pada Farah.
“Tenang, Lik. Istri dan bayimu aman. Mereka sedang istirahat.” Farah melirik ke arah Angel.
Malik pun menatap istrinya yang tertidur pulas akibat suntikan yang di beri dokter kandungan itu.
“Setelah ini, Angel akan di pindahkan ke ruang perawatan.” Kata Farah lagi.
Malik mengangguk.
“Tidak ada yang serius kan, Mba?”
“Saya yang salah karena tidak bisa menahan nafsu.” Ucap lagi Malik dengan suara lirih.
Farah tersenyum. “Sudah ku duga.”
“Abis, dia selalu menggodaku, Mba.”
Farah terkekeh geli. “Emang dasar kamu nya aja yang mupeng.”
Malik duduk di samping Angel dan mengelus pipinya. Farah bisa melihat raut ke khawatiran di wajah Malik. Ia tersenyum melihat Malik yang begitu mencintai istrinya dan begitu bertanggung jawab. Ia berharap Adrian memiliki sifat yang sama dengan adik sepupunya ini.
Farah masih menemani Malik di ruangan ini.
“Aku sudah menyuntikkan obat penguat kandungan untuknya, tapi Angel tetap harus berhati-hati. Usia kehamilannya masih sangat rentan. Dia tidak boleh kecapean. karena sebelumnya rahim Angel juga pernah bermasalah.”
Malik mengangguk dengan tetap memandang wajah sang istri.
“Angel masih bekerja?” Tanya Farah lagi.
Malik mengangguk.
“Dia PNS?” Tanya Farah lagi.
“Ya, dia dosen di universitas negeri xx.”
“Oh, mungkin bisa di kurangi jadwal mengajarnya. Agar dia lebih banyak istirahat.”
__ADS_1
Malik mengangguk lagi. Kemudian, Farah menepuk pundak Malik dan pamit untuk meninggalkannya.
“Baiklah, kalau begitu aku keluar. Jaga Angel. Setelah ini perawat akan memindahkannya.”
Farah pun membalas senyum itu lalu pergi. Tak lama kemudian, dua orang perawat datang dan memindahkan Angel ke ruang perawatan.
Malik baru bisa tenang. Ia pun memberi kabar pada Enin dan Bi Ella. Ia juga memberi kabar pada Mama Rini. Setelah itu, baru ia memberi kabar pada Joni. Dengan cepat Joni datang ke rumah sakit dan membawa beberapa berkas yang harus Malik tanda tangani. Selanjutnya, ia mempercayakan Joni untuk menghandle semua urusan di kantor, selama ia tidak berada di sana karena harus menjaga sang istri satu kali dua puluh empat jam.
“Sorry Jon, aku merepotkanmu.” Kata Malik, sembari membubuhkan tanda tangannya di kertas yang Joni bawa.
“Tidak apa, Boss. Yang penting istri dan anak bos sehat.”
Malik mengangguk, lalu memberikan beberapa perintah pada Joni selama ia tak berada di kantor dalam waktu yang tidak bisa di tentukan. Joni mengangguk patuh.
“Yes, Bos. Saya mengerti. Saya akan kerjakan ini.” Kata Joni, lalu hendak berpamitan untuk segera melanjutkan pekerjaannya.
“Jon.” Panggil Malik, membuat Joni langsung menoleh lagi ke arah bos nya itu, padahal ia sudah berbalik untuk pergi.
“Hmm.. tidak jadi. Pergilah.” Malik ingin mengatakan sesuatu tentang Rumi. Namun, sepertinya pernikahan Rumi dan Jo belum di ketahui Joni hingga kini. Atau mungkin, Rumi memang tidak mengundang Joni di hari pernikahannya. Justru, itu lebih baik karena sebenarnya mantan adalah mantan.
Joni kembali membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan bosnya itu.
Tak lama kemudian, Angel membuka matanya. “Kak.” Angel memanggil Malik yang berdiri di pintu, mengantar Joni keluar dari ruangan ini.
“Baby twins kita, tidak apa-apa kan?” Tanya Angel lirih.
Malik mengangguk. “Alhamdulillah tidak apa-apa. Tapi kalau kamu kecapean terus, aku khawatir akan ada apa-apa nantinya.”
“Maaf.” Kata Angel lirih. Ia berusaha untuk bangun dan Malik membantunya.
Malik menyusun bantal yang cukup banyak agar Angel dapat bersandar di tempat itu. Namun, Angel malah memeluk suaminya.
“Maaf ya, Kak. Aku akan lebih berhati-hati menjaga mereka.” Angel mengelus perutnya yang sedikit buncit.
Malik mengendurkan pelukannya dan mengarahkan wajah Angel untuk menatapnya. “Apa jadwal mengajarmu sangat padat?”
Angel mengangguk.
“Apa tidak bisa cuti dulu dalam jangka waktu yang lama?”
Angel menggeleng.
“Bee. Aku tahu menjadi dosen adalah cita-citamu. Tapi mereka masa depan kita.” Malik menjeda perkataannya.
Sementara Angel terus menatap suaminya dengan intens. Ia tahu kemana arah pembicaraan Malik.
__ADS_1
“Kamu ingin aku berhenti mengajar?” Tanya Angel.
“Kalau kamu tidak keberatan. Saat ini kamu harus memilih skala prioritas, Bee.”
“Tapi aku sudah tanda tangan kontrak dua tahun.” Jawab Angel.
“Akan aku bayar denda penaltinya.”
“Tapi tidak semudah itu juga. aku harus mencari dosen pengganti.”
“Terserah kamu, Bee. Kalau mereka menjadi prioritas, tidak akan banyak alasan untuk memilih.” Malik menyebut calon baby twins yang ada di perut Angel dengan sebutan ‘mereka’.
Malik berdiri dan hendak meninggalkan Angel. Namun, dengan cepat Angel menahan tangan suaminya.
“Aku juga menginginkan mereka, Kak.” Angel mengelus perutnya.
“Mereka priorotasku, kamu prioritasku. Tidak ada yang membuatku berat untuk memilih selain kamu dan calon baby twins kita.”
Malik kembali duduk di hadapan Angel dan menyatukan kening Angel pada keningnya. “Aku mencintai kalian. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan bayi kita.”
Angel menganggukkan kepalanya. Lalu, Malik mencium bibir sang istri. Angel menerima ciuman mesra dari suaminya. Ciuman yang mengisyaratkan cinta itu pun sangat terasa, hingga Farah yang ingin masuk ke ruangan itu tidak jadi membuka pintu dan memilih pergi untuk memberi ruang pada pasangan suami istri ini.
Setelah lama memangut bibir Angel, Malik kembali menyatukan keningnya pada kening Angel. “Aku akan mengurus semua pengunduran dirimu di sana.”
Angel mengangguk.
“Setelah anak-anak kita agak sedikit besar. Kamu bisa memulai kembali menjadi dosen, walau menjadi dosen di universitas swasta, tidak masalah kan?” Tanya Malik tersenyum.
Angel pun tersenyum. “Tidak masalah. yang penting kamu selalu di sisiku.”
Malik memeluk erat tubuh Angel. “Terima kasih, Bee. karena telah mengabdikan hidupmu padaku. I Love you more.”
Angel bersandar pada dada Malik dan sesekali menengahdakan kepalanya untuk tersenyum ke arah sang suami. Malik melihat senyum manis itu, senyum manis yang membuat ia terpana untuk kali pertama terhadap wanita pada waktu itu. Malik kembali mencium bibir Angel sekilas.
“Jangan godain aku lagi ya, Bee! Aku pasti tidak akan tahan.” Ucap Malik dengan nada manja, membuat Angel tertawa.
“Tapi aku seneng godain kamu, lucu.”
“Nakal.”
Entah mengapa Angel senang sekali berpakaian seksi di hadapan suaminya. ia senang ketika Malik tergoda padanya.
Angel tertawa. “Biarin.”
Keduanya tertawa dan saling mengeratkan pelukannya.
__ADS_1